BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
PEMANDANGAN LUBANG NERAKA


__ADS_3

Pada saat Erina masih berusaha memutuskan Tali yang mengikat tangannya.


Sementara itu di lokasiku......


"BENAR, AKU AKAN MEMBAKAR KALIAN HIDUP - HIDUP DI SINI."


Ketika Aku mengucapkan itu, Luis dan Felik yang masih terbaring di bawah Lubang lansung terlihat panik.


Dimana mereka berdua tidak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan....


"Le~Leon kau pasti bercandakan? Tidak mungkin kau berani membakar kami Hidup - hidup?"


Ucap Luis yang terlihat Pucat, kemudian di sambung lagi Oleh Felik...


"Y~Yah itu benar,....jika kamu melakukan itu, pasti akan ada orang yang dengar jeritan kami di hutan ini."


"Apa kau pikir begitu?"


Di saat aku menanyakan itu, Mereka berdua terlihat kebingungan, dimana Luis bertanya - tanya....


"Apa maksudmu?"


"Seperti yang kamu tau, saat ini kita berada di tengah Hutan jadi siapa yang akan menolong kalian?-


-walaupun seandainya ada Orang yang tinggal di Hutan ini, apa kau pikir mereka bisa dengar jeritan kalian, di hujan sederas ini?....TENTU SAJA TIDAK."


Jawabku sambil menatap mereka dengan tajam, Kemudian aku lanjutkan lagi...


"Selain itu, aku pikir ini balasan yang setimpal untuk kalian, setelah apa yang kalian lakukan pada anak ini(Si Leon)."


(Eh, anak ini? Siapa yang ia maksud?)


Di saat Felik memikirkan itu, Di sampingnya terlihat Luis sangat marah, dimana ia tidak terima dengan apa yang ku katakan barusan...


"kau bilang apa...Sentimpal? WOY DARI MANANYA KAU BILANG INI SETIMPAL?-


-MEMANG BENAR KAMI SERING MENYIKSAMU TAPI KAMI TIDAK MEMBUNUHMU KAN? JADI KENAPA KAU INGIN MEMBUNUH KAMI SEPERTI INI?"


"Kau.....apa kau belum sadar?"


Di saat aku menanyakan itu, Luis terlihat kebingungan dan bertanya...


"Apanya?"


"BOCAH YANG SERING KALIAN BULI...DIA ITU SUDAH LAMA MATI TAU."


""Eh!""


Baik Luis dan Felik yang dengar itu sentak Shock, sebab bagaimanapun juga Bocah yang ia Buli saat ini masih hidup dan berdiri di atas sana. Jadi bagaimana bisa ia mengatakan itu....


"Kau,...apa yang kau katakan? Bukankah kau masih ada di sini?" Tanya Luis.


"Memang benar Bocah itu ada di sini, tapi hanya tubuhnya saja, sedangkan Rohnya, ia sudah lama pergi ke atas sana(di Surga)."


Ucapku sambil menatap Awan Gelap di Luar Tenda. Kemudian aku kembali melihat mereka dan berkata.....


"Saat ini, yang berdiri di hadapan kalian Bukanlah Bocah yang kalian kenal, melainkan..SEORANG IBLIS YANG KALIAN TARIK DARI DALAM NERAKA."


Ucapku dengan nada tajam, Dimana membuat mereka berdua lansung terlihat shock. Namun, tanpa pedulikan itu aku melanjutkan lagi...


"Yaa, Meskipun aku tidak ingin mengakuinya, tetapi berkat kalian yang Membunuh anak ini(Leon) aku bisa mengambil ahli Tubuhnya,..jadi, aku harus berterima kasih pada kalian."


Walaupun Luis tidak mengerti apa yang sedang ku bicarakan, tetapi ia terlihat senang ketika mendapatkan ucapan terima kasih dariku.


"Benarkah, Ka~Kalau begitu, apa kau bisa lepaskan kami?"


Pada saat Luis meminta itu, Aku lansung menolaknya dan membalas.


"Aku tidak bisa melakukannya."


"Kenapa?"


Tanya Luis sekali lagi.


