
Di Masion Luis, terlihat mereka semua ada di sana. Mulai dari Luis, Felik, Erina dan yang terakhir adalah Bulan. Mereka semua sedang pesta cemilan sambil Nonton bareng di Ruang tamu.
Di saat Mereka semua sedang asik Nonton, tiba - tiba Bulan mendapatkan sebuah Pesan dari Leon, dimana pesan tersebut menyuruh ia untuk meninggalkan tempat itu.
"Begitu, sudah di mulai yah."
Di saat Bulan membisikkan itu, ia mencoba melirik ke arah teman - temannya, dimana ia menatap mereka semua dengan tenang namun tajam.
Erina yang merasakan tatapan itu lansung bertanya...
"Bulan, ada apa? kau menatap kami seperti itu?"
"Ti-tidak, bukan apa - apa,...aku hanya ingin memberitau kalian, kalau sudah saatnya aku pergi kerja."
Ucap Bulan sambil melihat ke arah Jam yang ada di dinding, dimana sudah menunjukkan pukul waktu ia kerja. Melihat itu Erina lansung berkata..
"Kau benar"
Setelah itu Bulan lansung mengambil tasnya yang berada di Sofa dan meletakkannya di belakang Punggung. Kemudian ia berdiri dan melihat ke arah mereka semua.
"Baiklah, aku pergi dulu."
"Yah, hati - hati di jalan."
Balas lansung Erina dengan senyuman, Berbeda dengan mereka berdua(Luis, Felik). Dimana mereka terlihat tidak peduli sama sekali dengan kepergian Bulan dan malah asik Nonton.
Melihat itu, Bulan hanya bisa tersenyum, dimana senyumannya itu seperti di paksakan.
Setelah itu. Ia pun berbalik dan mulai berjalan meninggalkan tempat itu.
TAP!!....TAP!!....TAP!!....
Di saat Bulan sudah sampai di pintu masuk. Ia lansung membuka Pintu tersebut 'KNOCK!!' dan menutupnya kembali.
Ketika ia sudah berada di luar, ia lansung mengeluarkan sebuah benda dari kantong celananya, dimana benda tersebut tidak lain adalah benda untuk mengaktifkan Anti kamera CCTV.
Bentuk dari benda itu Persegi empat, di tambah beberapa Tombol yang terdapat di atasnya. Salah satunya adalah Tombol ON dan OFF.
"Baiklah, sudah saatnya aku aktifkan."
Sambil mengucapkan itu, Bulan lansung menekan Tombol ON, dan saat itu jugalah secara serentak semua Anti kamera CCTV lansung aktif dan menggaggu gambaran dari Kamera CCTV yang ada di masion ini.
Mulai dari Halaman Rumah, di Ruang tamu, sampai di koridor. kecuali 1 saja yaitu di tempat Kerja ayahnya Luis.
Setelah Bulan mengaktifkan Anti Kamera CCTV, ia menyimpan kembali benda itu di kantong celananya.
Setelah itu ia berjalan mendekat ke sebuah Mobil yang ada di halaman, dimana Mobil tersebut milik Luis, pemberian dari ayahnya.
"Haaa aku tidak ingin melakukan ini, tapi......"
Sesaat Bulan berhenti, ia ingat apa yang terjadi mulai dari tadi pagi sampai sekarang, dimana ia terus saja di abaikan oleh mereka berdua(Luis, Felik). Bahkan saat Bulan mencoba mengajak mereka ngobrol, ia tetap di abaikan, seolah - olah keberadaannya tidak di anggap Lagi di sini.
Mengingatnya saja, membuat Bulan mengertakkan Giginya dan terlihat sangat kesal..
"Tsh, Seandainya ibuku tidak bekerja di perusaan ayahmu, tidak mungkin aku mau berteman dengan kalian."
Ucap Bulan sambil meremas tangannya dengan erat, kemudian ia berpikir....
(Tapi, kenapa sikap mereka tiba - tiba begitu? Apa mereka sudah tau hubunganku dengan Leon?)
