
Keesokan harinya, sebelum jam 6 pagi. Seperti biasa aku keluar dari Rumah untuk lari pagi, dimana di halaman rumah, aku melihat Rina salah satu Pelayan rumah ini Sedang menyiram tanaman sambil melihat ke arahku.
"Oh Tuan muda, anda sudah bangun?"
"Selamat pagi Rina."
Ucapku, setelah itu aku perhatikan penampilan Rina dan berkata...
"Seperti biasa, kau sangat Cantik hari ini."
"Benarkah? Fufufu Makasih."
Ucap Rina sambil tersenyum.
Setelah itu, Rina memperhatikan aku mengenakan Celana olahraga dan bertanya...
"Omong - omong apa anda ingin lari pagi, hari ini?
"Yah, apa kamu ingin ikut?"
Saat aku mencoba mengajaknya, Rina lansung memperlihatkan alat penyiram tanamnya dan menjawab...
"Maaf, seperti yang anda lihat, aku lagi kerja, jadi..."
"Begitu,...yah sudah kalau kamu tidak bisa, aku tidak akan memaksa, tapi..."
Sesaat aku berhenti, aku pegang tangan Rina dan memperlihatkan Wajah polosku.
"Saat kamu punya waktu Luang, kamu mau kan lari pagi denganku?"
Tanyaku dengan nada memohon, Rina yang melihat itu lansung tersipu Malu, dan dengan gugup ia menjawab...
"Ji-Jika Tuan muda tidak apa - apa denganku, aku tidak masalah."
"Benarkah?"
"Umm."
Angguk lansung Rina. Melihat itu, membuat aku lansung Loncat - Loncat sambil berkata...
"Yeaaahh,...Rina, janji yah, kamu akan lari pagi denganku?"
"Eh, um,..y-yah, aku janji."
Jawab Rina Dengan malu, melihat itu, aku lansung seringai jahat sambil berkata...
"Yosh, kalau begitu aku pergi dulu,..dah, Rina."
Ucapku, sambil melambaikan tangaku, Rina yang lihat itu lansung melambaikan tanganya juga dan berkata...
"D-dah,..dah."
Melihat itu, aku lansung tersenyun dan berlari meninggalkan rumahku.
__________________________________
______________________________
Pada saat aku dah keluar dari rumah, wajahku yang tadinya terlihat polos, tiba - tiba berubah menjadi tenang kembali.
Setelah itu aku berlari di pinggir jalan, dimana aku perhatikan Masih kurang kendaraan yang lewat dan tokoh juga masih tutup.
TAP!!...TAP!!...TAP!!..
Pada saat aku sedang berlari, tiba - tiba suara PIX terdengar di dalam pikiranku.
[Master, kau pasti senang kan, berhasil mengajak ia keluar?]
Saat PIX bertanya, dengan santai aku menjawab...
"Yah."
Mendengar itu, Untuk sementara PIX terus menatap wajahku, namun setelah beberapa detik kemudian ia bertanya..
[Master, apa kau mencoba menargetkan wanita itu juga.]
Mendengar hal itu sentak membuat aku lansung terpeleset dan jatuh di tanah. Setelah itu aku lansung bangun dan melihat kaos tangaku.
"Woy, apa maksudmu bilang begitu?"
Bentak aku dengan marah. Namun bukannya takut, PIX dengan santai menjawab.
[Yah, kau tau kan, saat ini kau sudah menargetkan, Kakakmu Sendiri, ada juga Sara yang masih di bawah umur, terlebih lagi kau juga mencoba menargetkan Gurumu, jadi aku pikir mungkin saja Sekarang kau mencoba menargetkan Pelayanmu.]
"BERHENTILAH BICARA OMONG KOSONG."
Ucapku dengan kesal, sambil menghantam kaos tanganku ke tembok, namun....
BUKKK!!
Bukannya ia merasakan kesakitan, malahan tanganku yang sakit. hingga membuat aku merintih kesakitan...
"~~aghh, sial ini sakit sekali."
Ucapku, sambil berlutut di tanah. Melihat itu, PIX lansung seringai jahat dan berkata..
[Rasain tuh, sok - sok mukul gue, udah tau gue gak bisa Rasain kesakitan, malah menghantang tangan sendiri di tembok. Makan tuh.]
Seolah - olah meledekku menggunakan bahasa gaul, Aku lansung marah dan melepas kaos itu dari tanganku.
Setelah itu aku injak - injak di tanah.
"MAKAN NIH SIALAN, BERANI JUGA KAU BILANG BEGITU."
Ucapku dengan kesal, sambil menginjak ia terus di tanah. Namun...
[Master, percuma saja kau melakukan itu, itu tidak ada gunanya.]
"Ooh benarkah? Kalau begitu..."
Aku lansung berhenti menginjak kaos itu dan mengambilnya. Setelah itu aku pergi ke suatu tempat dimana terdapat sebuah pembakaran Sampah.
[Master, apa yang kita lakukan di sini?]
