BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
APA YANG DIA BISIKKAN?


__ADS_3

Ketika Bulan meneteskan Air mata, tanpa aku sadari aku melemaskan tanganku yang mencekit lehernya, Dimana pandangannya yang tadinya kabur mulai membaik.


Di saat aku terus memandang Bulan, tiba - tiba Hujan deras turung di luar.


(Sial, aku sudah banyak membuang waktu.)


Ucapku di Pikiran sambil melihat ke arah Luar jendela. Setelah itu aku kembali melihat Bulan dan melepaskan tanganku dari lehernya.


"Baiklah kau yang menang. Untuk sekarang aku tidak akan menyakiti Erina, tapi aku tidak akan lepaskan(ikatan) dia, mengerti?"


Tanyaku sambil melihat Bulan, dimana nafasnya masih tidak teratur dan terbatuk - batuk.


~COUGH!!...COUGH!!...COUGH!!....


"~haaa...~haa...~haaaaa,..um a~aku mengerti."


Jawab Bulan sambil mengangguk. Kemudian ia menatap wajahku dengan senyuman dan berkata...


"Le-Leon....Makasih."


Mengabaikan perkataannya, aku lansung berbalik dan menatap Erina dengan tenang.


Menyadari tatapanku, Erina menatap balik diriku, dimana membuat kami berdua saling menatap satu sama lain.


"......."


"......."


Setelah beberapa detik kami saling menatap, tak lama kemudian aku berahli ke arah Felik. Dimana mataku lansung menyipit dengan tajam.


Seolah tau bahwa aku sudah tidak berniat menyakiti Erina dan malah ingin menyiksa dia, Membuat Felik lansung terlihat Pucat, bahkan tubuhnya gemetar karena sangat ketakutan.


"~Le~Leon tu~tunggu,...tunggu dulu, kau pasti bercandakan? Apa kau benar - benar ingin memaafkan dia(Erina)."


"Diamlah."


Ucapku Lansung.


"Diam? Aku tidak akan diam, ini tidak adil, lagi pula kenapa kau tiba - tiba memaafkan dia(Erina)."


Ucap Felik sambil menatapku dengan sangat marah.


Mengabaikan tatapannya, aku lansung pergi mengambil kain Kotor yang ada Ruangan ini, setelah itu aku berjalan ke arah Felik dan berdiri di hadapannya.


"Sekarang buka mulutmu lebar - lebar."


Ucapku.


"Huh! Buat apa aku melakukan itu?"


Tanya Felik.


"Kau tidak perlu tau, cepat buka saja mulutmu."


"Ti-Tidak, apa kau bercanda, siapa juga yang mau melakukan i-!!"


'Tu' ingin ucap Felik, namun sebelum mengucapkan itu, tiba - tiba aku menendang Wajahnya menggunakan Lututku, dimana membuat Hidungnya sedikit retak dan mengeluarkan darah.


~Aghhhhhhhhh!!


Di saat Felik terlihat sangat kesakitan aku mengabaikannya dan berkata...


"Aku sudah tidak punya waktu, cepat Buka mulutmu."


Namun tetap saja Felik tidak ingin membuka Mulutnya, malahan ia tambah menutupnya rapat - rapat.


Mengetaui itu aku lansung jepit hidungnya agar ia tidak bisa bernafas. Sehingga satu - satunya cara agar ia bisa mengeluarkan nafas adalah dengan membuka mulutnya...


Setelah beberapa detik ia bertahan, tak lama kemudian, akhirnya ia pun membuka mulutnya. Dimana ia terlihat sangat lemas.


"~Haaaa!!..~haa..Da~Dasar sialan..a~apa kau ingin membunuhku?"


Mengabaikan pertanyaannya, aku lansung memasukkan kain Kotor itu ke dalam mulutnya.


Setelah itu, aku mengambil tangku yang ku letakkan di belakang Erina, kemudian pergi berjongkot di belakang Felik.


Seolah tau apa yang ingin aku lakukan, Felik lansung terlihat pucat.


Sayangnya ia tidak bisa teriak karena mulutnya sudah ku tutupi oleh kain kotor, sehingga ia hanya bisa memberontak.


"~Hmphh!!..Hmph!!...Hmmmphh!!"


Mengabaikan Felik yang seperti itu, aku lansung jepit salah satu kuku jarinya, kemudian aku mencoba berbisik didekat telinganya, dimana aku bertanya....


"Felik, sebentar lagi aku akan mencabut - cabut kukumu. Bagaimana perasaanmu apa kamu takut?"


"~Hmphh!!..Hmpphhh!!"


"Yaa tentu saja kamu takut, lagi pula ini sangat menyakitkan. meski begitu aku tidak bisa menghentikannya, apa kamu tau alasannya?"


"~......?"