*************
Author: Hubungan yang di maksud di sini bukan soal percintaan, melainkan Hubungan seperti antara Bawahan dan Boss.
*************
Ketika Bulan bertanya - tanya soal itu, ia kembali sadar kalau waktu ia tidak banyak lagi, sehingga ia lansung berahli ke arah Mobil dan berkata..
__ADS_1
"Haa Sudahlah, tidak ada gunanya memikirkan hal itu sekarang, lagi pula sudah tidak ada jalan untuk kembali. Aku harus tetap melakukannya."
sambil mengucapkan itu, Bulan menatap Mobil tersebut dengan tajam, dimana ia mengeluarkan beberapa benda kecil dari dalam Tasnya dan mulai mengerjakan apa yang udah di Suruh oleh Leon.
____________________________________
_________________________________
Di waktu bersamaan. Ketika Erina sudah tidak merasakan keadiran Bulan, ia lansung mengalihkan pandangannya ke arah dua Pria di sampingnya dan bertanya...
"Luis, Felik kenapa dari tadi kalian bersikap seperti itu terus pada Bulan? Apa kalian tidak kasihan dengannya?"
"Kasihan? Buat apa?"
Tanya balik Luis ke pada Erina, dimana ia melirik Erina dengan tajam. Namun tanpa pedulikan itu Erina bertanya lagi..
"Kau bilang Buat apa? Bukankah ia teman kita?"
"Teman? Setelah kau lihat ini, apa kau pikir bisa menyebut ia teman?"
Ucap Luis sambil menyerahkan Hpnya ke Erina, dimana Hp tersebut memperlihatkan sebuah Foto Bulan yang sedang Kerja dan melayani pelanggannya. Dimana pelanggannya itu tidak lain adalah Leon, anak yang pernah mereka Buli.
"I-ini,...ini tidak mungkin."
Ucap Erina yang terlihat sangat terkejut, namun tanpa pedulikan itu Luis bertanya lagi....
"Bagaimana? Setelah melihat ini Apa kau bisa sebut ia sebagai teman?"
"I-itu....."
Sesaat Erina ingin mengatakan sesuatu, tiba - tiba ia dengar sebuah keributan di halaman Rumah. Seperti sedang terjadi perkelaian.
Bukan hanya itu saja Bahkan sesekali ia dengar suara tembakan juga di luar sana, yang membuat mereka bertiga lansung terlihat was - was.
"A-Apa yang sedang terjadi?"
Ketika Erina menanyakan itu, Luis yang melihat ke arah Pintu masuk lansung menjawab...
"A-APA..MENYERANG RUMAH INI?...LUIS APA KITA BAIK - BAIK SAJA?"
Tanya Felik yang terlihat sangat khawatir, namun, tanpa pedulikan itu Luis dengan tenang menjawab...
"Mungkin saja, lagi pula Ruman ini punya banyak penjaga. Terlebih penjaga yang di sewa oleh ayahku bukanlah penjaga sembarangan, jadi aku yakin kita baik - baik saja."
"Be-begitu yah, syukurlah kalau gitu."
Balas Felik yang terlihat lega, dimana ia kembali duduk dan menonton Tv, begitupun dengan Luis yang sedang bersantai - santai di sana.
Namun, berbeda dengan mereka berdua, Erina terlihat masih khawatir, dimana ia dengar Keributan di luar sana semakin lama seolah semakin keras.
Terlebih lagi suara tembakan yang ia dengarpun. Bukan hanya sekali atau dua kali lagi, melainkan sudah banyak, hingga membuat Erina sedikit ketakutan.
"He~Hei Luis, sepertinya keributan di luar makin keras, apa kita benar - benar baik - baik saja?"
"Sudahku bilang kita akan baik - baik saja, tidak usah sekhawatir i-"
'Tu' ingin ucapnya, namun sebelum mengucapkan itu, Luis lansung berhenti saat Hpnya mendapatkan sebuah panggilan dari seseorang.
Dimana panggilan tersebut berasal dari salah satu penjaga yang ada di luar.
Tanpa menunggu lama Luis lansung mengangkat panggilan tersebut dan bertanya...
