
Di saat matahari mulai terbit, tepat di sebuah taman, terlihat Rina sedang duduk sendirian di sana. dimana ia kelihatan keringatan sambil melihat ke atas langit, yang mulai sedikit terang.
"Haaa,...sudah lama aku tidak secapek ini."
Ucap Rina sambil bersandar di kursi taman. Kemudian ia menutup kedua matanya dan mencoba merasakan angin segar menyelimuti tubuhnya dengan nyaman.
Ketika Rina melakukan itu dengan ekspresi senang. Tiba - tiba ia dengar suara seseorang yang memanggilnya dari arah samping..
"Maaf, aku lama."
Saat Rina membuka kedua matanya ia melihat ke arah Suara tersebut. Dimana di sana terlihat aku (Leon) sedang berjalan ke arahnya sambil membawa 2 Botol minuman dingin di kedua tanganku.
"Ini."
Ucapku sambil menyerahkan 1 botol ke Rina, kemudian Rina mengambil Botol tersebut dan berterima kasih...
"Makasih."
"Sama - sama."
Balasku dengan lembut sambil duduk di samping Rina dan meminum minumanku. Begitupun dengan Rina yang duduk di sampingku.
Blup!!...Blup!!...Blup!!...
Setelah aku minum, aku melirik ke arah Rina dimana ia terlihat masih minum. Namun tanpa pedulikan itu aku mencoba bertanya...
"Bagiamana, apa kamu senang lari pagi seperti ini?"
Ketika aku bertanya, Rina lansung berhenti minum dan melihat ke arahku. Setelah itu ia jawab.
"Yah aku merasa sangat senang."
"Begitu, syukurlah."
Ucapku sambil tersenyum. Kemudian aku melihat ke arah depan, dan menatap beberapa orang yang tengah lari pagi juga.
Rina yang melihat aku seperti itu lansung tersenyum indah. Mengetaui itu aku lansung melihat ke arahnya dan bertanya..
"ada apa Rina kau senyum - senyum begitu?"
"Tidak, bukan apa - apa hanya saja, ketika aku melihat anda, aku merasa anda sudah banyak berubah di bandingkan dulu."
Jawab Rina dengan senyuman.
"Benarkah?"
Ketika aku tanya, Rina lansung menjawabnya dengan Anggukkan "umm." kemudian ia melihat ke arah depan dan melanjutkan lagi...
__ADS_1
"Dulu, sebelum anda hilang ingatan anda bukanlah anak yang seperti ini-
-anda adalah anak yang pendian dan tidak banyak berintraksi dengan orang, bahkan anda tidak pernah melakukan kegiatan (lari pagi) seperti ini."
"Hmmm."
"Namun, setelah anda keluar dari rumah sakit, aku perhatikan anda sudah mengalami banyak perubahan. Baik kegiatan yang sering anda lakukan maupun berintraksi dengan keluarga anda."
Ucap Rina dengan senang, kemudian ia menatap ke atas langit dan menambahkan lagi...
"Bukan hanya itu saja, bahkan anda sering kali mengajak kami, para pelayan ngobrol, dan itu membuat kami merasa senang."
Ucap Rina sambil mengalihkan pandangannya ke arahku.
Jujur saja, aku melakukan itu semua, bukan berarti aku tidak punya alasan.
Pertama, alasan aku melakukan kegiatan lari pagi, itu karena tubuh ini sangat lemah sehingga aku melakukan itu.
Sedangkan yang kedua, aku sering berintraksi dengan keluarga bocah ini(Leon), itu karena jika suatu saat identitasku sampai tetungkap maka aku tidak terlalu di benci oleh mereka, karena pendekatan yang kulakukan.
adapun para pelayan, alasan aku mengajak mereka ngobrol itu karena mereka semua adalah Wanita. Seandainya ada 1 atau 2 saja pelayan pria di rumah itu. Tidak mungkin aku mau ngajak mereka ngobrol.
Di saat aku memikirkan itu, tepat di sampingku terlihat Rina sedang menatapku dengan khawatir, dimana ia melihat aku diam saja dari tadi sehingga ia bertanya...
"Tuan muda ada apa, dari tadi anda diam saja terus?"
Sesaat aku berhenti, aku melihat ke arah Rina dimana tatapanku terlihat sangat serius dan berkata...
