BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
SI KAKAK YANG MARAH


__ADS_3

Sesampainya Kak Rangga di tempat Kami, Kak Siska terlihat sangat terkejut. "K-Kak Rangga." tanpa kecuali diriku sendiri.


Setelah itu Kak Rangga menatap Kak Siska dan berkata...


"Maaf aku telat, aku baru menyadarinya saat kalian tidak kunjung balik."


Ucapnya, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arahku, dimana darah mengalir di wajahku dari atas kepala.


Melihat itu membuat Kak Rangga lansung menyipitkan matanya dengan tajam dan melihat ke arah belakang dari balik pundak.


"KALIAN, SIAPA DARI KALIAN YANG MELAKUKAN INI?"


Tanya Kak Rangga kepada anak - anak itu sambil mengeluarkan hawa membunuhnya, dimana membuat anak - anak itu lansung terlihat gemetar dan ketakutan.


Namun di antara mereka semua, dua teman yang lainnya mencoba menyerang Kak Rangga.


"KAU PIKIR, KAU LEBIH TUA DARI KAMI, KAMI TAKUT PADAMU, JANGAN BERCANDA SIALAN!"


"MAU KAU TUA ATAU APA, AKAN KU HABISI KAU."


Di saat kedua anak itu mencoba menyerang Kak Rangga, untuk sesaat Kak Rangga berguman...


"Leon, Siska..tolong tutup matamu kalian sebentar. Aku tidak ingin kalian melihat ini."


Mendengar hal itu, tanpa banyak tanya baik aku ataupun Kak Siska lansung mengangguk setuju ""Umm"" dan menutup kedua mata kami.


Setelah itu Kak Rangga menutup mata Fira juga yang lagi di gendong.


Dan saat itu jugalah, dalam waktu singkat Kak Rangga lansung menghilang dari tempatnya dan muncul/melayang tepat di atas kedua anak itu. Dimana kedua anak itu lansung kaget dan salah satu di antara mereka mencoba memukul Kak Rangga menggunakan kayu yang ia genggam.


Sayangnnya Sebelum Kayu itu mengenai Kak Rangga, dengan Kuat Kak Rangga menendang Kepala anak itu layaknya menendang Bola, hingga membuat anak itu terlempar dan menabrak salah satu mobil yang ada di belakangnya. Dimana membuat alaram Mobil itu lansung berbunyi.


PIT!!..PIT!!...PIT!!..


Namun tanpa pedulikan. Kak Rangga Terus mencoba melancarkan sebuah serangan, dimana ketika satu Kaki Kirinya mendarat di tanah, ia lansung memutar tubuhnya dan menggunakan Kaki yang satunya untuk melayangkan sebuah tendangan tepat di Wajah anak yang satunya lagi.


Hingga membuat hidung anak itu mengeluarkan banyak darah dan jatuh pingsan di tanah.


Melihat pemandangan di depannya membuat sebagian temannya yang masih selamat lansung ketakutan Tanpa kecuali Si Rambut merah.


Namun, ketika mereka mendengar suara para Security yang mencoba mendekat karena Mobil yang di tabrak anak itu terus berbunyi.


mereka semua lansung kabur dan pergi meninggalkan teman mereka yang tidak sadarkan diri.


Begitupun dengan si Rambut merah, yang melempar Pipa besinya ke arah Kak Rangga sebelum ia meninggalkan tempat ini.

__ADS_1


Tentu saja Kak Rangga dengan santai menendang Pipa itu, kemudian ia berbalik dan melihat kedua adiknya.


"Leon, Siska...kalian sudah bisa buka mata kalian."


mendengar hal itu, baik aku ataupun Kak Siska lansung membuka kedua mata kami, dimana Kak Siska bisa memperhatikan bahwa sebagian anak berandalan itu sudah hilang dari tempat ini.


"Kak Rangga, apa kamu sudah mengalahkan mereka?"


Tanya Kak Siska sambil melirik ke arah Kak Rangga, dimana Kak Rangga mengerutkan dahinya karena kesal. Kemudian ia menjawab...


"Tidak, sebagian dari mereka sudah kabur."


Ucapnya, setelah itu ia berjongkok dan mendekati Kak Siska.


"Omong - omong, bisa kamu jaga Fira sebentar, aku mau kejar mereka."


"Eh kejar? Bukankah mereka sudah jauh?"


