
Setelah meninggalkan Bulan, saat ini aku berjalan di pinggir jalan, dimana awan sudah terlihat gelap.
"Tidak terasa ternyata sudah malam ya."
[Um, anda benar.]
Balas PIX sambil mengganguk. Kemudian ia melihat ke arahku dan bertanya...
[Omong - omong Master, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan?]
"Apa?"
[Meskipun anda bilang Bahwa semuanya sudah baik - baik saja, tapi aku masih khawatir dengan orang itu.]
"Orang itu? Maksudmu Kak Rangga?" Tanyaku.
[Yah, bagimanapun Juga dia itu adalah Murid mu. Cepat atau lambat ia pasti akan sadar dan tau, siapa yang melibatkan dia dalam masalah ini.]
Memang benar, ada kemungkinan hal itu bisa saja terjadi, namun sayangnya aku sudah menghilangkan hal itu, sehingga tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"PIX, Soal itu kau tidak usah khawatir, lagi pula aku juga sudah mempertimbahkan hal itu."
[Eh, Benarkah?]
"Yah."
Balasku dengan tenang. Kemudian aku melihat ke arah depan dan mulai memberitaunya...
"Kamu masih ingatkan, ketika aku menginginkan Hp Gaming, saat itu aku bilang apa pada Kak Rangga?"
[Hmm kalau tidak salah, anda Bilang....Anda sangat tertarik dengan Hp Gaming itu.]
"Benar, namun jika kau ingat lagi, aku tidak pernah bilang untuk meminta dia membelikan ku Hp itu kan?"
[Setelah di ingat - ingat itu benar juga.]
"Nah, apa kau tau kenapa aku melakukan itu?"
Di saat aku menanyakan itu, PIX lansung menjawab..
[Tidak.]
"Itu karena aku ingin ia Secara khusus membelikan ku Hp itu. Supaya ia tidak akan pernah curiga padaku."
PIX yang dengar itu lansung terkejut dan kebingungan, dimana ia bertanya - tanya...
__ADS_1
[Eh! apa maksudmu?]
"Maksudku, sebagai Contoh saja ketika aku buat Lubang di semak - semak dan aku ingin Dia(Rangga) jatuh ke lubang itu dengan Cara pura - pura menyuruh dia mencari Bolaku yang hilang di sana. apa kau pikir ia akan mencurigaiku?"
[tentu saja ia akan mencurigaimu, lagi pula itu sangat jelas bahwa andalah yang menuntung dia ke Lubang itu.]
"Nah, namun jika aku bilang bahwa aku menghilangkan Bolaku di sekitar sana, dan aku tidak meminta dia(Rangga) mencarinya melainkan dia sendiri yang pengen mencarinya.-
-Sekarang aku ingin tanya, apa kau pikir ia akan mencurigaiku?"
[I-itu,...aku pikir tidak.]
"Benar, sama juga dengan ini. Aku tidak menyuruh dia(Rangga) membelikanku Hp, melainkan dia sendiri yang membelikanku.-
-itulah sebabnya ia tidak akan pernah Curiga padaku."
Ucapku dengan Tegas, dimana PIX yang dengar itu untuk sesaat lansung berpikir dan tidak mengatakan apapun.
[....]
Setelah beberapa saat Ia berpikir ia kembali melihatku dan bertanya...
[Master, jika itu memang benar, itu berarti anak Berandalan yang di Mall Waktu itu....]
"Ya, mereka semua adalah anak berandalan yang aku suruh sendiri ke sana untuk menargetkan diriku."
Dimana pesan itu berisikan Sebuah Informasi bahwa di jam Segini aku akan pergi ke Mall xxxx
Awalnya anak - anak di Grup itu tidak ada yang mau mengambil tindakan untuk menargetkan diriku, karena mereka takut mereka bisa saja mengalami hal yang sama yang pernah di alami anak Berandalan waktu di bangunan itu.
Namun, setelah aku beritau mereka bahwa mereka akan di beri Sejumlah Uang jika mereka mau memberi pelajaran anak itu yang tidak lain adalah aku. Beberapa Orang di grup itu pun mau.
