
Sekitar setengah jam lebih setelah kami selesai makan. Saat ini aku berada di ruang tamu, dimana aku sedang duduk di Sofa sambil menonton Film kartun.
(Sial, ini sangat membosankan, apa tidak ada yang bisa di lakukan selain Nonton beginian?)
Ucapku di dalam pikiran sambil terlihat malas, kemudian aku berahli ke arah samping, dimana terlihat Kak Rangga sedang duduk di Sofa yang satunya, sambil memangku Fira yang lagi senang menonton Film Kartun.
Namun, berbeda dengan Fira yang terlihat senang, di sana terlihat Kak Rangga sangat lesu dan wajahnya agak Suram.
Alasannya itu karena beberapa saat yang lalu, aku memberitau semua orang bahwa tadi malam Kak Rangga abis telponan dengan wanita Lain. Sehingga ia terus di tanyakan soal itu.
"Kak Rangga, apa kau baik - baik saja?" Tanyaku.
"Kau pikir aku terlihat baik - baik saja?"
Ucap Kak Rangga sambil melirik ke arahku dengan marah. Namun bukannya takut, aku dengan santai menjawab..
"Tidak, kau terlihat buruk sekali."
"Kalau kau sudah tau buat apa tanya. Lagi pula kau pikir ini salah siapa?"
"Aku."
Jawabku lansung dengan ekspresi bangga, melihat itu membuat Kak Rangga jengkel dan lansung melempariku bantal yang ada di dekatnya.
"Tidak usah sok bangga begitu, apa kau pikir aku tidak marah dengan tindakanmu tadi?"
"Eh, apa Kak Rangga marah padaku?"
"TENTU SAJALAH."
Bentak lansung Kak Rangga, dimana membuat Fira yang lagi asik Nonton lansung kaget dan melihat ke papanya dengan ekspresi Rumit.
"Pa-papa."
Ucap Fira dengan ekspresi khawatir, melihat itu, Kak Rangga lansung tersenyum dan berkata...
"Hah, Fira maaf membuatmu kaget barusan."
Seolah - olah mengerti apa yang Kak Rangga katakan, Fira lansung mengelankan kepalanya.
Melihat itu, Kak Rangga lansung terlihat senang dan mulai mengelus - ngelus kepala Fira.
"Begitu, seperti yang di harapkan dari anak ayah, yang paling cantik."
Ucap Kak Rangga sambil peluk Fira, begitupun dengan Fira peluk balik Kak Rangga dengan ceria.
Di sisi lain, aku yang melihat Kak Rangga dan anaknya yang saling berpelukan di sana, membuat aku menatap mereka dengan datar, dimana aku berkata...
"Fira, sebaiknya kau duduk di pangkuan Kak Leon saja, sebab ayahmu saat ini sedang marah - marah karena kedapetan Selingkuh."
"SIAPA YANG KAU BILANG SELINGKUH?"
Bentak Kak Rangga sambil melihatku dengan marah, dimana Membuat Fira yang tadinya Ceria lansung kaget lagi dan melihat ayahnya dengan Ekspresi Rumit.
"Pa~Papa."
"Hah Fira, maaf papa membuatmu kaget lagi."
Ucap Kak Rangga, sambil mencoba menenangkan Fira dengan mengelus kepalanya.
Setelah Fira udah tenang, Kak Rangga mengalihkan pandangannya ke arahku dan bertanya...
"Kau Leon, berhentilah mengatakan sesuatu seperti itu, lagi pula tadi malam aku sudah memberitaumu kalau Kak Carla itu, hanya kenalanku saja."
"Eeeh, apa Kak Rangga bilang begitu?"
Ucapku sambil pura - pura lupa.
"Tentu sajalah, lagi pula Leon kenapa kau beritau semua orang, kalau tadi malam aku menelpon Kak Carla?"
Tanya Kak Rangga sambil melihatku dengan marah. Namun bukannya takut aku dengan santai menjawab.
__ADS_1
"Kenapa? Bukankah Kak Rangga sendiri yang bilang tadi malam, Kak Rani sudah tau kalau Kak Rangga akan telponan dengan Carla?-
-Itulah kenapa aku beritau mereka, untuk mencari tau apa Kak Rangga mengatakan yang sebenarnya atau tidak."
"Cih, aku memang bilang begitu,....tapi....."
Seolah - olah menahan ke kesalannya, aku yang lihat itu merasa sudah cukup untuk menghilankan rasa bosanku, Sehingga aku lansung mengambil tas Hitamku, yang udah ku persiapkan sambil berdiri dari Sofa dan berkata...
"Ini sudah waktunya."
Ucapku sambil melihat ke arah jam di dinding, dimana sudah menunjukkan Pukul 07 : 18 pagi. kemudian aku memakai tasku di belakang punggung dan melihat ke arah Kak Rangga.
"Omong - omong Kak, bisa pinjam Motormu sebentar, aku ingin pergi ke suatu tempat."
"Eh, kau mau kemana?"
Ketika Kak Rangga menanyakan itu. Bibirku lansung melengkun dan menjawab..
"Bertemu Cewek."
Sambil meninggalkan kata - kata tersebut, aku lansung berjalan ke arah Pintu dan keluar dari Rumah.
Di sisi lain, ketika aku sudah keluar, terlihat Kak Rangga sedang membeku di sana, dimana ia terlihat sangat shock mendengar apa yang aku katakan barusan.
Tanpa kecuali Fira yang memiringkan kepalanya ke samping.
"Eon."
____________________________________
_______________________________
Tidak jauh dari sebuah bangunan terbengkalai, tempat dimana Leon Menghajar beberapa anak SMA.
Di sana terlihat Bulan sedang berjalan di tempat yang sepi, dimana ia mengenakan Jaket merah sambil menutup seluruh bagian kepalanya dengan dondo.