"Itu karena, AKU BERSENANG - SENANG MENYIKSA KALIAN SEMUA."


Ucapku sambil Seringai, dimana Felik lansung merasa merinding. Namun tanpa pedulikan itu aku melanjutkan...


"Lagi pula, ini yang sering kalian lakukan padaku kan, saat kalian bersenang - senang menyiksa dan memukulku Jadi...-

__ADS_1


-SEKARANG GILIRAN KALIAN YANG MERASAKAN ITU. AKU HARAP KAU SUDAH SIAP FE-LIK!"


Sesaat mengucapkan itu, aku lansung mencabut kukunya, dimana Felik terlihat sekuat tenaga mencoba menggigit kain kotor yang ada di dalam Mulutnya agar tidak teriak.


"~Hmphhh!!....Hmphhhh!!!....Hmphh!!!..."


Meskipun ia tidak teriak, tetapi wajahnya masih terlihat sangat kesakitan, Meski begitu aku mengabaikannya dan terus mencabut Kukunya.


Hingga kerasnya suara keributan yang kami buat, di telang oleh derasnya suara hujan di malam itu.


__________________________________


_______________________________


Setelah beberapa menit aku mencabut delapan kukunya, tak lama kemudian aku menyadari Felik sudah kehilangan kesadaran, sehingga aku lansung berhenti, dan melap keringatku.


"Fuuu, tidak ku sangkah Kuku dia keras juga. Seperti yang di harapkan dari orang yang sering berlatih."


Ucapku sambil mencoba berdiri dan berahli ke arah Bulan, dimana Wajahnya terlihat pucat.


(Sepertinya, nafasnya masih belum teratur dengan baik.-


-Yaa tidak bisa di pungkiri, lagi pula aku hampir saja mencekit ia hingga mati, tentu saja ia begitu.-


-tapi, ini bukan waktunya aku bersikap baik. Karena aku sudah banyak membuang waktu di sini, jadi....)


Sesaat aku berhenti aku menghela nafas "haaa!!.." kemudian aku memanggilnya...


"Oi jangan diam saja di situ, cepat perban luka dia(Felik)."


Bulan yang dengar itu masih terlihat lemah, meski begitu ia tetap berusaha berdiri dan pergi ke belakang Felik untuk menutupi Luka - lukanya.


Di saat Bulan melakukan itu, aku berjalan ke arah Tasku, dimana aku mengambil sebuah kantong jenazah hitam Yang terlipat di dalam sana dan ku letakkan di depan Luis.


Setelah itu Aku mengambil Pisau kecil yang ku selipkan di pinggangku, dan pergi ke belakang Luis.


Di sisi lain, Erina yang melihat aku memegang Senjata tajam lansung terlihat ketakutan. "~Hiii!!" Mungkin ia berpikir bahwa aku ingin membunuhnya.


Menyadari itu, aku lansung bertanya...


"Oi kau kenapa?"


"I-itu,..kenapa kau pegang itu?"


Tanya balik Erina sambil melihat Pisau kecil yang ku pegang.


"Oh ini, ada apa? Apa kau takut?"


"TENTU SAJALAH."


Bentak lansung Erina dimana membuat aku sedikit kaget. Setelah itu aku putar - putar Pisau itu di jariku kemudian berkata...


"A-Apa kau pikir aku percaya?"


Tanya Erina yang terlihat sangat waspada denganku. Meski begitu aku mengabaikannya dan dengan tenang membalas..


"Terserah kau mau percaya atau tidak, yang jelas aku sudah tidak tertarik lagi menyiksamu Jadi, kau diam saja di situ Mengerti?"


Ucapku sambil melirik Erina dengan Tajam, dimana membuat ia sedikit merinding.


Kemudian aku melihat ke arah tangan Luis dan ku potong Tali yang mengikat Tangannya.


Setelah ku potong Aku seret ia dan ku masukkan ke dalam Kantong jenazah.


"Bagus, satu dah selesai, sekarang...."


Sesaat aku berhenti aku berahli ke arah Bulan, dimana ia masih memperbang Luka - Lukanya Felik...


"Bulan, apa kau sudah selesai?"


Tanyaku.


"Be-Belum, tinggal sedikit lagi."


"Begitu, Kalau gitu cepatlah."


Balasku dengan tenang.


Setelah beberapa detik aku tunggu, tak lama kemudian akhirnya Bulan pun selesai.


"Le-Leon aku sudah selesai."


"Bagus."


Ucapku sambil pergi ke belakang Felik dimana aku memotong tali yang mengikat tangannya.


Namun setelah Ku potong, bukannya aku lansung seret ia dan ku masukkan ke dalam Kantong jenazah, malahan aku mencoba pergi ke belakang Erina.


Erina yang menyadari itu lansung terlihat was - was denganku.


