
Setelah beberapa saat aku mendengar Cerita Kak Rangga, tak lama kemudian aku akhirnya tau kalau Kuburan yang ingin kita kunjungi adalah kuburan dari Istri pertama ayah. Yang tidak lain ibu kandung dari Kak Rangga dan Kak Siska.
Meskipun aku merasa pusing karena mendengar cerita ini tiba - tiba, namun berkat informasi ini aku bisa tau. Kalau kecantikan Kak Siska bukan dari bawahan sih Ibu (Loli), melainkan dari Istri pertama ayah.
Sebab dulu, waktu pertama kali melihat ibu (Loli), aku sering bertanya - tanya bagaimana Kak Siska mempunyai wajah yang sangat cantik di bandingkan Ibu.
Di tambah lagi, aku tidak menemukan kemiripan sedikitpun antara mereka berdua.
Bukan hanya itu saja, bahkan saat aku bertemu Kak Rangga. Aku sering berpikir, apa Orang ini benar - benar anak Dari Ibu?
Karena menurut apa yang di katakan Kak Siska, Kak Rangga saat ini berumur 22 tahun sedangkan ibu berumur 37 Tahun. Itu berarti Kak Rangga sudah di lahirkan saat ibu masih berumur 15.
Jika kita perhatikan dengan baik. Itu sangat tidak Logis.
Memang benar ada beberapa wanita di dunia ini yang sangat cepat menikah. Namun membayankan tubuh ibu yang masih berumur 15 tahun sudah melahirkan. Apa itu memang bisa??
(TENTU SAJA TIDAK.)
Di lihat dari manapun kita bisa tau kalau itu tidak mungkin, dengan tubuh sekecil itu.
Makanya saat itu aku menyerah untuk berpikir. Sebab aku merasa tidak ada gunanya memikirkan hal itu.
Namun berkat cerita Kak Rangga barusan, semua pertanyaan itu lansung terjawab.
Meskipun masih ada beberapa hal yang belum ku mengerti namun, aku bisa memikirkan hal itu nanti.
Setelah memikirkan hal itu semua, aku melihat ke arah Kak Rangga lagi.
"Aku mengerti, berarti hanya aku yang lahir dari ibu kita yang sekarang kan?"
"Benar."
Jawab lansung Kak Rangga, setelah itu aku lanjut bertanya lagi.
"Tapi Kak Rangga, jika apa yang kau katakan memang benar. Kalau begitu kenapa rambut dan mata kita sangat mirip? Bukankah kita lahir dari ibu yang berbeda?"
Benar, meskipun aku sudah mengerti kalau hanya aku yang lahir dari sih Loli itu. Namun aku tidak mengerti kenapa aku bisa sangat mirip dengan mereka berdua. Baik dalam warna Rambut maupun warna mata kami.
Sebab jika kami dari ibu yang berbeda. Seharusnya ada satu atau dua hal yang tidak kami mirip. Namun aku tidak menemukan hal itu sama sekali.
Sehingga satu - satunya jawaban yang bisa ku pikirkan saat ini adalah....
"Leon."
Ketika Kak Rangga memanggilku, aku melihat ke arahnya.
"Ada Apa?"
"Apa yang kamu katakan memang tidak salah. Sebab meskipun kita lahir dari ibu yang berbeda namun baik kamu ataupun aku, kita bertiga mengikuti kemiripan ayah."
(Sudah kuduga.)
jawabku lansung di pikiran
Karena di lihat dari manapun baik Warna Rambut maupun Warna mata kami. Hanya ayah yang miliki.
Dengan kata lain, kami bertiga tidak mengikuti kemiripan dari ibu kami masing - masing. melainkan kami bertiga hanya mengikuti ke miripan dari ayah kami.
Meskipun Wajah Cantik Kak Siska, kemungkinan besar mengikuti kemiripan Ibunya.
Namun, ia tetap sama denganku yang mempunyai Rambut Hitam dan Mata Biru, seperti ayah.
Setelah memikirkan hal itu, perlahan aku menghela nafasku. Setelah itu aku melihat Kak Rangga lagi.
"Haaa, aku mengerti sekarang. Itu berarti secara garis besar kita ini bukanlah saudara kandungkan?"
Ketika aku bertanya, aku menatap mata Kak Rangga dengan Serius. Kak Rangga yang melihat tatapanku untuk sesaat hanya terdiam.
Namun setelah beberapa detik kemudian ia mulai menjawab.
"Kau Benar. tapi Leon, aku ingin kau ingat satu hal ini. Meskipun kita bukanlah saudara Kandung. Namun baik aku maupun Siska sudah menganggap kamu seperti adek kandungku sendiri, jadi...."
Sesaat Kak Rangga berhenti ia menatap mataku dengan sangat tajam. Setelah itu ia lanjutkan lagi.
"...JADI LEON, KAU TIDAK PERLU MEMIKIRKAN SESUATU YANG TIDAK PERLU. MENGERTI?"
