BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
MENJAUHLAH DARI DIA


__ADS_3

Setelah beberapa menit aku istirahat, tak lama kemudian aku pun memutuskan untuk meninggalkan tempat ini.


"Baiklah, sudah saatnya kita pergi, aku tidak ingin membuat anak - anak itu menungguku di sana(Kantin)."


[Anda benar, namun sebelum itu ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu terlebih dahulu Master.]


"Apa?" tanyaku.


[Tadi wanita itu bilang bahwa ia akan melakukan apapun untukmu, meski ia harus menggerakkan seluruh orang dunia bawah sekalipun.-


-Aku bertanya - tanya memang dia itu siapa? Kenapa ia bisa sampai berkata seperti itu?]


PIX memberikan aku tatapan serius.


Yaa bukan berarti aku tidak mengerti apa yang di rasakan PIX. Bagaimanapun juga jika seseorang mendengar itu maka mereka sudah pasti akan sangat penasaran. Sebab menggerakkan seluruh orang dunia bawah sama saja seperti menggerakkan seluruh para penjahat yang paling di takuti di dunia ini.


Karena itulah PIX sangat penasaran soal itu. Namun......


"Maaf PIX, untuk sekarang kau tidak perlu tau siapa dia(Zero).-


-Selain itu, bukankah kau seharusnya bisa melihat ingatanku di kehidupinku sebelumnya? Jadi tanpa ku beritaupun kau seharusnya tau, dia(Zero) itu siapa?"


[Master, aku sudah memberitaumu sebelumnya. Waktu itu otakmu mengalami luka yang sangat parah sehingga banyak ingatan anda yang hilang dan rusak.].


"Setelah di pikir - pikir Kau benar juga.-


-Jadi Itu berarti, apa kau tidak bisa melihat ingatanku yang di kehidupan sebelumnya?"


[Bukan berarti aku tidak bisa melihatnya, aku masih bisa melihatnya hanya saja tidak sebanyak seperti yang anda pikirkan.]


"Hmm begitu."


Setelah aku selesai bicara dengan PIX, aku pun memutuskan untuk meninggalkan tempat ini.


"Baiklah sudah cukup, tidak ada gunanya kita berlama - lama di sini, ayo kita pergi."


[......Baik.]


______________________________________


__________________________________


Setelah aku sampai di kantin, aku makan bersama Sara, Lia dan Rusli seperti biasanya. Dan ketika jam istirahat sudah berakhir kami semua kembali ke kelas kami masing - masing untuk belajar.


Dan tak butuh waktu lama akhirnya kelaspun berakhir. Dimana saat ini aku mengenasi semua buku pelajaranku dan memasukkannya ke dalam tas.


"Akhirnya kita pulang juga."


Gumanku.


Setelah semuanya ku masukkan ke dalam Tas aku berjalan keluar dan meninggalkan kelasku.


Tap!!....Tap!!!....Tap!!....


Di korodor aku melihat Sara. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang.


Dan saat Sara melihatku, ia buru - buru mendekatiku.


(Hmm jadi orang yang ia tunggu aku.)


Pikirku.


"Leon."


"Un Ada apa?"


"Hari ini, apa kamu mau pergi ke warnet bersama kami? Kamu taukan akhir - akhir ini kamu jarang sekali bermain bersama kami jadi...."


Memang benar, selama beberapa hari ini aku jarang bersama dengan mereka. Itu karena aku di sibutkan beberapa hal. Jadi aku rasa tidak apa ikut dengan mereka hari ini.

__ADS_1


Selain itu tidak jauh di belakang Sara aku melihat Lia dan Rusli sedang menunggu di depan pintu sekolah.


"Baiklah, aku ikut."


Jawabku, dimana membuat Sara merasa senang.


"Benarkah?"


"Un."


"Yaa udah, kalau begitu tanpa menunggu lama lagi ayo kita pergi."


Sara menarik tanganku dan membawaku ke tempat Rusli dan Lia. Setelah itu kami berempat berjalan keluar dari Sekolah.


Namun di saat kami sampai di depan gerbang sekolah, aku melihat mobil Firdaus terparkir di tepi jalan.


Dan saat Firdaus memperhatikan keadiran kami, Firdaus lansung turung dari mobilnya dan mendekati kami.


"Sara."


"K-Kak Firdaus, apa yang kau lakukan di sini? bukankah aku sudah mengirimimu pesan, kalau aku ingin pergi bermain bersama teman - temanku?"


"Yaa aku sudah membacanya, namun aku ingin tau apa kau pergi bersama dengan Leon?"


"Y-yah itu benar, memang kenapa?"


Tanya balik Sara. Namun Tanpa banyak bicara Firdaus lansung menarik tangan Sara yang dimana membuat Sara kaget.


"Tunggu Kak Firdaus apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku."


"Tidak, kau harus ikut bersamaku dan pulang kerumah."


"Hah mengapa?..aku tidak mau, aku ingin main sama mereka."


"Tolong kali ini saja dengarkanlah kakakmu Sara, aku melakukan ini semua demi kebaikanmu sendiri."


"Apanya demi kebaikanku, jika begitu cepat lepaskan tanganku."


Namun ketika aku baru saja mau menghalangi Firdaus, Firdaus lansung memberikan aku tatapan tajam seolah memberitaukan bahwa aku tidak boleh ikut campur, ini adalah urusan keluarga kami.


