
Tidak jauh dari desa terdapat sebuah sungai kecil yang mengalir di dalam hutan. Dan di sana terlihat aku(Leon) sedang membasahi wajahku sambil memandang bulan yang bersinar di atas langit malam.
"Haaa ini sungguh menyebalkan."
Aku membisikkan itu sambil mengingat lagi apa yang di katakan 3 pemuda yang ku temui tadi di desa, Dimana mereka mengatakan bahwa 1 bulan yang lalu Boktis telah meninggalkan desa ini.
Alasannya tentu saja karena Istrinya. Menurut mereka Istri Boktis sering kali di hina dan di olok - olok oleh warga dari desa sebelah saat pergi ke pasar karena mempunyai bekas luka bakar di wajahnya.
Awalnya keluarga Boktis tidak terlalu mempedulikan hal itu karena meskipun warga dari desa sebelah sering menghina Istrinya tetapi di desa ini semua warga sangat menerima istri Boktis dengan baik, bahkan mereka sangat ramah padanya meskipun ia mempunyai wajah seperti itu.
Lalu suatu hari tiba - tiba sebuah wabah penyakit melanda Desa sebelah.
Mereka awalnya menganggap bahwa penyakit ini di sebabkan oleh sebuah virus. Namun lama kelamaan penyakit itu tidak keburu sembuh juga hingga akhirnya mereka mulai mengira bahwa penyakit ini tidak di sebabkan oleh sebuah Virus melainkan ini adalah sebuah kutukan yang di sebabkan oleh Istri Boktis.
Tentu para warga di desa ini tidak terlalu mempercayai hal itu, mereka menganggap bahwa itu hanya omong kosong belaka. Tapi setelah anak - anak mereka di kena juga pada akhirnya mereka mulai sedikit khawatir. Mereka menganggap bahwa apa yang di katakan oleh warga dari desa sebelah mungkin saja benar.
Lalu pada akhirnya Boktis pun memutuskan meninggalkan desa ini.
"Sial, setelah kita datang jauh - jauh ke sini ia malah tidak ada."
Ucapku. PIX yang dengar itu langsung menganggukkan kepalanya sambil berkata..
[Anda benar, jadi apa harus kita lakukan sekarang?]
Dengan singkat aku jawab...
(Tidak tau.)
Lalu kemudian PIX melihat ke arah pegunungan kecil tidak jauh di dalam hutan dan mencoba menyarankan sesuatu padaku.
[Master, bagaimana kalau anda pergi ke sana?]
"Pegunungan?"
Tentu saja aku langsung tau alasan kenapa PIX menyarakan aku pergi ke sana.
Sebelum aku berpisah dengan ketiga pemuda itu, salah satu dari mereka memberitauku bahwa ada sebuah rumor yang mengatakan bahwa keluarga Boktis saat ini tinggal di belakang pegunungan di pedalaman hutan.
Tentu saja itu hanya rumor saja namun tidak ada salahnya untuk ke sana dan mengeceknya sendiri.
(Kau benar, mari kita pergi ke sana.)
Aku meninggalkan sungai dan pergi mengambil Tasku yang ku tinggalkan di dekat Pohon, kemudian aku menggantung nya kembali di belakang punggung.
Setelah itu aku mulai mencoba berjalan meninggalkan tempat itu namun tiba - tiba aku berhenti saat melihat ada sesuatu di bawah kakiku. dan saat aku mengambilnya ternyata itu adalah sebuah kartu Identitas.
Kartu itu masih terlihat bersih dan baru, itu artinya kartu ini belum lama di tinggalkan di tempat ini.
__ADS_1
(Aku ingin tau, siapa pemilik kartu ini?)
Aku balik kartu itu dan di sana terlihat jelas nama dari pemilik kartu itu adalah Yuan Du, sedangkan profesinya adalah seorang agen Intelijen atau mata - mata.
"Apa seorang Intelijen! Jangan bilang kartu ini milik salah satu anggota MSS!"
PIX yang dengar itu merasa kebingungan dan bertanya - tanya...
[MSS? Apa itu?]
(MSS adalah singkatan dari Ministry of State Security. Badan intelijen milik negara CN.-
-Mereka juga di kenal sebagai salah satu badan Intelijen yang paling di takuti di dunia selain CIA dan SVR.)
[Oooh begitu, tapi kenapa kartu dari salah satu anggota MMS bisa ada di tempat seperti ini?]
Aku merespon perkataan PIX dengan senyuman seringai dan menjawab..
(Heh bukankah sudah jelas, itu karena di sini ada sesuatu yang sangat menarik yang tidak banyak orang ketahui.)
Dari kata - kata itu saja PIX langsung tau apa yang ku maksud.