"Rina, karena kamu sudah tau kalau aku mengalami banyak perubahan di bandingkan dulu, kalau begitu aku ingin tanya....-
-APA KAU MENYUKAI DIRIKU YANG DULU ATAU YANG SEKARANG?"
pada saat aku menanyakan itu, sentak membuat mata Rina lansung melebar karena terkejut, "Eh" namun setelah beberapa detik kemudian, ia kembali tenang dan menjawab...
"Jujur aku tidak tau harus jawab apa. Pertama - tama aku menyukai diri anda yang sekarang. Namun bukan berarti aku benci diri anda yang sebelumnya."
"Begitu."
Di saat aku mengucapkan itu. Rina menambahkan lagi..
"Tapi, jika aku harus memilih menyukai yang mana, maka mungkin aku menyukai diri anda yang sekarang."
Ucap Rina sambil melihatku dengan senyum indah, dimana membuat mataku yang melihat itu sesaat melebar karena terpesona dengan kecantikannya.
Namun, ketika aku kembali tenang, aku mengalihkan pandanganku ke arah lain dan berkata...
"Umm Makasih, aku senang kau mengatakan itu."
__ADS_1
Ucapku dengan malu, Rina yang melihat itu lansung membalasnya dengan senyuman, setelah itu ia mencoba bertanya..
"Tapi, kenapa tuan Muda menanyakan itu?"
"Yaa, aku hanya ingin tau saja. Lagi pula kamu tau, setelah aku hilang ingatan, aku merasa seperti orang asing di rumah itu."
Mendengar apa yang aku ucapkan membuat Rina lansung kaget dan bertanya..
"Kenapa anda berpikir seperti itu?"
"Yaa mungkin kalian semua tidak sadar, tapi di saat aku melakukan tindakan aneh yang tidak pernah Leon yang kalian kenal lakukan, aku bisa rasakan tatapan semua orang, seolah - olah mereka semua berkata, AKU INGIN LEON DULU KEMBALI. Tanpa kecuali,...KAMU SENDIRIKAN RINA?"
Ucapku dengan tenang sambil melirik ke arah Rina, dimana membuat Rina yang dengar itu sesaat lansung melebarkan mata karena terkejut.
Namun setelah ia kembali seperti semula, ia kelihatan sedih dan berkata...
"Maafkan aku."
Ucapnya seolah - olah tidak menyangkal dengan apa yang aku katakan barusan.
"Tidak perlu minta maaf, lagi pula aku tidak pernah menyalahkan siapapun.-
-selain itu, aku sudah senang mendengar apa yang kamu katakan tadi."
Ucapku sambil melihat Rina dengan senyuman. Dimana senyuman itu seperti bercampur kesedihan.
Tentu saja aku melakukan itu, bukan berarti aku tidak memiliki tujuan, sebab aku punya tujuan lain memperlihatkan ekspresi seperti itu ke Rina, yaitu...
Sesaat aku berhenti, dari samping tiba - tiba Rina memelukkan, dimana ia lansung mengarahkan wajahku ke dadanya.
(Benar, ini lah tujuanku yang sebenarnya.)
Ucapku di dalam pikiran sambil senyuman seringai terpancar di bibirku. Di sisi lain, PIX yang mengetaui itu lansung berkata...
[Master kau benar - benar makluk brengseet, hanya karena ingin mendapatkan pelukan, kau sampai Pura - pura sedih begitu. Jujur aku sangat malu mendapatkan Master seperti kamu.]
(Sama, aku juga tidak mau mendapatkan bawahan sepertimu sialan.)
Jawabku lansung dengan Kesal, namun di saat aku terus di peluk oleh Rina, tanpa aku sadari ada seseorang yang mendekati kami dan lansung memanggilku...
"Leon."
Mendengar itu baik aku maupun Rina lansung berbalik melihat ke arah suara tersebut. Dimana tepat di sampingku terlihat Putri, teman dekat Kak Siska sekaligus Kakaknya Rusli sedang berdiri di dekatku sambil melihat kami berdua dengan Ekspresi tercengan.
"Kau,...apa yang kau lakukan?"
Tanya Kak Putri, sambil melihat ke arahku, dimana aku masih di peluk oleh Rina.
__ADS_1