"Karena, berapa kalipun kau memohon atau menangis, aku tetap tidak akan bisa melepaskan kalian....sebab aku sudah berjanji pada anak ini, kalau aku akan membalas semua perbuatan yang pernah kalian buat kepadanya,..DENGAN MEMBUNUH KALIAN DI SINI."


Ucapku dengan tatapan dingin dimana membuat Luis dan Felik merasa merinding.


Mengabaikan mereka, aku lansung mengeluarkan sebuah Belati dari dalam Tasku kemudian aku kembali melihat mereka dan berkata...


"Tapi, sebelum aku membunuh kalian, sebaiknya aku mengambil salah satu dari tangan kalian."


"Hah! Bu~Buat apa kau melakukan itu?"


Tanya Felik yang terlihat pucat.


"Buat apa? Tentu saja buat mengenang kalian, karena kalian sudah membantuku mengambil ahli Tubuh ini."


Ucapku dengan bahagia, kemudian aku tersenyum ke mereka dan bertanya...


"bagaimana, kalian senang kan?"


"SENANG DARI MANANYA, DASAR BOCAH PSIKOPAT."

__ADS_1


Bentak lansung Luis yang terlihat sangat marah, namun bukannya takut aku dengan santai membalas.


"oi aku bukan psikopat, aku ini Iblis"


"SIAPA YANG PEDULI BRENGSEEK!!"


Bentak lagi Luis, dimana saking marahnya urat - uratnya bahkan sampai terlihat di dahinya.


Setelah itu ia mulai memberontak dan berusaha untuk lepas dan bangun dari tempat itu.


Sayangnya karena Lubang itu sangat sempit di tambah lagi ia terjepit bersama dengan Felik, sehingga membuatnya susah untuk bangun.


"Sial Aku tidak Bisa Bangun...FELIK, MINGGIR SEDIKIT SANA." ucap Luis.


"HAH, DIMANA KAU MAU AKU MINGGIR? DI SINI SUDAH TIDAK ADA RUANG." balas Felik.


"TIDAK USAH MELAWAN CEPAT MINGGIR SEDIKIT SANA!"


"~aghhh, aduh sakit...WOY JARIKU MASIH SAKIT, APA KAU TIDAK BISA TENANG?"


"APA KAU PIKIR AKU BISA TENANG DI SITUASI SEPERTI INI? CEPAT MINGGIR SAJA SANA!"


"SUDAH KU BILANG DI SINI SUDAH TIDAK ADA RUANG, LAGI PULA JANGAN BANYAK GERAK JARIKU MASIH SAKIT SIALAAAN!"


"APA KAU BILANG? APA KAU INGIN KU BUNUH."


"AYO SIAPA TAKUT."


Ketika mereka berdua mulai bertengkar, aku lansung melipat Tenda yang melindungi kami dari derasnya Hujan.


Dimana membuat Air Hujan itu lansung masuk ke dalam Lubang dan membasahi mereka...


"Ughh Sial..WOY APA YANG KAU LAKUKAN, PASANG ITU KEMBALI!"


Mengabaikan perkataan Luis, aku terus membiarkan mereka di hujani.


"Dasar Sialaan!! Aku bilang pasang itu kembali, apa kau tidak dengar?"


"Yah, maaf aku tidak dengar, karena Derasnya Hujan."


"Brengseet!!...JANGAN MAIN - MAIN DENGANKU CEPAT PASANG ITU KEMBALI!!"


Di saat mereka berdua terlihat sudah kelelahan, aku memasang Tenda itu kembali, kemudian aku menatap mereka dan berkata....


"Baiklah, apa kalian sudah tenang? Kalau belum biar ku bantu lagi Lepaskan(tenda) ini, bagaimana."


"Ti~Tidak, kumohon jangan lakukan itu."


Balas lansung Felik, dimana ia terlihat sedikit ketakutan. Mungkin ia juga sadar, jika aku membiarkan mereka terus di hujani, maka bisa saja lubang tempat mereka berada akan di penuhi oleh Air dan membuat mereka mati tenggelam.


Di saat aku mengucapkan itu, Luis terlihat kebingungan dan bertanya...


"Eh apanya yang di mulai?"


Tanpa menjawab Pertanyaan Luis, aku lansung turung ke bawah Lubang, dimana aku membawa sebuah jarum suntikkan dan menyuntikkannya ke Leher mereka berdua(Luis dan Felik).


