
di dalam rumah, Kak Siska saat ini sedang berbaring di sofa di ruangan tamu, sambil menonton sinetron kesukaan dia.
ketika pemeran sinetron itu sedang berpelukan dengan pasangannya, Kak Siska entah kenapa kelihatan seperti sedang kesal melihat pasangan itu.
"kenapa aku tidak bisa mempunyai pacar sih? lagi pula-!!"
setelah mengatakan itu, Kak Siska mengalihkan pandangannya ke arah jam yang terpasang di dinding.
"-kenapa Leon lama sekali pulang, ini sudah dua jam saat dia meninggalkan rumah, apa sih yang dia lakukan?"
setelah mengatakan itu, Kak siska berahli ke arah TV lagi, dimana sekarang pemeran sinetron itu sedang bermesraan di tepi pantai, di iringi pemandangan yang indah dimana matahari sudah mau tengelam di laut.
ketika Kak Siska melihat itu, dia terlihat tambah kesal, tapi karena dia tidak bisa meluapkan amarahannya ke pemeran itu, akhirnya ia meluapkan amarahnya ke Leon yang dari tadi dia tunggu - tunggu namun masih saja belum kembali.
"DASAR LEON BODOH, CEPATLAH PULAAAANG-!!"
saat Kak Siska meneriakkan itu sambil terlihat seperti anak kecil yang sedang marah. tiba - tiba suara Leon terdengar di balik pintu. ketika ingin keluar rumah.
"aku pulang!?"
"hmm, Leon?"
setelah mendengar suara Leon, Kak Siska lansung bangun dari Sofa dan mulai duduk sambil melihat ke arah pintu.
tak lama kemudian, pintu itu perlahan terbuka.
Knock
"haaa..aku sangat lelah, tidak ku sangka tubuh leon selemah ini!!"
[mau gimana lagi, lagi pula itu hanya tubuh seorang bocah.]
"...kau banar juga...haaa!!"
Setelah itu, aku menutup pintu kembali, dan mulai berjalan ke ruangan tamu, di mana Kak Siska berada.
setelah beberapa saat, aku sampai di ruang tamu, aku melihat kalo saat ini Kak Siska sedang memperhatikanku di sofa sambil terlihat sedang cemberut.
"a- ada apa Kak Siska??"
"aku ingin tau, dari mana saja kau pulang jam segini, dan juga,..kenapa kau bisa berkeringat sebanyak itu??"
"hah, ini..aku, aku tadi mengalami kecelakaan!!"
"Kecelakaan??"
Kak Siska lansung terkejut ketika aku mengatakan itu.
"yah, saat aku ngebut mengendarai sepeda, tiba - tiba ada seekor kucing lewat di depanku sehingga membuatku kaget, dan saat aku mencoba menghindarinya, aku malah menabrak tiang listrik dan membuat Bam sepedaku penyok, sehingga aku harus berlari pulang kerumah, sambil mendorongnya!?"
"ja- jadi begitu!?"
saat aku perhatikan wajah Kak Siska, dia sepertinya sedang khawatir dengan ku.
namun, saat aku memikirkan itu, suara PIX tiba - tiba terdengar di dalam kepalaku.
[kucing lagi. master, kenapa setiap kali kau mempunyai masalah, kau malah melibatkan seekor kucing, apa master tidak malu??]
(tidak, sedikitpun,...lagi pula, sudah ku putuskan kalo saat ini musuh bebuyutanku tidak lain adalah, seekor kucing!!)
[kau terlalu serius menaggapinya, master!?]
(apa ada masalah?)
[tidak..]
ketika aku dan PIX sedang berbicara di dalam pikiranku, Kak Siska yang melihatku hanya diam, merasa khawatir, dan mulai memanggilku.
"Leon!!"
"ada apa??"
"apa,...apa kau tidak apa - apa??"
untuk sementara, aku tidak mengerti, apa maksud Kak Siska. apa tentang kecelakaan atau saat aku diam terus ketika bicara dengan PIX di dalam pikiranku. aku tidak tau.