[Tunggu! Jangan bilang....]
(Benar, sepertinya rumor yang mengatakan bahwa Boktis tinggal di belakang pegunungan itu memang benar.)
____________________________________________
______________________________________
Saat ini aku berjalan menaiki pegunungan, dimana di sini sangat gelap sehingga aku menyalahkan senter hp ku untuk menerangi jalanku.
Tidak lupa aku juga mengeluarkan Pistolku dari dalam tas untuk jaga - jaga jika suatu saat ada hewan liar yang mencoba menyerang ku.
Biasanya, di kehidupanku sebelumnya aku tidak memerlukan senjata ini(Pistol) untuk mengalahkan hewan liar, karena hanya dengan bermodal kekuatan fisikku saja aku sudah bisa lansung menumbangkan mereka. Baik itu Singa, Beruang ataupun Harimau.
Namun saat ini aku hanyalah seorang anak kecil yang tidak memiliki kekuatan apapun, sehingga aku perlu waspada ketika berada di tempat seperti ini.
(Untungnya gunung ini kecil jika tidak kita pasti akan memakan waktu lebih lama dari yang kita kira untuk bisa sampai ke puncak nya.)
Di tengah perjalanan aku melihat semak - semak di depanku bergerak - gerak dan terdengar juga suara auman dari dalam sana.
Sontak saja hal itu membuat aku langsung mengarahkan Pistolku ke sana sambil menunggu sosok dari semak - semak itu keluar.
Lalu tak lama kemudian sosok itupun keluar, dimana ia ternyata adalah seekor singa.
(Sial, dari semua hewan, kenapa harus dia yang kutemui!)
__ADS_1
[Selamat Master, sepertinya anda sangat beruntung hari ini.]
(Woy ini bukan waktunya bercanda, jadi kau diam di situ.)
Aku melotot PIX, yang dimana membuat PIX langsung ketakutan.
[Ba~Baik Master, maafkan aku.]
Aku kembali melihat singa itu dimana ia tidak bergerak sama sekali. Ia hanya terus menatap mataku begitupun sebaliknya aku juga menatap matanya hingga membuat kami berdua saling menatap satu sama lain.
Setelah beberapa detik kami saling menatap tak lama kemudian Singa itu menghela nafas dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Eh apa dia kabur?"
[Sepertinya begitu.] Balas PIX.
"Meski begitu, apa - apaan tadi itu, ia terlihat seperti sedang menghela nafasnya sebelum pergi?"
[Hmm mungkin ia menghela nafasnya karena ia merasa sedih saat tau mangsa yang di depannya itu ternyata memiliki daging yang tidak sedap untuk di makan.]
(Woy! Kau ini benar - benar deh...)
Di bandingkan menaiki gunung ini, aku lebih capek meladeni makhluk yang satu ini(PIX) sehingga aku berusaha mengabaikan nya dan melanjutkan perjalananku lagi.
Tap!!...Tap!!....Tap!!...
Setelah satu jam lebih perjalanan akhirnya aku sampai di puncaknya, dimana tepat di belakang pegunungan terdapat sebuah hutan lebat yang sangat luas di bawah sana, di sertai dengan sungai yang mengalir di sekitar hutan.
Lalu di bagian tengah hutan terdapat sebuah daratan datar dan juga sebuah rumah kayu yang berdiri di sana. Kemungkinan besar rumah itu adalah milik Boktis.
[Master itu....]
(Yah aku tau, itu pasti rumah dia.)
Sebelum aku menuruni pegunungan aku memasukkan Pistolku kembali ke dalam tas supaya saat bertemu dengannya nanti ia tidak menganggap ku sebagai musuh.
Setelah Pistolku masuk ke dalam tas aku mulai menuruni pegunungan dan berjalan melewati hutan lebat, dimana aku mencoba menuju ke rumah itu.
Namun di saat aku sudah hampir sampai ke rumah itu, tiba - tiba aku merasakan ada hawa kehadiran seseorang di belakangku.
Sontak saja hal itu membuat aku kaget dan lansung berbalik ke belakang, dimana aku melihat seorang pria besar, tinggi dan kekar sedang berdiri tepat di depanku.
Pria itu mengeluarkan aura yang sangat mengerikan. Ia tidak memiliki rambut di atas kepalanya alias botak dan terdapat juga sebuah bekas luka sayatan di mata kirinya. Sedangkan mata kanannya memancarkan cahaya merah yang menatap langsung diriku.
Tanpa perlu di katakan lagi aku langsung tau siapa pria di depanku ini, ia adalah seorang Pengguna TUPXION 06, sekaligus orang yang pernah ku lawan dulu bernama Boktis.
__ADS_1