
setelah Sara berpisah dari Leon, dia saat ini sedang duduk di mobil Lamborghini tampa penutup di atasnya, bersama dengan kakaknya. Firdaus.
"ngomon - ngomon Sara, tidak ku sangka kau bisa mendapatkan teman di sekolahmu??"
"apa salah??"
"tidak,..bukan berarti itu salah, hanya saja, sampai saat ini kau belum pernah menganggap teman kelasmu, seperti Temanmu sendiri,..kan??"
"....."
ketika Firdaus mengatakan itu, Sara tidak mengatakan apapun. lalu ia mencoba untuk melirik Sara dari samping.
namun, ketika melihat ekspresi Sara yang tidak berubah sama sekali, Firdaus mengarahkan pandangannya ke arah depan lagi.
"jika kau tidak ingin mengatakannya, tidak usah di katakan!?"
"...bukan berarti, aku tidak ingin mengatakannya,..hanya saja, aku punya alasan kenapa aku menganggap Leon sebagai temanku sendiri?"
"alasan? apa maksudmu?"
ketika kakaknya sedang bertanya, Sara mengalihkan pandangannya ke arah Kakaknya dengan ekspresi yang rumit.
"Kak Firdaus masih ingatkan, kejadiaan saat aku masih SD??"
ketika Sara mengatakan itu, ia mencoba untuk melihat ekspresi kakaknya. namun, wajah kakaknya tidak bisa ia lihat karena di tutupi oleh poninya.
"tentu saja aku masih ingat, tidak mungkin aku melupakan saat kejadian itu!!"
saat Firdaus mengatakan itu, ia dengan erat, memeras stir pengemudi mobilnya dengan kuat, hingga kemarahan terlihat pada wajahnya.
"....."
untuk sementara Sara terus memperhatikan ekspresi Kakaknya, setelah itu, ia mengarahkan pandanganya ke arah depan lagi.
"kalo begitu, aku akan menjawab, alasan kenapa aku menganggap Leon sebagai temanku!?"
".....??"
Firdaus tidak memgatakan apapun, namun mencoba melirik Adiknya, Sara dari samping.
"itu karena,...Leon sering mengalami hal yang sama, seperti yang aku alami ketika di SD, dan aku merasa dia sangat mirip denganku!?"
ketika Sara mengatakan itu, ia sedang tersenyum namun bercampur juga kesedihan di wajahnya.
Sentak kakaknya Sara, Firdaus lansung tercengan melihat ekspresi adiknya yang seperti itu.
"jadi begitu, itulah alasan kau menjadi dekat (teman) dengan Leon!?"
kata Firdaus sambil terlihat tersenyum, ketika menatap adiknya.
setelah itu, ia melihat ke arah depan lagi. namun, sayangnya Sara belum berhenti sampai di situ saja.
"bukan hanya itu saja, aku rasa bahkan Leon lebih parah yang di alaminya, di bandingkan ketika waktu aku SD dulu!?"
"oh, bisa kau beritaukan padaku soal itu?"
kata Firdaus dengan wajah yang sedikit tertarik, dan sesaat Sara melirik ke arah kakaknya, namun melihat ke arah depan lagi.
"um, aku tidak tau itu benar atau tidak, tapi,..beberapa bulan terakhir ini, Leon tidak pernah masuk sekolah, dan baru hari ini ia masuk, dengan alasan sakit,...tapi, aku rasa bukan hanya itu saja, pasti ada alasan lainnya!?"
"hmm,...kenapa kau berpikir seperti itu,..jangan bilang dia tidak pernah masuk ke sekolah karena.."
"yah, baru - baru ini aku dengar beberapa siswa di kelasku, kalo Leon tidak masuk kelas bukan hanya karena ia sakit saja, melainkan beberapa bulan yang lalu, ia sering di buli beberapa anak SMA!?"
ketika Firdaus mendengarkan apa yang di katakan Sara, sentak ia lansung melebarkan matanya karena terkejut mendengarkan hal itu.
"bocah yang baru masuk SMP, di buli beberapa anak SMA, kau pasti bercandakan"
"tidak,..bahkan saat itu, aku dengar kalo Leon sedang di kroyok, hingga membuat beberapa luka di kepalanya, sampai - sampai..."
"sampai - sampai??"
ketika adiknya tiba - tiba berhenti bicara, Firdaus mencoba melirik ke arah adiknya,
"sampai - sampai, ia hilang ingatan karena Luka yang ia terima saat itu, sangat parah, sehingga ia harus di rawat di rumah sakit selama beberapa bulan!?"
Ketika Sara mengatakan itu, wajahnya terlihat sangat sedih dan merasa kasihan di suatu tempat.