Saat PIX bertanya, aku melihat ke arahnya dimana aku senyum seringai.
__ADS_1
"Heh."
Melihat hal itu, PIX lansung memiliki firasat buruk dan ekspresinya terlihat Pucat, dimana keringat dingin terus mengalir di wajahnya😨
[Ma~Master, jangan bilang kau...]
Sesaat PIX ingin mengatakan sesuatu, Bibirku lansung melengkung sambil berkata.
"Heh, akhirnya kau sadar juga."
Ucapku, setelah itu aku lanjutkan lagi.
"memang benar kau itu tidak bisa merasakan sakit, tapi jika aku membakarmu di situ, kira - kira apa yang akan terjadi."
Ucapku sambil melirik ke arah PIX, dimana aku memperlihatkan nya senyum menyeramkan.
PIX yang lihat itu, buru - buru berkata...
[Ma~Master kau pasti bercandakan, jika kau melakukan itu, bisa - bisa aku menghilang.]
"Eeeeeh benarkah?..yosh, kalau begitu akan ku lakukan."
[KENAPA?]
Teriak lansung PIX,
"Kenapa? Bukankah sudah jelas kau ini sangat menyebalkan."
Ucapku sambil menatap jijik PIX. PIX yang lihat itu merasa kalau aku benar - benar Serius ingin membakarnya Sehingga ia lansung berkata..
[Master, tolong pikirkan ini baik - baik, apa kau benar - benar ingin membakarku?.]
"Tentu saja."
Jawabku lansung, tanpa pikir sedikitpun. Mendengar itu membuat PIX lansung tersentak.
Sebab aku tidak punya keraguan sama sekali.
[~Master, tolong ingat lagi, bukankah kita sudah hidup bersama, apa lagi selama ini aku sudah membantumu kan?]
"Membantu?"
Sambil membisikkan itu, aku mencoba mengingat lagi keseharianku bersama PIX, dimana aku tidak pernah sekalipun mendapatkan bantuan darinya.
Malahan, aku sering di permainkan oleh dia, di tambah lagi, ia sering kali mencoba menjebak ku.
Seperti saat pertama kali aku bertemu dengan Putri (Kakaknya Rusli) dan juga ketika aku baru saja masuk sekolah,
dimana saat itu PIX menjebak ku duduk di Bangku Sara. Padahalkan itu bukan bangku ku.
Sehingga membuat para siswa saat itu lansung menatapku dengan aneh.
Mengingatnya saja, entah kenapa membuatku sangat kesal sambil berkata...
"Haa, sudahlah, aku akan membakarmu sekarang."
[Eh, Tu-tunggu,...tunggu dulu Master, aku minta maaf atas apa yang aku lakukan.]
"Benarkah?"
Angguk PIX dengan Kuat, melihat itu aku lansung seringai jahat "Heh." dan berkata...
"Baiklah, kalau begitu katakan ini-
--MASTER, AKU MINTA MAAF. AKU SALAH KARENA SUDAH MENGANGGAP ANDA, SERING MENARGETKAN WANITA."
[........]
"Ada apa?"
[Tidak, aku hanya berpikir, segitunya kah anda tidak terima diri sendiri.]
Jawab PIX dengan datar.
Mendengar jawaban tersebut, membuat aku lansung terlihat marah dan mencoba melempar PIX ke dalam pembakaran itu.
"DASAR SIALAN, UDAH DI BERI KESEMPATAN MALAH MELAWAN."
[Ma~Master, aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi.]
"TIDAK USAH BANYAK BICARA, MASUK SAJA KE DALAM SANA."
Ucapku sambil melempar PIX ke dalam pembakaran itu. Hingga membuat PIX teriak dan berkata..
[AMPUNIII AKU MASTEEEER!!]
Dan begitulah Akhir cerita dari TUPXION 04 BerCODE NAME PIX.
Aku pikir begitu, namun......
____________________________________
________________________________
Di rumah Leon.
"Aku pulang."
Sambil mengucapkan itu, aku membuka pintu dan lansung masuk ke dalam, dimana aku bertemu Kak Siska yang mengenakan Seragam sekolah sedang menuruni tangga.
"Oh Leon, dari mana saja-!!"
'Kau' ingin ucap Kak Siska. Namun Sebelum ia mengucapkan itu, ia kaget saat melihat wajahku.
Dimana Wajahku terlihat sangat pucat, di tambah mataku sangat merah. Seperti orang yang lagi sakit mata.
"Le-Leon, kau kenapa? Apa kau tidak enak badan?"
Tanya Kak Siska yang khawatir.
"~tidak, aku baik - baik saja, tidak usah khawatir." jawabku dengan Lesu.
Meskipun aku mengatakan itu. Namun aku bisa lihat kalau Kak Siska masih khawatir denganku.
Sehingga aku mencoba meninggalkannya, karena aku pikir sangat merepotkan jika ia bertanya terus.
