
Di waktu istirsahat, seperti biasa aku di ajak ke kantin oleh mereka bertiga(Sara, Lia dan Rusli), aku pun ikut, namun di saat kami berjalan di koridor aku merasa Hpku gemetar.
Aku lansung berhenti jalan dan mengeluarkan Hpku dari kantong celana lalu aku melihat ada seseorang yang tak di kenal sedang menelponku.
(Siapa ini?)
"Leon, ada apa kau diam saja di situ?"
Tanya Rusli.
"Hah maaf, sepertinya Kakak ku sedang menelpon. Kalian duluan saja dulu nanti aku akan menyusul."
"Baiklah, kalau begitu jangan lama - lama ya?"
"Um."
Aku membalas dengan anggukkan, setelah itu aku pun berlari meninggalkan mereka dan pergi ke belakang sekolah untuk mengangkat panggilan tersebut.
".......Halo, siapa ini?"
Tanyaku, lalu dari balik telepon terdengar suara seseorang yang sudah di ubah menjadi seperti robot, sehingga aku tidak bisa tau dia ini pria atau wanita.
{Ooh akhirnya di angkat juga, astaga kenapa kamu lama sekali mengangkatnya, aku pikir kamu mengabaikanku tau.}
Perkataannya membuatku sedikit kesal, namun meski begitu aku berusaha untuk tetap bersikap tenang.
"Sudahlah tidak usah banyak bicara, cepat jawab saja, siapa kau?"
{Siapa aku?...Hmmm apa suratku sudah sampai padamu?"
Dari kata - kata itu saja aku bisa lansung tau siapa orang di balik telpon ini.
"Begitu, jadi kau Zero."
{Benar sekali.)
"Bagaimana kau bisa tau Nomor ku?"
{Kamu seharusnya taukan, sesuatu seperti ini sangat mudah bagiku.}
".........kau benar juga. Bahkan kau bisa mengetaui aku pengguna TUPXION dan reinkarnasi di tubuh anak ini.-
-Aku ingin tau, bagaimana kau bisa tau semua itu?"
{Hahaha tentu saja aku tau, lagi pula aku sudah sering memberitaumu kalau aku ini anakmu, jadi semua tentang dirimu aku bisa mengetauinya, baik dirimu yang dulu ataupun dirimu yang sekarang.}
"......."
Aku diam saja mendengarkan Zero bicara. Sementara itu PIX yang dengar perkataan Zero barusan merasa sangat shock, sebab dari ingatanku ia tidak pernah sekalipun melihat aku menikah apa lagi menghamili wanita yang pernah ku tiduri. jadi bagaimana bisa aku mempunyai anak?
[Ma-Master, apa mungkin anda dulu mengadopsi anak?]
(Hah! Aku tidak pernah melakukan itu.)
[Kalau begitu, bagaimana bisa ia menyatakan kalau dia itu anakmu?]
(Kalau itu aku sendiri juga tidak tau. hanya saja ia sendiri yang menganggap kalau aku ini Ayahnya.)
[Hmm jadi begitu, itu berarti dia ini bukan anakmu kan?]
__ADS_1
Dengan tegas aku menjawab...(Yah.)...lalu aku mencoba mengakhiri pembicaraanku dengan PIX.
(Baiklah, sudah cukup bicaranya, sekarang.....)
Aku kembali melihat Hpku dan mencoba bicara kembali dengan Zero.
"Zero, untuk sekarang kita lupakan saja apa yang kau katakan tadi. Yang lebih penting ada urusan apa kau menelponku? Tidak mungkin kau menelponku hanya karena ingin mengatakan hal itu kan?"
{Yah itu benar, sebetulnya ada sesuatu yang ingin ku beritaukan padamu.}
"Apa?"
{Mulai sekarang sebaiknya anda harus berhati - hati karena aku mendapatkan kabar bahwa ada beberapa orang yang sangat berbahaya yang sedang mencoba mengincar nyawamu.}
"Mengincarku?"
{Yah.}
Jawab Zero secara singkat.
Jika Zero sampai berkata seperti itu, itu berarti orang itu benar - benar berbahaya. Aku ingin tau siapa orang itu.
"Boleh aku tau, mereka itu siapa?"
{Maaf, untuk sekarang aku belum tau mereka itu siapa, namun dari yang aku tau mereka itu bukan orang yang berasal dari dunia ini.}
"Apa! Tu-Tunggu dulu, itu berarti..."
Seolah tau apa yang ingin ku katakan, Zero lansung menjawab...
{Benar, mereka berasal dari dunia lain, tempat yang sama dengan Gadis itu(Si pembawa Tupxion). Yang berarti ada kemungkinan kalau mereka ini adalah para pengguna tupxion dari dunia lain.}
Tatapanku yang tadinya tenang - tenang saja lansung berubah menjadi serius.
