BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
KEPUTUSAN FIRDAUS


__ADS_3

Setelah aku keluar dari sekolah, aku melihat sebuah mobil mewah terparkir di pinggir jalan.


Aku lansung tau mobil siapa itu, itu tidak lain adalah milik kakaknya Sara. Firdaus.


Dan seperti yang aku pikirkan. Beberapa detik kemudian Firdaus keluar dari dalam mobil itu dan berjalan menghampiriku.


"Leon, apa kau baru pulang?"


Aku secara singkat menjawab..."yah."...Lalu kemudian Firdaus bertanya lagi...


"Tapi, bukankah ini baru jam setengah 9?Kenapa kau cepat sekali pulang?"


"Yaa itu karena aku kurang enak badan jadi aku minta izin ke guru untuk pulang lebih awal."


"Hmm begitu."


Setelah Firdaus selesai bertanya padaku. Kali ini aku yang bertanya padanya.


"Omong - omong apa kau kesini mencari Sara?"


"Eh y-yah."


"Tapi bukankah ini terlalu cepat, kau seharusnya tau sendiri Sara itu baru bisa pulang pas jam 1 siang."


"Tentu saja aku tau."


"Kalau begitu kenapa kau datang secepat ini?"


"I-itu....."


Firdaus seolah tidak ingin memberitauku dan memalingkan pandangannya ke arah lain.


Di sisi lain, aku memperhatikan salah satu tangan Firdaus sedang memegang sebuah teropong satu mata.


Kemungkinan besar teropong itu ia gunakan untuk mengawasiku dari jarak jauh.


(Jadi ini alasan ia datang secepat ini. Sepertinya ia masih khawatir jika aku dekat - dekat dengan adiknya.)


Sementara aku memikirkan itu. Firdaus menyadari aku sedang memperhatikan teropong nya dan buru - buru menyembunyikan nya.


Yaa aku tidak peduli si jika ia mengawasiku, lagi pula akhir - akhir ini ada banyak juga orang yang sering mengawasiku jadi aku sudah tidak terlalu peduli lagi soal itu.


"Haa sudahlah, setelah ini masih ada urusan yang harus ku lakukan. Jadi aku permisi dulu."


Di saat aku mulai pergi. Di sisi lain Firdaus diam saja di situ sambil melamun.


Tidak ada yang tau apa yang ia pikirkan.


Namun tak berselang lama tiba - tiba Firdaus menguatkan dirinya seolah sudah memutuskan sesuatu.


Dan tanpa menunggu lama Firdaus lansung berlari mengejarku dan menahanku.


"Leon, Tunggu dulu."


Aku berbalik dan melihat ke arahnya..


"Ada apa, apa kau masih punya urusan denganku?"


"Ya, bisa aku minta waktumu sebentar, ada yang ingin ku bicarakan denganmu."


"Apa?"


"Ini soal tawaran yang kau berikan padaku dulu."


"Tawaran?"


Kemungkinan besar tawaran yang Firdaus maksud di sini saat aku menawarinya untuk menjadi salah satu Pionku.


Jujur saja aku ingin secepatnya pulang dan bersiap - siap pergi menemui Boktis.


Tapi karena urusanku dengan Firdaus tidak kalah penting dari itu juga jadi aku rasa tidak masalah jika aku meluangkan waktu ku sedikit dengannya.


"Baiklah, mari kita cari tempat yang pas untuk bicara."

__ADS_1


_____________________________________


________________________________


>Di Rumah Leon.


Pada saat Rina, pelayan rumah Leon sedang menyirami tanaman yang ada di halaman. Ia melihat tuan mudanya yaitu Leon baru saja pulang dari sekolah.


Rina lansung mencoba menghampirinya dan menyapanya.


"Tuan muda selamat datang, anda pulang lebih awal ya hari ini?"


"Eh..yah."


Leon hanya membalas itu. Setelah itu ia lansung berjalan melewati Rina dan masuk ke dalam rumah.


Melihat sikap dingin Leon yang seperti itu membuat Rina kebingungan dan bertanya - tanya...


"Apa telah terjadi sesuatu pada Tuan muda? Sikapnya agak aneh hari ini?"


_____________________________________


_________________________________


>Sementara itu.


Setelah aku(Leon) masuk ke dalam kamarku, aku lansung membuang tasku ke atas kasur dan mengganti pakaianku.


Kemudian aku pergi membuka jendela kamarku dan mencoba merasakan hembusan angin yang masuk ke dalam kamarku.


"Fuuu ini sejuk sekali."


Sambil mengumankan itu aku mencoba mengingat lagi apa yang ku bicarakan dengan Firdaus tadi.


>Saat itu, di dalam mobil...


"Jadi, apa kau menerima tawaranku?"


"Maaf Leon, aku rasa aku harus menolak tawaranmu itu, aku tidak pernah mau menjadi Pion mu."


"......Begitu."


Gumanku, namun tak berhenti sampai di situ, Firdaus melanjutkan lagi...


