
Setelah kami selesai makan, kami semua terlihat sangat Lemas karena terlalu kenyang.
"Haaa aku kenyang sekali."
"Sama aku juga."
Balas Haira terhadap perkataan Rezvan. Lalu di sisi lain aku yang sedang minum mencoba melihat ke arah Jam di dinding. Dimana sudah menunjuk pukul 7 malam.
"Sepertinya sudah malam sudah saatnya kita pulang."
"Hah kau benar."
Balas Rezvan yang melihat ke arah Jam juga. Sementara itu Kana yang dengar pembicaraan kami terlihat sedih...
"Eeeh apa kalian udah mau pulang?"
"Yah jika tidak, orang tua kami pasti akan khawatir. aku yakin kalian juga sama kan?"
Tanyaku kepada Rezvan dan Haira dimana mereka berdua lansung menjawab dengan anggukkan.
"Umm."
Setelah itu aku berahli ke arah Bu Linda dan berkata...
"Oh iya Bu Linda, terima kasih atas makanannya, ini sangat enak."
"Benarkah? Syukurlah kalau kamu suka."
Balas Bu Linda yang senang. Lalu kami Bertiga pun mulai bersiap - siap dan pergi ke depan pintu untuk memakai sepatu kami masing - masing.
Setelah kami memakai sepatu, kami lansung berdiri dan mencoba Untuk keluar dari Rumah ini.
Namun di saat Haira dan Rezvan udah keluar, untuk sementara aku berhenti dan melihat ke arah Bu Linda dan Kana, dimana aku mencoba berpamitan dengan mereka.
"Baiklah Bu Linda, Kana kalau begitu aku permisi dulu."
"Yah, hati - hati di jalan."
Balas Bu Linda.
Lalu aku pun mencoba keluar dari Rumah ini, namun dari belakang Tiba - tiba Kana Berlari ke arahku dan menarik lengan bajuku.
"Le-Leon."
"Kana, ada apa?"
"a~anu mau kah kamu datang lagi kesini?"
"Eh!"
"Bukan hanya kamu, Haira dan Rezvan. Aku ingin kita semua bermain lagi bersama. Apa tidak Boleh?"
"Bukannya tidak Boleh, hanya saja...."
Sesaat aku berhenti aku melirik ke arah Bu Linda, dimana sorot mataku seolah mengatakan..
(Apa tidak apa - apa aku datang lagi ke sini?)
Bu Linda yang tau akan hal itu lansung menjawab dengan senyuman.
(Um, tidak apa - apa, datanglah jika kamu ingin.)
Setelah mendapatkan persetujuan dari Bu Linda, aku pun kembali melihat Kana dan lansung mengelus - ngulus kepalanya.
"Baiklah, Kana aku berjanji akan datang lagi ke sini."
"Benarkah?"
"Yah, selama ini tidak merepotkanmu."
"tentu saja itu tidak akan merepotkanku, benarkan Ibu?"
Tanya Kana yang senang kepada Ibunya, dimana Bu Linda menjawab..
"Yah, itu benar."
Setelah pembicaraan kami selesai, aku pun tersenyum dan lansung berbalik.
"kalau begitu, aku permisi dulu."
Sambil meninggalkan kata - kata itu aku pun keluar dari Apartemen Bu Linda dan pergi meninggalkan tempat itu.
________________________________
______________________________
__ADS_1
Setelah aku sudah menjauh dari apartemen Bu Linda, tidak jauh di depanku aku Melihat Haira dan Rezvan sedang berdiri di Pinggir jalan.
Dimana mereka seolah sedang menunggu seseorang. Tanpa menunggu lama aku pun menghampiri mereka.
"Oi Apa yang kalian berdua lakukan di sini?"
"Oh Leon, aku sedang menunggumu." Ucap Rezvan.
"Menungguku?"
"Yah, aku ingin minta bantuanmu sedikit, bisa tidak kamu temani kami pulang ke Rumah?"
"Hah, buat apa aku temani kalian?"