"Yaa, aku mengerti."
jawabku dengan santai.
Meskipun aku tau apa yang ia maksud. Namun, untuk saat ini aku biarkan saja. Lagi pula, masih banyak waktu untuk memikirkan hal itu di masa depan nanti.
****************
Author: Omong" maksud ucapan Rangga di atas. itu di tunjukkan pada Leon Sama Siska yah.
jadi kalian bayankan saja sendiri apa maksudnya.
____________________________________
______________________________
Setelah aku bicara dengan Kak Rangga. Aku saat ini sedang ganti pakaian di dalam kamarku.
Setelah aku selesai ganti pakaian, aku membuka jendela kamarku sambil duduk di atas sana.
"Haa, ini sangat menyegarkan."
__ADS_1
Sambil menikmati udara segar yang menerbankan Rambutku. Aku mulai mengingat apa saja yang ku tau beberapa hari terakhir ini.
Dimana yang pertama aku tau kalau dunia kita saat ini sedang di serang oleh Fenomena Lubang.
Dan yang kedua adalah para Pembuli itu. Dimana saat itu aku mencoba memprovokasi mereka untuk cari tau, apa mereka ingin memukulku atau tidak.
Namun, mereka lebih memilih pergi dari pada memukulku, sehingga aku jadi yakin, pertanyaan yang ku pikirkan waktu itu sangat benar.
***************
Author: pertanyaan yang di maksud Leon di sini. waktu ia selesai menghajar 3 anak berandalan di lorong yah.
Jika kalian tidak ingat baca saja di chapter 42, supaya kalian Lebih paham.
*****************
Sedangkan yang ketiga adalah ingatanku. Berkat ingatanku yang kembali aku jadi tau beberapa hal yang tidak ku ketaui. Salah satunya adalah Kak Rangga yang ternyata Muridku dulu.
Meskipun aku senang karena ia sudah beranjak dewasa dengan sangat baik. Namun melihat muridku sudah memiliki seorang Istri sedangkan aku tidak. Entah kenapa membuatku sangat kesal.
(Cih, padalah aku yang mengajarinya cara mendapatkan cewek, tapi malah aku yang tidak dapat. Dunia Ini tidak adil.)
[Bukan dunia yang tidak adil, tapi kau nya saja yang serakah. Sudah dapat satu Wanita mau nambah lagi. Kau yang terburuk Master.]
"DIAMLAH BERENGSEET!!"
Saat aku berteriak di dalam kamar. dari balik Pintu terdengar suara ketukan seseorang.
TOK!...TOK!!....TOK!!!...
"Umm, siapa?"
Saat aku bertanya, dari balik pintu terdengar suara Kak Siska.
"Ini aku. Aku dengar kau teriak di dalam, apa kau baik - baik saja Leon?"
"Eh yah, aku baik - baik saja."
"begitu, omong - omong Kak Rangga tadi memintaku memanggilmu turung."
"Turung?"
"Yah, Kak Rangga bilang kita akan berangkat sebentar lagi."
"Hmm, baik aku mengerti."
Setelah aku mengatakan itu, Kak Siska lansung pergi ke kamarnya.
Di sisi lain, untuk sementara aku melihat langit biru di atas. Namun setelah beberapa detik kemudian perlahan aku turung dari atas jendela.
setelag itu aku mulai berjalan dan meninggalkan Kamarku.
___________________________________
____________________________
setelah beberapa saat perjalanan, tak lama kemudian, kami akhirnya sampai di tempat Kuburan.
"haaa, akhirnya sampai juga."
saat aku turung dari Mobil aku melihat ke arah samping. dimana terdapat sebuah pembatas yang di dalamnya terdapat banyak sekali kuburan berjejeran.
"jadi di sini yah, ibu kandung mereka di Kubur?"
saat membisikkan itu, dari belakang Kak Rangga memanggilku.
"Leon, bisa kau bawah bunga ini?"
ketika aku melihat ke arahnya, disana terlihat Kak Rangga sedang membawa Air botol besar di kedua tangannya sambil menunjuk ke dalam Mobil. dimana terlihat kantong putih yang isinya beberapa Bunga.
tanpa menunggu lama aku mengambil kantong tersebut dan melihat ke Kak Rangga lagi.
"kalau begitu, ayo kita masuk."
sambil mengucapkan itu, Kak Rangga lansung masuk ke dalam, sambil diikuti Kak Siska, Airani dan aku di belakangnya.
_______________________________
________________________
setelah beberapa saat kami berjalan, tak lama kemudian, kami akhirnya sampai di Kuburan ibu kandung mereka.
