
Setelah beberapa detik aku cekit Bulan. Aku perhatikan ia mulai kehilangan kesadaran, sehingga aku buru - buru melepaskan tanganku agar ia sadar kembali.
~Cough!!...Cough!!...haaaa!!..haa!!...
(~i~itu hampir saja!)
Pikir Bulan dimana wajahnya terlihat Pucat. Namun mengabaikan hal itu aku mencoba bertanya...
"BAIKLAH,...JADI, KENAPA KAU MELAKUKAN HAL INI? APA KAU TIDAK DENGAR YANG KU KATAKAN TADI?"
"~a~aku,...aku dengar, tapi....."
"Ada apa?"
"...untuk kali ini saja,..Leon, aku mohon tolong lepaskan Erina ~Ughh!!"
Ucap Bulan dimana kepalanya terlihat kesakitan. Mungkin karena ia terbentur oleh sesuatu saat ku dorong ke tanah. Sehingga membuat kepalanya sakit.
Meski begitu Bulan terlihat mengabaikannya dan malah terus bicara...
"a~aku....aku tau kau tidak senang dengan tindakanku ini, tapi kumohon lepaskan Erina..-
-aku tidak peduli apa yang kau lakukan pada mereka berdua(Luis,Felik) tapi, untuk Erina.....lepaskanlah dia."
Ucap Bulan sambil menatapku dengan Tatapan Serius. Dimana membuat Erina yang dengar itu lansung melebarkan mata karena terkejut.
Namun Berbeda dengan Erina, Felik terlihat sangat Shock setelah mendengar perkataan Bulan.
Sebab ia tau. 'Mereka berdua' yang di sebutkan Bulan tidak lain adalah Dirinya sendiri dan juga Luis.
"Bu~Bulan, kenapa kau bilang begitu, Bukankah kita ini teman?"
Tanya Felik yang terlihat marah, Namun bukannya takut, Bulan menatap balik dia dan membalas..
"Teman? Kau pikir aku senang berteman dengan kalian, yang suka membuli?"
"Apa kau bilang?"
Tanya Felik sambil menyipitkan matanya dengan tajam, namun tanpa pedulikan itu Bulan melanjutkan lagi.
"Alasan aku dekat dengan kalian itu karena Ibuku kerja di perusahan Ayahnya Luis.-
-jika aku tidak bergaul atau dekat dengannya(Luis), kau tau sendirikan apa yang akan ia(Luis) lakukan?"
Seolah tau Bahwa Luis akan meminta ayahnya untuk memecat Ibunya Bulan. Membuat Felik tidak bisa mengatakan apapun. Bahkan Erina tertekun mendengar hal itu.
Namun tanpa pedulikan mereka, Aku menatap Bulan dengan tenang dan bertanya...
"Bulan, jika apa yang kau katakan benar, kalau gitu kenapa kau ingin menolong dia(Erina)? Bukankah dia sama saja dengan mereka, suka membuli dan memukul orang?"
"Tidak, Erina berbeda."
Bentak lansung Bulan. Dimana membuat mataku lansung menyipit dengan tajam.
"Beda apanya, Apa kau tidak ingat apa yang sudah ia lakukan pada kakak ku?"
"A-Aku ingat itu tapi, sejak awal semua itu salah Kakakmu sendiri kan?"
"APA KAU BILANG?"
Tanyaku sambil mengeluarkan aura intimidasiku, dimana membuat Bulan lansung terlihat ketakutan.
Bukan hanya itu caja, aku bahkan mencekit lehernya kembali hingga Bulan susah untuk bernafas.
~~Ughhhhh!!
Setelah beberapa detik aku cekit, tak lama kemudian perlahan aku lemaskan lagi tanganku, yang Dimana Bulan lansung terbatuk - batuk.
Cough!!...Cough!!...Cough!!
Mengabaikan kondisi Bulan yang terlihat Lemas, aku sekali lagi bertanya....
"SEKARANG JAWAB, APA MAKSUDMU BILANG, SEJAK AWAL SEMUA INI ADALAH SALAH KAKAK KU?"
