
Setelah aku sampai Di rumah aku lansung masuk ke dalam dan menuju ke arah Tangga.
Dari Ruang Tamu aku melihat Ayah, Ibu dan Juga Kak Rani yang tengah memangku Fira sedang duduk di Sofa dan mereka sepertinya sedang lagi ngobrol.
Karena aku tidak ingin mengganggu mereka, sehingga aku mencoba naik ke Lantai Dua.
Sayangnya Ayah lansung memperhatikan keadiranku dan lansung memanggilku.
"Oh leon kau sudah pulang. kau dari mana saja baru pulang jam segini?"
"Hah a-aku...aku habis Mabar dengan Teman - temanku."
Jawabku, Dimana Ibu Seolah kebingungan dan bertanya - tanya..
"Mabar? Apa itu?"
"Maksdunya main game bersama. Lagi pula aku sudah punya hp, jadi setidaknya aku ingin main sama Teman - Temanku."
"Oh jadi begitu."
Ucap Ibu.
Setelah itu aku mendekati mereka lalu duduk di salah satu Sofa di Ruang tamu. Kemudian aku melihat mereka Semua dan mencoba mengganti topik pembicaraan..
"Omong - Omong aku tidak lihat Kak Rangga dan Kak Siska, meraka dimana?"
Kak Rani yang dengar lansung menjawab.
"Kalau Kakakmu(Rangga) dia sedang ada urusan di luar, sedangkan Siska...."
Pada Saat Kak Rani berhenti, ia lansung mengalihkan pandangannya ke Arah tangga atau lebih tepatnya ke lantai dua, dimana tatapannya terlihat khawatir.
Bukan hanya dia, Ibu dan ayah pun sama.
Alasannya, itu karena beberapa hari ini Kak Siska terus saja mengurung dirinya di kamar. di tambah lagi ia seolah sedang menghindari kami. Sehingga membuat semua orang khawatir.
"Apa Dia masih di kamarnya?"
Tanyaku.
"Yah, dia Masih di dalam Kamarnya. Dia tidak pernah keluar lagi setelah Pulang Sekolah."
Jawab Kak Rani, dimana aku lansung membalas...
"Begitu."
di sisi lain, Ibu yang tidak bisa lagi menahan kekawatirannya lansung mengehala nafas...
"Haaa, aku sangat khawatir dengannya."
"Um, Kau benar."
Ucap Ayah sambil mengangguk. Setelah itu, suasan di Ruangan ini menjadi Hening.
"......."
Setelah beberapa detik Hening, tak lama kemudian aku kembali melihat mereka dan bertanya..
"Oh iya, apa makan malam sudah siap?"
"Eh be-belum, Seharusnya sebentar lagi Rina selesai."
Jawab Ibu.
"Bagus, kalau gitu aku akan pergi panggil Kak Siska makan malam."
Baik Ibu, Ayah dan Juga Kak Rani sangat terkejut. Sebab mereka semua tau meskipun mereka sudah beberapa kali mencoba mengajak Kak Siska Makan, tapi tetap saja Kak Siska tidak mau keluar dari kamarnya.
"Leon, percuma kamu memanggil Siska, Ia tetap tidak mau keluar."
Ucap Ibu, kemudian di sambung oleh Kak Rani....
"Itu benar, aku juga sudah pernah mencoba memanggilnya beberapa kali tapi tetap saja ia tidak mau keluar."
"Hmm...tapi, tidak mungkin kita biarkan dia terus seperti itu kan?"
Ketika aku menanyakan itu, baik Ibu dan Kak Rani terlihat murung, dimana Ibu menjawab..
"I-itu memang benar, tapi mau gimana lagi. Lagi pula jika kita paksa ia keluar, nantinya malah hanya akan membuat masalahnya menjadi Rumit."
Yaaa ada kemungkinan itu memang bisa saja terjadi. Tetapi aku tidak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut.
Karena bagaimanapun juga alasan aku suka makan bersama dengan mereka itu karena aku bahagia saat melihat pemandang gadis cantik seperti dia(Kak Siska) waktu sedang makan.
