
setelah beberapa hari aku berada di rumah sakit. saat ini aku sedang duduk bersama dengan kak siska di sebuah taman rumah sakit.
dimana kami berdua sedang melihat anak - anak yang tengah bermain di taman.
"Leon, apa kamu sudah tidak apa - apa??"
tanya Kak Siska, yang duduk di sampingku.
"tenang saja,..seperti yang Kak Siska lihat, aku baik - baik saja."
jawabku.
"begitu!"
ucap Kak Siska, namun ketika aku memperhatikan wajahnya, sepertinya ia masih khawatir dengan kondisiku.
memang benar sih, biasanya aku masih bisa merasakan beberapa rasa sakit di bagian tubuhku.
namun, itu tidak seberapa dibandingkan rasa sakit yang aku terima saat masih menjadi tentara bayaran.
(lagi pula, aku juga sudah bosan berada di sini terus, setidaknya aku ingin sesekali menghirup udara segar di luar.)
ucapku di dalam pikiran. setelah itu aku melirik ke arah Kak Siska. dimana aku mencoba untuk mengubah topik pembicaraan.
"omong - omong, dimana ayah sama ibu, aku dari tadi tidak melihat mereka??"
saat aku bertanya, dengan tenang Kak Siska menjawab...
"apa kamu tidak ingat,...mereka berdua saat ini sedang mengurus surat kepulanganmu Leon."
"kepulanganku??"
tanyaku yang kebingungan.
"benar."
jawab Kak Siska yang tersenyum.
setelah ia mengatakan itu, aku baru ingat, bahwa kemarin aku di beritau kalau besok aku sudah bisa pergi dari tempat ini. sehingga membuat aku terlihat senang.
"begitu, jadi besok aku akan meninggalkan Tempat ini yah."
ucapku dengan senyuman sambil memperhatikan Anak - anak yang bersenang - senang bermain di depanku.
"Umm."
angguk Kak Siska.
namun, ketika Kak Siska melihat senyumanku, entah kenapa ia merasa kalau aku sepertinya sangat Gembira meninggalkan Rumah sakit ini. sehingga ia lansung bertanya...
"Leon, sepertinya kau terlihat senang meninggalkan tempat ini??"
mendengar itu aku dengan tenang menjawab...
"tentu saja, jujur aku sudah bosan berada di tempat ini."
ucapku, setelah itu aku mengalihkan pandanganku ke arah Kak Siska dan berkata...
"lagi pula saat keluar nanti, aku sudah tidak sabar makan Gado - Gado kesukaan Kak Siska."
tanpa tau alasannya, Kak Siska lansung terkejut mendengar hal itu. sebab ekspresi yang ku perlihatkan saat ini benar - benar mirip dengan ekspresi adeknya yang sering ia lihat.
sehingga, membuat ia lansung tersenyum dan mulai membisikkan sesuatu yang tidak bisa aku dengar.
"Leon...aku senang,..aku senang ternyata kau benar - benar belum menghilang dariku."
"Kak Siska, apa kau bilang sesuatu??"
"tidak...bukan apa - apa."
jawab Kak Siska, setelah itu ia mengelus kepalaku, dan berkata..
"Leon, bagaimana saat kau keluar nanti, kita pergi makan Gado - Gado bersama?"
tanya ia sambil terus mengelus kepalaku.
jujur aku tidak suka jika di perlakukan seperti itu. tetapi ketika melihat ekspresinya yang ceria dan senyumannya yang indah, aku tidak punya pilihan lain selain menyerah.
"haaa..baiklah, aku akan ikut denganmu.."
ucapku, setelah itu aku melihat Kak Siska dengan senyuman menggoda sambil berkata..
"..lagi pula diajak kencang oleh gadis cantik seperti Kak Siska, tidak buruk juga."
"SIAPA YANG MENGAJAKMU KENCAN, DASAR ADEK BODOH!!"
Bentak Kak Siska sambil memukul kepalaku.
BUK!!!
"~~Aghhh!!"
________________________________
___________________________
keesokan harinya, ketika sudah waktunya meninggalkan rumah sakit ini.
di dalam ruangan, terlihat aku, Kak Siska, dan kedua orang tuaku sedang membatu membersihkan barang - barangku yang ada di ruangan.
dimana Ayah terlihat sedang membawa barang - barang yang berat di kedua tangannya.
"kalau begitu, aku bawah duluan barang ini keluar."
ucap Ayah sambil melihat ke arah kami. setelah itu ibu menjawab.
"yah, hati - hati sayang, kami akan segera menyusulmu."
"umm."
angguk ayah.
setelah itu ia mulai membawa barang - barang yang ia pegang keluar dan meninggalkan ruangan.
dimana di ruangan ini sekarang hanya menyisakan kami bertiga saja..