__ADS_1
"~Cough,...a~aku tidak tau apa kau ingat atau pura - pura lupa, tapi saat itu Luis hanya menyuruh kami menahan kakakmu saja di tembok agar tidak ikut campur.-
-baik aku ataupun Erina sejak awal mengikuti apa yang di katakan Luis dan kami juga Tidak punya niat untuk memukul Kakakmu saat itu, Tapi karena Kakakmu yang duluan meludai Erina, sehingga membuat Erina marah dan mulai memukulnya."
Ucap Bulan sambil mengingat kejadian itu. Setelah itu ia menatapku dengan serius dan berkata...
"jika itu aku, aku pasti akan melakukan Hal yang sama seperti yang di lakukan Erina.-
-Bukan hanya itu saja, bahkan posisi kami berdua saat ini bisa saja tertukar jika saat itu, Kakakmu meludaiku dan bukannya Erina." Ucapnya.
Aku yang dengar itu untuk sesaat tidak mengatakan apapun dan hanya menatap Bulan dengan tenang.
"......"
Namun setelah beberapa detik kemudian, aku mendesah "haaa.." dan berkata...
"Jadi, setelah kau ceritakan itu, memang kenapa?"
"Hah! Kau bilang Kenapa? Bukankah kau sudah mengerti, yang salah sejak awal itu siapa?"
"Yah memang benar Kakak ku yang salah sejak awal karena meludai Erina, tapi Apa Kakakku pernah memukul dia(Erina)?"
Di saat aku menanyakan itu, Bulan lansung terlihat kaget, dimana ia seolah kesusahan untuk jawab.
"I-itu,....."
"Ada apa?"
"Ka-Kakakmu....Kakakmu tidak pernah memukul Erina dia hanya meludainya."
"Nah kalau gitu Kenapa dia memukul Kakak ku?"
Ketika aku menanyakan itu sekali lagi, Bulan lansung mengertakkan Giginya dan terlihat sangat kesal...
"BUKANKAH SUDAH KU BILANG ITU KARENA ERINA DILUDAI DAN HILANG KENDALI, MAKANYA IA PUKUL KAKAKMU."
"Bulan apa kau pikir aku bodoh. Aku mengerti semua yang kau katakan jadi berhentilah mengulangi perkataanmu.-
Tanyaku sambil mengeluarkan Aura Intimidasi dimana membuat Bulan lansung terlihat merinding.
**********
Author: Maksud dari perkataan Leon disini..kalau memang Erina di ludai maka Seharusnya ia balas juga seperti itu. Kenapa juga harus memukul Kakaknya Leon.
***********
Di sisi lain, seolah tau apa maksud perkataanku, Bulan lansung terdiam dan tidak bisa berkata apapun.
Menyadari itu, perlahan aku menjauhkan tanganku dari lehernya kemudian aku menatap ia dengan tenang dan berkata..
"Sepertinya kau sudah mengerti,...kalau gitu diamlah di situ dan jangan ikut campur lagi, paham?"
Tanyaku dengan tatapan tajam.
Namun entah kenapa Bulan tidak menjawab apapun dan hanya diam saja. bahkan ekspresinya tidak bisa ku lihat karena di tutupi oleh bayangan.
Mengabaikan hal itu, aku lansung berdiri dan pergi berjongkot di belakang Erina, kemudian aku jepit salah satu kuku jarinya menggunakan tang dan berbisik..
"Sepertinya ia(Bulan) menghargaimu sebagai teman yah."
Erina yang dengar bisikanku itu lansung membalas....
"Dia(Bulan) bukanlah temanku, dia hanyalah seorang penghianat."
"Penghianat yah,...baguslah kalau kau berpikir seperti itu. Kalau gitu apa kau sudah siap?"
Pada saat aku menanyakan itu Erina lansung menutup mulutnya Rapat - rapat, Seolah ia sudah tau apa yang akan aku lakukan.
Menyadari itu, Aku menghela nafas kemudian aku menatap Kuku jarinya dengan Serius dan mulai ku coba ku cabut...