__ADS_1
Meskipun ada beberapa Gadis cantik yang lainnya lagi yang bisa di pandang seperti Rina dan Kak Rani, tapi aku tidak bisa memandang mereka.
Karena Rina harus kembali ke dapur Setelah menaruk Semua makanan di Meja, sedangkan Kak Rani...ia sudah punya suami, di tambah lagi suaminya itu tidak lain adalah Muridku Sendiri.
Sehingga aku tidak bisa memandang dia.
Adapun Ibu, Dia.....dia....😓
Tidak, Lupakan saja, Aku tidak terlalu suka Loli.
Setelah memikirkan banyak hal, aku lansung berdiri dari tempat duduk kemudian aku mencoba pergi ke arah Tangga untuk naik ke lantai dua.
Namun, Ibu lansung menghentikanku dan bertanya...
"Leon, kamu mau kemana?"
"Pergi Panggil Kak Siska. Seandainya dia memang tidak mau keluar dari kamarnya, maka aku tidak punya pilihan lain Selain menghancurkan pintunya Dan menyeret dia keluar dari sana."
Ibu yang dengar itu sentak terlihat Shock dan bertanya...
"~Le-Leon kamu bercandakan?"
"Um, tentu saja aku hanya bercanda."
Jawabku sambil mengangguk. Ibu yang merasa telah di permainkan olehku lansung terlihat kesal dan menatapku dengan tajam.
"Leon, beraninya kamu mempermainkan ibumu."
Mengabaikan dia, aku lansung berlari naik ke tangga dan menuju ke lantai dua dimana Kamar Kak Siska berada.
"LEOOON KEMBALI KESINIIIIII!!"
Teriak Ibu yang sangat marah.
________________________________
_____________________________
Setelah aku meninggalkan Ruang tamu, saat ini aku berada di depan pintu Kamar Kak Siska, dimana Aku mengotok - ngotok Pintunya...
TOK!!....TOK!!....TOK!!....
Lalu bertanya...
ketika aku memanggilnya, tidak ada satupun balasan dari dalam, sehingga aku mencoba bertanya lagi....
"Kak, kamu di dalamkan, cepat keluar sebentar lagi makan malam?"
"........."
"Kak Siska, apa kau dengar?"
"........"
"Kak?"
"......."
Karena Kak Siska terus saja tidak membalas panggilan ku, sehingga membuat aku jengkel dan mulai memukul - mukul pintunya dan sesekali aku juga tendang..
"WOY KAKAK BODOH CEPAT KELUAR, AKU TAU KAU DI DALAM JADI CEPAT BUKA PINTUMU.-
-JIKA KAU TIDAK MAU BUKA AKU AKAN HANCURKAN NIH PINTU, KAU DENGARKAN KAKAK BODOH!"
Setelah aku meneriakkan itu, saat itu jugalah Dari dalam aku dengar suara seseorang yang lagi berlari dan membuka Pintunya.
Dimana Orang itu tidak lain adalah Kak Siska yang lagi marah.
"Oh akhirnya kau keluar juga Kak Bodoh, sekarang ayo kita tu-!!"
'Rung' ingin ucapku. Namun sebelum mengucapkan itu tiba - tiba Kak Siska berteriak padaku...
"BERHENTI MEMANGGILKU KAKAK BODOH TERUS! DASAR ADEK SIALAAAAN!!"
..Kemudian Kak Siska melayankan sebuah pukulan kuat tepat di wajahku, hingga membuat aku terlempar dan berguling beberapa kali ke belakang, hingga akhirnya aku menabrak Tembok.
"~~Aghhh,....da~dasar gadis sialan, apa yang kau lakukan?"
"Seharusnya aku yang tanya, apa yang kau lakukan menendang terus pintu kamarku? Apa kau ingin ku bunuh."
Ucap Kak Siska sambil berjalan mendekatiku dan menatapku dengan sangat tajam. Dimana aku Dengan panik buru - buru berkata...