"Da-Dasar Psikopat, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Erina


"tenang saja, Aku tidak akan melakukan apapun."


"Ka-Kalau begitu, kenapa kau mendekatiku?"


"Yaa kau tau, ada sesuatu yang ingin ku beritaukan padamu."

__ADS_1


"Padaku?"


"Yah."


Jawabku sambil berjongkot di belakang Erina, kemudian aku dekatkan Bibirku di dekat telinganya dan mulai memberitau dia beberapa hal.


Tentu saja aku beritau ia dengan Bisikkan agar tidak ada siapapun yang bisa dengar kecuali dirinya sendiri.


"........."


Sementara itu, Bulan yang mengawasi kami dari jauh terlihat tidak senang dengan apa yang ku lakukan.


Meski begitu aku mengabaikannya dan terus berbisik di telinga Erina.


__________________________________


______________________________


Setelah beberapa saat aku berbisik, tak lama kemudian akhirnya aku selesai memberitau Erina. dimana ekspresi dia terlihat sangat Shock setelah apa yang ia dengar barusan.


"Le~Leon kau,...apa kau serius?"


"Tentu saja."


Jawabku dengan tenang, kemudian aku lanjutkan lagi...


"Yah itu terserah padamu, apa kau ingin melakukannya atau tidak, yang jelas ini satu - satunya kesempatan agar kau bisa hidup."


Ucapku sambil menatap ia dengan Serius.


Melihat tatapanku yang seperti itu, membuat Erina untuk sesaat berpikir dan berahli ke arah Bulan, dimana ia menatap Bulan dengan tatapan rumit.


"......"


Setelah beberapa detik menatap Bulan, tak lama kemudian ia kembali melihatku dan menatapku dengan tatapan tegas, seolah ia sudah memutuskan pilihannya.


Menyadari itu, Bibirku lansung melengkun seperti bulan sabit sambil berkata...


"Baiklah, karena kau sudah memutuskan pilihanmu, kalau gitu aku akan pergi sekarang."


Sambil mengucapkan itu, Aku mulai menyeret Felik dan ku masukkan ia ke Dalam kantong Jenazah. satu kantong dengan Luis.


Setelah itu, aku pergi ke Bulan yang sedang istirahat di sudut ruangan dan memberinya Air botol.


"Ini."


"Ma-Makasih."


Balas Bulan sambil mengambil Air Botol itu dan meminumnya.


~Glup!!..Glup!!...Glup!!....


Setelah ia selesai Minum, ia mengarahkan pandangannya ke arah Kantong jenazah dan bertanya...


"Le~Leon, kau mau apakan mereka?"


"APA KAU INGIN TAU?"


Tanyaku sambil Seringai. Dimana membuat Bulan Seolah memiliki Firasat Buruk Bahwa aku, ingin melakukan sesuatu yang lebih mengerikan lagi di bandingkan dengan yang tadi.


"Ti-Tidak, lupakan saja apa yang barusan ku katakan."


Jawab Bulan sambil mengelangkan kepalanya.


"Begitu."


Ucapku sambil mencoba meninggalkannya. Namun saat itu juga tiba - tiba aku ingat ada sesuatu yang ingin ku tanyakan ke Bulan, sehingga aku kembali melihat dia.


"Oh iya,...omong - omong ada sesuatu yang ingin ku tanyakan?"


"A-Apa?"


"Aku ingin tau, Apa dia(Luis) sudah menyewah Kelompok, yang pernah kita bicarakan?"


"Kelompok?....Huh! Maksudmu kelompok Serigala pemburu?"


"Yah itu,...jadi bagaimana?"


Di saat aku bertanya, ekspresi Bulan terlihat rumit, dimana ia menjawab..


"Y-yah, kau tenang saja, Luis sudah buat permintaan pada kelompok itu, hanya saja....kelompok itu sepertinya belum membalas Permintaan Luis."


"Hmm,...apa dia(Luis) sudah melakukan pembayaran Pertama?"


"Um sudah."


Jawab Bulan sambil mengangguk. Mendengar hal itu untuk sementara aku berpikir.


Namun beberapa detik kemudian aku kembali melihat Bulan dan berkata...


"Baiklah makasih sudah memberitauku,...kalau gitu, Kau tunggulah di sini dan jaga Erina, aku keluar dulu sebentar."


"Kamu mau kemana?"


Tanya Bulan.


"Kau tidak perlu tau."

__ADS_1


Balasku dengan nada dingin, kemudian aku mulai menyeret Kantong jenazah itu keluar dari Rumah.


Namun ketika aku mencoba menutup Pintunya Kembali, terlihat mataku sesaat melirik Ke arah Erina, dimana tatapanku terlihat memancarkan Cahaya di saat sambaran Petir menghantam Hutan ini.


__ADS_2