"Tenang saja, aku bisa kok menyusul mereka."


Jawab Kak Rangga sambil menyerahkan Fira Ke Kak Siska. Setelah Kak Siska mengambil Fira Kak Rangga lansung berlari mengejar anak - anak itu dan meninggalkan tempat ini.


Setelah beberapa menit Kak Rangga meninggalkan tempat ini, tak lama kemudian Para Security pun sudah menemukan kami, dimana mereka semua kaget saat melihat beberapa anak sedang terluka parah dan terpapar di tanah. Tanpa kecuali diriku sendiri.


Dan hanya menyisahkan Gadis cantik yang tidak terluka, dimana ia sedang menggendong anak kecil.


____________________________________


_________________________________


Tepat di pinggir jalan terlihat beberapa anak berandalan sedang berlari sambil wajahnya di penuhi oleh ekspresi ketakutan.


Dimana Beberapa warga yang melihat itu, lansung menatap mereka dengan aneh dan bertanya - tanya....


"Mereka kenapa?"


"Apa mereka sedang di kejar polisi?"


"Mungkin saja. Lagi pula sudah banyak anak - anak seperti mereka yang buat masalah."


"Itu betul juga."


Di saat para warga terus membicarakan mereka, Tepat di atap perumahan, terlihat Rangga sedang berdiri tegat sambil menengok ke arah bawah.


Dimana ia terus memperhatikan para berandalan yang sedang berlari di bawah.

__ADS_1


"Sial, mereka terus saja berlari dimana ada banyak mata. Jika seperti ini terus, bisa - bisa-!!"


Sesaat Rangga ingin mengatakan sesuatu. Tiba - tiba ia berhenti bicara saat melihat anak berandalan itu masuk ke sebuah Lorong yang kurang orang lewati.


Melihat itu membuat bibir Rangga lansung seringai dan dengan cepat ia melompot dari atap perumahan ke atap yang lainnya.


_____________________________________


_________________________________


Di saat anak - anak itu berlari ke sebuah Lorong, tepat di atas mereka, tiba - tiba ada seseorang yang melompat turung ke bawah Sambil menghalangi jalan mereka.


Dimana Orang tersebut tidak lain adalah Rangga.


"~ka-kau,...bagaimana bisa kau ada di sini?"


Tanya Si Rambut merah yang terlihat ketakutan. Namun tanpa pedulikan itu Rangga berkata...


"Soal itu kau tidak perlu tau, yang jelas, sebaiknya kalian khawatirkan diri kalian sendiri."


"HAH? APA MAKSUD-!!"


'MU' Ingin ucap Si rambut merah, namun sebelum mengucapkan itu, tiba - tiba Rangga menghilang dari tempatnya dan dalam sekejap mata muncul tepat di hadapan mereka. Hingga membuat mereka semua kaget dan lansung mundur ke belakang.


namun sayangnya si Rambut merah yang berada paling depan saat itu tidak sempat menjauh, hingga akhirnya kepala ia di genggam oleh tangan Rangga dan di benturkan ke tanah.


BUUKK!!


"~Aghhhh,...Si~Sialan jangan pikir aku tidak bisa melawan."


Ucapnya sambil memaksa berdiri dan mencoba melancarkan sebuah serangan.


Namun sayangnya Rangga dengan santai menghindari serangan tersebut, kemudian ia megenggam erak kepala Si Rambut merah sekuat tenaga dan melemparinya ke arah tembok.


Hingga membuat tembok itu mengalami retakan sedikit.


"~~Ughhhh!!"


Tidak berhenti sampai di situ, Rangga lansung meluncur ke arahnya, kemudian ia melancarkan sebuah serangan lutut tepat di depan perutnya.


Dimana serangan tersebut membuat anak itu lansung mengeluarkan batuk darah "Cough!!" dan jatuh pingsan di tanah.


Setelah menumbangkan si rambut merah, perlahan Rangga berbalik ke arah temannya yang tersisa, dimana mereka semua terlihat sedang bersiap untuk bertarung, meskipun tubuh mereka sangat gemetar karena ketakutan.


Melihat hal itu, membuat Bibir Rangga lansung seringai dan berkata.

__ADS_1


"BAIKLAH, SEKARANG GILIRAN KALIAN YANG HARUS DI HABISI."


Ucap Rangga, dimana tatapannya seperti memancarkan cahaya di balik bayangan.


__ADS_2