
Di sekolah.
Saat aku membuka Pintu dan masuk ke ruang kelas. Aku perhatikan pandangan semua murid mengarah ke suatu tempat.
saat aku mengikuti pandangan mereka, di sana terlihat Sara sedang duduk di bangkunnya seperti biasa sambil bermain Hp.
Namun ketika aku perhatikan baik - baik, aku lansung tau alasan semua murid melihat ke arahnya.
Itu karena hari ini penampilan Sara sangat berbeda di bandingkan hari - Hari sebelumnya.
Dimana ia mengikat Rambutnya dengan Gaya Ponytail.
Di tambah lagi, Pengikat Rambut yang ia gunakan saat ini, Tidak lain adalah hadia yang kuberikan waktu kemarin.
"Sara selamat pagi."
Saat aku menyapanya, Sara melihat ke arahku.
"Leon yah, selamat pagi."
Setelah Sara menyapa balik, untuk sementara aku perhatikan tampilannya. tetapi, ketika kami saling menatap Sara lansung melihat ke arah lain.
"Leon, berhentilah melihatku."
"Hah, maaf,...aku hanya senang kau memakai Hadian yang kuberikan kemarin."
"Benarkah..."
"Umm." Angguk ku.
setelah itu, Sara menyentuh ikat Rambut tersebut dan mencoba bertanya Lagi.
"Jadi, bagaimana menurutmu Leon?"
"Yah, itu sangat cocok untukmu."
"Be-begitu, Syukurlah."
Ucap Sara sambil tersenyum.
Beberapa Cowok di kelas yang melihat senyumannya itu lansung kaget dan tersipu malu.
"Hey, kau lihat barusan."
"Yah, Ia tadi tersenyum."
"Apa Sara pernah seperti itu?"
"Kurasa tidak?"
Setiap bisikan para Murid aku dengar. Namun tanpa pedulikan mereka aku lansung duduk di bangku ku, yang berada di samping Sara.
Setelah aku duduk, Tak lama kemudian, Bu Linda mulai masuk ke dalam kelas.
"Baiklah, keluarkan buku pelajaran IPS kalian."
Saat Bu Linda menyuruh mengeluarkan buku pelajaran kami. Tanpa menunggu lama aku lansung mengeluarkan buku pelajaran IPSku.
Namun, sebelum aku mengeluarkannya, dari samping tiba - tiba Sara memanggilku.
"Leon, apa kau bawah buku IPSmu?"
"Yah, aku bawah."
"Bisa kita berbagi, aku lupa membawanya."
"Yaa, aku tidak masalah."
Sambil mengucapkan itu, aku lansung meminta izin Bu Linda.
"Bu, Sara lupa bawah buku IPSnya, tidak masalahkan aku berbagi?"
"Yah, itu tidak apa - apa."
Setelah aku mendapatkan Izin Bu Linda. Aku lansung mengangkat bangku ku dan mendekatkannya dengan bangku Sara.
Setelah bangku kami berdekatan, aku lansung menaruk buku IPSku di tengah bangku. sambil duduk berdampingan dengannya.
___________________________________
____________________________
Pada saat sudah waktunya istirahat. Aku menyimpan buku pelajaranku di bawah Laci. Setelah itu aku mengembalikkan bangku ku ke tempat seperti semula.
"Leon."
Saat Sara memanggilku, aku melihat ke arahnya.
"Apa?"
"Apa kau belum makan?"
"Yah, aku baru mau ke kanting beli."
__ADS_1
"Kalau begitu nih..."
Sara mengulurkan sebuah bekal di depanku. Meski aku tidak tau apa maksudnya ini namun aku bertanya terlebih dahulu.
"A-Apa ini?"
"Tadi pagi, ibuku menyuruhku memberikanmu ini. Ia bilang ini balasan karena sudah memberiku hadia."
"Hmm begitu."