Sayangnya, sesaat ingin ku cabut dari belakang tiba - tiba Seseorang memelukku "Huh?" dimana orang tersebut tidak lain adalah.....
"Bulan."
__ADS_1
Ucapku sambil melihat ke arah belakang, dimana ekspresinya masih tidak bisa ku lihat karena di tutupi oleh bayangan.
"KAU...APA YANG KAU LAKUKAN?"
Tanyaku dengan tatapan yang sangat marah, dimana tanpa ku sadari Aku mengeluarkan hawa membunuhku.
Baik Felik maupun Erina lansung terlihat merinding dan ketakutan merasakan hal itu.
Namun berbeda dengan mereka berdua, Bulan masih terlihat seperti biasa saja. malahan ia tambah kuat memeluk ku seolah ia ingin aku berhenti menyakiti Erina.
"~A~Aku...aku mohon, Tolong lepaskan Erina."
Ucap Bulan, dimana suaranya sangat pelang sampai aku hampir tidak bisa dengar.
"Bulan bukankah kita sudah menyelesaikan ini tadi, Sekarang..CEPAT LEPASKAN TANGANMU DARI SITU."
Ucapku dengan nada tajam, dimana aku menatap terus Wajah Bulan yang ekspresinya masih tidak bisa ku lihat karena di tutupi oleh bayangan.
Namun, bukannya ia melepaskanku, ia malah Tambah kuat memelukku, Seolah ia sudah tidak takut lagi padaku dan sudah memutuskan tekatnya untuk menyelamatkan Erina.
Menyadari itu, aku lansung mengerutkan dahiku dan terlihat sangat kesal...
"Bulan, cepat lepaskan tanganmu dari situ."
ucapku dengan suara pelang tapi bercampur dengan nada kemarahan.
"...~ti~tidak,..a~aku,..aku tidak mau."
"Apa kau tidak dengar, aku bilang lepaskan."
".....~~ti~tidak..."
"Bulan ini peringatan Terakhir, CEPAT LEPASKAN TANGANMU DARI SITU."
Ucapku dengan suara Tajam sambil Melotot Bulan dengan sangat marah.
Bulan yang menyadari itu lansung terlihat gemetar dan wajahnya meneteskan keringat dingin.
Meski begitu ia tetap saja ngotok dan tidak ingin melepaskanku.
"~~a~aku,...aku tidak akan lepas, sa~sampai kamu mau melepaskan Dia(Erina)."
Sesaat mendengar itu, aku lansung memaksa tangannya lepas dari pinggangku, kemudian aku berbalik dan mencekit Lehernya hingga mendorong ia ke tembok.
~Ughhh!!
"BULAN, JIKA KAU SEGITUNYA INGIN MEMBANTU ERINA, KALAU GITU MATILAH DENGANNYA DI SINI."
Ucapku dengan nada tajam, sambil mencekit lehernya dengan kuat, hingga ia tidak bisa bernafas.
~Aghhhhhh!!
Meskipun Bulan sesekali mencoba untuk memberontak Tetapi itu tidak ada Gunanya.
(A-aku,...apa aku akan mati di sini?)
Di saat Bulan memikirkan itu, ia melihat gambaran adek adiknya di dalam pikirannya.
Dimana mereka berdua Tersenyum ke arah Bulan....
(Rezvan, Haira maafkan kakak, aku,...aku tidak bisa bersama dengan kalian lagi.)
Ucap Bulan dimana tatapannya mulai terlihat kosong.
(aku hanya berharap, mudah - mudahan kalian bisa menjalani kehidupan normal, tidak seperti yang kakakmu alami ini.)
Hiksss!....
Pikir Bulan sambil meneteskan air mata. Dimana pandangannya mulai kabur dan tubuhnya mulai melemah.
Meskipun Bulan tau hal ini pasti akan terjadi padanya jika ia ikut campur lagi, tetapi ia senang karena bisa membantu Erina.
Walaupun ia masih tetap takut karena meninggalkan Kedua adeknya di tempat ini.
__ADS_1