
Tak lama setelah aku memukulnya, aku pun berdiri dan mencoba menjauh sedikit darinya.
Aku melihat ia saat ini sedang terbaring lemas dengan seluruh wajahnya terlihat sangat babak belur, bahkan matanya hampir tidak bisa di lihat karena Bengkat.
Dan Sementara aku memperhatikan Pria itu. Brid yang sejak tadi memperhatikan kami dari jauh mulai mendekatiku.
"Leon, apa sudah selesai?"
Tanya Brid.
"Yah."
Jawabku, kemudian aku lanjutkan lagi.
"Jujur saja, sebetulnya aku ingin sekali membunuhnya, tapi....haaa sudahlah, ayo kita pergi."
"....Kau benar, tapi bagaimana dengan dia(Suami Bu Linda)?"
"Kita tinggalkan saja dia, cepat atau lambat ia pasti akan di temukan oleh pejalan kaki dan membawanya ke rumah sakit." jawabku.
Lalu setelah itu kami pun mencoba meninggalkan tempat ini, namun Pria itu berusaha menggerakkan kepalanya untuk melihat kami dan mencoba menghentikan kami.
"~Ughhh tu~tunggu dulu."
Mendengar hal itu aku dan Brid lansung berhenti jalan dan berbalik melihat ke arahnya.
"Ada apa, apa kau masih ingin di pukul?"
Tanyaku, tetapi Pria itu mengabaikanku dan malah bertanya balik padaku.
"~Ka~kau....kenapa kau melakukan ini padaku? Apa yang telah aku lakukan padamu, sampai kau membuat aku seperti ini?"
"Sejujurnya kau tidak melakukan apapun padaku."
Mendengar hal itu sontak saja membuat mata Pria itu lansung melebar karena terkejut.
"Apa! Kalau begitu kenapa kau melakukan ini padaku?"
"Itu karena kau telah menyakiti seseorang yang seharusnya kau tidak sakiti."
"Yang seharusnya tidak ku sakiti? Siapa?"
Awalnya aku diam saja. Namun, tak lama kemudian tiba - tiba aku tatap ia dengan tajam sambil menjawab..
"Dia adalah Guruku."
"Gurumu?"
Pria itu entah kenapa terlihat kebingungan. Namun setelah ia menyadari siapa Guru yang ku maksud itu, ia lansung merasa shock.
"Tu~Tunggu kau,...jangan Bilang kau ini murid Linda?"
"Oh akhirnya kau sadar juga, benar aku ini Murid Bu Linda. Dan alasan aku melakukan ini padamu...Seharusnya kau tau sendirikan alasannya?"
__ADS_1
(Tentu saja aku tau, itu karena selama beberapa hari ini aku sering melukai Linda, di tambah lagi aku juga sering membuat ia kesulitan. Namun meski begitu kenapa kau ikut campur?-
-Maskipun kau ini muridnya tapi tetap saja hal ini tidak ada hubungannya sama sekali denganmu.-
-Atau,....apa mungkin Linda yang menyuruhmu melakukan hal ini padaku?)
Ketika Pria itu memikirkan hal itu, ia menjadi sangat marah dan lansung memaksa dirinya bangun untuk melihatku.
"Bo~Bocah kau,...apa mungkin kau melakukan semua ini padaku, gara - gara Linda yang menyuruhmu?"
"Hah! Tentu saja tidaklah, aku melakukan semua ini atas kemauanku sendiri."
Jawabku, namun Pria itu sepertinya tidak percaya sama sekali, Ia malah tertawa sambil berkata..
"Hahaha Bocah, tidak usah bohong begitu, aku tau ini semua pasti ulah dia(Linda), Ia pasti yang menyuruhmu.-
-Baiklah kalau kau ingin menyiksaku maka siksa saja aku, namun kau harus ingat, setelah aku keluar dari tempat ini maka....AKU AKAN MEMBALAS SEMUA YANG KAU LAKUKAN PADAKU KE DIA.-
-BUKAN HANYA ITU SAJA, AKU AKAN MEMBALASNYA BERKALI - KALI LIPAT HINGGA KAU TIDAK BISA LAGI MELIHATNYA DI SEKOLAHMU!"
Setelah mendengar itu, mataku lansung menyipit dengan tajam.
Sebetulnya beberapa waktu yang lalu aku masih bisa memaafkannya dan membiarkannya pergi dari tempat ini, namun setelah mendengar itu, Aku memutuskan untuk menghilangkan Pria ini saja dari dunia ini.
Meskipun aku tau kalau ini bisa membuat Bu Linda membenciku jika ia tau soal ini nanti, namun aku tidak masalah. Karena selama Pria ini hidup maka Bu Linda dan juga anaknya tidak akan bisa menjalani hidup yang tenang.