Meskipun aku tidak mengharapkan apapun dari hadia tersebut. namun karena ini ucapan terima kasih dari orang tuanya. jadi, Aku tidak punya alasan untuk menolaknya.
"Terima kasih Sara."
Setelah aku ambil bekalnya, dari arah Pintu, tiba - tiba seseorang membukanya dengan keras.
KNOCKK!!
"Leon, kami datang."
Saat aku melihat ke arah pintu, di situ terlihat Rusli sama Lia sedang berjalan masuk ke kelasku dan menuju ke arahku.
"Leon, ayo kita pergi ke kanting."
Saat Rusli mengajakku, aku menujukkan Bekal yang di berikan Sara kepadanya.
"Maaf, aku sudah punya bekal. Aku makan di sini saja."
"Eh, memang kenapa?" tanya Rusli
"Bukankah tidak baik, jika aku tidak beli apapun di sana, tapi makan di sana."
ketika aku berkata begitu, Lia yang lansung jawab.
"Ah, kalau itu kau tidak perlu khawatir Leon, sebab ada banyak kok anak yang tidak beli di kanting tapi makan di sana."
"Eh benarkah?"
"Umm." angguk Lia
Meskipun aku tidak tau apa ini baik - baik saja atau tidak. Namun jika mereka mengatakan itu,...yah sudahlah.
"Kalau begitu ayo kita pergi." ucapku.
saat kami mau berjalan, sesaat aku melihat ke arah Sara.
"Sara, apa kau mau ikut juga?"
Baik Rusli sama Lia lansung terkejut, saat aku mengajak Sara. Namun tanpa pedulikan mereka aku terus melihat Sara.
"Yaa, itu tidak masalah, benarkan?"
Ucapku sambil melihat ke arah Rusli sama Lia.
Meskipun Rusli terlihat ketakutan namun ia tetap menyetujuinya. Adapun Lia, ia sepertinya terlihat senang.
Meski aku tidak tau apa alasannya namun aku senang mereka berdua menyetujuinya.
Setelah itu aku melihat ke arah Sara lagi.
"Lihat, mereka tidak masalah sama sekali. Jadi apa kau mau ikut?"
Saat Aku tanya lagi, untuk sementara Sara melihat bekalnya. Namun tak lama kemudian ia melihat ke arahku.
"Umm, aku ikut."
"Yosh, kalau begitu ayo kita pergi."
"Ayooooo!!" ucap Lia.
____________________________________
______________________________
Setelah kami sampai di kanting, Rusli sama Lia lansung pergi beli sarapan, sedangkan aku dan Sara pergi mencari tempat yang Kosong.
Saat kami sedang cari meja Kosong, aku perhatikan kalau Sara terlihat Gugup.
"Sara, apa kau tidak pernah makan di sini?"
"Umm, dari dulu aku sering makan di kelas, kalau bukan di kelas, biasa makan di belakang sekolah."
"Hmm begitu."
Dari apa yang ia katakan, kita bisa tau kalau ia benar - benar suka menyendiri atau menghidari Orang lain.
Meski aku tidak tau kenapa ia melakukan itu. Namun aku hanya bisa mengirah, kalau ia dulu mengalami hal buruk waktu masih kecil. Itulah kenapa ia jadi seperti ini.
Sebab dari yang aku tau. kebanyakan Gadis seusia dia. Biasanya mempunyai sifat yang sangat ceria dan penuh energi seperti Lia.
Namun, gadis ini aku tidak menemukan hal itu sama sekali pada dirinya.
Malahan aku melihat kalau ia mempunyai sifat bertolak belakang dengan gadis pada umunya. Seolah - olah ia Seperti...
__ADS_1
(SUDAH TIDAK MEMPUNYAI KEHINGINAN UNTUK HIDUP.)
Meski aku tidak tau, apa yang ku katakan ini benar atau salah. Namun aku mengenal gadis yang sama seperti dirinya dulu.
"Leon."
Saat aku memikirkan itu, dari samping tiba - tiba Sara memanggilku.
