
Setelah berbicara dengan Carla, Brid pun memutuskan keluar dari kamarnya dan berjalan menelusuri koridor, Dimana ketika Brid mencoba menuruni tangga ia melihat ada seorang wanita yang sedang duduk di tangga sambil melamun. Wanita itu tidak lain adalah Selena.
Sepertinya ia sedang menunggu seseorang.
Tanpa menunggu lama Brid lansung menghampiri Selena dan menampar kepalanya.
PAT!!
Sontak saja hal itu membuat Selena kaget sekaligus kesakitan dan buru - buru mengelus kepalanya.
"~Aduh!!..du..du!!"
Selena kemudian berbalik ke belakang dan melihat Brid dengan tatapan jengkel.
"Woy itu sakit tau."
"Hahaha maaf - maaf. Omong - omong apa yang kau lakukan duduk sendirian di sini?"
"Aku sedang menunggumu."
"Menungguku?"
"Yah."
Balas Selena dengan singkat. Kemudian Selena berdiri dan mengambil sebuah surat dari dalam kantong celananya. Dimana surat tersebut ia berikan pada Brid.
"Ini untukmu."
"Dari siapa ini?"
Tanya Brid.
"Leon."
Mendengar nama yang tidak ia sangka - sangka membuat Brid merasa sangat terkejut dan buru - buru membuka surat tersebut. Dimana isinya benar - benar membuat Brid merasa sangat shock.
Sebab inti dari surat itu adalah menyuruh Brid melakukan sesuatu agar rencana Carla di gagalkan.
"O-Oi ini bercandakan? Apa ia benar - benar serius menyuruhku melakukan ini?"
Guman Brid. Melihat hal itu Selena lansung tersenyum tipis dan berkata..
"Dari wajahmu, sepertinya kau mendapatkan perintah yang tidak jauh beda denganku."
Brid yang dengar itu sontak lansung kaget dan buru - buru melihat Selena.
"Tunggu! Apa kau juga mendapatkan perintah yang sama?"
Selena dengan kuat menganggukkan kepalanya.
"Yah. Aku tidak tau kenapa ia menyuruh kita melakukan ini, padahal waktu itu ia sendiri yang bilang untuk tetap membiarkan Carla menjalankan rencananya."
Brid seolah setuju dengan Selena. Namun tak berhenti sampai di situ Selena melanjutkan lagi...
"Yaa apapun itu, yang jelas dengan menyuruh kita melakukan ini maka sama saja ia menyuruh kita menghianati Carla."
Brid tidak ingin mengakuinya tapi apa yang di katakan Selena memang benar.
"Jadi apa yang akan kau lakukan Brid?"
Tiba - tiba di tanya seperti itu membuat Brid merasa kebingungan dan bertanya - tanya..
__ADS_1
"Eh apanya?"
"Maksudku menghianati Carla, apa kau ingin melakukannya?"
Awalnya Brid diam saja dan tidak menjawab apa - apa.
"......"
Namun tak lama kemudian ia pun menjawabnya...
"Jujur saja aku tidak ingin melakukan nya. Tapi jika dia(Leon) memang ingin aku melakukan itu maka aku rasa aku harus melakukannya.-
-Bagaimanapun juga ia pasti mempunyai alasan kenapa menyuruh kita melakukan hal ini."
Selena seolah tidak terima pernyataan Brid dan mendecatkan lidahnya.
"Cih Alasan kau bilang?...memang alasan apa yang ia miliki sampai tega mencoba menggagalkan rencana Carla yang sudah ia susun dengan susah payah selama ini."
"Kalau itu aku juga tidak tau, yang jelas ia pasti telah melihat sesuatu yang tidak bisa kita lihat saat ini."
"Yang tidak bisa kita lihat saat ini ya...."
Jika itu Selena yang dulu ia pasti tidak akan percaya. Tapi setelah ia melihatnya secara lansung ia memang merasa bahwa orang itu(Leon) bisa melihat segala hal yang tidak bisa di lihat oleh orang pada umunnya.
Termaksud Selena dan juga Brid.
(Aku ingin tau, kira - kira apa sebenarnya yang ia lihat. Sampai menyuruh kita melakukan hal ini.)
Sambil memikirkan itu, Selena mengeluarkan surat yang ia dapatkan dari Leon lalu menatapnya dengan tajam.
_____________________________________
__________________________________
Gedung itu di sebut PENTAGON. Gedung Departemen Pertahanan AS.
Dan di bagian belakang Gedung itu terdapat sebuah Mobil hitam mewah yang baru saja berhenti. dan dari dalam mobil itu keluar Alexei dengan setelan jas hitam rapi.
"Fuuu akhirnya kita sampai juga. kira - kira sudah berapa tahun aku tidak menginjakkan kaki di sini?"