"Sialan,..Woy apa yang kau suntikkan ke kami?" tanya Luis.


"Tenang saja, sebentar lagi kalian akan tau Sendiri." jawabku.


"Hah! Apa maksud-!!"


'Mu' ingin ucap Luis, namun sebelum mengucapkan itu, tiba - tiba ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan tubuhnya, dimana ia tidak bisa bergerak sama sekali...


(Sial, Tubuhku tidak bisa di gerakkan. Jangan bilang suntikkan barusan....)


Di saat Luis memikirkan itu, Terlihat aku sedang memutar - mutar Belati yang ku pegang, dimana sorot mataku melirik mereka dengan tajam.


Si Felik yang menyadari sorot mataku lansung merasa merinding. mengabaikan hal itu aku lansung membalikkan badan mereka menghadap ke tanah, dimana membuat Luis sangat marah.


"Woy apa yang sedang kau lakukan?"


Tanpa menjawab pertanyaan Luis, aku terus balik badan mereka.


"......."


Setelah badan mereka terbalik dan menghadap ke tanah. aku mencoba melepas tali yang mengikat tangan mereka di belakang. Dimana membuat mereka berdua lansung terlihat terkejut.


"Eh Ka-kau,..sedang apa kau?"


Ketika Felik bertanya, aku dengan tenang membalas....


"Apa kau tidak lihat, aku sedang melepaskan kalian."


"Kenapa kau melakukan itu?"


Tanya Luis.


"Kenapa? Yaa kalian tau sendirikan saat ini kalian tidak bisa bergerak sama sekali. Jadi meskipun aku melepaskan kalian, kalian tetap tidak bisa melakukan apapun."


Jawabku sambil menatap mereka dengan tenang. kemudian aku menyipitkan mataku dengan tajam dan menambahkan...


"Selain itu apa kau lupa, tadi aku sudah beritau kalian, aku berniat memotong salah satu tangan kalian.-

__ADS_1


-jadi untuk melakukannya, aku tidak punya pilihan lain selain melepaskan ini kan?"


Mendengar itu, Mereka berdua lansung terlihat Shock. Dimana mereka Seolah baru ingat hal itu.


"Le~Leon tunggu dulu, aku-!!"


Sebelum Luis selesai bicara, Aku lansung menarik tangan kanannya ke atas dan tanpa ragu sedikitpun aku lansung potong.


CREKT!!


Sesaat Tangannya terpotong, Darahnya lansung muncret kemana - mana dan menganai wajahku dan juga wajah si Felik.


Sedangkan Luis yang tangannya baru saja Ku potong lansung menjerit kesakitan, namun sayangnya Jeritannya itu di telang oleh Derasnya suara Hujan, sehingga suaranya tidak terdengar dari Luar.


"~ARGHHHHH!!...SIAAAL,..~SIAL..~SIAAAAL!! INI SAKIT SEKALI!!"


Ucap Luis sambil mencoba memberontak. Namun sayangnya ia tidak bisa karena Saat ini tubuhnya tidak bisa bergerak.


"~UGHHH,...LEOOOON INGAT INI BAIK - BAIK, JIKA AKU BERHASIL KELUAR DARI SINI, AKU PASTI AKAN MEMBUNUHMU."


Ucap Luis dengan sangat marah, namun tanpa takut sedikitpun aku dengan tenang membalas....


"Oh benarkah, bagaimana caramu membunuhku?"


"TENTU SAJA AKU AKAN SURUH AYAHKU MENYEWAH ORANG - ORANG DUNIA BAWAH, BIAR KAU DAN JUGA SELURUH KELUARGAMU DI BUNUH."


"Hmm begitu...yaa lakukan saja kalau kau bisa. Lagi pula sebentar lagi kau akan mati di sini."


Ucapku dengan santai, dimana Membuat Luis yang dengar itu, lansung mengerutkan dahinya dan terlihat sangat kesal.


Sedangkan di sisi lain, Felik yang tau bahwa sudah tidak ada gunanya Melawan, mencoba mencari cara lain....


"A-anu Leon, Bisa kamu lepaskan aku dari sini?"


"Hah! Apa yang kau katakan?"


