
"Dia...Dia adalah Endru."
Aku merasa terkejut setelah mendengar nama itu, sebab nama itu adalah salah satu nama Anak berandalan yang pernah membuli Leon juga sekaligus anak yang di buat masuk ke Rumah sakit oleh Leon karena mencoba membawa kakaknya(Siska) saat itu.
"Kau bilang Endru? Maksudmu Endru temanmu, yang membuliku juga dulu?"
"Yah."
Jawab Bulan secara singkat, lalu ia tambahkan....
"Selain itu, dia juga orang yang memberitau Luis soal Apk sebelumnya yang pada akhirnya Luis menggunakannya untuk menargetkan dirimu."
"Hmm, tapi kalau tidak salah bukankah ia masih di rawat di rumah sakit? aku dengar juga sepertinya ia masih belum Siuman?"
"Soal itu kau tidak usah khawatir, Kemarin dulu aku mendapatkan kabar bahwa ia telah siuman dan kondisinya sudah mulai membaik, Jadi kita bisa menemuinya kapan saja yang kau mau."
"Ooh,....kalau begitu ayo kita temui ia besok."
________________________________
_____________________________
Setelah aku berpisah dengan Bulan, tepat jam 20 : 21 malam, akhirnya aku sampai di rumah.
Namun Sebelum aku masuk ke dalam, aku coba menyembunyikan telapat tanganku yang di perban ke dalam kantong celana, agar mereka tidak tanya dari mana aku dapat luka itu. lalu aku masuk ke dalam Rumah.
Dimana Seperti biasa aku melihat Semua orang sedang berada di ruang tamu kecuali para pelayan dan juga Kak Siska.
Karena aku tidak ingin menganggu mereka akhirnya aku pun memutuskan untuk lansung naik ke atas.
Sayangnya aku lansung di hentikan oleh Kak Rani yang memperhatikanku dan memanggilku.
"Ara Leon kamu sudah pulang."
"Y-yah, aku pulang Kak Rani."
Balasku dengan gugup, Lalu aku pergi mendekati mereka, dimana mereka semua Sedang melihatku kecuali Kak Rangga yang lagi buat laporan di laptopnya.
Karena merepotkan jika mereka bertanya soal kenapa aku lama Pulang, jadi mau tidak mau aku pun mencoba mengubah topik pembicaraan.
"Semua orang ada di sini yah tapi,...dimana Kak Siska?"
Ketika aku tanya, Ibu yang lansung jawab..
"Jika kau cari Siska, ia sudah masuk ke dalam kamarnya."
"Eh bukankah terlalu cepat ia masuk. Jangan bilang ia masih bertengkar dengan Kak Rangga?"
Tanyaku dengan melirik ke arah Kak Rangga, dimana Kak Rangga tidak melihatku melainkan tetap Buat laporan di laptopnya dan menjawab..
"Kalau itu kau tidak usah khawatir. setelah kau paksa ia ikut makan malam saat itu, kami sudah tidak bertengkar lagi.-
-alasan ia cepat masuk ke dalam kamarnya, itu karena ada tugas sekolah yang harus ia kerjakan."
"Hmm Jadi begitu,....Omong - omong apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku?....aku sedang buat laporan."
"Laporan? Tentang apa?"
"Tentu saja tentang tugasku, lagi pula aku yang mengatur segala kebutuhan dari tugas kali ini, jadi mau tidak mau aku harus melaporkannya ke para Petinggi."
"Hmm...."
aku mencoba memperhatikan setiap kata yang Kak Rangga tulis di Laptopnya. Lalu Tiba - tiba Kak Rangga mendapatkan panggilan dari seseorang.
__ADS_1
Dengan cepat Kak Rangga lansung menutup Laptopnya dan mengangkat panggil tersebut.
"Ya ada apa?"
{.......}
"Begitu."
{.......}
"Siapa?"
{.......}
"Hmm jadi dia sudah mau sampai yah. Baiklah tunggu aku di situ aku akan segera kesana."
Setelah Kak Rangga menutup Panggilan tersebut, ia lansung memasukkan Laptopnya ke dalam tas Hitam yang ada di sampingnya lalu ia berdiri dan melihat Kami semua.
"Maaf, sepertinya aku harus pergi, ada urusan mendadak yang harus aku lakukan."
"Tidak usah di pikirkan. Cepat pergilah."
Balas Kak Rani dengan tatapan Hangat, dimana membuat Kak Rangga lansung tersenyum.
Setelah itu ia mengambil jaket hitamnya yang tergantung di dinding lalu ia buru - buru berjalan keluar dan pergi meninggalkan Rumah ini.
TAP!!..Tap!!...tap!!....
Sementara itu di sisi lain. Karena sudah tidak ada lagi yang ingin ku bicarakan dengan mereka, jadi aku mencoba naik ke lantai atas..
"Baiklah,...Kalau begitu, aku naik dulu ke atas pergi tidur."
Namun di saat aku baru saja mau berjalan, tiba - tiba Ayah yang dari tadi diam saja lansung menghentikanku.
"Leon tunggu dulu sebentar."
"Kau....apa kau sedang memesang sesuatu?"