__ADS_1
________________________________
____________________________
setelah beberapa saat, kami sudah selesai membersihkan ruangan ini.
saat ini kami sedang istirahat. dimana terlihat Kak Siska sedang melap keringatnya.
"fuuu akhirnya selesai juga. Leon, sudah tidak adakan barangmu yang tertinggal??"
tanya Kak Siska sambil berahli ke arah ku.
"yah. sudah tidak ada."
jawabku lansung.
semua baju kotorku dan yang belum aku pakai sudah di masukkan ke dalam 2 tas. 1 yang dipegang Kak Siska sedangkan yang 1 nya lagi aku yang bawah.
"bagus, kalau begitu, ayo kita pulang Leon."
ucap Kak Siska, mendengar itu aku lansung mengangguk.
"Umm."
setelah itu, Kak Siska mulai membawa tas yang isinya baju yang belum aku pakai, sedangkan aku membawa tas yang isinya baju kotorku.
pada saat aku baru menaruk tasku di belakang punggung, sebuah tangan terhulur dari sampingku, dimana tangan tersebut adalah tangan ibu.
"ada apa bu??"
saat aku tanya, Ibu menunjuk ke arah tas yang aku bawah dan berkata..
"tas itu pasti berat kan? biarkan ibu saja yang bawah tas itu, lagi pula kamu masih kecil, biarkan orang dewasa saja yang membawanya."
ucapnya, namun ketika aku mendengar itu, aku lansung menatap ia dengan datar.
sebab di lihat dari manapun, ia terlihat lebih seperti anak kecil di bandingkan diriku.
bahkan tinggi badannya pun hanya sampai di pundak ku saja.
(tidak kusangkah ternyata ibu bocah ini sependek itu, lagi pula nih Loli bicara apa sih barusan.)
ucapku di dalam pikiran, sambil menatapnya dengan tatapan😟
dan tanpa pedulikan apa yang barusan ia katakan, aku lansung mencoba berjalan keluar dari Ruangan.
melihat itu, ibu lansung terlihat terkejut dan mencoba memanggilku.
"eh..Leon?"
mendengar namaku di panggil, aku berhenti sejenak dan berkata..
"aku saja yang membawanya, lagi pula tidak mungkin ibu bisa membawa tas ini."
ucapku sambil melirik ke arah ibu. ibu yang dengar itu lansung terlihat cemberut dan dengan cepat berlari kedepanku untuk menghalangi jalanku.
"Leon, apa yang kamu katakan, ibu sudah dewasa jadi pasti gampang membawa tas itu." ucapnya, namun...
"yah, yah, aku sudah tahu ibu orang dewasa jadi minggir lah."
melihat itu, ibu mencoba mengejarku, tetapi...
"Leon?...tunggu, tunggu ibu Leon."
...tanpa pedulikan ia, aku terus berjalan di sana, dimana aku mengabaikan semua yang ia katakan.
(haaa,..benar - benar sangat merepotkan.) Pikirku.
di sisi lain. Kak Siska yang memperhatikan kami berdua dari belakang, memiliki ekspresi wajah yang sangat datar, dimana ia berkata..
"apa - apaan mereka?"
________________________________
____________________________
di tempat parkir. setelah kami memasukkan semua barang - barangku di bagasi mobil.
aku lansung masuk ke dalam, dimana untuk sesaat ayah melihat ke arah kami semua dan bertanya..
"apa kalian sudah siap?"
mendengar itu, kami semua lansung mengangguk secara serentak.
"""umm."""
"baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang."
ucap ayah sambil menyalahkan mobilnya. setelah itu Ayah tancap gas dan lansung meninggalkan tempat itu.
dan saat kami berada di tengah perjalanan. aku melihat ke arah luar jendela. dimana Langit biru terbentang di angkasa. di iringi sinar matahari yang terang.
awan putih di hiasi Burung - Burung yang berterbangan, dan dedaunan Hijau melayang - layang di udara.
menikmati pemandangan tersebut membuat aku merasa sangat tenang dan jauh di dalam hatiku aku berkata.
"MULAI SAAT INI, AKU AKAN MENJALANI KEHIDUPAN BARUKU."
______________________________
___________________________
setelah beberapa saat perjalanan, tak lama kemudian, akhirnya kami sampai di depan Rumah.
dimana saat aku keluar dari Mobil, aku perhatikan kalau Rumah tersebut ternyata lebih besar, di bandingkan dengan Masion(Markasku) di kehidupan Sebelumnya.
"jadi ini tempat tinggalku sekarang."
ketika aku membisikkan itu tanpa di dengar siapapun, aku mencoba mengingat, saat - saat dimana aku bersama anggotaku yang lain di kehidupan sebelumnya.
dimana setiap kali kami menyelesaikan tugas atau misi, kami semua sering kali mengadakan pesta di Markas untuk bersenang - senang.
baik itu siang ataupun malam dan itu membuat aku merasakan kerinduan saat melihat Rumah di depanku.
ketika aku memikirkan itu, tanpa aku sadari bibirku melengkung seperti bulan sabit.