Aku bertanya kepada Rezvan, tetapi Rezvan tidak menjawab apapun malahan ia menunjuk ke Suatu tempat.
dimana tepat di sebuah Pembelokan, di sana aku melihat ada banyak sekali anak berandalan yang sedang Nongkrong.
Terlebih lagi Mereka semua terlihat sangar dan di antara mereka ada beberapa yang lagi merokok.
Melihatnya saja aku bisa lansung tau alasan kenapa Rezvan minta bantuanku untuk menemaninya Pulang. Kemungkinan itu karena ia masih trauma setelah apa yang ia alami di Lorong itu.
"Haaa baiklah, aku mengerti aku akan temani kalian."
"Benarkah?"
Tanya Rezvan Yang terlihat senang.
"Yah Hanya saja, sebelum itu aku ingin tanya ke Haira.-
-Haira apa kau tidak masalah aku temani kalian?"
"Kenapa kau bertanya padaku?"
"Yaa Dari tadi kau sepertinya kelihatan tidak senang? Jadi aku berpikir, mungkin saja kau tidak suka jika aku yang temani kalian pulang?"
Seolah tidak membantah dengan apa yang aku katakan, Bulan lansung membalas...
"Kau benar aku memang tidak senang jika kau yang temani kami Pulang, tapi aku lebih tidak suka jika harus mengalami hal yang sama lagi seperti yang kami alami di Lorong itu.-
-Maka dari itu, meskipun aku tidak senang, namun untuk kali ini saja aku akan biarkan kau temani kami pulang, jadi berterima kasihlah padaku."
"Huh!😦"
"Woy Loli apa otakmu baik - baik saja."
"Hah!..APA MAKSUDMU BILANG BEGITU?"
"Tidak ada maksud apa - apa Kok, hanya saja aku khawatir sepertinya tanpa kau sadari otakmu itu sedang Koslet tau."
"KA-KAU...BERANINYA KAU..."
Haira terlihat sangat marah dan mencoba untuk memukulku namun ia lansung di hentikan Oleh Rezvan.
"Ka-Kak Rezvan, apa yang kamu lakukan? Cepat minggir, Aku ingin ajar ni Bocah."
"Haira, sudah hentikan saja itu."
"Ta-tapi kan Kak-"
"Aku tau, tapi kita tidak punya waktu bertengkar di sini. apa kau mau membuat Ibu Dan Kak Bulan Khawatir karena kita kelamahan Pulang?"
"I-itu....."
seolah Tidak bisa lagi membalas Perkataan Rezvan, Haira pun menurungkan tangannya kembali. Meski begitu Rezvan tidak berhenti sampai di situ ia melanjutkan lagi...
"Selain itu, apa kamu lupa, meskipun kamu melawannya, kamu seharusnya tau kamu tidak akan bisa mengalahkan dia."
Tentu saja Haira tau itu, karena bagaimana pun juga ia masih ingat kejadian waktu di Lorong itu.
Dimana saat itu aku sama sekali tidak kesulitan mengalahkan ke 6 anak berandalan yang mencoba menindas mereka, malahan aku dengan mudahnya mengalahkan mereka. yang membuat Haira dan yang lainnya merasa sangat terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang mereka lihat di hadapannya.
Setelah mengingat kejadian itu, Haira pun mulai sedikit tenang dan Berhenti bicara.
Melihat itu Rezvan merasa lega dan lansung menghela nafasnya "haaa..." lalu ia melihatku.
"Leon, maaf atas sikap Haira tadi."
"Itu tidak apa - apa, yang lebih penting, bisa tidak kita pergi sekarang. Lagi pula Aku juga harus cepat Pulang."
"y-yah kau benar, kalau begitu ayo kita pergi." balas Rezvan.
Setelah itu kami pun mulai berjalan ke arah Anak - anak Berandalan itu berada.
Dimana sebelum kami mendekati mereka, aku mencoba membisikkan sesuatu ke telinga Rezvan dan Haira.
__ADS_1
"Oh iya, aku lupa mengatakan ini. Sebelum kita melewati anak - anak berandalan itu, aku ingin kalian terus melihat ke arah depan dan jangan sekali - kali melihat mereka atau meliriknya, mengerti?"