"jadi ini yah kuburannya."
saat aku membisikkan itu, aku perhatikan kalau tepat di batu Nisan tersebut, terdapat sebuah Foto Wanita yang mirip sekali dengan Kak Siska.
ia memiliki kecantikan dan Pony yang sama dengan Kak Siska
namun Yang membedakan antara mereka berdua adalah Gaya dan Warna Rambutnya.
dimana kalau Rambut Kak Siska berwarna Hitam, sedangkan Wanita di Foto itu berwarna Ungu.
meskipun masih ada beberapa hal yang membedakan antara mereka berdua. namun aku yakin kalau Wanita ini adalah ibu kandung mereka.
saat aku memikirkan itu, aku perhatikan kalau mereka semua sedang berjongkok.
sambil mengikuti mereka, aku melihat Kak Rangga sedang mencabut beberapa tanaman yang tumbuh di kuburan Ibunya.
__ADS_1
tanpa pikir panjang aku membantu Kak Rangga mencabut tanaman tersebut.
di sisi lain ketika Kak Siska perhatikan kami, mencabut tanaman. ia mengalihkan pandangannya ke arah Batu Nisan. dan melihat Foto ibunya.
"sudah 15 tahun yah, aku harap ibu baik - baik saja di atas sana."
sambil membisikkan itu, ekspresi Siska terlihat sedih, meski begitu ia tetap tersenyum.
Melihat hal itu, Airani lansung megenggam pundak Siska.
"Siska."
"Kak Rani."
saat Siska melihat Airani, Airani memberikan Air botol ke Siska. setelah Siska mengambil Air itu ia lansung menyiram ke Batu Nisan ibunya.
bukan hanya Kak Siska. Kak Rangga dan Airani juga ikut menyiram batu Nisan tersebut. hingga mereka memberikannya Bunga.
di sisi lain, ketika aku perhatikan mereka, aku terus mengikuti apa yang mereka lakukan.
namun, meskipun aku melakukan hal itu, jauh di dalam hatiku aku tidak merasakan apapun.
sebab, di kehidupanku sebelumnya, aku sudah sering kehilangan Orang yang kusayangi jadi. sesuatu seperti ini SUDAH BIASA BAGIKU.
____________________________________
_____________________________
Di sebuah tempat. Di sana terdapat rumah yang sangat sederhana dan juga kecil.
Di dalam Rumah tersebut terdapat dua anak kecil yang sedang belajar di lantai. Satu laki - laki dan satu perempuan.
Mereka adalah adek, adik dari salah satu gadis yang pernah membuli Leon. Yaitu Bulan.
Ketika mereka sedang serius belajar. Dari arah Pintu terdengar suara Bulan yang baru pulang.
"Aku pulang."
Mendenger suara kakaknya. Mereka berdua Lasung berhenti belajar dan berlari ke arah Pintu.
"Kak Bulan, selamat datang."
Sambil mengucapkan itu, mereka berdua lansung memeluk kakaknya dengan senang.
Bulan yang melihat itu lansung mengelus kepala mereka berdua.
"Kakak pulang, Rezvan, Haira."
Rezvan adalah adek laki - laki bulan yang berumur 8 tahun. Sedangkan Haira ia berumur 7 Tahun.
Ketika Bulan perhatikan mereka berdua. Ia ingat sesuatu dan lansung membuka Tasnya.
Setelah ia membuka tasnya. Ia mengambil sebuah Kantong hitam yang isinya adalah Nasi goreng yang ia beli tadi.
"Kak Bulan, apa itu nasi Goreng?"
saat Haira Bertanya, dengan senang bulan menjawab.
"Yah, Kakak beli tadi waktu mau pulang."
Mendengar hal itu Haira lansung terlihat senang sambil loncat - loncat di sana.
"Yeah, makan Nasi Goreng."
Namun, di lain sisi ketika Rezvan melihat Haira. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Bulan.
"Kak Bulan, apa tidak apa - apa Kakak beli itu? Bukankah Kakak ingin mengumpulkan uang untuk Kuliah?"
Melihat eksperis adeknya, Perlahan Bulan berjongkot setelah itu ia menepuk kepala adeknya.
"Rezvan kamu tenang saja. Aku sudah sisakan uang Kuliahku kok."
"Benarkah?"
"Umm."
Angguk bulan, setelah itu ia lanjutkan Lagi.
"Selain itu, aku masih punya uang, dari kerja sampingan jadi kau tidak perlu khawatir. Mengerti?"
"Baik, aku mengerti."
Setelah Rezvan mengatakan itu, Bulan melihat ke dalam rumah, dimana tidak ada siapapun selain Adek, adiknya.
"Rezvan, dimana ibu?"
"Dia,...dia belum pulang."
"Begitu."
Ucap bulan sambil terlihat sedih. Namun, ketika ia mendengar suara senang Haira. Ia lansung sadar dan melihat ke arah mereka berdua.
"Baiklah, karena ibu belum pulang, bagaimana kalau kita makan duluan."
"Yeaaaah Makan."
ucap Haira sambil Loncat - Loncat.
__ADS_1
"Umm." angguk Rezvan.
Setelah itu Bulan lansung masuk ke dalam bersama dengan adek, adiknya, untuk makan bersama.