
Setelah ku patahkan salah satu jari Erina dan ku lepaskan mulutnya, aku berahli ke arah Felik, kemudian aku bertanya...
"Sekarang Felik, menurutmu kuku mananya yang paling bagus di cabut duluan? Kuku Jari Kelingking, Kuku jari Tengah atau kuku jempol?"
Di saat Aku menanyakan itu, Felik mencoba melihat ke arah Erina, dimana Erina menatap balik Felik dengan sangat Marah.
Menyadari itu, aku lansung tertawa dan berkata...
"Kukuku, Felik sepertinya ia sudah membencimu."
Ucapku seolah mencoba memprovokasinya. Felik yang dengar itu lansung melirikku dengan tajam.
(Kau pikir ini salah siapa.)
Ingin ucap Felik, Namun ia lansung hentikan itu, sebab ia tau jika ia mengatakan itu maka besar kemungkinan hukuman ini akan kembali padanya.
Sehingga ia hanya bisa diam saja dan tidak membalas apapun.
"Haaa sudahlah."
Ucapnya, kemudian Felik mengarahkan pandangannya ke arah Kuku jempol Erina dan berkata..
"Leon aku pilih kuku jempolnya."
"Kuku jempol yah...apa kau yakin?"
Tanyaku, seolah sedang bermain kuis dengannya.
"Yah, aku yakin."
Jawab Felik dengan sangat Serius. Setelah itu ia menatap Erina dan berkata...
"Erina sekarang akan ku kembalikan kata - katamu tadi. Aku akan pilih Kuku jempolmu BIAR KAU TAU RASA."
Mendengar ucapan Felik, membuat Erina terlihat sangat marah bahkan mencoba meneriakinya.
Namun, karena aku sudah menyuruh ia untuk tetap diam, sehingga ia lansung menggunakan kakinya untuk menendang Wajah Felik dengan Kuat 'BUKKK!!' hingga Membuat Felik terlihat kesakitan.
"~Ughhh!!"
"Mati...matilah dasar sialaan!"
Ucap Erina dengan suara pelang tapi bercampur kemarahan. Sambil menendang terus Felik.
BUKK!!...BUKK!!...BUKKK!!..
"~Aghhh,...Si~Sial, Erina hentikan."
BUKK!!
"~Ughh...Erina aku bilang hentikan! Apa kau pikir aku diam saja. Kau melakukan ini."
Pada saat Felik mengucapkan itu ia mencoba melayangkan sebuah tendangan juga ke arah Erina.
Sayangnya sebelum tendangan itu mencapai si target(Erina), aku lansung pergi ke depan mereka dan menahan tendangannya, dimana membuat Felik terlihat sangat terkejut..
__ADS_1
"Le-Leon apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan kaki-!!"
'Ku' ingin ucap Felik, namun sebelum mengucapakan itu, sebuah tendangan melayang lagi di wajahnya. 'BUKK!!' dan membuat Felik terlihat kesakitan.
"~Ughhhhhh...~Si~Sialaaan!"
Di sisi lain, Aku yang memperhatikan mereka dari depan terlihat sangat senang, dimana aku berkata...
"Felik maaf yah, bagaimanapun juga aku tidak suka melihat seorang gadis di tendang seperti itu."
"Huh apa yang kau katakan, berhentilah bercanda, cepat lepaskan saja kaki-!!"
'Ku' ingin ucap Felik lagi, namun sebelum mengucapkan itu, Sebuah tendangan melayang lagi di wajahnya 'BUKK!!' hingga membuat Hidungnya mengeluarkan darah.
"~~Arghhh!!"
Sementara itu di sisi lain, di sana terlihat Bulan sedang mengawasi kami dari jauh, dimana ia menatapku dengan tatapan datar sambil berkata...
"Barusan ia bilang ia tidak suka melihat Seorang Gadis di tendang, tapi kenapa kau malah terlihat senang saat mematahkan jarinya. Apa ia tidak Cermin sama sekali?"
bisik Bulan yang terlihat marah. seolah tau apa yang ia bisikkan, aku lansung membalas ia dengan senyuman, dimana membuat Bulan kaget dan lansung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Setelah itu, aku berahli ke arah Erina dan berkata...
"Erina, tendang saja dia sepuasmu, biar aku yang tahan kakinya."
Seolah tidak senang dengan bantuan yang ku berikan. Erina lansung mengertakkan giginya kemudian ia melayangkan sebuah tendangan ke arahku juga..
"Aku tidak butuh bantuanmu sialaaaan!!"
"~Ughhh,..Cih!"
aku lansung bangkit, kemudian menatap Erina dan bertanya...
"Erina apa yang kau lakukan?"
..namun Bukannya takut, Erina malah menatap balik diriku dan berkata...
