
Setelah Boktis melihat Istri dan anaknya sudah aman di dalam rumah ia mengalihkan pandangannya ke arah para Pria jas hitam itu, dimana mereka semua di tatap dengan tajam.
Sontak saja hal itu membuat para pria jas hitam itu merasakan ketakutan dan buru - buru mengarahkan pistol mereka ke arah Boktis.
Meski begitu Boktis tidak ketakutan sedikitpun, malahan ia dengan santai berjalan mendekati para pria jas hitam itu sambil membawa kapatnya di tangan kirinya.
"~Tidak...jangan mendekat!!"
Salah satu dari mereka merasa ketakutan dengan sosok Boktis yang terus mendekat hingga tanpa sadar ia melepaskan sebuah tembakan...
DORRR!!
Namun sayangnya tembakannya itu tidak berhasil menembus tubuh Boktis, hingga membuat mereka semua langsung terlihat pucat.
"K~Kau pasti bercanda kan!! Bagaimana bisa ia tidak terluka sedikitpun!"
"Woy jangan diam saja, cepat tembak dia!"
Mereka semua mulai menembaki Boktis, mulai dari kepala, tangan, badan hingga kaki. Dan bukan hanya sekali atau dua kali tapi ada lebih dari pulahan kali tembakan.
Namun sayangnya lagi - lagi tidak ada satupun yang berhasil melukai tubuh Boktis hingga akhirnya mereka semua makin ketakutan.
"DASAR MONSTER!"
"Sialan, Percuma saja kita menembakinya, ia tidak terluka sedikitpun."
"Kau benar, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Tidak ada yang bisa kita lakukan, kita hanya bisa terus tembak dia sampai dia terluka."
"Aku setuju."
"KALAU BEGITU JANGAN BERHENTI, TEMBAK DIA TERUS SAMPAI DIA MATI!"
DORR!!..DOR!!..DORRR!!..DOR!!..DORR!!..DOR!!..DORRR!!..DOR!!..DORR!!..DOR!!..DORRR!!..DOR!!...
Setelah beberapa saat mereka menembaki Boktis tak lama kemudian akhirnya mereka pun kehabisan peluru. Dimana mereka semua sangat shock saat mengetaui Boktis masih tetap tidak berhasil di lukai.
"~Sial kenapa ia masih saja tidak terluka?"
"Di~Dia ini bukan manusia, dia ini Monster!"
"Ka~Kau benar, kita harus lari dari sini...."
Mereka semua mencoba melarikan diri tetapi Saking takutnya mereka sampai tidak bisa menggerakkan tubuh mereka sendiri. Dan pada akhirnya mereka pun tidak bisa berbuat apa - apa dan diam saja di tempat itu.
"Ooh sepertinya kalian sudah berhenti melawan, kalau begitu...."
Boktis mengumpulkan tenaganya di kaki kanan dan menginjak tanah dengan santai lalu beberapa detik kemudian tanah itu perlahan mulai retak hingga terciptalah sebuah kawa besar di sana.
Melihat pemandangan di depannya membuat para pria jas hitam itu tak bisa berkata apa - apa. Mereka hanya bisa pasrah saja dan berlutut di tanah sambil menunggu kematiannya.
(Sial kenapa ini harus terjadi, aku belum ingin mati.)
(Tolong siapa saja selamatkan aku, aku tidak ingin mati!)
Mereka semua berpikir bahwa sebentar lagi mereka akan mati, tetapi hal yang tak di sangka malah terjadi, dimana Boktis malah berpikir sebaliknya dan berkata...
"KALIAN SEMUA DENGAR INI BAIK - BAIK, UNTUK SEKARANG AKU AKAN MENGAMPUNI NYAWA KALIAN, TAPI JIKA KALIAN BERANI KEMBALI LAGI KE SINI MAKA SAAT ITU JUGA AKU AKAN LANSUNG MEMBUNUH KALIAN, MENGERTI?"
Mereka semua merasa kaget, sebab mereka tidak pernah menyangka bahwa Boktis akan mengampuni mereka...
"Apa ia benar - benar akan membiarkan kita pergi?"
"Aku rasa begitu."
...Lalu secara serentak mereka semua mulai menganggukkan kepala mereka masing - masing sambil menjawab.
"""""Baik, kami mengerti."""""
"Bagus, kalau begitu tunggu apa lagi cepat pergi sana, aku tidak ingin melihat wajah kalian lagi."
Setelah Boktis mengatakan itu, Mereka semua buru - buru berdiri dan lari terbirit - birit meninggalkan tempat itu. Tidak lupa mereka juga membawa Yuan Du yang telah di tumbangkan oleh Boktis tadi.