"tidak apa - apa?..apa maksud Kak Siska??"
"maksudku, tentang kecelakaan itu, apa kau tidak terluka??"
"oh, tentang itu.."
aku melebarkan tanganku untuk memperlihatkan Kak Siska, kalau aku baik - baik saja.
"seperti yang Kak Siska lihat, aku tidak terluka sedikitpun, cuma bajuku saja yang basah karena keringat."
"begitu.."
saat aku melihat wajah Kak Siska, dia sepertinya masih khawatir tentang sesuatu. namun untuk sementara aku tinggalkan saja dulu itu.
lagi pula, dari tadi, sebetulnya aku merasakan kalo, ada salah satu bagian tubuhku terasa sangat sakit saat baru memasuki rumah.
makanya aku ingin cepat - cepat pergi dari sini, supaya tidak membuat gadis ini tambah khawatir denganku.
saat aku memikirkan itu, aku mengambil Es krim Kak Siska yang ada di Kantong, dan lansung menyerahkannya.
"nih Es krim strowbery yang Kak Siska mau kan?"
"umm,..tapi, tetap saja, aku masih tidak suka rasa Strowbery karena terlalu manis!?"
saat dia mengatakan itu, wajahnya terlihat sedang cemberut, dan itu membuatnya terlihat sangat imut.
"Kalo Kak Siska tidak mau, kalau begitu buang saja di tempat sampah?"
ketika aku mengatakan itu, wajah Kak Siska lansung berubah dan terlihat sedang marah,
"tidak mungkin aku melakukan itu, lagi pula, kau bahkan sampai berkeringat begitu, tidak mungkin aku membuangnya!!"
"kalo Kak Siska sudah tau itu, Kalau begitu, ambil saja itu cepat, tidak usah banyak mengeluh!?"
__ADS_1
saat aku mengatakan itu sambil marah- marah, wajah Kak Siska sepertinya terlihat tambah cemberut.
"moo..tidak usah marah - marah segala, nanti kakak bisa nangis nih!?"
ketika ia mengatakan itu, aku tau kalau dia sedang mempermainkanku.
dan itu membuatku sangat kesal, apa lagi....
"aku tidak peduli, Kak Siska mau nangis atau apalah, yang penting cepat ambil saja itu, kalo memang Kak Siska tidak ingin membuangnya!?"
jujur, aku ingin cepat pergi dari sini, karena luka yang ada di bagian tubuhku rasanya tambah sakit.
"poo...baiklah, aku mengerti, aku akan mengambilnya!?"
"baguslah kalau Kak Siska bilang begitu."
Kak Siska lansung berbalik dan duduk di sofa sambil menghadap ke arah TV, setelah itu, dia perlahan membuka penutup Es krimnya sambil mengambil sendotan yang ada di penutup dan mulai memakanya.
namun, ketika Kak Siska baru saja menjilat 1 sendotan, dia lansung merasa ngilu dan itu membuat wajah dia terlihat sangat lucu.
"ugnnn,..ini sangat manis, Leon apa kau mau bantuin Kakak habisin ini?"
aku lansung tersenyum ketika melihat wajah Kak Siska seperti itu.
"tidak mau, lagi pula aku sudah punya banyak cemilan, Kak Siska saja yang habiskan semua!?"
saat aku mengatakan itu, wajah Kak Siska mulai cemberut lagi sambil memperlihatkan wajahnya yang sedang ngilu, dan itu membuat dia terlihat sangat - sangat imut.
"mooo,..dasar pelit!?"
setelah Kak Siska mengatakan itu, dia mengalihkan pandangannya lagi ke arah TV, sambil menonton sinetron kesukaan dia.
saat aku melihat ke arah TV juga, disana, terlihat pemerang dari sinetron itu sedang bermesraan dengan pasangannya di tepi pantai, sambil melihat pemandangan yang sangat indah dimana matahari yang sudah mau tengelam di lautan.