"Eh memang kenapa?"
Tanya Rezvan yang kebingungan.
"Tidak usah banyak tanya, yang jelas ikuti saja apa yang aku katakan. Mengerti?"
"....baik, aku mengerti."
Jawab Rezvan dengan tegas.
Lalu beberapa detik kemudian, tibalah waktu kami melewati anak - anak berandalan itu.
dimana Seperti yang aku intruksikan Mereka berdua berusaha untuk tetap tidak melihat anak - anak berandalan itu atau meliriknya. melainkan mereka berdua terus melihat ke arah depan.
"Le-Leon, apa ini baik - baik saja?"
"Yah, selama kalian mengikuti apa yang aku katakan, Kalian pasti akan baik - baik saja."
Meskipun aku mengatakan itu tetapi jujur saja dari belakang aku bisa merasakan beberapa tatapan dari anak berandalan yang punya niat buruk kepada kami.
Dan seperti yang aku pikirian, salah satu di antara mereka lansung mencoba menghentikan kami.
"Woy Kalian bertiga, Berhenti dulu di situ."
mendengar itu sentak saja membuat Rezvan dan Haira merasa kaget sekaligus Takut.
Sebab mereka bingun mau menuruti anak berandalan itu atau tidak.
Jika mereka menuruti anak berandalan itu, Otomatis mereka harus berbalik dan melihat dia.
Yang artinya mereka akan melanggar apa yang Leon Intruksikan.
Sedangkan jika mereka tidak menurutinya sudah pasti anak berandalan itu akan marah dan besar kemungkinan mereka akan Di Pukuli.
Jadi mereka Berdua bingun mau pilih yang mana.
Seolah tau apa yang mereka berdua pikirkan, aku lansung megenggam pundak mereka untuk menenangkannya lalu aku berbalik ke belakang untuk menggantikan mereka.
"Ada apa memanggil kami, apa kalian punya urusan?"
Aku bertanya kepada anak Berandalan itu, dimana tatapanku terlihat sangat Tenang seolah tidak punya rasa takut sedikitpun padanya.
Mengetaui itu ia lansung mendecatkan Lidahnya "Cih!" dan tanpa banyak tanya ia lansung mengusir kami.
"Tidak,...kami tidak punya Urusan dengan kalian, jadi cepat pergi sana."
"....."
Tanpa berkata apapun, aku kembali berbalik ke arah depan lalu dengan cepat aku dorong Punggung Rezvan dan Haira untuk Buru - buru meninggalkan tempat ini.
_______________________________
____________________________
Setelah kami sudah agak jauh dari mereka, Rezvan memberanikan diri untuk melihatku dan bertanya...
"Leon, apa yang barusan terjadi, kenapa ia melepaskan kita?"
Aku tidak menjawab pertanyaan Rezvan melainkan aku bertanya balik padanya.
"Rezvan, apa kau tau kenapa setiap kali Anak berandalan menindas orang, orang itu biasanya pasrah dan tidak mau melawan?"
"Tidak, aku tidak tau."
"Itu karena mereka Bisa tau dan melihat Bahwa Orang itu adalah orang penakut, lemah, Cupu yang tidak apa - apa untuk di tindas.-
-berbeda dengan Orang yang tidak punya rasa takut, mereka pasti tidak akan menindasnya."
"Eh kenapa bisa?"
Tanya Rezvan yang kebingungan.
"Itu karena jika mereka melakukan itu, otomatis orang itu pasti akan melapor ke orang tuanya atau mungkin melapor ke polisi(karena orang itu tidak takut sedikitpun dengan Ancaman yang di berikan oleh anak - anak berandalan.), sehingga mereka semua pasti akan mendapatkan masalah."
"Oh itulah sebabnya kau melarang kami melihat mereka tadi?"
"Yah, jika mereka sampai melihat kalian yang ketakutan saat itu sudah pasti kalian akan di bawah dan....yaa kau pasti sudah tau sendirikan apa yang akan mereka lakukan?"
Seolah tau apa yang aku pikirkan Rezvan secara singkat membalas...
"Yah."
Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan.
__ADS_1