Setelah mereka semua sudah pergi, Dari belakang Roh TUPXION Boktis yaitu GOR muncul dan lansung berdiri tepat di atas pundak Boktis.
[Master, apa tidak apa - apa anda membiarkan mereka pergi?]
"Yah, lagi pula aku juga tidak ingin membunuh mereka semua di hadapan istri dan anakku."
Sorot mata Boktis melirik ke arah rumahnya. GOR mencoba mengikuti arah pandangan Boktis dan di sana GOR melihat Elisya dan Adna sedang mengintip dari balik jendela.
__ADS_1
[Aku mengerti, sepertinya anda benar - benar sudah berubah ya?]
Boktis tidak menyangkalnya dan dengan hangat ia menjawab...
"Mungkin."
Lalu setelah itu GOR mencoba mengalihkan pandangannya kedalaman hutan, dimana Yuan Du dan yang lainnya kabur.
[Meski begitu, aku ingin tau siapa sebenarnya orang - orang itu?]
"Saa aku juga tidak tau. Yang jelas mulai sekarang sepertinya kita harus lebih berhati - hati lagi saat orang - orang seperti mereka datang lagi kesini."
[...Anda benar.] Balas GOR.
Tatapan Boktis sangat tenang namun itu di penuhi oleh tekat yang kuat untuk melindungi keluarganya.
_________________________________________
_____________________________________
>Sementara itu.
Pada malam harinya, sebuah pesawat terbang di atas awan tebal di tengah cuaca yang sedang lagi buruk.
Terjadi hujan deras dan Sambaran petir dimana - mana serta angin kencang mengguncang pesawat hingga menyebabkan lampu pesawat itu mati menyalah.
Lalu di dalam kabin pesawat terlihat aku(Leon) sedang duduk santai di tempat dudukku sambil melihat pemandangan di luar sana lewat jendela pesawat.
"Sungguh cuaca yang sangat buruk."
PIX yang dengar itu langsung menganggukkan kepalanya sambil berkata...
[Anda benar. Aku harap tidak ada hal buruk yang terjadi pada pesawat ini.]
(Yaa aku juga berharap begitu.) Balasku.
Sebab jika pesawat ini sampai jatuh maka hancur sudah semua rencanaku. Bukan hanya tidak bisa menemui Boktis tapi aku juga harus berusaha mencari cara agar bisa selamat dari situasi itu.
~Haaa...!
(Ini sungguh menyebalkan tapi tidak ada gunanya mengkhawatirkan hal itu. yang lebih penting.....)
Aku mengalihkan pandanganku ke arah sebelah, dimana aku melihat Reyna sedang memeluk dirinya sendiri di sana sambil terlihat ketakutan.
"Y~Yah aku tidak apa - apa, memang kenapa?"
"Yaa hanya saja kau sepertinya terlihat ketakutan, apa mungkin kamu takut dengan suara sambaran petir?"
"Hah mana ad-!!"
Reyna mencoba menyangkalnya tetapi sebelum ia menyelesaikan kata - katanya tiba - tiba terdengar suara sambaran petir yang sangat keras hingga mengagetkan Reyna dan membuatnya menjerit ketakutan.
"~KYAAAAAAAAA!!"
"Lihat, sepertinya kau benar - benar ketakutan."
"DIAMLAH." Bentak langsung Reyna.
Jujur saja aku tidak pernah menyangka kalau ia ternyata setakut ini dengan suara sambaran petir.
Sebab biasanya ia bersikap santai, kalem, anggun dan juga bisa di andalkan Tapi sekarang ia hanya seperti seorang wanita lemah yang sangat membutuhkan bantuan.
(Apa yang harus ku lakukan?)
Aku mencoba mencari pengawal nya untuk meminta ia menenangkan Reyna namun sejak tadi aku tidak melihat ia di manapun.
"Omong - omong Reyna kemana pengawalmu? Di saat situasi seperti ini ia malah tidak ada."
"A~Aku tadi menyuruhnya kebelakang untuk menjaga barang - barangku agar tidak ada yang rusak."
"Hmmm begitu."
Kemungkinan besar alasan Reyna menyuruh pengawalnya pergi ke belakang karena ia tidak mau pengawalnya itu sampai melihat kondisinya yang seperti ini.
(Sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain menenangkan nya sendiri.)
Aku berdiri dari tempat dudukku dan pindah ke tempat Reyna. Sontak saja hal itu membuat Reyna menjadi gelisah dan bertanya - tanya...
"Le~Leon apa yang kau lakukan? Sana kembalilah ke tempat duduk mu."
"Maaf, sebetulnya aku tidak bisa diam saja saat melihat wanita cantik sepertimu ketakutan terus di dekatku jadi...."