{Ayah, aku tau kau merasa senang karena ada orang kuat yang berani - berani mengincar nyawamu. Namun kamu harus tau kamu itu bukanlah lawan mereka, Kamu saat ini hanyalah anak kecil, tidak mungkin kamu bisa mengalahkan mereka.}
"Zero, tenang saja aku tau itu. Namun kau juga seharusnya tau. Saat aku bertarung aku tidak hanya menggunakan kekuatanku tapi aku juga menggunakan kepalaku untuk melawan musuhku.-
-Selain itu aku juga tidak ragu menusuk lawanku dari belakang, jadi kau tidak perlu khawatir."
{......Baiklah, jika ayah berkata begitu aku tidak akan mengatakan apapun lagi.}
Ucap Zero. Lalu Zero menghela nafasnya dalam - dalam dan merasa sedikit lega.
{Yaa setidaknya untuk sekarang Ayah tidak usah terlalu khawatirkan itu, karena mereka juga sepertinya masih belum tau apapun tentang dirimu.}
Di saat aku mendengar itu aku merasa aneh, sebab jika mereka belum tau apapun tentang diriku, itu berarti mereka sama saja seperti tidak mengenalku, kalau begitu kenapa mereka mencoba mengincarku.
"Zero, jika mereka belum tau soal diriku, kalau begitu kenapa mereka mencoba mengincarku?"
{Itu karena mereka menginginkan sesuatu yang ada pada dirimu.}
"Diriku? Jangan bilang......"
{Benar, mereka menginginkan TUPXIONMU, atau lebih tepatnya mereka menginginkan TUPXION No 04 Bercode Name PIX.}
"Hmm Jadi begitu, itu berarti yang mereka incar itu bukan aku melainkan TUPXIONKU Yaitu PIX?"
"Benar sekali."
__ADS_1
Jawab Zero dengan tegas. Dengan begini aku jadi mengerti alasan kenapa mereka mengincarku.
Kemungkinan besar saat ini mereka pasti sedang berusaha mencari pemilik dari TUPXION 04.
Yang artinya aku masih mempunyai banyak waktu untuk mempersiapkan diriku untuk menghadapi mereka sebelum mereka menemukanku.
"Zero, makasih sudah memberitauku. Kau sangat membantu."
{Itu tidak masalah, lagi pula jika itu untuk Ayah, aku akan melakukan apapun.-
-MESKI HARUS MENGGERAKKAN SELURUH ORANG DUNIA BAWAH SEKALIPUN.}
".........Zero, aku harap kau tidak melakukan itu."
{Fufufu aku tau, aku hanya bercanda saja.}
Balas Zero dengan nada bercanda. Lalu kemudian ia batuk sekali dan kembali bicara denganku.
{Baiklah hanya itu yang ingin ku katakan. Saat ini aku sudah menyuruh beberapa orangku untuk mencari informasi soal keberadaan mereka, jadi jika aku menemukan sesuatu aku akan lansung memberitaumu.}
"Makasih."
Ucapku dengan senang.
Dan karena tidak ada lagi yang ingin di bicarakan jadi aku mencoba mengakhiri panggilan. Apa lagi aku juga tidak ingin membuat anak - anak itu menungguku di sana(Kantin).
"Yaa udah, kalau begitu aku tutup dulu."
Di saat aku baru saja mau menutup panggilan tersebut tiba - tiba Zero menghentikanku.
{Hah Ayah tunggu dulu.}
"Ada apa? Apa masih ada yang ingin kau katakan?"
"Y-ya..um."
Aku diam sambil menunggu Zero bicara. Lalu tak lama kemudian Zero menghela nafasnya dalam - dalam dan mulai bicara.
{A-Ayah.....}
Kali ini suaranya terdengar agak berbeda, dimana suaranya terdengar seperti seorang wanita.
Suaranya sangat merdu dan halus hingga membuat seseorang yang mendengarnya merasa nyaman.
{Ayah kamu tau, aku....aku senang sekali. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa bicara denganmu lagi.-
-Meskipun kamu selalu menghidariku karena aku menganggapmu sebagai Ayahku, namun aku harap suatu hari nanti kamu mau menerimaku sebagai Putrimu.}
"........."
{Baiklah, hanya itu saja yang ingin ku katakan, kalau begitu aku tutup dulu, dah Ayah.}
Setelah Zero menutup panggilan tersebut, aku menyimpan Hpku kembali ke dalam kantong celana.
Lalu setelah itu aku bersandar di tembok sambil melihat langit biru yang terbentang di atas awan.
"Menerimamu sebagai putriku ya. Aku rasa itu tidak mungkin, lagi pula kenyataannya kau bahkan jauh lebih tua dariku."
Gumanku. Aku merasa lelah dan menghela nafasku.
__ADS_1
~Haaa...
(Masalah demi masalah terus saja berdatangan padaku. Ini sungguh sangat merepotkan.) pikirku.