Karena aku juga sadar alasan kenapa Firdaus ingin membawa Sara, jadi aku pun menghentikan niatku untuk menolongnya.


Hingga akhirnya Firdaus berhasil membawa Sara masuk ke dalam mobil dan mengunci pintunya agar Sara tidak bisa keluar.


"Tunggulah di sini, aku ingin bicara dengan teman - temanmu dulu."


Setelah Firdaus mengatakan itu, ia meninggalkan Sara dan kembali ke tempat kami.


"Kalian pasti temannya Sara kan? Maaf yah hari ini Sara tidak bisa bermain dengan kalian karena ada urusan yang harus ia lakukan di rumah."


"I-itu tidak apa - apa, kami masih bisa bermain dengannya di lain hari." balas Lia.


"U-um." angguk Rusli.


"Ya udah, kalau begitu kami pergi dulu."


Sebelum Firdaus pergi, matanya bertemu dengan mataku hingga membuat kami berdua saling menatap satu sama lain.


"........"


"........"


Setelah beberapa detik kami saling menatap, tak lama kemudian Firdaus menghela nafasnya dan memutuskan meninggalkan kami.


Dimana ia kembali ke mobilnya dan masuk ke dalam. Lalu tanpa menunggu lama Firdaus lansung tancap gas dan pergi dari sini.


"Apa - apaan itu barusan?"


Guman Rusli.

__ADS_1


"Sepertinya Sara kelihatan kesulitan."


Ucap Lia dengan Sedih.


"Yang lebih penting apa yang harus kita lakukan sekarang?"


Ketika aku menanyakan itu, Rusli kelihatan kebingungan dan bertanya balik padaku.


"Apanya?"


"Yaa karena Sara sudah tidak ada, jadi apa kita masih ingin pergi ke warnet?"


"Tentu sajalah, lagi pula biasanya kita hanya pergi bertiga sajakan?"


Tanya Rusli, namun bukan aku yang jawab pertanyaannya melainkan Lia.


"Itu memang benar si tapi aku rasa hari ini sebaiknya kita tundah saja, lagi pula aku merasa tidak enak jika hanya kita saja yang bersenang - senang sedangkan Sara tidak."


Yaa setidaknya kali ini aku juga sependapat dengan Lia.


"Kau benar. Yaa udah kalau begitu hari ini sebaiknya kita pulang saja."


Baik Lia maupun Rusli lansung membalas dengan anggukkan setuju. Setelah itu kami pun meninggalkan tempat itu.


____________________________________


_________________________________


>Di tengah perjalanan.


Di dalam mobil, Sara duduk di kursi belakang dan wajahnya kelihatan kesal. Ia terus memandang Kakaknya yang sedang menyetir di kursi depan.


"Jadi, kenapa kamu melakukan itu?"


"Apanya?"


Firdaus mencoba bertanya balik pada adiknya, dimana membuat Sara marah.


"Tidak usah pura - pura bodoh begitu. Apa kamu sadar, Kamu telah mempermalukan aku di depan teman - temanku."


"Sara aku tidak punya maksud melakukan itu, aku hanya ingin menjauhkanmu dari Leon."


"Itu lagi, tadi malam Kakak juga bilang begitu. Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa kamu ingin menjauhkan aku dari Leon?-


-Padahal....PADAHAL LEON SUDAH MENYELAMATKANMU."


"......"


Firdaus terdiam. Ia tau Leon sudah menyelamatkan nya tapi tetap saja ia tidak ingin adiknya dekat - dekat dengan Leon.


"Ada apa Kak? Kenapa kamu diam saja?"


"......Sara, aku tau Leon sudah menyelamatkanku dan aku juga sangat berterima kasih soal itu tapi tetap saja ini dan itu berbeda, meskipun ia sudah menyelamatkan ku aku tidak akan pernah mau membiarkan orang seperti dia dekat - dekat denganmu."


"Kenapa?"


"Kenapa, ya itu karena-!!"


Tiba - tiba Firdaus berhenti bicara, sebab ia pikir jika ia memberitaukan soal diri Leon yang sesungguhnya pada Sara maka ada kemungkinan Sara dalam bahaya.


Selain itu, Firdaus juga belum tau banyak soal Leon. Ia memang kadang bersikap baik namun kadang ia juga bisa menjadi jahat dan mengerikan seperti saat itu.


Firdaus mengingat lagi waktu ketika Leon mengeluarkan aura membunuhnya, saat itu Firdaus benar - benar ketakutan sampai - sampai ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Firdaus bahkan tidak percaya anak sekecil Leon bisa mengeluarkan aura semengerikan itu. Karena itulah ia berpikir mungkin saja ada alasan juga kenapa Leon mendekati Sara dan membantunya.


Jadi sebelum Firdaus tau semua itu ia tidak ingin Adiknya dekat - dekat dengan Leon terlebih dahulu.


"Maaf Sara, aku tidak bisa memberitaumu. Namun kamu harus tau bahwa semua yang ku lakukan ini demi kebaikanmu."

__ADS_1


"Itu lagi, aku sudah bosan mendengarnya."


Sara mengertakkam giginya dan terlihat kesal. Ia tau tidak ada gunanya lagi bicara dengan Kakaknya jadi ia memilih untuk diam.


__ADS_2