"Ada apa menghubungiku?"
{Syukurlah anda mengakatnya, Tuan aku ingin anda Cepat pergi dari sana dan bersembunyi di suatu tempat.}
"Hah memang kenapa?"
__ADS_1
Tanya Luis yang terlihat kesal, namun tanpa pedulikan itu Si penjaga menjawab...
{Aku tidak bisa mengatakannya dengan pasti, yang jelas kemungkinan orang ini sedang mengincar nyawa kalian.}
"APA!"
Mendengar ucapan tersebut membuat Luis lansung bangkit dari tempat duduknya dan terlihat sangat Shock.
Kemudian ia melihat ke arah Pintu masuk lagi dan bertanya...
"Woy apa kau yakin?"
{Yah tuan muda}
Jawab si penjaga dengan tegas, kemudian Luis bertanya lagi...
"Ada berapa banyak mereka."
{Dia hanya seorang diri.}
"Hah Seorang diri? Kau pasti bercandakan?"
{Tidak, dia memang hanya seorang Diri Tuan, tapi meski begitu ia sangat kuat, bahkan sudah banyak penjaga yang ia kalahkan.-
-Itulah sebabnya aku ingin anda cepat pergi dari sana dan-!!}
Sebelum Si penjaga menyelesaikan kata - katanya, tiba - tiba terdengar suara tembakan yang sangat keras 'DORR' yang membuat panggilan tersebut lansung terputus.
"Eh,....Woy apa yang sedang terjadi, Woy."
Ketika tidak ada balasan lagi dari penjaga, Luis lansung membanting Hpnya di Sofa "SIAL.." dan terlihat sangat kesal.
Di sisi lain, Erina yang lihat itu lansung bertanya...
"Luis ada apa? Apa yang terjadi?"
"Tidak bukan apa - apa. Hanya saja tadi si penjaga menghubungiku, ia bilang Orang yang buat keributan di luar, sedang mengincar nyawa kita."
Sesaat mendengar itu, baik Felik maupun Erina lansung terlihat pucat, sampai - sampai mereka berdua terlihat sangat gemetar karena ketakutan.
Melihat itu, Luis mencoba menenangkan mereka berdua dan berkata....
"Kalian berdua, tidak usah setakut itu, lagi pula Ia hanya seorang diri, aku yakin para penjaga bisa mengatasinya."
"Yah, Aku harap begi-!!"
'Tu' ingin ucap Erina, namun sebelum mengucapkan itu, tiba - tiba salah satu penjaga yang ada di luar lansung terlempar masuk ke dalam, dimana membuat mereka bertiga lansung kaget..
"Apa yang terjadi?"
Di saat Luis menanyakan itu, Tepat di pintu masuk yang terbuka lebar, terlihat seorang Pria berumur 22 tahun sedang berjalan masuk ke dalam, dimana Pria tersebut terus manatap Luis dengan tajam dan berkata.......
"Maaf sepertinya aku memukul penjagamu terlalu keras."
"K~Kau...Siapa kau?"
Di saat Luis menanyakan itu, Pria tersebut lansung menodongkan pistolnya ke arah mereka bertiga. Dimana membuat mereka terlihat sangat ketakutan.
Namun tanpa pedulikan itu, Pria tersebut terus menodongkan senjatanya ke arah mereka sambil berkata....
"Perkenalkan Namaku Rangga, aku adalah Kakaknya Leon."
Sesaat mendengar itu, baik Luis, Felik maupun Erina terlihat sangat - sangat terkejut, sampai - sampai mereka tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"APA,..KAKAKNYA LEON, JANGAN BILANG KAU DATANG KESINI KARENA..."
Seolah - olah tau apa yang ingin Erina katakan Rangga lansung menjawab...
__ADS_1
"Benar, aku datang kesini untuk MEMBALAS PERBUATAN KALIAN KEPADA ADEKKU."
Ucap Rangga sambil menatap mereka bertiga dengan tajam, dimana tatapannya seperti memancarkan cahaya di balik bayangan.