
Beberapa saat kemudian setelah aku pukul mereka, akhirnya semuanya sudah kembali tenang. Dimana aku mencoba menghelas nafasku "haaa..!!" sambil melihat ke arah mereka.
"Baiklah sudah cukup main - mainnya. Mari kita kembali ke pembicaraan sebelumnya."
"Yah, kau benar."
Balas Brid, Kemudian Selena Melihatku dan bertanya.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa perlu kita Beritau juga Carla semua yang kau katakan Tadi?"
"Tidak, untuk sekarang kalian tidak perlu melakukan itu."
"Memang kenapa?"
"Ada dua alasan, yang pertama jika kau Beritaukan ia maka Semua usaha yang ia lakukan selama ini akan Sia - sia. Sedangkan yang kedua, aku ingin Carla terus menjalankan Rencananya untuk menghadapi Alexei."
Mendengar hal itu sontak membuat Selena lansung kaget dan terkejut.
"APA!!"
Tanpa Kecuali Brid yang lansung bertanya - tanya padaku...
"Leon, apa maksudmu Bilang begitu? Apa kau ingin bilang, membiarkan Carla menghadapi Alexei adalah pilihan yang benar?-
-Bukankah Sebaiknya kita hentikan saja itu, karena kita juga sudah tau Alexei bukanlah penghianat?"
"Yah, kau mungkin benar...tapi, ada Alasan lain kenapa aku Ingin membiarkan Carla menghadapi Alexei."
"Alasan apa lagi?"
"Kalau itu aku tidak bisa beritau kalian sekarang. yang jelas aku ingin kalian terus pastikan saja Carla menjalankan Rencananya Sesuai yang ia inginkan. Mengerti?"
Meskipun aku sudah berkata seperti itu tetapi masih ada keraguan Sedikit di mata Brid.
"A-anu...aku mengerti apa yang kau katakan, tapi tetap saja aku masih khawatir, apa tidak apa - apa kita melakukan itu?-
-Karena meskipun kita sudah memiliki Senjata S Gear tapi jujur saja aku Masih ragu, apa kita benar - benar bisa menahan Para Pengguna TUPXION itu atau Tidak."
"Oh kalau itu kau tidak usah khawatir, Karena aku percaya Carla pasti bisa memikirkan cara agar kalian bisa menahan mereka.-
-Selain itu..Brid, menurutmu buat apa aku memanggil kalian kemari."
"Eh I-itu....Bukankan karena anda ingin menyuruh kami melindungi Carla?"
"Tidak, kau salah. tujuan aku memanggil kalian kemari bukan hanya itu saja, tapi aku juga ingin ikut terlibat ke dalam Rencana Carla."
"Tu-Tunggu dulu, itu berarti apa mungkin anda akan ikut bertarung Bersama kami melawan Alexei?"
Tanya Brid yang Terlihat senang, namun berbeda dengannya aku sedikit kesal dan lansung mengambil bantalku kemudian aku lempar ke wajahnya.
"Dasar Bodoh tentu saja tidaklah. Kau seharusnya tau sendiri saat ini Aku tidak bisa ikut bersama kalian apa lagi bertarung bersama kalian.-
-Karena itulah mulai sekarang aku hanya bisa menyuruh kalian untuk mengikuti semua yang aku perintahkan. Supaya kalian bisa membuat Rencana Carla benar - benar sepenuhnya menjadi 100% berhasil. Apa kalian Mengerti?"
"Hmmm....aku tidak tau apa yang sedang kau rencanakan tapi,...Baiklah aku mengerti."
Jawab Selena dengan Serius, kemudian di ikuti dengan Anggukkan Setuju Brid.
"Umm, aku juga."
Ucapnya.
"Bagus. Kalau begitu Mari kita mulai Rencana di bagian kita."
Setelah itu aku mulai memberitaukan mereka Rencanaku dan apa saja yang harus mereka lakukan ketika Waktunya menghadapi Alexei.
___________________________________
_____________________________
>Beberapa saat kemudian...
__ADS_1
"Baiklah, kalian sudah mengertikan Apa saja yang harus kalian lakukan nanti?"
Tanyaku Kepada mereka, Dimana Brid yang lansung Jawab...
"Yah."
"Bagus, kalau begitu sekarang keluarlah, Aku mau tidur sekarang. Lagi pula Aku juga masih punya urusan yang harus ku lakukan Besok."
Selena terlihat penasaran, dan ia pun bertanya.
"Apa mungkin kau akan menemui Pionmu yang tadi menelponmu, besok?"
"Yah. Karena itulah Sekarang keluar, aku mau tidur."
"Ba-Baik, Kalau begitu aku permisi dulu."
Brid mencoba meninggalkan Ruanganku tetapi ketika ia ingat masih ada satu hal yang ingin ia tanyakan padaku. Ia lansung berhenti dan buru - buru kembali melihatku.
"Oh iya Ketua."
"Sudah ku bilang panggil saja aku Leon."
"Ba-Baiklah, kalau begitu Leon aku ingin tanya sesuatu, apa mungkin kau tau Kondisi aneh yang di alami Rangga saat ia bertarung denganku?"
"Oh aku ingin tau itu juga."
Ucap Selena yang ikutan. Namun sayangnya aku tidak tau kondisi apa yang mereka maksud, sehingga aku bertanya...
"Kondisi?...Kondisi apa yang kalian maksud?"
"Itu, saat Rangga tak sadarkan diri tapi tubuhnya bisa bergerak sendiri."