"Ada apa?"
"Lihat, sepertinya tidak ada yang duduk di sana."
Saat Sara menunjuk ke suatu tempat, aku melihat ke arah sana. Dan perhatikan kalau tak ada satupun orang yang duduk di situ.
Di tambah lagi, meja tersebut mempunyai 4 kursi. Itu sangat pas dengan kelompok kami.
"Kau benar, ayo kita kesana."
"Umm." angguk Sara.
Setelah itu kami lansung pergi ke sana. Sesampainya kami disana aku lansung duduk berhadapan dengan Sara.
_________________________________
____________________
Setelah beberapa menit kami duduk di situ, tak lama kemudian mereka berdua akhirnya datang.
"Maaf kami lama." ucap Lia
"Itu tidak masalah." balasku.
Disisi lain, ketika Rusli melihat kalau Sara tidak duduk di sebelahku, ia lansung duduk disana.
Mungkin ia masih takut soal kemarin, karena ia di dengar mengatakan itu.
Sedangkan Lia, ia dengan senang lansung duduk di sebelah Sara.
"Kalau begitu, aku duduk di sini."
Setelah kami berempat duduk bersama, aku mulai membuka Bekal yang di berikan Sara.
Namun, ketika Rusli dan Lia melihat, kalau bekalku sangat mirip dengan bekal Sara. Mereka berdua terlihat terkejut.
"Le-Leon, bekalmu,....jangan bilang itu..."
Meskipun Rusli tidak mengatakannya dengan pasti. Namun aku lansung tau apa yang ingin ia katakan.
"Yah, kau benar. Ini bekal yang di berikan oleh Sara."
"Eeeeh, benarkah? Kau sangat baik yah, Sara."
Ucap Lia sambil melihat ke arah Sara. Di sisi lain, Sara yang mendengar itu dengan tenang menjawab..
"Bukan aku yang berikan, tapi ibuku."
"Benarkah?"
Meskipun Sara mengatakan itu, namun Lia bisa melihat kalau di jari Sara terdapat beberapa luka yang sudah di tutupi oleh hansaplast.
Melihatnya saja Lia bisa Tau, kalau bekal ini kemungkinan besar bukan hanya ibunya saja yang buat, tapi Sara ikut juga membuatnya.
mengetaui hal itu, membuat Lia terlihat senang dan lansung Loncat memeluk Sara.
"Sara, kau benar - benar gadis yang baik. Tidak seperti orang - orang yang katakan."
"begitu."
"Umm, ayo kita berteman?"
"Hah, apa maksudmu?"
ketika Sara bertanya. Di sisi lain, aku dan Rusli dengan kaget melihat Lia memeluk Sara.
sebab aku tidak tau Lia sesenang itu dekat dengan Sara.
Meski aku tidak tau apa yang terjadi. Namun aku senang karna Sara sudah mendapatkan Satu teman.
Saat aku memikirkan itu, Rusli terlihat sedang mengingat sesuatu dan lansung melihat ke arahku.
"Oh iyah, Leon hari ini kakakmu ada di rumah kan?"
"Eh, Yaaa, hari ini ia tidak mempunyai urusan jadi aku pikir ia ada"
"Bagus, kalau begitu tidak apa - apakan kami pergi ke rumahmu hari ini?"
(Tidak). Ingin aku katakan, namun aku lansung hentikan itu, Sebab jika aku menolaknya lagi aku merasa tidak enak dengan mereka berdua.
Selain itu, mereka hanya ingin bertemu dengan Kak Rangga.
Jadi, meskipun aku mempertemukan mereka, aku tidak mendapatkan masalah apapun, melainkan hanya Kak Rangga yang mendapatkan Masalah.
Apa lagi, aku pikir ini waktu yang pas untuk menghukum Muridku. yang seenaknya mendahului Gurunya menikah, jadi......
__ADS_1
"TENTU, KAU BOLEH DATANG."
Ucapku sambil tersenyum menyeringai.