BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
PERBUATAN LICIK KU KETAHUAN


__ADS_3

"Leon,...apa yang kau lakukan?"


Di saat Putri menanyakan itu. Aku menatap ia dengan Ekspresi terkejut.


"Eh Ka-kamu, bukankah kamu Kakaknya Rusli, apa yang kamu lakukan di sini?"


Ketika aku bertanya balik padanya, dengan Tenang Putri menjawab.


"Aku sedang lari pagi."


"Hmm, apa kamu tidak bersama Rusli?"


"Tidak, dia masih tidur di rumah."


"Begitu."


Ucapku dengan tenang. Kemudian Putri menatap kami berdua sekali lagi, dimana Rina masih memelukku di dadanya.


"Yang lebih penting Leon, apa yang sedang kau lakukan?"


Ketika Putri menanyakan itu, Rina baru sadar kalau ia masih memelukku di dadanya, sehingga ia buru - buru melepaskan aku dari pelukannya dan menjauh sedikit dariku.


Melihat itu, Putri lansung berahli ke arah Rina, dimana ia menatapnya dengan serius.


"Selain itu, kamu....bukankah kamu pelayan di rumah Siska? Apa yang kamu lakukan di sini dengan adeknya?"


Ketika Putri menanyakan itu, terlihat Rina sedikit kaget. Namun setelah ia kembali tenang, ia menjawab...


"Aku,..aku disini, habis menemani tuan muda Lari pagi."


"Lari pagi? Benarkah itu?"


Tanya Putri sambil berbalik melihat ke arahku. Seolah - olah ia ingin cari tau apa yang di katakan Rina betul atau tidak.


Namun tanpa perlu pikir panjang, aku lansung menjawab...


"Yah itu benar."


Mendengar itu, untuk sementara Putri menatap kami berdua. "Hmmm..!" namun setelah beberapa detik kemudian ia berkata..


"Jika memang kalian habis lari pagi kalau begitu boleh aku tau, kenapa kalian Berpelukan tadi di sini?"


Di saat Putri menanyakan itu, terlihat aku tenang - tenang saja. Namun berbeda denganku, di sampingku terlihat Rina sedikit panik, dimana ia mencoba menjawab...


"So-soal itu-!"


Namun, sebelum Rina selesai Bicara ia lansung di potong oleh Putri...


"Bukan hanya itu saja, kalian bahkan berpelukan pagi - pagi begini, apa sih yang kalian pikirkan?"


"A-aku..."


Seolah - olah Rina kesusahan untuk menjawabnya, aku lansung mengenggang pundaknya untuk membuatnya tenang.


Kemudian aku melihat ke arah Putri dan berkata....


"Kak Putri, sepertinya kamu telah salah paham."


"Salah paham?"


"Yah, pertama - tama alasan Rina memeluk tadi, itu karena aku sedang sedih sehingga ia mencoba menenangkanku."


"Hmm, sedih yah...."


"Ada apa? Apa Kak Putri tidak percaya?"


Ketika aku menanyakan itu, terlihat Putri memiliki ekspresi Rumit di wajahnya. Dimana ia menjawab..

__ADS_1


"Yaa jujur saja aku tidak percaya, sebab ketika kalian berpelukan tadi, aku tidak melihat kau(Leon) sedih sama sekali-


Malahan aku perhatikan kau terlihat sangat bahagia saat wajahmu berada di dadanya, jadi..."


Seolah - olah tau apa yang ingin Putri katakan, Rina lansung melihat ke arahku dengan ekspresi kaget. Dimana ia bertanya..


"Tu-Tuan Muda, apa itu benar?"


"Ti-tidak, itu tidak benar sama sekali Rina."


Ucapku dengan panik, kemudian aku berahli ke arah Putri dan berkata..


"Kak Putri kenapa kau berkata seperti itu? Lagi pula tadi itu aku benar - benar sedih tau."


"Sedih kah,....Leon, kalau orang sedih itu, ia tidak pernah Seringai saat di peluk tau."


Mendengar itu membuat aku lansung shock dan membeku di sana.


(Sial, jadi dia lihat wajahku tadi.)


Ucapku di dalam pikiran. PIX yang dengar itu lansung tersenyum Licik dan berkata...


[Master Rasain tuh, makanya jangan melakukan perbuatan tercela seperti itu lagi.]


(DIAMLAH BRENGSEET!)


Ucapku di dalam pikiran sambil melirik ke arah PIX dengan kesal.


Namun di saat aku bertengkar dengan PIX, tepat di sampingku terlihat Rina menatapku dengan Rumit, dimana ia terlihat bertanya - tanya, apa yang di ucapkan Putri barusan itu benar atau tidak, sehingga ia mencoba bertanya...


"Seringai? Tuan Muda apa maksudnya ini?"


"Ti- tidak, kau salah Rina, aku tidak seringai sama sekali."