"Ooh Kondisi itu ya. Maaf sayangnya aku juga tidak tau. Aku sudah pernah mencoba mencari Tau soal Kondisinya itu tapi sayangnya Aku tidak menemukan apapun."
"...Begitu."
Guman Brid yang sedikit kecewa. Jadi aku menambahkan...
"Siapa?"
"Dia adalah...BAGAS."
Jawabku dengan Tegas. Dimana Membuat Tatapan Brid lansung menyipit dengan tajam.
"Bagas ya."
Guman Brid. Lalu kemudian ia menghela nafasnya "haaa..!!" dan kembali melihatku.
"Ya sudah, karena urusanku di sini juga sudah selesai, kalau begitu aku permisi dulu."
Di saat Brid sudah Meninggalkan kamarku, aku melihat ke arah Selena, dimana ia masih saja berdiri di situ memperhatikanku, sehingga aku bertanya...
"Ada apa? Apa ada lagi yang ingin kau bicarakan?"
"Yah. Aku tidak tau kenapa Brid tidak ingin menanyakan hal ini padamu tapi sebagai gantinya aku yang akan Bertanya.-
-Dirman,...Kau, meskipun kau masih hidup tapi kenapa kau tidak kembali Ke KSP? Bukankah semua Masalah yang Carla dan yang lainnya hadapi akan lansung selesai jika kau kembali?"
Tanya Selena dengan serius di iringi dengan kilatan matanya yang tajam.
Namun bukannya takut aku menatap Balik dia, dimana aku mencoba mencari tau apa ada maksud Lain ia menanyakan hal ini atau tudak.
"........"
Setelah aku tau ia tidak punya maksud apapun, jadi aku pun memutuskan untuk menjawabnya...
"Selena aku sudah memberitaumu tadi kan, ada beberapa negara yang berniat ingin menyerang KSP namun sekarang mereka semua sudah takut-
-Alasannya itu Karena kekuatan KSP saat ini sudah berkembang dan besar, di tambah lagi KSP juga memiliki Satu kekuatan yang sulit untuk di kalahkan yaitu TUPXION.-
-Jadi, jika aku salah satu Dari tujuh TUPXION sampai ikut bergabung ke KSP juga, maka menurutmu apa yang akan terjadi?"
__ADS_1
Tanya ku kepada Selena, dimana meski Selena terlihat mengetaui jawabannya tetapi ia tidak mau mengatakannya sehingga aku yang jawab.
"Jawabannya gampang. Mereka pasti akan lansung menyerang kalian habis - habisan tanpa berpikir dua kali.-
-Kalau perlu mereka bahkan akan membentuk sebuah Aliansi hanya untuk bisa menghancurkan kalian."
"Hmm Itu berarti alasan kau tidak ingin kembali ke KSP...."
"Yah, itu semua ku lakukan...UNTUK MELINDUNGI KALIAN."
______________________________________
__________________________________
Keesokan Paginya, aku keluar dari kamar lalu Berjalan di koridor kemudian menuruni tangga, dimana aku melihat Rina, Pelayan Rumah ini sedang membersihkan ruangan Tamu.
Aku lansung menghampirinya dan menyapanya.
"Selemat Pagi Rina."
"Oh tuan muda, Selamat Pagi."
Balas Rina, lalu kemudian aku perhatikan Lantai serta vas Bunga Yang sudah di bersihkan oleh Rina, dimana mereka Semua terlihat sangat mengkilap.
"Oh Seperti biasa kau sangat hebat dalam membersihkan Rina. Lihat Vas Bunga ini, ini terlihat seberti Vas Bunga Baru."
"I-itu tidak benar sama sekali."
"Tidak usah merendah Begitu, sebagai Tuan mudamu aku sangat bangga memiliki pelayan Sepertimu tau."
"Be-Benarkah?"
"Yah."
"Hmm Terima kasih atas pujiannya."
Ucap Rina yang terlihat senang. Namun sesaat kemudian Tiba - tiba ia ingat ada sesuatu yang ingin ia berikan padaku.
Rina mulai meraba - raba Pakaiannya dan di salah satu Kantongnya ia mengeluarkan Sebuah Surat. Dimana Surat itu lansung di berikan padaku.
"Ini tuan Muda. Tadi pagi ada pengantar surat yang mengirimkan ini pada anda."
"Padaku?"
"Yah."
Balas Rina. Lalu tanpa pikir panjang aku lansung ambil Surat tersebut kemudian aku balik. Dimana aku sontak terkejut sesaat melihat nama si Pengirim Surat tersebut.
"I~Inikan...Bagaimana bisa dia....."
"Ada apa Tuan muda, anda terkejut begitu?"
Tanya Rina yang terlihat khawatir.
"Hah tidak bukan apa - apa."
Balasku, kemudian aku tatap Rina dan bertanya..
"Omong - omong Rina, apa kamu sudah Lihat isi Surat ini?
"Tidak, aku belum lihat isinya."
"Begitu,...ya sudah, kalau gitu aku pergi dulu, tolong lanjutkan pembersiannya."
"Baik Tuan muda."
Balas Rina.
Lalu Setelah aku berpisah dengan Rina, aku mencoba menuju Ke Ruang makan.
Namun sebelum aku masuk ke dalam Sana, Aku mencoba sekali lagi melihat Nama Si pengirim Surat itu. Dimana nama dia adalah...ZERO.
__ADS_1