(jadi, alasan bocah itu tidak masuk sekolah bukan hanya karena sakit, melainkan ada suatu alasan yang dimana ia harus di rawat, gara - gara pembulian yang ia terima dari beberapa anak SMA itu, yah!?)
saat Firdaus memikirkan itu, ia melihat ke arah depan dengan tatapan yang sangat tajam dan dingin.
namun, setelah beberapa detik, ia mencoba untuk menenangkan dirinya kembali.
"haaa...tapi Sara,...bukankah waktu aku bicara dengannya, ia terlihat baik - baik saja, aku tidak merasakan adanya trauma yang ia alami?'
"itulah kenapa aku bilang, ia sangat mirip denganku!?"
ketika Firdaus mendengarkan itu, ia mengingat wajah adiknya, Sara ketika kejadian saat itu.
yang dimana, dulu Sara juga sering di buli oleh beberapa kakak kelasnya ketika dia masih SD.
namun, saat aku sudah membantunya, mengurusi anak - anak itu.
entah kenapa, tak lama setelah itu, aura yang dikeluarkan Sara tiba - tiba berubah sangat Dingin dan tidak ingin berhubungan dengan siapapun, bahkan keluarganya sekalipun. seperti, ia sedang membuat sebuah pembatas di sekitarnya.
meskipun masih ada poin - poin yang aku anggap tidak mirip dengan Leon dan Sara,..namun, aura yang Leon keluarkan saat itu dan juga tatapannya ketika ia melihatku, benar - benar sangat mirip dengan Sara yang di masa lalu.
ketika Firdaus mengingat hal itu, ia akhirnya mengerti, apa maksud, yang ingin di katakan adiknya.
"begitu,...memang benar ketika aku bicara dengannya, dia terlihat sangat tenang, seolah olah kejadian yang ia alami tidak pernah terjadi-!!"
__ADS_1
sesaat Firdaus berhenti bicara, dan melihat ke arah adiknya, Sara dengan wajah yang sangat serius.
"itu benar - benar sangat mirip denganmu Sara, yang di masa lalu??"
"yah?"
setelah itu, Firdaus melihat ke arah depan lagi, sambil perlahan mengulurkan tangannya di atas kepala Sara dan mulai mengelusnya, hingga membuat Sara melebarkan matanya karena Terkejut.
"Kak Firdaus??"
"Sara, sepertinya kau sudah menemukan seorang Teman, yang bisa memahami rasa sakitmu yang dulu, kan??"
ketika Sara mendengarkan itu, ia tercengan melihat kakaknya.
kemudia Sara perlahan menganggukkan kepalanya, dan terlihat sangat senang
"umm!?"
__________________________
__________________
kembali ke Lia, Rusli dan Leon.
setelah beberapa saat kami meninggalkan sekolah, saat ini kami bertiga sedang berjalan di tepi jalan.
sambil aku terus memperhatikan dua Bocah yang dari tadi, terus saja bertengkar, membicarakan soal game apa yang akan kami mainkan di warnet nanti.
"sudah ku bilang, lebih baik kita main game Perang saja!?"
kata Rusli, ketika melihat Lia yang sedang lagi cemberut.
"Tidak mau!?"
"Kenapa??"
"setiap kali kita datang, kita sudah sering kali memainkan game itu, sekali - kali kita main game fantasi saja!?"
"fantasi,..jujur aku tidak terlalu suka main game itu,..kita main game Perang saja!"
"Fantasi!!"
"Perang!!"
"FANTASI!!"
"PERANG!!"
ketika mereka berdua saling ngotok dan tidak ada yang mau nyerah.
untuk sementara wajah mereka sangat berdekatan dan saling menatap satu sama lain, dimana tidak ada yang mau mengalah sama sekali.
"....!!"
"....!!"
"haaa...kalo begitu-!!"
ketika Lia mengatakan itu, ia lansung menunjuk tangannya ke arahku, di mana aku sedang mengikuti mereka dari belakang.
"-bagaimana kalo kita suruh Leon saja memilih, game apa yang akan kita mainkan??"
"oke, aku tidak masalah sama sekali."
setelah Rusli menjawabnya, Mereka berdua langsung mengarahkan pandangannya ke arahku, sambil melihatku dengan wajah yang terlihat sangat serius.
"Leon, kau setujukan jika kita main game Perang saja??"
"um,..soal itu, aku-!!"
saat Rusli sedang bertanya kepada ku, Sebelum aku selesai menjawabnya, Lia dengan cepat memotongnya, dan lansung mengalihkan pandangannya ke arah Rusli dengan wajah yang Terlihat cemberut.
"itu tidak benar,..Leon lebih suka memainkan game Fantasi, kan Leon??"
"um,..kalau itu,.aku-!!"
namun, sebelum aku selesai menjawabnya lagi, Rusli dengan cepat memotongnya dan melihat ke arah Lia.
"bagaimana mungkin Leon suka main game seperti itu,...lagi pula, biasanya laki - laki lebih suka main game Perang di banding Fantasi, kan Leon??"
