BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
SAATNYA BERAKSI


__ADS_3

Setelah aku meninggalkan Kak Rangga di bawah, saat ini aku sedang berada di kamarku ganti pakaian.


ketika aku sedang ganti pakaian PIX bicara di dalam pikiranku.


[Master, apa kau tidak takut. Jika nanti Orang itu membalasmu?]


"Maksudmu Kak Rangga?"


[Yah.] Jawab PIX Secara Singkat.


Setelah aku dah ganti Pakaian aku menutup pintu lemari dan lansung pergi ke dekat jendela.


Sesampainya di sana. Aku membuka jendela tersebut dan lansung duduk di atas.


Sambil menikmati angin segar untuk menenangkan pikiranku.


"Fuu, ini sangat menyegarkan."


Setelah mengucapkan itu, beberapa detik kemudian aku mulai bicara dengan PIX.


"PIX, soal yang kau bicarakan barusan, kau tidak usah khawatir."


[Maksud Master?]


"Memang benar, jika anak itu mau membalas, ia bisa melakukan itu, hanya saja...."


Sesaat aku berhenti aku melihat ke atas langit. Setelah itu aku lanjutkan lagi.


"...hanya saja, IA MEMPUNYAI HATI YANG BAIK."


[Hati yang baik?]


"Benar. Meskipun aku sudah mengajarinya Taktik Licik, Cara bertarung ataupun membunuh. Tetapi ia tidak pernah menggunakan cara tersebut dengan sembarangan. Apa lagi menggunakannya pada adeknya sendiri. Itu tidak mungkin."


[Hmm, itulah kenapa anda mengatakan tadi, kalau ia tidak akan membalasmu?]


"Yah."


jawabku secara singkat. Setelah itu, aku menyipitkan mataku dan melanjutkan lagi.


"Tapi PIX, meskipun aku mengatakan ia Orang baik, bukan berarti ia orang baik sepenuhnya."


[Maksudmu?]


"Maksudku, JIKA ADA KEADAAN YANG TERTENTU, IA BISA JADI ORANG SANGAT MENGERIKAN."


[.....]


Saat PIX tidak mengatakan apapun, aku menatap Tajam langit di atas, sambil mulai mengingat sesuatu.


Dimana saat aku pertama kali membawa Rangga ke sebuah misi. Di sana aku menyuruh Rangga untuk membunuh seseorang.


Awalnya ia terus menolak. Namun ketika aku membisikkan...


"JIKA KAU TIDAK MEMBUNUH ORANG ITU, MAKA KAMU TIDAK BISA MELINDUNGI ADEKMU. SEPERTI WAKTU ITU."


Setelah mendengar bisikanku tersebut. Hanya dalam beberapa menit saja. Ia tanpa ampun membantai Orang - orang yang ada di Masion tersebut.


Bahkan aku yang melihat waktu itu merasa terkejut. Sebab aku hanya melatihanya selama setahun lebih saja. namun ia sudah berubah sebanyak ini.


Di tambah lagi ia tanpa Ragu membunuh seseorang. Seolah - oleh itu bukanlah masalah sama sekali.


Namun, dari kengeriaannya tersebut. Aku mengetaui satu hal, setelah memperhatikannya selama setahun lebih. Yaitu.......DIA ORANG YANG SANGAT BAIK.


Meskipun ia mempunyai kekuatan tersebut. Ia tidak menggunakannya secara sembarangan.


Melainkan ia hanya menggunakannya saat ia menganggap kalau Orang itu adalah Musuh yang Harus di musnahkan.


Selama Kata - kata tersebut tidak keluar dalam pikirannya. Ia tidak akan pernah menggunakan kekuatan itu.....hanya saja...


(Kenapa ia tidak menggunakan kekuatannya ke para Pembuli itu, Bukankah mereka sudah melakukan hal mengerikan pada saudaranya?)


Sambil memikirkan itu, aku terus mencoba mencari jawabannya namun aku tidak menemukan apapun.


Di tambah lagi jika ku pikirkan hanya membuat kepalaku menjadi sakit sehingga aku lansung menyerah.


"Haaa sudahlah,...yang lebih penting Aku ingin tau, bagaimana keadaan ia Saat ini?"


Sambil membisikkan itu, aku melihat ke arah Pintu. Sambil membayankan apa yang terjadi dengan Kak Rangga di lantai bawah.


Setelah membayankan Wajah Kak Rangga yang lelah Mengurusi Para Bocah itu.


Perlahan Aku turung dari jendela. Setelah aku turung aku lansung duduk di kasur sambil mengeluarkan salah satu Hp yang ku ambil dari anak berandalan waktu itu.