"Ji-jika kamu lepaskan aku, aku berjanji akan melakukan apapun yang kau perintahkan, jadi..."


Sebelum Felik selesai bicara, ia lansung berhenti saat melihatku kembali naik ke atas.


"Eh! Leon kau mau kemana?"


Ketika Felik menanyakan itu, aku mengabaikannya dan lansung pergi menyimpang tangan Si Luis yang sudah terpotong ke dalam kantong plastik.


Setelah itu aku pergi mengambil Pom bensin yang ku letatkan di dekat pohon dan menuangkannya lagi ke dalam Lubang.


Dimana membuat mereka berdua lansung terlihat panik.


"~UGHHHH!!...DA~DASAR BOCAH PSIKOPAT, HENTIKAN ITU...KAU SUDAH MEMOTONG SALAH SATU TANGANKU DAN SEKARANG KAU INGIN MEMBAKAR KAMI HIDUP - HIDUP, APA KAU SUDAH GILA?"


"Yah aku memang Gila."


Jawabku lansung dengan santai.


Setelah beberapa saat ku tuangkan, tak lama kemudian akhinya aku selesai.


Dimana aku lansung menyalahkan Koret apiku sambil menengok mereka dengan sorot mata yang sangat tajam. Seolah menambah ketakutan di dalam hati mereka.


"Baiklah, apa kalian sudah siap?....kalau begitu menjeritlah sekeras - kerasnya."


"~~TU~TUNGGU,...TUNGGU DULU LEON, KAMI MOHON, MAAFKAN KA-!!"


'Mi' ingin ucap Felik, namun sebelum mengucapkan itu, aku lansung membuang koret api tersebut ke dalam Lubang.


Dan Saat itu jugalah sebuah kobaran api lansung meledak dan membakar Lubang itu beserta mereka berdua(Luis, Felik) yang berada di bawah.


Dimana mereka berdua terlihat Isteris dan terus menjerit kesakitan.


"~ARGHHHHHHHHHHHHH....~PANAS...PANAS....PANAAAAAAS!!" Si Luis.


"~ARGHHHHHHH!!...AKU TIDAK TAHAN, TOLONG MATIKAN INI....AKU MOHON, AKU TIDAK INGIN MATI..ARGGGHHHHHHHH!!" Si Felik.


Ketika Kulit mereka terus di bakar dan terkupas. di sana terlihat mata Luis sangat melotot, dimana ia seperti sedang mengutuk seseorang dengan nada yang sangat dingin dan juga tajam.


"~~UGHHHH,....SIAL....SIAL....SIAAAAAL!!, INI SEMUA SALAH DIA. JIKA SAJA SAAT ITU DIA TIDAK MELAKUKAN ITU, MAKA KAMI MUNGKIN TIDAK AKAN MENYIKSAMU!!"


Sesaat mendengar itu, mataku lansung menyipit dengan tajam, dimana aku bertanya - tanya....


(Dia? Siapa yang ia maksud?)


Pada saat aku menayakan itu. Tidak jauh di belakangku tepatnya di dalam semak - semak, di sana terlihat Erina yang sudah melarikan diri sedang bersembunyi sambil melihat ke arah kami.


Dimana Kobaran api sedang menyalah - nyalah dan menerangi pandangan dia yang saat ini terlihat pucat.


Bukan hanya itu saja, ia juga merasa sangat merinding.


Meskipun Saat ini suara Hujan sangat Deras, tetapi ia bisa dengar jeritan kedua temannya di Lubang sana. Dimana mereka berdua benar - benar terdengar sangat tersiksa.


SEOLAH MEREKA SEPERTI SEDANG BERADA DI DALAM LUBANG NERAKA.


"~ARGHHHHHHHHHHHHH!!..~TIDAAAAK!!.. AKU TIDAK INGIN MATIIII!!"


"~PANAAAAAS!!..~INI PANAS SEKALI, TOLONG BUNUH SAJA AKU,..ARGHHHHH!!"

__ADS_1


Erina yang dengar jeritan - jeritan itu hanya bisa terdiam dan ketakutan di sana.


Meskipun ia mencoba untuk meninggalkan tempat ini, tetapi tubuhnya tidak bisa di gerakkan sama sekali, seolah ia terpaku di tempat itu.


__ADS_2