Karena bagi mereka Memberi pelajaran padaku, bukan hanya mendapatkan uang dariku(yang pura - pura jadi anak berandalan.) melainkan ia juga bisa mendapatkan uang dari Luis.
(Yaa bisa di bilang aku membuat mereka berpikir bahwa menargetkan diriku saat itu, sama saja dengan melempar satu batu dapat Dua.)
Adapun Kak Rangga, setelah ia membawaku ke Mall(untuk beli Hp) saat itu jugalah aku lansung membuat ia menjadi kambing hitam dari Rencanaku untuk membunuh Luis dan yang lainnya.
Dimana aku sengaja membiarkan kepalaku di lukai waktu di tempat parkiran dan memberi Kak Rangga petunjuk lewat anak berandalan yang melukaiku, supaya ia bisa mencari tau siapa dalang yang membuat aku atau adeknya di lukai seperti ini.
Yang pada akhirnya ia pun sampai ke tujuannya yaitu di Masion Luis.
(Bagi Kak Rangga Semua yang ia Alami saat itu mungkin hanya sebuah kebetulan saja. Tapi bagiku semua itu adalah sesuatu yang sudah ku Rencanakan untuk membuat ia menjadi tersangka Hilangnya Luis.)
Pikirku, dimana tatapanku terlihat tenang namun memancarkan Cahaya.
__ADS_1
Meskipun aku merasa bersalah karena sudah buat ia jadi tersangka. Tapi setidaknya aku sudah beri ia bantuan untuk mengatasi masalah itu.
"Yaa karena dia Muridku, seharusnya dia bisa mengatasi itu dengan mudah."
Gumanku. dan saat itu juga tiba - tiba aku merasakan niat membunuh Seseorang dari jauh.
Tanpa menunggu lama Sorot mataku lansung melirik ke Arah tempat itu, dimana tepat di atap bangunan di sana terlihat bayangan seseorang yang sedang memperhatikan Diriku.
Dimana Bayangan itu lansung menghilang saat tau sorot mataku melihat dirinya.
"Oh, sepertinya mereka Sudah datang." ucapku.
(Mereka lebih cepat datang dari yang aku pikirkan.)
Pikirku sambil seringai. Dimana PIX yang lihat itu merasa kebingungan Dan bertanya - tanya...
[Ada apa Master? anda Seringai begitu?]
"Tidak, bukan apa - apa. Ayo kita pulang."
Jawabku sambil kembali melihat ke arah depan dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
_______________________________
_____________________________
>Di Waktu Bersamaan.
Tepat di atap Bangunan, di sana Terlihat Seorang wanita berpakaian Hitam Ketat sedang bersembunyi di balik pembatas atap bangunan dan memakai sebuah Topeng.
Dimana Wanita itu tidak lain adalah Selena.
"Fuuu, tadi itu hampir saja."
Ucap Selena yang meneteskan keringat Dingin dan terlihat gemetar.
Sebab beberapa detik yang lalu, ketika ia memperhatikan Targetnya(Leon). Ia sentak Shock dan kaget dan secara spontang ia lansung bersembunyi di balik pembatas.
Alasannya itu karena Sorot mata Targetnya itu jelas - jelas melihat ke arah Dirinya, di tambah lagi ia merasakan niat membunuh yang kuat saat melihat Sorot mata tersebut, seolah ia tidak punya sedikitpun rasa takut untuk membunuh orang.
Memikirkannya saja membuat Selena merasa sedikit ketakutan.
(~Sial,..apa~apaan anak itu? Sudah jelas sorot mata itu bukan Sorot mata anak kecil pada umumnya. Jadi siapa dia?)
Tanya Selena di pikirannya.
__ADS_1
Setelah itu ia menengok ke atas langit, dimana hembusan angin menerbangkan rambutnya yang terikat ponytail, lalu ia berguman.
"Sepertinya Tugas ini tidak mudah seperti yang aku pikirkan."