
Setelah Bruno pergi. Vincent pergi ke dapur dan membuat 3 secangkir teh untuk di berikan pada Alexei, Sherlie dan juga dirinya sendiri.
Setelah ia selesai, ia bawa ketiga cangkir teh tersebut ke ruang tamu. tempat dimana Alexei dan Sherlie saat ini berada.
"Silahkan."
Vincent menyodorkan satu cangkir teh kepada Sherlie kemudian Alexei. Dimana Alexei dengan senang hati mengambilnya.
"Makasih."
Alexei meniup teh tersebut kemudian meminumnya. Lalu setelah itu ia taruk kembali ke atas meja.
"Tehnya enak, aku merasa segar kembali." ucap Alexei.
"Syukurlah anda menyukainya."
Balas Vincent.
Lalu setelah itu Alexei ingat sesuatu dan buru - buru melihat Vincent dan Sherlie.
"Oh iya omong - omong saat aku masuk ke sini aku lihat kalian berdua sepertinya sedang bertengkar, apa yang sedang kalian ributkan?"
"Oh itu-!!"
Vincent baru saja mau jawab tapi ucapannya lansung di potong oleh Sherlie.
"Dengar Jendral Alexei, orang ini(Vincent) ia keras kepala sekali, aku sudah ratusan kali menyuruhnya untuk istirahat tapi ia tetap tidak mau mendengarkanku sama sekali."
"Kan aku sudah bilang, aku itu masih kuat, aku masih bisa melanjutkan pekerjaanku."
"Kuat apanya, lihat saja matamu itu sudah seperti kayak orang mati."
Vincent seolah tidak terima di katai seperti itu dan mencoba membalas.
"Siapa yang kau bilang orang mati. Dasar cebol."
"Apa kau bilang..Cebo?"
Sherlie merasa kesal dan lansung turung dari tempat duduknya, kemudian ia pergi ke tempat Vincent dan menarik rambutnya hingga membuat Vincent merasa kesakitan.
"~Aghh!! Aduh!!..Sherlie hentikan, itu sakit."
"Bodoh amat, asal kamu tau saja ya, aku itu wanita yang sangat tidak suka kalau di bilangi seperti itu(Cebol) tau."
"Baik - Baik aku mengerti, aku yang salah maafkan aku. Karena itulah tolong lepaskan rambutku, itu sakit.-
-Selain itu lihat Jendral Alexei juga masih ada di sini."
Sherlie seolah baru sadar kalau Alexei sedang memperhatikan mereka. Dengan rasa malu Sherlie buru - buru kembali ke tempat duduknya.
"Je-Jendral Alexei tolong maafkan aku karena telah memperlihatkan sesuatu yang tidak pantas di hadapanmu."
"Itu tidak masalah, tidak usah di pikirkan, Yang lebih penting...Vincent."
Tiba - tiba namanya di panggil membuat Vincent sedikit kaget dan buru - buru berbalik melihat Alexei.
"Y-Ya ada apa?"
"Boleh aku tau, memang apa yang sedang kau kerjakan sampai tidak mau istirahat begitu?-
__ADS_1
-Jujur saja dari yang aku lihat aku memang setuju dengan apa yang Sherlie katakan. Sebaiknya kau pergi istirahat, karena di lihat dari wajahmu, sepertinya kau sudah sangat lelah dan kurang istirahat."
Sherlie merasa ia mendapatkan dukungan dari Alexei dan mencoba menceramahi Vincent lagi.
"Lihat apa aku bilang, sudahlah sekarang kamu pergi saja istirahat sana."
"Astaga, sudah ku bilang aku tidak bisa. Aku harus secepatnya menyelesaikan pekerjaanku ini. Karena bagaimanapun juga ini menyangkut senjata baru umat manusia."
Alexei seolah tertarik dengan apa yang barusan Vincent katakan dan bertanya..
"Senjata baru umat manusia? Apa maksudmu?"
"I-itu....."
Vincent seolah ragu untuk memberitau Alexei. Jadi Sherlie yang mencoba menggantikannya.
"Baiklah, biar aku saja yang beritaukan."
"Sherlie!"
Vincent mencoba menghentikan Sherlie namun ia lansung di tatap tajam. Seolah Sherlie mencoba memberitau Vincent bahwa tidak ada yang perlu kita sembunyikan dari Jendral Alexei.
Mau tidak mau Vincent pun memilih menyerah.
"Haa terserahlah."
Setelah Vincent mengumankan itu, Sherlie kembali melihat Alexei dan mulai memberitaunya.
"Baiklah Jendral Alexei, anda seharusnya sudah taukan kemampuan TUPXION Vincent seperti apa?"
"Yah aku tau, Kemampuan nya Transfer kan?"
-Orang - orang menyebut itu sebagai Senjata S Gear.-
-Tapi sayangnya yang bisa Vincent Transfer sampai saat ini hanya kemampuan Monster Class B sedangkan yang di atasnya masih belum bisa."