__ADS_1
"~Kalau begitu, aku naik dulu." ucapku dengan Lesu.
"Eh, y-yah."
Jawab Kak Siska, dimana ia melihatku melewatinya dan berjalan naik ke tangga. setelah itu ia lanjutkan lagi.
"Leon, jika kau benar - benar tidak enak badan, sebaiknya tidak usah kesekolah dulu, nanti kami telpon Gurumu?"
"Itu tidak perlu, aku baik - baik saja kok."
Sambil mengucapkan itu, aku lansung naik ke lantai dua dan meninggalkan Kak Siska.
Setelah aku naik ke lantai dua. Aku berjalan di koridor, dimana aku meremas kepalaku dengan kuat karena terasa sakit.
Alasannya, itu karena.....
[Master, apa kepalamu masih sakit? sepertinya Kakak Cantikmu, sangat khawatir tuh?]
"KAU PIKIR INI SALAH SIAPA BRENGSEEK."
Ucapku dengan tajam, sambil melirik ke arah PIX, dimana ia sedang seringai jahat.
Melihat senyumannya itu, membuat aku terlihat kesal sambil mengingat lagi apa yang terjadi beberapa saat yang lalu.
Dimana, ketika aku melempar PIX ke tempat pembakaran sampah, di situ ia berkata..
__________________________________
_______________________________
[AMPUNIII AKU MASTEEEER!!]
Namun, sebelum PIX masuk kedalam, tiba - tiba ia berhenti bergerak dan melayan di udara.
Dimana ia menatapku dengan senyuman jahat sambil berkata..
[MASTER, KAU PIKIR AKU AKAN BILANG BEGITU, DASAR BEEEEGO.]
"Hah, Kau bilang apa barusan."
Ucapku dengan geram. Namun tanpa pedulikan PIX berkata...
[Jujur saja, melihat Master, yang seolah - olah bisa menyingkirkanku segampang itu, membuat aku tertawa-
-Apa lagi Saat Master menyuruhku berkata seperti itu, jujur itu sangat lucu.]
Ucapnya dengan nada mengejek, mendengar itu, membuat aku tambah geram, bahkan urat - uratku sampai terlihat di dahiku.
"Berani juga kau, sepertinya kau benar - benar mau di hukum."
Ucapku sambil menatap Tajam PIX, namun, bukannya takut PIX malah menjawab...
[Hukuman? Master, apa kau sudah lupa kalau aku itu tinggal di otak anda?]
"tentu saja aku tau itu."
Jawabku
[baguslah, kalau begitu kau seharusnya juga sudah tau Kalau aku bisa melakukan ini..]
"Hah, kau bisa melakukan ap-!!"
'Pa' ingin ucapku, namun sebelum mengucapkan itu, tiba - tiba sebuah sengatan Listrik mengalir di dalam otak ku hingga membuat kepala terasa sangat Sakit..
"~ARGHHHHHH!!"
Aku lansung meremas kepalaku dengan kuat sambil Berlutut di tanah, dimana aku merintih kesakitan.
"~Ughhh"
Setelah itu, aku melihat ke arah PIX dan menatapnya dengan tajam.
"~~Sialan, aku lupa kalau kau bisa melakukan itu."
[Oh, sepertinya Master sudah ingat, kalau begitu, ayo kita mulai hukumannya.]
Mendengar apa yang di katakan PIX, membuat aku memiliki firasat buruk, sehingga Aku mencoba menghentikannya, namun....
"P~PIX, tunggu,...tunggu dulu seben-!!"
..sebelum aku selesai bicara, sebuah sengatan Listrik lansung mengalir lagi di dalam otak ku. Hingga membuat kepala terasa sangat sakit.
"~AGHHH!,..~Ugh, Sialan ini sakit sekali."
[Sepertinya, master masih kuat, kalau begitu terima ini..]
"~~ARGHH,..~Wo-Woi, Hentikan itu Brengsek."
[Terima ini.]
"~~ARGHH....~Si-Sialan, aku bilang Hentikan itu seka-!!
[Ambil ini!]
"~~ARGHHHHHHHH!"
PIX terus melakukan itu secara berulang kali, hingga aku tidak bisa ingat, berapa kali aku menjerit di tempat itu.
__________________________________
______________________________
>Kembali, di waktu sebelumnya.
Setelah mengingat hal itu, aku lansung mengertakkan Gigiku, dimana wajahku terlihat sangat kesal.
namun berdeda denganku, PIX sepertinya terlihat sangat senang.
[Fuuu, tadi itu sangat menyenangkan yah Master.]
Mendengar itu, membuat Aku tambah Geram, dan lansung melihat ke arah PIX, Dimana aku mengeluarkan hawa membunuhku sambil menatapnya dengan tajam.
"KAU,..TUNGGU SAJA PEMBALASANKU."
[OK, SIAPA TAKUT.]
__ADS_1
Jawab lansung PIX, dimana ekspresinya tidak memiliki ketakutan sedikitpun.