BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
ANGGOTA TAMBAHAN


__ADS_3

Di malam hari, di sebuah kota di padang pasir. Di sana terdapat sebuah Rumah Batu yang sangat Sederhana.


Rumah tersebut di isi oleh dua anggota Kelompok Serigala Pemburu. Yaitu Mael dan Dux.


Saat ini mereka berdua tengah duduk di Ruang tamu sambil melakukan panggilan dengan Carla.


Dimana Carla terlihat di Monitor besar, yang ada di depan mereka.


"Jadi, ada apa menghubungi kami tiba - tiba?"


Saat Mael Bertanya, Carla yang lagi menjilat Lolipopnya menjawab.


{Aku ingin memberitau kalian. Kalau sudah saatnya kita masuk ke rencana selanjutnya.}


Mendengar ucapan itu, membuat ekspresi mereka berdua lansung terlihat serius.


"Carla, Apa kita benar - benar akan melakukan ini?"


Tanya Dux sambil menatap Lurus Carla, begitupun dengan Mael. Namun tanpa pedulikan itu Carla menjawab.


{Tentu saja, apa kau pikir aku bercanda.}


Melihat tatapan Carla yang tenang, membuat mereka berdua lansung mendesah.


"Haa baiklah aku mengerti. jadi kapan kita akan mulai?" Tanya Mael


{Malam ini.}


Jawab Carla dengan Serius.


__________________________________


____________________________


Sekitar jam 1 malam, masih di ruang tamu, di sana terlihat Mael dan Dux sedang duduk di sofa sambil mengatur, membongkar, dan membersihkan beberapa senjata yang ada di atas meja.


Mulai dari Senjata, Sniper, AK47, Rifles, Peledak sampai Drone penghancur dan masih ada lagi....


Senjata tersebut di persiapkan untuk misi selanjutnya.


Sambil membongkar dan membersihkan Snipernya, Mael bertanya ke Dux.


"Dux, bagaimana dengan Peledak yang kau buat, apa kau sudah atur semuanya?"


Dux yang dengar itu dengan santai menjawab, meski ia lagi merakit Bom di atas meja.


"Yah, aku dah masukkan sebagian di dalam Koper. Sisa ni doang."


"Begitu."


Jawab Mael, setelah itu giliran Dux yang bertanya.


"Kalau kau, bagaimana dengan bagianmu?"


Sesaat Mael di tanya seperti itu, ia melihat ke atas meja, dimana terdapat banyak sekali Senjata.


Namun di antara mereka, terdapat 3 senjata yang sepertinya masih Terbongkar. Atau belum di bersihkan.


"Sama, sebentar lagi aku dah selesai."


Jawab Mael. Yang masih membersihkan Snipernya.


Namun, pada saat mereka berdua melakukan itu, tiba - tiba terdengar sebuah ketukan dari arah pintu.


Sentak membuat mereka berdua lansung mengambil Pistol di atas meja, dan mengarahkannya ke arah Pintu dengan tatapan tajam.


"".........""


Ketika Mael dan Dux terus melihat ke arah sana, beberapa detik kemudian ketukan itu terdengar lagi.


Namun Ketukan ini agak berbeda dengan ketukan pertama, dimana ketukan ini berbunyi seperti Kode mourse. Yang mengatakan...



Mengetaui hal itu, Mereka berdua lansung merasa lega sambil saling menatap satu sama lain.


"Itu pasti Orang yang di bicarakan Carla." ucap Dux


"Sepertinya begitu."


Jawab Mael sambil menyimpang Pistol itu kembali ke atas meja. Dan melihat ke arah pintu.

__ADS_1


"Kalau begitu, biar aku yang buka kan pintu."


"Yah." jawab Dux yang lanjutkan Merakit Bomnya.


___________________________________


__________________________


Ketika Mael dah sampai di depan pintu, ia membuka Pintu tersebut. Di mana Memperlihatkan Seorang Pria dan seorang wanita yang berumur sekitar 30 tahun ke atas.


Pria itu mempunyai badan yang sangat Tinggi dan juga berotot, di tambah lagi ia mengenakan Pakaian ketat sehingga, otot - ototnya itu sampai terlihat di balik bajunya.


Sedangkan sih wanita. Ia mempunyai Rambut pendek keriting berwarna pirang. Sambil mempunyai Goresan Pisau di bagian pipinya.


Namun ketika Mael melihat kedua orang itu, ia terlihat sangat terkejut, Sebab bagaimanapun juga Mael sangat kenal dengan kedua orang itu.


Dimana si Pria bernama Gregori ia mempunyai sifat pendiam dan tidak terlalu banyak bicara.


sedangkan sih wanita ia bernama Selena, memiliki sifat Ceria namun keceriannya itu bercampur dengan kesadisan.


mereka berdua adalah Salah satu kelompok tentara bayaran, yang paling di takuti di dunia. seperti kelompok kami.


Meskipun anggota mereka sangat sedikit, namun Cara bertarung dan kekuatan mereka, tidak jauh beda dengan kelompok kami.


Ketika Mael memikirkan itu, tiba - tiba ia di panggil oleh Selena dari depan.


"Mael, kenapa kau melamun saja di situ? Apa kau tidak biarkan kami masuk?"


"Hah, maaf aku hanya tidak menyangka kalau Orang yang di maksud Carla, itu ternyata kalian."


Mendengar ucapan Mael, membuat selena memirinkan kepalanya dan bertanya.


"Hmm, apa Carla tidak memberitaumu?"