"Pesan?"
"Yah, tadi Mangrib ada Paket yang datang untukmu."
"Paket?"
Kalau tidak salah tadi pagi aku memang Sedang memesang sesuatu di pasar gelap.
Tapi jika aku ingat lagi bukankah baranganya seharusnya baru datang beberapa hari lagi? Jadi bagaimana ia sampai secepat ini.
(Jangan bilang, Mereka(Pasar Gelap) juga punya cabang di kota ini?-
-jika itu memang benar, maka mungkin aku harus menemuinya nanti.)
Setelah memikirkan itu, aku melihat ayah dengan Serius dan bertanya....
"Jadi, Dimana Paketku Sekarang?"
"Aku menaruknya di depan kamarmu."
"Hmm,...Omong - omong ayah."
"Apa?"
"Aku ingin tau,..APA AYAH SUDAH LIHAT ISI PAKET ITU?"
Ketika aku menanyakan itu sentak saja ayah lansung merasa merinding, sebab meskipun semua orang tidak sadar tetapi ia bisa tau bahwa tatapanku saat ini terasa sangat berbeda di bandingkan sebelumnya.
__ADS_1
Dimana tatapanku itu seolah mengeluarkan aura yang sedang mengintimidasi dia.
Ayah tidak tau kenapa aku tiba - tiba menjadi seperti itu, tetapi ia berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Ti-tidak,..aku tidak lihat."
Jawab ayah.
"Begitu." Balasku.
Lalu beberapa detik kemudian perlahan Tatapanku kembali seperti semula dimana ayah yang tadinya gelisah sekarang mulai merasa sedikit lega.
(Sepertinya ia sudah kembali. Meski begitu, apa - apaan tatapan tadi itu? Aku tidak pernah lihat hal seperti ini sebelumnya.)
Pikir Ayah sambil melihat telapat tangannya yang gemetar karena ketakutan.
_______________________________
____________________________
Setelah aku meninggalakan Mereka, saat ini aku berada di depan Pintu kamarku.
Dimana Terdapat sebuah Kotak kardus berukurang besar sedang tergeletak di lantai.
Tanpa menunggu lama aku lansung bawah masuk kardus itu ke dalam kamarku lalu aku buka.
Dimana, Di dalamnya terdapat Boneka beruang yang sangat besar, terlebih lagi boneka itu di bungkus dengan sangat Rapi, sehingga terlihat seperti seolah - olah sedang ingin di berikan hadiah pada seseorang.
"Seperti biasa, mereka sangat berhati - hati dalam pengiriman."
Gumanku, Tetapi PIX yang melihat itu terlihat kebingungan dan bertanya - tanya....
[Master, bukankah yang anda pesan tadi pagi adalah Senjata? Kenapa yang datang malah Sebuah Boneka?]
"Dari luar ini memang terlihat seperti boneka, tapi di dalamnya..."
aku bela boneka itu menggunakan Pisau kecil yang ku ambil dari Laci dan di dalamnya terdapat sebuah Pistol, Granat, Ranjau, Belati dan Senjata lainnya.
Terlebih aku juga menemukan beberapa Peralatan Militer seperti tempat penyimpanan Beliti yang di kaitkan di paha dan juga 10 HT(Handy Talky).
[Begitu, jadi mereka menyembunyikan barang yang anda pesan di dalam Boneka Agar tidak ketauan yah?]
"Benar, bagaimanapun juga Barang - barang ini adalah barang Ilegal, jika sampai ketauan dengan pihak berwenang, Bukan hanya aku saja yang mendapatkan masalah tapi mereka juga pasti akan mendapatkan masalah. Atau lebih tepatnya Bisnis mereka yang akan mendapatkan masalah."
Jawabku dengan Serius. Lalu aku mengeluarkan semua barang dari dalam Boneka kemudian aku letakkan di Lantai.
Setelah itu, aku mengecek satu persatu barang - barang itu Mulai dari Pistol, Granat, Ranjau, HT(Handy Talky) dan lainnya.
Setelah aku pastikan semua barang berfungsi dengan baik, aku lansung mengambil Koper Hitam besar yang ada di bawah kasurku lalu aku masukkan semua Barang itu ke dalam sana.
"~Fuuu, akhirnya selesai juga. Sekarang waktunya pergi tidur."
_______________________________
___________________________
Sementara itu di waktu bersamaan, Di sebuah Pangkalan Militer tepatnya di sebuah Pendaratan Pesawat.
Di sana Terlihat Rangga sedang berdiri sambil menunggu Sebuah pesawat Putih yang sedang ingin mau lepas landas.
"Akhirnya ia tiba juga."
Setelah beberapa saat Rangga menunggu akhirnya Pesawat itu pun berhasil lepas landas.
Dimana dari dalam Pesawat keluar Seorang Pria berjaket kulit Hitam sedang membawah Koper Silver di tangan kananya dengan Logo Dari Kelompok Serigala Pemburu.
__ADS_1
Ia adalah Brid, salah satu anggota sekaligus Teman dekat dari Ketua KSP sebelunmya yaitu Guru Rangga...Dirman.
"Yo Sudah lama tidak bertemu Rangga."