"Kau...diam saja kau di situ, aku tidak butuh bantuanmu, jadi jangan ikut campur. Lagi pula Ini urusanku dengan dia(Felik)!"
"Hah, apa kau sudah gila?"
"YAH KAU BENAR, AKU MEMANG SUDAH GILA, JADI JIKA KAU INGIN MENYIKSAKU ATAU APALAH TERSERAH, AKU SUDAH TIDAK PEDULI LAGI, DASAR BOCAH SIALAAAN!!"
Ucap Erina sambil melayangkan sebuah tendanga lagi ke wajah Felik, dimana Wajahnya terlihat sudah babak belur.
"~~Ughhhhh,...ERINA, SUDAH KU BILANG HENTIKAN ITUUUU!!"
"Heh, siapa juga yang mau berhenti bodoh, lagi pula apa kau marah ku tendang terus seperti ini?"
"~~TENTU SAJA AKU MARAHLAH, DASAR GADIS ******."
Ucap Felik sambil mencoba melayankan sebuah tendangan ke wajah Erina. Namun sebelum tendangan itu mengenai wajahnya, aku sekali lagi menahan tendangannya itu. Yang dimana membuat Felik terlihat jengkel.
"Le-Leon, apa yang kau lakukan? Bukankah dia sudah menyuruhmu untuk tidak ikut campur?"
__ADS_1
"Memang benar ia menyuruhku. Tapi apa kau pikir aku diam saja melihat kalian berdua bertengkar terus seperti anak kecil?-
-lagi pula, ini sudah saatnya aku menyiksa kalian. Jadi hentikan pertengkaran bodoh kalian sekarang."
Ucapku sambil menatap mereka berdua dengan tatapan tajam, dimana membuat Felik lansung terlihat ketakutan.
Namun berbeda dengannya, Erina terlihat tidak senang dengan apa yang kukatakan barusan sehingga mencoba menendangku lagi.
Sayangnya, sebelum tendangan itu mengenai pipiku aku dengan santai menahannya, kemudian aku berahli ke arahnya dan menatap ia dengan tajam.
"ERINA APA KAU TULI, AKU BILANG HENTIKAN ITU SEKARANG. KALAU KAU MASIH INGIN MELANJUTKANNYA, MAKA....."
Sesaat aku berhenti aku lansung meremas kakinya yang ku tahan dengan kuat, dimana Membuat Erina terlihat kesakitan.
"~ughh,..~Le~Leon ini Sakit!"
"Apa kau pikir aku peduli, lagi pula sepertinya kau belun sadar dengan posisimu yang sekarang."
"~Ughhh,..a~Aku,...aku minta maaf, jadi kumohon tolong lepaskan kakiku, ini benar - benar sangat sakit!"
Ucap Erina yang terus merintih kesakitan. Namun tanpa pedulikan itu, aku terus remas kakinya.
"~Ughhhh!!"
Setelah beberapa detik aku Remas, tak lama kemudian perlahan aku mendesah "haaa.." kemudian aku lepas kakinya dan berkata...
"baiklah, untuk kali ini aku akan melepaskan mu, tapi jika kau masih ingin melanjutkannya,...JANGAN PIKIR AKU HANYA MELAKUKAN INI SAJA. MENGERTI?"
Seolah tau bahwa aku berniat untuk mematahkan tulang kakinya, membuat Erina terlihat Pucat dan buru - buru menjawab dengan anggukkan.
"~U-Um..Um, a-aku mengerti."
Ucapnya.
"Bagus, kalau gitu ayo kita mulai,...apa kau sudah siap?"
Tanyaku sambil berjalan ke arah belakangnya, Dimana aku lansung jepit Kuku Jempol Erina yang terlihat ketakutan.
Namun, karena Erina menutup mulutnya rapat - rapat agar tidak teriak, sehingga tidak ada balasan darinya.
"Jika kau diam saja, itu berarti kau sudah siap kan?....kalau gitu, AKU AKAN MULAI."
Sesaat aku ingin mencabut kuku jempol Erina, tiba - tiba Bulan teriak padaku...
"Le-LEON TUNGGU DULU..."
"Cih,...Ada apa?"
Tanyaku sambil berahli ke arahnya, dimana aku menatap Bulan dengan tajam karena marah.
Namun, Meskipun Bulan terlihat takut. Tetapi ia berusaha untuk tetap tenang dan membalas...
"A-Anu,....bisa tidak kamu lepaskan saja Erina? Aku pikir itu terlalu berlebihan untuk menghukumnya."
Ucap Bulan dengan tatapan serius, dimana membuat aku, Erina maupun Felik terlihat sangat terkejut.
__ADS_1
"""EH!"""