"hmm, apa Kak Siska suka nonton sinetron seperti ini??"
saat aku mengatakan itu, tampa aku sadari. Kak Siska dengan cepat mengambil remote TV dan lansung mematikannya.
"kenapa Kak Siska mematikan TVnya??"
"a-anak kecil seharusnya tidak menonton hal - hal seperti ini?!"
aku merasa bingun dengan apa yang Kak Siska katakan.
"apa maksudmu, hal - hal seperti ini??"
"ma- maksudku, ini hanya bisa di nonton orang dewasa saja bukan untuk anak kecil, seperti Leon!?"
aku sentak lansung membatu, ketika mendengarkan apa yang ia katakan.
tidak kusangka, film Sinetron romance seperti ini, dia bilang hanya untuk orang dewasa saja.
"Kak, ja- jangan bilang kalo film sinetron ini, Kak Siska anggap film dewasa kan??"
"te- tentu sajalah, lagi pula mereka sering berpelukan, bahkan tangan mereka sering bersentuan satu sama lain, bukankah itu yang biasa di lakukan di fi- fi- film dewasa kan??"
"TENTU SAJA TIDAK!!"
"haaa...tapi, bukankah kita berdua pernah berpegangan tangan, apa itu berarti, Kak Siska mengangap itu sama yang di lakukan oleh orang dewasa?"
"tentu saja tidaklah, lagi pula kita ini adik, kakak. jadi, itu tidak bisa di anggap sebagai, sesuatu yang di lakukan orang dewasa."
kata Kak Siska, sambil melihatku seperti orang bodoh.
"be- benarkah?"
"umm,..sepertinya kau harus banyak belajar lagi Leon, untuk mengetaui dunia orang dewasa seperti apa?"
Kak Siska bertingkah sok tau, saat mengatakan itu, dan itu membuat aku terlihat sedikit kesal.
"aku tidak ingin mendengar itu darimu!"
"tidak, kau harus mendengarkan apa yang kakakmu ini katakan leon, lagi pula aku ini sudah dewasa jadi, aku lebih banyak mengetaui sesuatu dari pada dirimu..!!"
Kak Siska mengatakan itu dengan nada sombong, sambil mengelus kepalaku dan memandangku seperti seorang anak kecil.
jujur, itu membuatku tambah sangat jengkel.
(Sudah kuduga, dia sepertinya sedang mempermainkanku lagi!...kalo begitu, sepertinya aku juga harus membalasnya!?)
saat aku memikirkan itu sambil menatap Kak Siska dengan tatapan jengkel. aku mencoba untuk menenangkan diriku dulu.
setelah itu, aku pergi kedepan Kak Siska dan perlahan melebarkan tanganku ke arahnya.
ketika Kak Siska melihatku begitu di depannya, dia merasa bingun sambil memiringkan kepalanya ke samping.
"apa yang kau lakukan Leon??"
"bukankah Kak Siska tadi bilang, Kalo berpegangan tangan denganku, tidak bisa di anggap sebagai yang di lakukan orang dewasa, karena kita saudara kan??"
"yah, emang kenapa?"
"itu berarti, Kak Siska tidak masalah kan, jika kita berpelukan seperti yang dilakukan di dalam sinetron, lagi pula kita ini saudara?"
kataku, sambil menyeringai ketika melihat dia.
sesaat Kak Siska lansung terkejut sambil tersipu malu saat aku mengatakan itu.
"Ka~ Kalau itu, aku tidak bisa melakukannya!?"
"kenapa, bukankah kita saudara, jadi tidak masalahkan jika kita berpelukan??"
"so~ soal itu...aku..!!"
Kak Siska mengatakan itu, sambil terlihat sangat gugup dan mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"ada apa, cepat, peluk adekmu ini."
"aku...aku..!!"
__ADS_1
ketika aku melihat wajah dia sangat merah dan terlihat ingin menangis, aku mencoba untuk menggodanya lebih jauh lagi.