"Tapi, jika suatu saat kota ini memang di serang oleh sesuatu maka aku tidak masalah membantumu."


Sontak hal itu membuat aku sedikit kebingungan dan bertanya...


"Hah! Apa maksudmu?"


"Maksudku, aku hanya mau menuruti perintahmu saat kota ini benar - benar sudah di serang oleh sesuatu."


"Hmm dengan kata lain selama kota ini tidak di serang maka kau tidak akan pernah mau menuruti perintahku?"


Seolah ucapanku tepat sasaran Firdaus dengan kuat lansung mengangguk kan kepalanya.


"Ya, itu benar."


>Kembali di waktu saat ini.


Setelah aku mengingat itu, aku merasa sedikit kesal karena dalam peperangan waktu adalah segalanya.


Siapa yang cepat dialah pemenangnya.


Jadi buat apa aku butuh bantuan nya(Firdaus) jika kota ini sudah di serang. Itu tidak ada gunanya.


Malahan itu hanya akan membuat aku kerepotan jika minta bantuannya di saat kota ini sudah di serang oleh para Monster.


"~Haaa padahal dia(Firdaus) punya bakat yang bagus untuk bisa di kembangkan tapi karena ia tidak punya banyak pengalamam dalam peperangan jadinya seperti ini deh.-


-Jujur saja aku sedikit kecewa padanya."


Aku terus mengerutuh dan saat itulah PIX tiba - tiba mencoba menyarankan sesuatu padaku.

__ADS_1


[Master, jika anda sekecewa itu padanya, bagaimana kalau anda cari saja orang lain untuk menggantikannya?]


"Orang lain? Yaa itu mungkin saran yang bagus, tapi sayangnya kita tidak punya waktu untuk melakukan itu. Karena masih banyak hal yang harus kita lakukan, seperti menemui Boktis dan juga Pertemuan itu."


PIX tentunya juga menyadari hal itu dan setuju denganku.


[Anda benar juga]


Lalu setelah itu aku menghela nafasku dan mencoba mengeluarkan Hpku dari dalam kantong celana, kemudian aku nyalahkan dan melihat ada sebuah pesan masuk. Dimana Isi pesan tersebut adalah sebuah koordinat.


"Bagus, sepertinya dia setuju untuk bertemu denganku."


[Dia? Maksud anda Boktis?]


"Bukan."


[Lalu siapa?]


"Orang yang akan mengantar kita ke tempat Boktis."


____________________________________


__________________________________


Setelah aku tidur selama beberapa jam, di sore harinya aku keluar dari kamar dan turung ke lantai bawah untuk pergi ke ruang tamu, dimana aku hanya melihat Kak Siska dan juga Kak Rani berserta dengan anaknya yaitu Fira sedang bermain di sana.


Aku tidak melihat Kak Rangga dimanapun.


(Apa Kak Rangga belum pulang?)


Sementara aku memikirkan itu, Kak Rani menyadari keadiranku dan lansung memanggilku.


"Oh Leon, kamu sudah bangun?"


"Eh y-ya."


Balasku sambil mendekati mereka. Kemudian Kak Rani menatapku dengan ekspresi khawatir.


"Omong - omong tadi aku mendapatkan telepon dari sekolahmu, sepertinya kamu pingsan saat pelajaran sedang berlansung ya?"


Kak Siska yang dengar itu sontak lansung kaget..."Eh pingsan!"...dan buru - buru melihat ku.


"Leon, apa kamu baik - baik saja?"


"Yah tenang saja aku baik - baik saja. Apa mungkin Kak Siska mengkhawatirkanku?"


"Hah mana mungkin, aku hanya ingin tau saja hmph!!"


Kak Siska memalingkan pandangannya ke arah lain. Melihat tingkahnya yang seperti itu membuat aku lansung tertawa.


"Pffffth!"


Kak Siska seolah tidak suka hal itu dan mengerutkan keningnya.


"Leon, apa yang kau tertawakan di situ?"


"Saa, aku juga tidak tau, Pffft."


Balasku.


Sebetulnya Kak Siska tau bahwa aku sedang menertawainya. Tapi ia tidak ingin memperpanjang masalah ini jadi ia berusaha mengabaikan nya.


Di sisi lain aku juga tidak ingin terlalu mengganggu dia sehingga aku mengalihkan pandanganku darinya dan melihat Kak Rani.


"Oh iya omong - omong Kak Rani, apa kau lihat Kak Rangga?"


"Suamiku? Tidak, aku tidak melihatnya, aku rasa ia belum pulang kerja."


"Hmm begitu."


Jujur saja sebetulnya aku ingin secepatnya pinjam motor Kak Rangga dan pergi ke tempat dimana Koordinat yang ku terima tadi berada.


Tapi karena Kak Rangga belum datang jadi aku rasa sebaiknya aku tunggu saja ia di sini sampai ia pulang.

__ADS_1


__ADS_2