__ADS_1
Aku mendorong sandaran tempat duduk Reyna kebelakang sampai montok agar bisa di gunakan sebagai tempat tidur.
"Apa!! Leon hentikan, aku baik - baik saja."
Reyna mencoba melawan namun aku tahan sehingga ia tidak bisa bangun.
Lalu setelah itu aku pindah dan duduk di atasnya kemudian aku gunakan pahaku sebagai bantal agar Reyna bisa baring - baring dengan nyaman.
Tidak lupa aku juga mengelus kepalanya agar bisa menghilangkan sedikit rasa takutnya.
"Bagaimana? Kau merasa lebih baik di bandingkan tadi kan?"
"I-Itu memang benar sih tapi tetap saja ini sangat memalukan."
Reyna mencoba bangun lagi tapi sekali lagi aku menahannya.
"Astaga kau ini keras kepala sekali, bisa tidak kau diam saja? Tidak usah sok kuat begitu lagi pula kadang wanita sepertimu juga membutuhkan seorang pria untuk bisa di andalkan di situasi seperti ini."
"Apa Pria?...kamu? Berhentilah bercanda kamu itu hanyalah anak kecil."
"Oh benarkah, kalau begitu apa perlu aku tunjukkan kalau aku ini seorang pria?"
"Apa! Oi tunggu, apa yang ingin kau laku-!!"
Reyna mencoba mengatakan sesuatu tapi aku langsung menahan bibirnya dengan jariku sehingga ia tidak bisa bicara.
Tidak cukup sampai di situ aku juga mencoba menggodanya sambil mengelus - ngelus bibirnya dengan lembut.
"Reyna kau tau bibirmu sungguh sangat indah."
Wajah Reyna sontak langsung memerah dan Ia tersipu malu.
Reyna mencoba memalingkan pandangannya kearah lain namun aku tahan dan memaksa ia untuk terus menatap wajahku.
"Reyna Ada apa? Kenapa kau memalingkan pandangan mu dariku? Apa mungkin kamu malu?"
"Hah! Mana mungkin aku malu, apa lagi pada bocah sepertimu."
Reyna berusaha menyangkalnya tetapi aku tak berhenti dan terus menggoda nya.
"Oh benarkah, kalau begitu tidak apa kan kalau aku membasahi bibir indahmu ini?"
"Ka~Kau...apa yang ingin kau lakukan?"
"Reyna kau tau kan maksudku. saat ini hanya kita berdua saja yang ada di sini jadi sebagai pria menurutmu apa yang akan ku lakukan padamu di situasi seperti ini?"
"I-Itu.....!"
Reyna tidak bisa berkata apa - apa, sebab ia sudah tau maksud dari perkataan ku itu apa.
Wajah Reyna tambah memerah dan ia mulai sedikit panik.
"Tidak tolong hentikan ini."
"Sudahlah kau diam saja. Mulai saat ini akan ku tunjukkan padamu kalau aku ini bukanlah anak - anak tapi aku ini adalah seorang pria sejati yang akan membuat wanita sepertimu merasa kenikmatan."
Aku mulai mengelus - ngelus sekujur tubuh Reyna, mulai dari wajah, leher, badan hingga bibirnya.
Reyna tambah panik dan mulai teriak untuk minta bantuan.
"TI~TIDAK BERHENTILAH!! PENGAWAL KAMU DIMANA? TOLONG SELAMATKAN AKU, BOCAH MESUM INI MENCOBA MEMPERKOSAKU!"
"Hahaha teriaklah sesuka hatimu lagi pula tidak ada yang bisa menyelamatkanmu. Bahkan pengawal bodohmu itu tidak akan datang kemari karena kau telah mengusirnya. Karena itulah kau terima saja nasipmu ini."
"TIDAAAAAAAK!! AKU TIDAK MAU INI, PENGAWAL CEPAT DATANGLAH SELAMATKAN AKU!!"
"Bagus, terus saja teriak hahaha!!"
Sementara aku terus menjahili Reyna. Di sisi lain PIX terlihat kaku, ia memberikan aku tatapan sinis dan berkata....
[Master, sepertinya anda menikmati ini ya?]
(Hehehe begitulah.) Balasku.
Lalu tak lama setelah kami membuat keributan pada akhirnya Reyna pun tertidur. Dimana meskipun suara sambaran petir masih keras di luar sana tetapi aku bisa lihat bahwa Reyna bisa tidur dengan nyenyak sekarang.
(Syukurlah ia sudah tidur.)
[Anda benar, ini adalah kesempatan anda menyerangnya Master.]
(PALAMU SERANG, MATI SAJA SANA.)
__ADS_1
Aku langsung membentak PIX.
Lalu beberapa menit kemudian aku pun ikut tertidur juga.