
Sepulang Sekolah aku mengirim Pesan ke Bulan dan memberitau ia bahwa hari ini aku tidak bisa datang ke rumah Sakit bersamanya untuk menemui Endru, karena ada urusan yang harus aku lakukan.
Setelah pesan itu berhasil Terkirim, aku berjalan keluar dari Kelas dan menuju ke Gerbang Sekolah, dimana aku melihat Sara, Lia dan Rusli yang sedang menungguku di sana.
Tanpa Menunggu lama aku lansung menghampiri mereka dan menyapanya.
"Maaf membuat kalian Menunggu."
"Oh, itu tidak apa - apa."
Balas Lia, lalu ia bertanya....
"Yang Lebih penting Leon, aku dengar kamu diskors selama 2 Minggu, apa benar?"
"Yah itu benar."
"Begitu, jadi mulai besok kita tidak akan bertemu selama 2 minggu dong?."
"Kalau itu...."
Sebelum aku selesai jawab, Rusli lansung memotongnya dan buru - buru mencoba membantu Lia yang terlihat sedih.
"Lia tenang saja tidak usah khawatir, lagi pula Meskipun Leon Diskors selama 2 Minggu kita masih bisa bertemu dengannya setelah pulang Sekolah, Benarkan?"
Tanya Rusli sambil mengalihkan pandangannya ke arahku, dimana aku menjawab...
"Yah, kalian bisa menelponku dan mengajakku kapan saja. Tapi Untuk sekarang Sepertinya aku tidak bisa bermain dengan kalian. Karena ada Urusan yang harus aku lakukan terlebih dahulu."
"Urusan? Memang urusan apa?"
Tanya Sara.
"Kalau itu aku tidak bisa beritau, yang jelas Aku pasti akan menelpon kalian setelah urusanku itu selasai, jadi....-
-Berhentilah pasang muka seperti itu, aku merasa bersalah tau."
Ucapku sambil mencubit Pipi Lia yang ingin menangis. Dimana membuat wajahnya Terlihat Lucu dan sangat mengemaskan.
Melihat hal itu Sara dan Rusli lansung tertawa.
"Hahahaha Lia wajahmu Lucu sekali." ucap Rusli.
"Fufufufu Kau benar."
Balas Sara.
Seolah tidak senang ia di tertawai seperti itu Lia mencoba memarahi mereka berdua, tetapi...
"Kwalien glua bwentila meneitawaikyu acau akyu akyan Marya(Kalian Berdua Berhentilah menertawaiku atau aku akan marah.)"
Karena suara Yang Lia keluarkan terbilang sangat Imut sehingga membuat mereka berdua malah tambah Tertawa. Tanpa kecuali diriku sendiri.
______________________________
___________________________
Setelah beberapa saat kami Puas tertawa, akhirnya aku pun melepaskan pipi Lia, dimana ia saat ini sedang berjongkok sambil mengelus kedua pipinya yang merah.
"~ughhh Leon kau sangat jahat, ini sakit tau."
"Maaf, habisnya wajahmu itu sangat Lucu, jadinya aku tidak bisa tahan untuk mencubitnya."
Ucapku, lalu Sara dan Rusli mencoba ikutan juga.
"Kau benar, tadi itu wajahmu sangat Imut loh Lia." ucap Sara.
"Benar - benar, kau hampir terlihat Seperti Badut Hahaha!"
Tidak senang dengan apa yang Rusli katakan, Lia lansung berdiri dan dengan kuat Ia melayankan sebuah pukulan ke arah perutnya, hingga Membuat Rusli tidak bisa menahan rasa sakitnya dan jatuh berlutut di tanah.
"~~Ughhh berani - beraninya kau memukulku."
Lia mengabaikan perkataan Rusli dan lansung memalingkan wajahnya ke arahku dan juga Sara.
"Baiklah Leon, Sara bagaimana kalau kita pergi sekarang ke Warnet."
"Eh Tunggu dulu, bagaimana dengan dia?"
__ADS_1
tanyaku sambil menunjuk Rusli, dimana Lia dengan santai Membalas...
"Tinggalkan saja dia, nanti dia akan menyusul sendiri kok. Yang lebih penting Ayo kita pergi sekarang."
Lia Megenggam tanganku dan juga tangan Sara, lalu ia lansung membawa kami pergi dari tempat itu dan meninggalkan Rusli seorang di sana.