Alexei seolah setuju juga dengan ucapan Sherlie dan mengangguk pelang.
(Itu benar, ini juga menjadi alasan kenapa para pengguna TUPXION harus di kerahkan saat monster Class A atau di atasnya muncul karena pengguna Senjata S Gear tidak bisa mengatasi mereka. Mereka hanya bisa mengatasi Monster sampai Class B saja.)
Sementara Alexei memikirkan itu, Sherlie melanjutkan lagi bicaranya...
"Tapi Alexei bagaimana jika Vincent berhasil mentransfer kemampuan dari monster Class A?"
Mendapatkan pertanyaan seperti itu membuat mata Alexei lansung melebar karena terkejut. Sebab jika Vincent memang bisa mentransfer kemampuan monster Class A ke Kristal Roh maka kita tidak perlu lagi mengerahkan Pengguna TUPXION untuk menghadapi Monster Class A tapi kita juga bisa mengerahkan Pengguna Senjata S Gear untuk menghadapi mereka.
Bisa di bilang ini memang sangat membantu umat manusia menghadapi para Monster itu. terutama saat lubang merah sudah muncul.
"Jadi begitu, aku mengerti sekarang. Dengan kata lain senjata yang kau buat saat ini adalah Senjata S Gear yang bisa membantu umat manusia menghadapi para Monster Class A kan?"
Tanya Alexei, dimana Vincent dengan serius menjawab.
"Yah itu benar. Dengan adanya senjata ini maka kita tidak perlu lagi bergantung pada PENGGUNA TUPXION untuk menghadapi Monster Class A yang nanti akan keluar dari Lubang merah. melainkan kita juga bisa mengandalkan mereka, para pengguna Senjata S Gear."
Alexei seolah sudah mengerti tujuan Vincent dan beberapa kali mengangguk kan kepalanya.
"Hmm....aku mengerti."
Lalu setelah itu untuk sementara suasana di tempat itu menjadi sunyi. Namun tak lama kemudian kesunyian itu lansung di hilangkan oleh tepukan tangan dari Sherlie.
__ADS_1
"Baiklah, sudah cukup bicaranya, yang lebih penting Alexei, bisa kita lansung saja masuk ke topik utama."
"Hah! Kau benar juga."
Alexei kaget, seolah ia baru ingat alasan ia datang kemari. Itu untuk minta bantuan pada mereka berdua.
"Jadi bantuan apa yang anda inginkan dari kami?"
Ketika Sherlie menanyakan itu. Pertama - tama Alexei menghela nafasnya dalam - dalam lalu kemudian ia mulai memberitaukan permintaan nya.
"Aku ingin......"
_____________________________________
_________________________________
Di Langit yang sudah mulai gelap dan matahari sudah mau tenggelam.
Di Taman tepat di tepi pantai di sana terdapat seorang anak kecil berseragam sekolah sedang duduk sambil memandang terus Hpnya. Dia adalah Leon.
[Master, sejak tadi anda melihat Hp anda terus, memang apa yang anda lihat?]
PIX menanyakan itu seolah penasaran. Karena ini bukan sesuatu yang harus ku sembunyikan dari dia jadi aku memberitaunya.
"Aku hanya sedang mengecek pesan yang ku terima dari Brid tadi siang.-
-Sepertinya ia dan Selena sudah membaca isi surat yang ku selipkan di kantong jaket Selena saat itu."
[Surat? Hah apa mungkin soal rencana anda yang tiba - tiba di ubah itu?]
Aku secara singkat menjawab. "Yah." Lalu setelah itu PIX bertanya lagi
[Jadi, apa jawaban mereka?]
"Mereka menerimanya. Yaa meskipun Selena tidak terlalu senang si karena secara tidak lansung ia harus menghianati harapan Carla, tapi karena ia juga sadar kalau ini semua demi kebaikan Carla jadi ia menerimanya."
[Begitu. Jadi mulai sekarang apa yang akan anda lakukan?]
"Aku akan bergerak juga. Tapi sebelum itu PIX, ada satu hal yang ingin ku tanyakan padamu terlebih dulu."
PIX penasaran hal apa itu dan bertanya..
[Apa?]
"Seandainya saja aku memberimu perintah tapi tiba - tiba aku mengalami masalah seperti pingsan atau mati di tempat, apa kau akan tetap menjalankan perintah itu?"
Tanpa pikir panjang PIX lansung menjawab...
[Tentu saja, kenapa anda menanyakan itu?]
"Tidak...Bukan apa - apa, aku hanya ingin tau saja."
[Hmmm......]
PIX tentu tidak percaya begitu saja. Walau begitu aku berusaha mengabaikannya dan mematikan Hpku. Kemudian aku berdiri dan mengambil tasku yang ku letakkan di tempat duduk.
Setelah itu aku menggendongnya di belakang punggungku.
"Yosh sudah saatnya kita kembali."
__ADS_1
Sambil mengucapkan itu, aku pun berlari meninggalkan taman itu.