"Yosh, ayo kita lihat apa yang mereka bicarakan lagi di Grup?" bisikku


Setelah itu aku mulai menyalahkan Hp tersebut. Setelah Hp itu di nyalahkan aku melihat terdapat banyak sekali pemberitauan dari Grup.


Dimana mereka semua sedang membicarakan soal SMA XX sedang merencakan untuk mengambil Permintaan Orang itu dan saat ini mereka sedang berpencar untuk mencariku di segala tempat.

__ADS_1


Mengetaui hal itu, bukannya aku takut malah aku terlihat senang. Sampai - sampai bibirku lansung melengkun.😏


Di sisi lain, PIX yang memperhatikan itu. Lansung bertanya..


[Master, jangan bilang anda ingin menghadapi anak - anak itu?]


"Yah, selain itu,...SUDAH LAMA AKU TIDAK MENGGERAKKAN TUBUHKU."


Ucapku, sambil melihat Hp tersebut. Dimana tatapanku memancarkan Cahaya di balik bayangan.


____________________________________


___________________________


Saat aku turung dari tangga, aku melihat ke arah Ruang tamu. Dimana Rusli dan Lia belum berhenti bertanya ke Kak Rangga.


Hingga membuat Kak Rangga terlihat sangat kelelahan. Seolah - olah Rohnya sedang pergi entah kemana.


Namun tanpa pedulikan mereka, aku mencoba berjalan keluar dari rumah,...sayangnya..


"Eh, Leon kau mau kemana?"


Sesaat aku berjalan, tiba - tiba aku dipanggil oleh Lia, sehingga membuat Rusli maupun Kak Rangga lansung melihat ke arahku.


"Aku,...aku mau keluar beli cemilan dulu."


"Cemilan? Kalau begitu aku ikut?"


Ucap Rusli


Mendengar hal itu, aku lansung menolaknya, sebab jika ia ikut denganku, aku tidak tau apa yang akan terjadi pada mereka.


Selain itu. mereka hanya akan menghambatku, jika aku bertarung dengan anak - anak itu, jadi...


"Tidak, tidak, tidak, kau tidak perlu ikut, kau tinggal saja di sini...."


Ucapku, setelah itu aku melihat ke arah Kak Rangga dan melanjutkan lagi.


"Selain itu, kau masih ingin bicara dengan Kak Rangga kan?"


Mendengar hal itu, Kak Rangga lansung terlihat Pucat. Dan mencoba melawan balik perkataanku.


"I-itu tidak benar, Rusli sudah selesai kok bicara denganku, benar kan?"


Ucapnya, sambil melihat ke arah Rusli. ketika Rusli sedang berpikir, Tiba - tiba Aku melanjutkan lagi.


"Oh benarkah, kalau begitu Rusli."


"Apa kau sudah selesai bicara dengan Kak Rangga soal Dunia Esport?"


Mendengar ucapanku, tiba - tiba Rusli lansung terkejut dan melihat ke arah Kak Rangga.


"Ti-tidak, kami belum membicarakannya."


"Nah, kalau begitu, bukankah lebih baik membicarakan Soal itu sekarang dari pada ikut dengan ku."


"Setelah di pikir - pikir benar juga."


Bisiknya sambil menatap Kak Rangga.


Di sisi lain, ketika Kak Rangga di tatap seperti itu tiba - tiba ia merasakan perasaan buruk, hingga keringatnya terus menetes di wajahnya.


"Tu~tunggu dulu Rusli, aku memang bilang tadi kalau kita akan Bicarakan itu nanti saja. Tapi-!"


"Kalau begitu, aku pergi dulu."


Sebelum Kak Rangga selesai bicara, aku lansung mengucapkan itu dan lansung berjalan keluar dari Rumah.


Kak Rangga yang melihat itu lansung terlihat terkejut.


"Eh, OI LEON TUNGGU SEBENTAR. KITA BELUM SELESAI BICARA."


"tidak ada yang perlu kita bicarakan. Selain itu Kak Rangga bersenang - senanglah dengan temanku😜"


Sambil meninggalkan kata - kata tersebut, aku lansung membuka Pintu dan keluar dari Rumah.


"TU~TUNGGU, LEON KEMBALI KESINI, LEOOOOOON!! Teriak Kak Rangga


Knock!!


Setelah aku tutup pintu rumah, aku lansung memakai sepatuku, dan melakukan pemasan sedikit.


Setelah beberapa saat aku penasan. Tak lama kemudian, aku mulai berlari dan lansung meninggalkan rumahku.