_____________________________
___________________________
Setelah aku selesai bermain Game di Warnet bersama Mereka, aku lansung pergi ke tempat Bu Linda untuk bertemu dengan Kana dan menemaninya bermain Sampai Bu Linda pulang dari sekolah.
Awalnya aku pikir Kana sendirian di Rumahnya. Tetapi di saat aku masuk ke Ruang Tamu Aku melihat Haira dan Rezvan sudah berada di dalam sana juga, terlebih lagi mereka berdua sepertinya sedang asik main Monopoli.
"Jadi mereka berdua juga ada di sini."
Di saat aku membisikkan itu, Kana mendengarnya dan lansung membalas...
"Yah, mereka sudah ada di sini sejak dari tadi."
"Hmm begitu."
aku mencoba mendekati Mereka(Haira, Rezvan) dan menyapanya.
"Yo Haira, Rezvan kelihatannya kalian asik main yah?"
"Um! Oh Leon kau sudah datang."
Ucap Rezvan sambil melambaikan tangannya ke arahku dengan wajah senang, Namun berbeda dengannya Haira terlihat kesal sesaat melihatku, seolah ia tidak suka aku berada di sini.
"Cih, jadi kau juga datang kesini."
"Memang kenapa kalau aku datang, apa ada masalah?"
"Tidak juga, hanya saja...."
"Ada apa?"
".....Tidak, Bukan apa - apa, Lupakan saja. Yang lebih penting Kana sekarang Giliranmu yang lempar Dadu."
"Oh kau benar. Tapi Haira, Rezvan gimana kalau kita ulang saja permainannya. Bukankah lebih seru kalau Kita ajak juga Leon Bermain?"
"Terserah kalian saja."
Balas Haira dengan santai.
"Baiklah, kalau begitu Leon bagaimana, apa kamu mau ikut juga bermain?"
Tanya Rusli sambil melihatku. Dimana aku menjawab...
"Tidak, kali ini aku tolak saja, aku lebih suka lihat kalian saja yang bermain."
"Benarkah? Yah sudah kalau begitu ayo kita lanjutkan lagi."
Kana Mengambil Dadu yang Haira Ulurkan lalu ia lempar, dimana ia mendapatkan Angka 3 dan 5 yang jika di Jumlahkan berarti ia akan melangkah selama 8 kali.
"Delapan ya. 1,2,3,4...."
Kana Mulai menjalankan Dadunya selama 8 kali lalu ia berhenti tepat di Tanah Afrika.
"I-ini..."
Kana terlihat senang, Sebab Di bandingkan tanah yang lainnya Tanah Afrikalah yang paling mahal dan banyak Di dapat jika Di injak oleh Pemain lain. terlebih lagi jika di tambahkan Beberapa Rumah Atau Hotel, itu bahkan bisa membuat Pemain lain lansung bangkrut.
"Yeah akhirnya aku berhasil dapat Tanah Afrika. Haira aku beli ini."
"Baiklah - baiklah ini kartunya."
Di saat Mereka Bertiga lagi asik bermain, aku mencoba melirik ruangan sekitar dimana Aku melihat beberapa Pembungkus Obat berada di atas meja.
Awalnya aku pikir itu mungkin punya Kana. Tetapi melihat ia sehat saja, itu berarti...
"Kana, apa Pembungkus obat itu punya Ibumu?"
"Eh y-yah, Ibu Sering minum Obat itu setiap kali ia mau pergi atau tidur."
"Hmm.."
__ADS_1
Karena Penasaran Aku pun berdiri dan pergi mengambil Pembungkus Obat itu dan melihat bahwa obat Yang Bu Linda minum Ternyata Obat Sakit kepala.
Terlebih lagi di situ ada beberapa Obat yang lainnya juga yang belum Bu Linda pakai, Seperti Obat tidur dan beberapa obat penenang Stres kayak obat Fluoxetine, obat Alprazolam, obat Sertraline dan Obat Lorazepam.
[Waah ini sangat banyak yah, Kenapa ia minum obat - obatan seperti ini?]
Ketika PIX menanyakan itu, aku mencoba menjelaskan.
(Dari yang aku tau, beberapa Orang yang biasanya minum obat - obatan seperti ini di karenakan ia mempunyai suatu masalah.)