(KARENA ITULAH MULAI SEKARANG AKU AKAN MEMBUNUH MU DI SINI AGAR KAU TIDAK BISA LAGI KEMBALI KE TEMPAT DIA.)
Pikirku. Lalu dengan langkah kuat aku mulai mendekatinya.
"Hahaha sepertinya kau tidak khawatir sama sekali dengan apa yang akan terjadi kepada gurumu nanti? Kalau begitu cepat sini, silahkan pukul aku sepuasmu."
"Pukul? Woy sejak kapan aku bilang kalau aku ingin memukulmu?"
"Apa!!"
Pria itu terlihat sangat terkejut. Namun tanpa pedulikan itu aku melanjutkan lagi..
"Memang benar, saat ini aku ingin menyiksamu, tapi bukan berarti aku ingin memukulmu. Melainkan aku ingin...."
Aku mengangkat tanganku ke atas, yang dimana saat itu juga Brid lansung tau apa yang aku inginkan dan ia buru - buru mengeluarkan Belatinya dari balik bajunya dan melemparnya ke arahku.
"Leon ini."
Aku tangkap belati itu kemudian ku arahkan ke pria itu, dimana membuat Pria itu sontak lansung menjerit ketakutan.
"~Hiii ka~kau jangan bilang, kau ingin...."
"BENAR, AKU INGIN MEMBUNUHMU."
Seusai aku mengatakan itu, aku lansung melayankan sebuah tebasan ke arah tangannya. Dan saat itu juga tangannya terpisah dari tubuhnya dan jatuh ke tanah.
Darahnya pun tersembur keluar dan tersebar kemana - mana hingga membuat Pria itu terus - terusan menjerit kesakitan.
__ADS_1
"~ARGHHHHHHHH!!..~TANGANKU..~TANGANKU, INI SAKIT SEKALI!! ~SIAAAAL!!"
Pria itu buru - buru bangkit dan mencoba melarikan diri, tetapi aku lansung lempar belatiku ke arahnya, yang dimana itu lansung mengenai Kaki Kanannya dan membuatnya terjatuh
"~Ughhhh!!"
Supaya ia tidak kabur lagi, aku buru - buru menginjak Punggungnya dengan begitu ia tidak akan bisa bangkit lagi.
"Apa kau punya kata - kata terakhir?"
Di saat aku menanyakan itu, Pria itu malah menatapku dengan sangat marah sampai - sampai urat - uratnya terlihat di dahinya.
"BOCAH, APA KAU PIKIR BISA LOLOS BEGITU SAJA SETELAH MEMBUNUHKU? AKU YAKIN CEPAT ATAU LAMBAT KAU PASTI AKAN DI TANGKAP OLEH POLISI."
"Ooh....apa hanya itu yang ingin kau katakan? Kalau begitu....MATILAH"
Tanpa ragu sedikitpun Aku lansung menebas Leher belakangnya, hingga membuat darahnya lansung tersembur ke atas dan mengenai tembok sekitar.
Bahkan wajahku pun sampai kena dan bajuku di penuhi oleh darah. Meski begitu aku tetap tenang, aku tetap bersikap santai melap semua darah yang menempel di wajahku.
"Fuuu akhirnya selesai juga."
Ucapku, kemudian aku berbalik ke belakang dan melihat Brid.
"Brid ini."
Aku lempar Belati itu kembali ke Brid, dimana Brid lansung menangkapnya. Kemudian ia membersihkan noda darah yang tersisa di Belati itu lalu menyimpannya kembali di balik Bajunya.
Setelah ia menyimpan belati itu, ia pun mendekatiku.
"Astaga, tempat ini sangat kotor,...Leon, apa kita perlu menyewa jasa Cleaner lagi?"
(Jasa Cleaner, yaaa itu mungkin Pilihan yang bagus, namun.....)
"Tidak, kita tidak perlu melakukan itu. Kita biarkan tempat ini begini saja."
Jawabku, tentu itu membuat Brid kebingungan dan bertanya - tanya...
"Kenapa? Bukankah jika anda melakukan itu maka tubuh pria ini akan di temukan?"
"Tentu saja aku tau itu, lagi pula itu memang yang aku inginkan."
"Apa!"
Brid terlihat sangat terkejut. Namun karena aku tidak ingin berlama - lama di sini jadi aku pun memutuskan untuk menghakhiri pembicaraan kami sampai di sini.
"Baiklah, sudah cukup bicaranya, sekarang kita harus menghilangkan semua jejak kita yang ada di sini, mengerti?"
Meskipun Brid tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang ku pikirkan, tetapi ia tetap mencoba mengitu apa yang aku katakan.
"Baik, aku mengerti."
Jawab Brid.
__ADS_1
Lalu setelah itu Brid dan aku mulai menghilangkan semua jejak kami di lorong ini. Dan Setelah kami selesai kami buru - buru meninggalkan tempat itu.