__ADS_1
melihat itu, Kak Siska mencoba bertanya.
"Leon ada apa, tiba - tiba kamu senyum sendiri??"
untuk sementara aku melirik Kak Siska terus. namun setelah beberapa detik kemudian, aku kembali melihat ke arah depan dan menjawab.
"tidak, bukan apa - apa."
"benarkah?"
"umm."
angguk ku. setelah itu Kak Siska berkata lagi.
"kalau begitu ayo kita masuk."
"baik."
jawabku, sambil pergi mengambil tasku yang tersimpan di bagasi mobil dan menaruknya di belakang punggungku.
setelah itu aku mulai berjalan masuk kedalam Rumah. dimana aku mencoba membisikkan sesuatu yang tak seorang pun bisa dengar.
"BOCAH MAAFKAN AKU, MULAI SEKARANG AKU AKAN MEMAKAI IDENTITASMU."
setelah itu akupun memasuki rumah atau lebih tepatnya ini tempat tinggal baruku....
________________________________
__________________________
ketika kami sudah berada di dalam rumah, aku mengikuti Kak Siska yang berada di depanku. dimana terlihat ayah dan Ibu juga di sana.
tak lama setelah kami berjalan akhirnya kami sampai di ruang tamu, dimana ayah dan ibu lansung pergi duduk di sofa dan terlihat kelelahan seperti orang yang habis pulang kerja.
"haaa..akhirnya bisa juga istirahat."
ucap ayah sambil bersandar di sofa.
"yaaa,.. ibu juga sangat capek, ibu mau tidur di sini."
ucap ibu sambil berbaring di sofa dimana ia menggunakan paha ayah sebagai bantal.
"haaa...ini sangat nyaman."
"Miki, jika kamu mau tidur, pergilah kedalam kamar??"
"heee, memangnya kenapa, apa Bagas tidak suka kalau aku tidur di sini??"
"bukan begitu hanya saja, a- aku tidak bisa tahan melihat wajah imutmu saat tidur."
ucap ayah, dimana ia mengalihkan wajahnya yang malu ke arah lain. sedangkan di sisi lain, ibu yang dengar itu terlihat sangat terkejut.
"Eh!"
namun, setelah beberapa detik kemudian ia lansung tersipu malu dan mencoba memanggil ayah.
"sa~sayang."
"a-ada apa??"
"aku mencintaimu."
"Miki."
ayah lansung mengalihkan pandanganya ke arah ibu, dimana ia juga terlihat sedang tersipu malu.
setelah itu, Ayah mencoba menyentuh pipi ibu, dan berkata..
"aku, aku juga mencintaimu."
"sayang!!"
"Miki!"
"....."
"....."
mereka berdua terus saling memandang satu sama lain, seolah - olah dunia ini milik mereka sendiri.
melihat itu, aku menatap mereka dengan tatapan 😧 sambil berpikir...
(apa - apaan mereka ini.)
setelah itu, aku berbalik ke arah Kak Siska, dimana ia terlihat sepertinya sudah terbiasa dengan suasana itu.
"Kak, apa mereka berdua sering seperti ini??" tanyaku
"yah, kamu tidak perlu pikirkan, nanti kamu akan terbiasa kok."
"begitu."
meskipun Kak Siska mengatakan itu, jujur aku sangat terganggu dengan suasana ini, sehingga aku ingin cepat - cepat pergi dari sini.
sebab dari pada aku melihat suasana ini terus, lebih baik aku pergi istrahat saja di kamar.
lagi pula, aku juga sangat capek dan masih banyak yang harus aku pikirkan.
"Omong - omong, Di mana kamarku Kak Siska??" tanyaku.
namun, Kak Siska yang dengar itu, entah kenapa sepertinya Baru ingat lagi, kalau saat ini aku sedang hilang ingatan.
"oh, benar juga, aku lupa kalau kamu sedang Hilang ingatan..."
"yah, jadi bisa tidak Kak Siska antar aku ke kamar?"
"tentu saja...kalau begitu, ikuti kakak."
sambil mengucapkan itu, Kak Siska lansung berjalan menaiki tangga untuk pergi ke lantai dua.
melihat itu, untuk sesaat aku mengalihkan pandanganku ke arah orang tuaku. dimana mereka berdua masih bermesrahan di sana.
(jujur aku ingin sekali menghancurkan dunia, seperti ini milik mereka berdua saja.....tetapi..)
sesaat aku berhenti berpikir, aku berahli lagi ke arah Kak Siska, dimana ia sudah naik ke lantai dua.
__ADS_1
setelah itu, aku mencoba menyusulnya sambil berbisik. "sudahlah, lupakan saja itu." dan berjalan naik ke lantai dua.