Setelah beberapa saat Bulan berjalan, tak lama kemudian akhirnya ia sampai Di bangunan tersebut.
(Hmm, sepertinya pihak polisi masih menyelidiki soal insiden ini.)
Ucap Bulan di dalam pikiran, sambil mengingat insiden dimana Leon Menghajar beberapa anak SMA di bangunan ini.
Setelah Bulan mengingat insiden tersebut, ia kembali sadar kalau alasan ia datang kemari itu, untuk bertemu dengan Leon, sehingga ia mencoba mencarinya.
"apa Leon belum datang?"
Ucap Bulan sambil melihat Sekitar.
Namun, ia tidak menemukannya di manapun, sehingga ia lansung mendesah "haaa.." dan berjalan masuk melewati pembatas.
Kemudian ia bersandar di tembok bangunan dan berbisik.
"Sudahlah, aku tunggu saja ia di sini."
Setelah membisikkan itu, Bulan melihat ke arah atas, dimana langit Biru yang cerah terbentang di angkasa.
___________________________________
______________________________
Setelah beberapa saat Bulan menunggu, tak lama kemudian ia mencoba melihat ke arah jam tangannya, dimana sudah menujukkan pukul 08 : 19 pagi. Yang artinya ini sudah melewati waktu pertemuannya dengan Leon.
Melihat hal itu membuat Bulan lansung terlihat kesal, sambil meremas Hpnya dengan erat dan berkata...
"Cih Ini sudah lewat jam 8, kenapa ia belum datang juga."
Ucap Bulan sambil melihat sekeliling, namun tetap saja ia tidak menemukan tanda - tanda keberadaan Leon dimanapun.
Hingga akhirnya ia memasukkan kembali Hpnya ke dalam kantong jaket dan berbisik.
"Sial, lebih baik aku pulang saja."
__ADS_1
Setelah membisikkan itu, ia lansung berjalan dan mencoba meninggalkan Area Bangunan.
Namun, ketika Bulan sudah keluar dari Area bangunan, tiba - tiba ia mendengar suara klakson Motor, tidak jauh dari tempat ia Berada.
Saat Bulan berahli ke arah sana, tepat di dekat Lorong, ia melihat Leon sedang mengenakan jaket Hitam sambil mengendarai motor Satria.
Di tambah ia juga membawa sebuah Tas Hitam di belakang punggungnya.
(Akhirnya ia datang juga.)
Ucap Bulan di dalam pikiran, sambil terlihat jengkel. Kemudian ia berjalan ke arah Leon dan bertanya..
"Kau,...kenapa lama sekali datang?"
"Maaf tadi aku ada beberapa urusan yang harus ku urus, jadi...."
Pada saat aku(Leon) berhenti bicara, Untuk sementara Bulan terus menatap mataku dengan tajam, dimana ia terlihat kesal.
namun setelah beberapa detik kemudian ia mendesah "haa.." dan berkata..
"Yah sudahlah kalau begitu, yang lebih penting bisa beritau aku, kemana kita akan pergi?
Saat Bulan bertanya, aku menyerahkan sebuah Helm putih ke arahnya, setelah itu aku jawab..
"kita akan pergi ke Hutan."
"Hutan?"
"Yah."
Jawabku dengan tenang sambil memakai Helm ku yang berwarna merah, kemudian aku melihat ke arah depan dan berkata...
"Yaa, tidak usah banyak tanya cepat naik. Kalau kita lama - lama di sini, bisa - bisa kita kelamaan pulang."
Ucapku sambil mencoba menyalahkan Motorku, namun ketika Motorku sudah di nyalakan, aku melihat Bulan tidak bergerak sedikitpun dan hanya menatap ku terus.
Merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya, sehingga aku mencoba bertanya...
"Oi, kenapa kau diam saja di situ, cepat naik."
"Leon, sebelum aku naik boleh aku tanya, apa kau punya SIM?"
"Hah, tentu saja tidaklah."
"Kalau begitu kenapa kau naik Motor, apa kau tidak takut di tilang polisi?"
Tanya Bulan di mana ia terlihat agak khawatir, namun tanpa pedulikan itu, aku dengan tenang menjawab...
"Tidak. Aku tidak takut sama sekali-
-lagi pula aku sudah menyiapkan Rute, dimana jarang Polisi lewati, jadi tidak usah khawatir."
Meskipun aku mengucapkan itu, namun aku bisa lihat kalau Bulan Terlihat masih khawatir.
Mungkin ia masih takut, mengingat kejadian saat ia berurusan dengan kepolisian, sehingga ia jadi seperti ini.
(Yaa, tidak bisa di pungkiri, lagi pula ia hanyalah gadis biasa. Tentu saja ia merasa takut-
-berbeda dengaku, dimana aku sudah sering kali berurusan dengan para Polisi di beberapa negara, sehingga aku sudah terbiasa melakukan hal ini.)
Setelah mengucapkan itu di dalam pikiran, perlahan aku mendengus, kemudian aku berbalik ke arah Bulan dan berkata..
"Bulan aku tau kau khawatir jika nanti, kita berurusan dengan Polisi, tapi kita tidak punya waktu tinggal di sini terus. Jadi cepatlah naik."
Ucapku dengan nada tajam, mendengar hal itu, membuat Bulan sesaat merasa merinding, namun setelah itu dengan patuh ia menjawab...
"Ba-Baiklah, aku akan naik."
Ucap Bulan sambil duduk di belakangku. Mengetaui itu bibirku lansung melengkun dan berkata...
"Bagus, kalau begitu peganganlah dengan erat, kita akan berangkat sekarang."
__ADS_1
Sambil mengucapkan itu, aku lansung tancap gas dan meninggalkan tempat ini.