"Tu-tunggu...tunggu dulu Kak Siska, a-aku tau aku salah jadi maafkan aku.-
__ADS_1
-aku datang kesini hanya untuk memanggilmu makan malam."
"Cih,..itu lagi kah."
Guman Kak Siska sambil mendecatkan Lidahnya karena kesal, kemudian ia melihatku dan berkata...
"Leon, beritau mereka aku tidak mau turung."
"Eh! Mereka?..Kak Siska sepertinya kau telah salah paham. yang memanggilmu itu Bukan Ibu, Ayah atau Kak Rani melaindakan aku."
"Ka-kamu?"
"Yah,..itulah sebabnya jika Kak Siska tetap tidak mau turung, maka aku tidak punya pilihan lain selain menyeretmu secara paksa."
"Ooh...COBA SAJA KALAU KAU BISA."
Ucap Kak Siska dengan Tajam sambil memperlihatkan tangannya yang mengepal, seolah bersiap memukulku.
Tentu saja jika aku ingin aku bisa menghidari pukulannya itu dengan mudah, karena bagaimanapun juga ia hanyalah gadis biasa.
Namun jika aku melakukan itu, ada kemungkinan ia akan Curiga padaku, jadi....Sepertinya aku hanya bisa pasrah saja.
"Haaa Kak Siska, apa kau benar - benar tidak mau turung?"
Tanyaku dimana Kak Siska dengan tegas menjawab...
"Yah, meski kau memaksaku sekalipun."
"Hmm...yah sudah, kalau gitu aku pergi dulu."
Di saat aku mencoba pergi tiba - tiba Kak Siska menarik tanganku dari belakang, dimana ia bertanya - tanya....
"Leon kamu mau mana?"
Alasan ia menanyakan itu, itu karena aku tidak berjalan ke Arah Tangga(untuk turung makan malam) melainkan aku mencoba menuju ke arah kamarku.
"Kau....Apa kau tidak turung makan malam?"
Di saat Kak Siska menanyakan itu. aku dengan tegas menjawab..
"Tidak, aku tidak akan turung. Selama Kak Siska tidak mau, maka aku juga."
"Hah! apa kau Bodoh, Kau tidak perlu melakukan itu. Lagi pula aku punya alasan tersendiri kenapa tidak ingin makan.."
"Ooh jika begitu, maka aku juga sama."
"Eh."
Mengabaikan Kak Siska yang lagi terkejut, aku mulai memberitaunya...
"Alasan aku tidak ingin makan. Itu karena aku,....aku senang jika Kak Siska ada di sana."
"Leon."
"Meskipun aku senang makan bersama dengan yang lainnya, tetapi tetap saja aku lebih senang jika Kak Siska ada juga.-
-Maka dari itu selama Kak Siska tidak mau makan, maka aku juga akan melakukan hal yang sama.-
-Meskipun aku merasa bersalah pada ayah dan ibu."
Ucapku dengan nada Serius, dimana membuat Kak Siska Tertekun.
Setelah itu aku melepaskan Tanganku yang di genggam oleh Kak Siska lalu berkata...
"Baiklah, karena tidak ada lagi yang ingin di bicarakan, Kalau begitu aku pergi dulu."
Setelah mengucapkan itu, aku lansung berbalik dan mencoba berjalan ke arah kamarku. Namun sekali lagi Kak Siska menghentikanku dengan menarik telingaku ke atas. Hingga membuat telingaku terasa sakit.
"~Agghh...aduh...Kak, Apa yang kau lakukan?"
"Aku akan turung."
Guman Kak Siska.
"apa?"
"Aku bilang aku akan turung. Ma-makanya kamu juga harus ikut, Mengerti?"
"Eh...y-yah Um."
Balasku sambil mengangguk.
"kalau begitu, tanpa menunggu lama lagi ayo kita turung."
__ADS_1
Sambil mengucapkan itu, aku lansung menarik tangan Kak Siska, kemudian berlari Turung ke bawah untuk makan malam