"soal itu, aku-!!"
sayangnya sekali lagi, aku di potong oleh Lia yang lansung bicara.
"apa yang kau bilang, bahkan laki - laki banyak kok yang memainkan game Fantasi, Leon juga sering memainkannya!!"
"itu tidak mungkin, Leon lebih suka main Game Perang!?"
"Game Fantasi?"
"Game Perang?"
"Fantasi?"
"Perang?"
ketika aku terus memperhatikan dua Bocah di depanku, mereka berdua tetap saja saling ngotok, dan tidak ada yang mau mengalah,
(DASAR PARA BOCAH, SETIDAKNYA BIARKAN AKU SELESAI BICARA SIALAN!!)
saat aku memikirkan itu, sambil menatap mereka berdua dengan wajahku yang terlihat sangat jengkel. aku dengan cepat lansung melayankan pukulan di atas kepala mereka.
__ADS_1
BUK!!...BUK!!
"sakit!!"
"aduh!!"
setelah aku melayankan pukulanku ke mereka, mereka berdua lansung berjongkok sambil memegangi kepala mereka yang sakit.
"Leon, apa yang kau lakukan??"
kata Rusli ketika melihat ke arahku.
"umm, ini sangat sakit Leon?!"
kata Lia sambil Cemberut ketika melirik ku dari bawah.
setelah itu, aku perlahan menenangkan diriku, sambil melihat ke arah mereka berdua, yang masih berjongkok di bawah.
"haa..kalian berdua, bisa tidak berhenti bertengkar di depanku. lagi pula, bukankah kalian bisa memainkan Game kesukaan kalian masing - masing,..kenapa harus bertengkar segala??"
""ITU TIDAK MUNGKIN, AKU MAUNYA BERMAIN BERSAMA DENGANMU LEON??""
Serentak mereka berdua lansung berteriak di depanku, hingga membuat aku sedikit terkejut.
setelah itu, mereka berdua lansung saling menatap satu sama lain, seperti seekor hewan yang lagi ingin bertengkar.
"grrrg!!"
"grrrg!!"
"haa..(bocah - bocah ini..)"
saat aku memikirkan itu sambil menghela nafas ketika melihat mereka berdua.
aku lansung berjalan di tengah - tengah mereka, dan berhenti di depannya.
setelah itu, aku mulai mengatakan sesuatu, tampa melihat ke arah belakang, dimana mereka berdua berada, dan hanya terus menatap kedepan.
"Rusli, Lia, kalian tidak masalahkan, game apa yang akan aku pilih nanti?"
"...yah, aku tidak masalah!?"
"sama, aku juga!?"
setelah mereka mengatakan itu, aku dengan cepat lansung berjalan ke depan dan meninggalkan mereka berdua di belakang.
"hah,..Le- Leon tunggu kami!?"
setelah itu, Rusli dan Lia mulai berjalan juga, sambil mengikutiku dari belakang.
namun, tak lama setelah beberapa detik aku berjalan, tiba - tiba aku berhenti dan berbalik melihat ke arah mereka berdua.
"..??"
"..??"
sentak, Rusli dan Lia lansung berhenti berjalan sambil terlihat kebingungan ketika melihatku.
"Leon, kenapa kau tiba - tiba berhenti??"
"maaf, aku tidak tau arah jalan ke warnet!?"
""eh!!""
saat aku menjawab pertanyaan Rusli, mereka berdua lansung tertekung dan saling menatap satu sama lain.
""....""
setelah beberapa detik Rusli dan Lia saling menatap, bibir mereka lansung melengkung, dan perlahan mengarakan pandangannya ke arahku sambil tersenyum.
"a- ada apa dengan kalian berdua? menatapku seperti itu?"
"tidak. bukan apa - apa kok!?"
saat Lia mengatakan itu, mereka berdua mulai berjalan melewatiku dan untuk sesaat Rusli melihat ke arahku.
"kalo begitu, ayo kita pergi Leon!?"
"yah!?"
setelah itu, mereka berdua mulai berjalan kedepan, dan untuk sementara aku hanya berdiam, berdiri melihat mereka dari belakang.
hingga akhirnya tiba - tiba suara PIX terdengar di dalam pikiranku.
[master, apa kau sengaja melakukan hal itu??]
(apa yang kau bilang??)
[jangan pura - pura bodoh, sebetulnya master bisa mengetaui arah warnet jika bertanya ke padaku, tapi master tidak melakukannya. itu karena master ingin membuat mereka berdua berbaikan,..kan??]
saat aku mendengarkan apa yang di katakan PIX, untuk sesaat aku melirik ke arah kaos tanganku, dan tidak mengatakan apapun.
setelah itu, aku mulai berjalan untuk menyusul mereka berdua.
(PIX, kau sangat berisik!?)
[benarkah??]
(yah,)
setelah aku sampai ke mereka berdua, aku berjalan melambat dan mulai mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1