"Tidak, ia hanya bilang kalau akan Ada orang yang membantu kami, di Misi kali ini."


"Begitu,...DASAR WANITA SIALAN."


Bisik Selena, sambil wajahnya terlihat kesal.


Melihat hal itu, Mael hanya tersenyum dan mulai membuka pintunya dengan lebar untuk mempersilahkan mereka berdua masuk ke dalam.


Mendengar hal itu, mereka berdua lansung masuk kedalam. Setelah itu, Mael menutup pintunya kembali.


Knock!!


___________________________________


_____________________________


Setelah beberapa saat mereka berjalan, akhirnya mereka bertiga sampai di ruang tamu.


Dimana Terlihat Dux sedang memasang beberapa Bomnya di bawah Drone. Yang ada di atas meja.


"Dux, aku sudah membawa mereka."


Mendengar Suara Mael, untuk sementara Dux berhenti memasang Bomnya dan melihat ke arah mereka.


Namun....


"Oh Mael akhirnya kau datang juga, lihat aku dah selesai mera-!!"


Sebelum menyelesaikan kata - katanya, tiba - tiba Dux berhenti bicara saat melihat mereka berdua.


Dimana matanya sangat melebar karena terkejut.


"Eh, Se-Selana, Gregori apa yang kalian lakukan di sini?"


"Apa? Tentu saja membantu kalian lah."


Jawab Selena


"Membantu kami? Itu berarti...."


Sesaat Dux berhenti ia melihat ke arah Mael, dan Mael pun menjawab...


"Yah, mereka juga akan membantu misi kita kali ini."


"Kau pasti bercandakan."


Ucap Dux dengan Suram. Namun tanpa pedulikan itu, Selena lansung duduk di atas Sofa sambil mengecek beberapa Senjata yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Meski begitu, bukankah ini terlalu banyak?"


Saat Selena bertanya, Mael yang mulai duduk di sofa menjawab.


"Tidak, ini sudah pas. Lagi pula, masih ada beberapa anggota yang nanti kita jemput."


"Heee, jadi masih ada orang lain yah."


Bisik Selana sambil menyimpang Kembali senjata yang ia pegang ke atas meja.


Namun, saat ia menyimpang Senjata tersebut, tiba - tiba ia ingat sesuatu dan melihat ke arah Mael.


"Omong - omong, akhir - akhir ini aku sering dengar Rumor, kalau kalian sedang di pekerjakan para petinggi PBB, apa benar?"


Mendengar hal itu, Dux yang tengah memasang Bomnya di bawah Drone terlihat terkejut.


Begitupun dengan Mael yang lansung menyipitkan matanya dengan tajam ke arah Selena.


"Selena, kenapa kau bertanya soal itu?"


Saat Mael bertanya, Sesaat Selena menatap balik Mael. Namun setelah itu Ia sandarkan punggunnya di belakang sofa dan menjawab...


"Aku tidak punya maksud apapun. Aku hanya ingin tau saja. Karena beberapa Bulan terakhir ini aku tidak pernah melihat kalian mengambil tugas di Forum itu, jadi...."


"Begitu, aku mengerti."


Ucap Mael, setelah itu ia menatap lagi Selena dengan Serius.


"Tapi Selena maaf saja, aku tidak bisa memberimu jawaban soal itu."


Melihat tatapan serius Mael, membuat Selena lansung menghela nafasnya. Sambil membuang dirinya di sofa dan berbaring di sana.


"Haaa, yaaa sudah kalau kau tidak mau jawab, aku tidak akan memaksa."


Ucapnya, sambil menutup kedua matanya dan tertidur.


___________________________________


____________________________


Setengah jam kemudian, akhirnya Mael Dan Dux sudah menyelesaikan persiapannya.


Dimana Terdapat Lebih dari Sepuluh Koper Hitam di atas meja. Dimana Koper - Koper itu berisikan senjata yang mereka sudah atur.


"Yosh akhirnya selesai juga. Sekarang,...Gregori, bisa bantu kami bawah Koper ini, di depan Rumah?"


Saat Mael bertanya. Gregori hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya sedikit.


"Ummm."


Setelah itu Mael berkata..


"Baiklah, kalau begitu, kau bisa angkat 6 koper di sana, sedangkan sisanya biar aku dan Dux yang bawah."


mendengar hal itu, Gregori mulai mengangkat 6 Koper itu ke atas pundaknya. 3 di kiri dan 3 di kanan.


Dimana Koper tersebut saling bertumpukan satu sama lain.


Setelah Gregori mengangkat Koper itu, ia mulai berjalan dan meninggalkan tempat ini.


Di sisi lain, ketika Dux melihat Gregori mengangkat 6 koper itu, ia terlihat terkesen.


Sebab Dux sangat tau, mengangkat dua Koper saja sangat sulit baginya, apa lagi ia mengangkat 6. Itu sudah mustail untuk di angkat.


Namun Gregori dengan mudahnya mengangkat koper itu. Seolah - oleh Koper tersebut tidak mempunyai beban sama sekali.


"Gila, dari mana ia dapat tenaga sekuat itu?"


Saat Dux bertanya, dengan ekspresi serius Mael menjawab.


"Saaa, aku tidak tau. Yang jelas melihatnya saja, kita bisa tau kalau ia memang orang yang pantas menjadi Rival, Ketua kita sebelumnya."


ucap Mael dengan serius.


************


Author: Maksud Rival di sini, itu cuma Kekuatan saja. Bukan Soal Kepintaran atau Strategi.


Yosh, sampai di sini saja dulu🙋


************

__ADS_1


__ADS_2