[Masalah?]
(Yah, Dan masalahnya itu bukan hanya masalah kecil tapi masalah Besar yang bisa menyebatkan ia mengalami kondisi stres berat dan menimbulkan gangguan mental serta fisik yang membuatnya menderita dan pada akhirnya......)
[Pada akhirnya?]
(DIA BISA SAJA MELAKUKAN BUNUH DIRI.)
Mendengar hal itu sentak saja PIX lansung melebarkan mata karena terkejut. [Apa! Bunuh Diri!] lalu ia bertanya...
[Kenapa anda bisa berpikir seperti itu? Lagi pula Bukankah di sekolah ia(Bu Linda) sering terlihat baik - baik saja?]
(Tidak, sebetulnya saat di sekolah ia sering memakai Makeup tebal untuk menutupi Wajahnya yang Pucat. Selain itu alasan aku berkata seperti itu, itu karena ia punya obat ini.)
[Obat itu,...Bukankah Obat tidur?]
(Yah, beberapa orang yang punya masalah besar, biasanya ia hanya membutuhkan dua Obat ini untuk menenangkan dirinya..)
Ucapku sambil menunjuk Obat Sakit kepala dan Obat penenang Stres. Lalu aku lanjutkan lagi.
(...tapi, kenapa Bu Linda harus punya Obat seperti ini?)
[Hmm Bukankah itu karena ia susah untuk tidur?]
(Apa kau pikir ia Orang Yang susah untuk tidur?)
Ketika aku bertanya balik padanya, PIX lansung menjawab...
[Aku pikir tidak.]
Alasan PIX menjawab Seperti itu, itu karena ia juga tau dan sering lihat Bu Linda ketiduran saat pelajaran berlansung. Bukan hanya itu saja bahkan kadang kami juga sesekali melihat ia tidur di ruang UKS saat jam Istirahat.
[Kalau begitu Master, bisa beritau aku, kenapa ia membutuhkan obat ini?]
PIX bertanya padaku sambil melihat Obat tidur yang ku genggam. Lalu aku pun menjawab..
(Kemungkinan itu karena DIA MASIH INGIN HIDUP.)
[Masih ingin Hidup?]
(Yah, karena sekali kau punya pemikiran untuk melakukan Bunuh Diri jujur itu sangat sulit untuk di hilangkan, kecuali kau di bantu oleh orang - orang di sekitarmu atau mungkin Kau gunakan obat ini untuk tidur.-
-Tapi dari situasi Bu Linda sepertinya yang pertama itu tidak mungkin karena satu - satunya Orang yang bisa menemani dia hanya Anaknya yang masih berumur 7 Tahun. Jadi...)
[Ia gunakan lah obat ini supaya ia bisa tidur?] sambung lansung PIX
(Benar, Selama ia bisa tidur, maka semua masalah yang ia pikirkan tadi pasti akan Hilang. Meskipun ia masih mengingatnya tetapi itu tidak akan membuat pikirannya terlalu menderita Dibandingkan sebelum ia Tidur.)
[Hmm itulah sebabnya ia punya obat Seperti ini.]
(Yah, dan Alasan ia masih ingin Hidup kemungkinan itu karena...)
Aku lansung berhenti bicara dan mengalihkan pandanganku ke arah Kana, dimana PIX yang lihat itu Seolah lansung tau apa yang aku pikirkan.
[Begitu, ia tidak ingin meninggalkan anaknya.]
"Umm."
Balasku dengan anggukkan. Namun tak berhenti sampai di situ PIX bertanya lagi...
[Tapi Master aku masih bertanya - tanya memang masalah apa yang ia hadapi sampai - sampai ia punya pemikiran seperti itu(Bunuh diri)?]
(Kalau itu aku masih belum Bisa pastikan, namun jika kau ingat lagi kata - kata Bu Nara waktu itu soal Bu Linda yang punya masalah dengan rumah tangganya itu berarti masalah yang ia hadapi sekarang kemungkinan adalah...."
[Masalah yang berhubungan dengan Suaminya?]
(Benar sekali.)
__ADS_1
Jawabku lansung sambil mengalihkan pandanganku ke arah Salah satu Foto yang terpajang di dinding. Dimana Foto itu adalah Foto pernikahan antara Bu Linda dengan Suaminya.