Sementara Alexei mengumankan itu, dari depan terlihat seorang pria kulit hitam kekar dan juga besar mendekati Alexei.
Pria itu bernama Bruno. Seorang Jendral yang sama seperti Alexei.
"Jendral Alexei, Selamat datang di PENTAGON."
"Jendral Bruno, makasih sudah menyambutku."
"Hahaha itu tidak apa - apa. Tapi sayang sekali kami harus menyambutmu di belakang Gedung seperti ini. Padahal kami berniat menyambutmu secara terhormat."
"Hahaha tidak usah di pikirkan, lagi pula aku sendiri yang meminta kalian untuk menyambutku begini.-
-Selain itu ini adalah pertemuan rahasia jadi setidaknya aku tidak ingin kedatanganku ke sini sampai bocor ke luar dan di publikasikan. Bisa - bisa itu hanya akan menambah masalah bagi kedua bela pihak."
Bruno seolah setuju juga dengan apa yang Alexei katakan dan mengangguk.
"Kau benar."
Lalu setelah itu Bruno mempersilahkan Alexei untuk masuk ke dalam.
"Kalau begitu mari kita masuk, mereka berdua sudah menunggu anda di dalam."
__ADS_1
"Kalau begitu, tolong antarkan aku ke tempat mereka."
"Baik."
Alexei dan Bruno mulai masuk ke dalam, dimana Bruno menuntung Alexei masuk ke dalam lift dan mereka berdua turung ke lantai yang paling bawah.
Setelah mereka sampai. Alexai melihat sebuah ruangan putih yang sangat besar serta beberapa pilar yang menjulang tinggi ke atas.
Ruangan itu juga di penuhi oleh kapsul yang berisikan para Monster.
Di sana terdapat juga para ilmuwan dan mereka sepertinya sedang meneliti para Monster itu.
"Kalau begitu, Jendral Alexei tolong ikuti aku."
Bruno berjalan di tengah - tengah antara pilar - pilar itu sambil di ikuti Alexei di belakangnya.
_____________________________________
_________________________________
Di salah satu ruangan. Di sana terdapat dua orang yang sedang lagi ribut. Dimana mereka berdua adalah pengguna TUPXION.
Yang satunya adalah seorang Pria berumur 35 tahun bernama Vincent.
Ia memilik rambut blonde berantakan dan mengenakan jas laboratorium layaknya seorang Profesor serta memakai kaca mata Bundar di matanya.
Ia adalah pengguna dari TUPXION 02 Bercode Name OTIS.
Sedangkan yang satunya lagi adalah seorang gadis kecil bernama Sherlie. Meskipun ia terlihat kecil tapi ia sudah berumur 32 tahun.
Ia adalah Pengguna dari TUPXION 07 Bercode Name MERON, sekaligus orang yang telah membunuh Ketua dari KSP.
"Sherlie, sudah ku bilang aku tidak apa - apa. Aku baik - baik saja, aku masih bisa melanjutkan pekerjaan ku."
Ucap Vincent.
"Kamu bilang begitu, tapi lihat saja dirimu, apa kamu tidak sadar kamu itu kelihatan sangat pucat sekali tau. Bahkan kelopak matamu sampai hitam begitu."
Balas Sherlie.
"Yaaa itu karena sudah dua hari aku tidak tidur. Tapi kau tidak usah khawatir setelah pekerjaan ku ini selesai aku pasti akan lansung pergi istirahat."
"Tidak, kamu harus pergi istirahat sekarang, titik."
Sementara mereka berdua sedang ribut, tiba - tiba pintu ruangan mereka terbuka dan di sana terlihat dua orang yang sedang berjalan masuk ke dalam. Dimana mereka berdua adalah Jendral Bruno dan juga Jendral Alexei.
"Profesor Vincent, Profesor Sherlie aku sudah membawa Jendral Alexei ke sini."
Ucap Bruno. Mendengar hal itu Vincent dan Sherlie lansung berhenti bertengkar dan berbalik melihat mereka.
"Ooh Jendral Alexei anda sudah datang, sini biar ku antar anda ke tempat duduk."
Dengan ceria Sherlie menarik tangan Alexei kemudian membawanya ke tempat duduk. Sedangkan Vincent hanya bisa meratapi Sherlie yang sikapnya tiba - tiba berubah seperti itu.
"Haaa dia ini, benar - benar deh....."
Setelah Vincent mengumankan itu, ia berbalik dan kembali melihat Bruno.
"Makasih sudah membawa Jendral Alexei kemari. Anda sudah boleh pergi."
"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu."
__ADS_1
Setelah Bruno memberi hormat, ia mulai berjalan keluar dan meninggalkan ruangan itu.