"YOSH, AYO KITA CARI MEREKA."


__________________________________


________________________

__ADS_1


Pada saat aku berlari di pinggir jalan, tiba - tiba PIX bicara di dalam pikiranku.


[Master, bukankah tidak baik jika kau berlari seperti itu. Jika kau bertarung dengan keadaan capek bisa - bisa-!]


(Tenang saja. saat ini tubuhku sudah sangat kuat dibandingkan sebelumnya. Jadi kau tidak perlu khawatir.)


[Benarkah?]


(Yah, selain itu, malahan aku ingin mengurangi staminaku setengah, agar saat menghadapi mereka, aku merasakan ketegangan.)


[Begitu yah...kalau begitu Lakukan semau mu.]


Setelah PIX mengatakan itu, aku terus berlari santai di segala tempat. Namun tak ada satupun anak muda yang menghentikanku. Hingga tak lama kemudian, tiba - tiba.....


"Perasaan ini!"


[Ada apa master?]


Tanpa menjawab, aku lansung berhenti berlari dan melihat ke arah aura Permusuhan yang ku rasakan saat ini.


Dimana, tepat di depan super market, di sana terdapat sekitar 10 anak SMA sedang Nongkrong sambil meminum minuman bersoda.


diantara mereka, aku melihat ke arah Dua Anak muda yang sedang melihat ku dengan Permusuhan.


Mereka berdua terus bergantian melihat ke arahku dan ke Hpnya.


Setelah beberapa saat mereka melakukan itu. Mereka berdua lansung menuju ke Arahku. Sambil menyuruh Temannya yang lain mengikutinya dari belakang.


"Oi Bocah, apa namamu Leon?"


Meskipun aku di kelilingi beberapa anak muda. Namun aku tetap tenang dan menjawab.


"Yah, namaku Leon, memang ada apa?"


Ketika aku bertanya, mereka semua lansung menyeringai. Dan salah satu dari mereka lansung megenggam Pundakku.


"Begitu,....kalau begitu ayo ikut dengan kami."


"Ikut? Kemana?"


"TIDAK USAH BANYAK TANYA, CEPAT IKUT SAJA." ucapnya sambil menarik rambutku ke atas.


Meskipun aku tidak suka di perlakukan seperti ini namun, karena di sini banyak orang yang lewat jadi aku harus menahanya.


"Baiklah, aku akan ikut."


"Bagus, kalau begitu ayo kita pergi."


Sambil mendorong kepala dan pundakku ke depan, aku mulai mengikuti mereka.


Namun, ketika Kepalaku terus di pegang. Tanpa mereka sadari di sana tatapanku terlihat tenang namun itu dipenuhi dengan niat membunuh yang sangat kuat.


____________________________________


______________________________


Di dekat perumahan, di sana terlihat Bulan dan adek, adiknya sedang membeli Pisang naget jalanan.


"Pak, tolong Pisang nagetnya 10rb."


"Baik, tunggu sebentar yah."


Sambil menunggu Pisang nagetnya di buat, Bulan melihat ke arah Adek, adiknya.


Dimana Razvan dan Haira saat ini masih mengenakan seragam SDnya, karena baru di jemput dari sekolah.


Setelah Bulan memperhatikan mereka berdua, Bulan mencoba melihat area sekitar. Namun, saat ia melihat area sekitar tiba - tiba matanya melebar....


"Eh, bukankah itu...."


Bulan terlihat sangat Terkejut. Sebab tidak jauh darinya, ia melihat Leon sedang di seret oleh beberapa anak SMA ke suatu tempat.


Melihatnya saja Bulan Lansung tau apa yang ingin anak - anak itu lakukan pada Leon.


(Tapi, kenapa mereka mulai bergerak? bukankah Luis bilang kalau mereka semua masih sedang mengawasinya saja??)


Sambil memikirkan itu, Bulan melihat Ke arah Adek, adiknya.


"Rezvan, Haira kalian tunggu di sini dulu yah, kakak mau pergi sebentar."


"Eh, Kak Bulan mau kemana?"


Saat Rezvan bertanya, sambil berjongkok Bulan menjawab.


"Kakak mau beli sesuatu dulu, nanti Kakak Balik lagi kok."


"...baiklah, kami mengerti"


Setelah mendengar jawaban Rezvan, bulan lansung berdiri dan berbalik.

__ADS_1


"kalau begitu, kakak pergi dulu,..tolong jaga Haira yah Rezvan."


Sambil meninggalkan kata - kata itu, bulan Lansung berlari meninggalkan adek, adiknya.


__ADS_2