Ucapku dengan panik, kemudian aku buru - buru berahli ke arah Putri dan berkata...


"Omong kosong, bukannya kamu benar - benar Seringai tadi?"


"Aku tidak pernah seringai."


"Tidak, kau Seringai tadi."


"Sudah ku bilang aku tidak Seringai."


"Itu tidak benar, kamu benar - benar Seringai."


Pada saat aku dan Putri terus bertengkar dan tidak ada yang mau menyerah. Di sisi lain terlihat Rina menatap kami berdua dengan ekspresi khawatir.


"Anu kalian berdua bisa tidak hentikan saja itu, di sini sudah mulai banyak orang."


Ucap Rina sambil mencoba menghentikan kami, namun tetap saja tidak ada yang mau menyerah, hingga akhirnya membuat Rina kesal dan lansung berkata...


"KALIAN BERDUA, TOLONG BERHENTILAH BERTENGKAR."


Ucap Rina dengan suara keras, dimana membuat kami berdua lansung kaget dan melihat ke arahnya.


Namun tanpa pedulikan itu, Rina lansung berahli ke arahku, dimana ia menatapku dengan tatapan serius.


"lagi pula Tuan Muda apa anda tidak lihat, ini sudah mau jam 7, bukankah sebaiknya kita pulang?"


Di saat Rina menanyakan itu, aku dengan tenang melihat ke atas langit, dimana langit tersebut terlihat sudah cerah. Kemudian aku mendesah "haa..." dan menjawab...


"Kau benar, baiklah ayo kita pulang."


Ucapku sambil melihat Rina, Rina yang dengar itu lansung tersenyun dan mengangguk setuju. "Umm." setelah itu aku berdiri dari tempat duduk dan melihat ke arah Putri.


"Kalau begitu, Kak Putri kita hentikan saja dulu sampai di sini, aku mau pulang."

__ADS_1


"Yaa kau benar, lagi pula kita bisa lanjukan lagi, pembicaraan ini saat pulang sekolah."


"Eh pulang sekolah? Apa maksudmu?"


Di Saat aku bertanya - tanya apa maksud Putri mengatakan itu, ia dengan santai menjawab...


"Bukankah sudah jelas, aku akan pergi kerumahmu dan membicarakan soal ini lagi."


"Tidak, tidak, tidak, apa yang kamu katakan, kau tidak usah kerumahku."


"Ada apa, apa kamu takut?"


"Bukannya aku takut hanya saja,.....yang jelas kau tidak usah kerumahku mengerti?"


"Tidak mau, aku akan tetap pergi ke rumahmu."


"Woy Apa kamu tidak dengar, aku bilang-!!"


Sebelum aku menyelesaikan kata - kataku, Rina lansung megenggam tanganku dengan erat dari belakang..


"Rina apa yang kamu lakukan?"


Tanyaku


"Tuan Muda, apa anda tidak lihat, ini sudah mulai terang, ayo kita pulang."


"Eh, tapi-!!"


sebelum aku selesai bicara, Rina lansung menarik tanganku dan mulai menyeretku pulang.


"Tu- tunggu, Rina aku belum selesai bicara dengan Kak Putri."


"Tidak usah banyak bicara, ayo kita pulang."


Ucap Rina sambil terus menyeretku, merasa tidak ada gunanya melawan aku pun menyerah, dan berbalik ke arah Putri.


"Kak Putri, aku peringatkan jangan sampai kamu datang kerumah ku mengerti?"


Sambil meninggalkan kata - kata itu, aku pun di seret menjauh dari tempat itu.


di sisi lain, ketika aku sudah menjauh darinya, terlihat Putri menatapku dengan senang sambil berguman..


"Fufufu, Tidak mungkin aku mau mendengarkanmu,...Bodoh."


Ucap Putri, sambil di bibirnya memancarkan senyuman licik.


__________________________________


_____________________________


Setelah beberapa menit kami meninggalkan Putri, saat ini kami berjalan di pinggir jalan,


Dimana terlihat tanganku masih di genggam oleh Rina yang sedang menyeretku pulang.


Namun tanpa pedulikan itu, aku terus menatap ia dengan tenang sambil berkata...


"Maaf, sudah menyusahkanmu, aku hilang kendali tadi."


"Itu tidak apa - apa. Yang lebih penting..."


Sesaat Rina berhenti ia melirikku dari samping dan bertanya..


"Tadi, yang di katakan Putri,...Apa benar anda Seringai saat ku peluk, Tuan Muda?"


"I-itu,...anu,....itu tidak benar sama sekali."


Jawabku sambil berahli ke arah lain, melihat itu untuk sementara Rina melirikku terus. Namun setelah beberapa detik kemudian ia kembali melihat kearah depan dan berbisik..

__ADS_1


"Begitu."


__ADS_2