"kalo Kak Siska tidak mau, kalau begitu, aku saja yang kesana untuk memeluk kakak.!"
saat aku mengatakan itu sambil perlahan mendekati Kak Siska, dengan kuat dia lansung mencoba untuk mendorongku.
"DASAR LEON, MENJAUH DARIKU!!"
ketika tangannya sudah hampir mengenai tubuhku, aku lansung menghindarinya dari samping, dan kembali berlari tepat di belakang sofa dimana tempat aku tadi berdiri.
ketika Kak Siska melihatku tepat berada di belakangnya, dia lansung berbalik dan melihatku dengan tatapan dingin sambil tersipu malu.
"hahaha...sepertinya kau sangat marah yah, Kak Siska...lagi pula, ini pembalasanku karena Kak Siska terus saja mempermainkan ku tadi?"
ketika aku mengatakan itu sambil tertawa, Kak Siska sepertinya terlihat sangat jengkel.
"ja- jadi yang tadi itu, kau hanya sedang mempermainkan ku??"
"hehehe,..tentu saja,...kalo begitu aku pergi dulu ke kamar, da da..."
setelah mengatakan itu, aku lansung berlari meninggalkan ruangan tamu. dan saat Kak Siska melihatku mencoba untuk kabur, dia lansung mengejarku.
"LEON KAU MAU PERGI KEMANA, JANGAN PIKIR KAU BISA MELARIKAN DIRI!!"
saat aku mendengar teriakan Kak Siska, aku membalikkan kepalaku ke arah samping dan melihat ke arah belakang, dimana, Kak siska saat ini sedang mengejarku.
setelah itu, aku mulai mengeluarkan lidahku sambil mengolok dia.
"beeee!!"
"KAU..BERANINYA KAU MENGEJEK KAKAKMU, TUNGGU SAJA, SAAT AKU MENANGKAPMU, AKU PASTI AKAN MEMUKULMU?!"
"kalo begitu kejarlah aku kalau Kak Siska bisa beee-...hah!!"
saat aku terus berlari sambil mengolok dia, tampa sengaja aku lansung terpeleset dan terjatuh dimana, wajahku yang menabrak lantai duluan.
PAT!!
"Aduh!!"
Kak Siska lansung berhanti berlari, ketika melihatku sedang terpeleset dan terjatuh di lantai.
"Leon, apa kau tidak apa - apa??"
saat dia mengatakan itu, sambil memperhatikanku terus ketika aku sedang kesakitan.
aku mencoba untuk duduk, sambil terus mengelus hidungku yang saat sedang merah.
"agh,..ini sakit sekali!!"
"pffft!?"
ketika aku menggosok hidungku yang sedang sakit, tiba - tiba aku mendengar suara tertawa Kak Siska dari arah atas, dan saat aku mengarahkan pandanganku ke arah atas.
aku melihat, kalo Kak Siska saat ini sedang menutup mulutnya dangan kedua tangannya. ketika berusaha mencoba untuk menahan ketawanya,
"Kak Siska, apa ada yang lucu!?"
"pfffft...pfftt!?
namun, saat Kak Siska memperhatikan hidungku lagi yang sangat merah. tak lama kemudian, dia tidak bisa lagi menahan ketawanya, dan mulai tertawa.
"Hahahaha...Leon hidungmu terlihat seperti seorang badut, hahaha...!?"
"woy, berhentilah tertawa!!"
"tidak mau, lagi pula ini pasti karma, karena kau mencoba mempermainkan kakakmu..hahahaha!"
kata Kak Siska, sambil melihatku denga wajah yang menyeringai.
"sudahku bilang berhentilah tertawa dan jangan menatapku seperti itu!!"
"tidak mau, beeee!!"
ketika Kak Siska mengatakan itu, dia mengeluarkan lidahnya untuk mengolok ku, sambil mendorong kulit bagian bawah matanya, ke arah bawah.
saat aku melihat Kak Siska seperti itu, aku dengan cepat berdiri sambil menunjuk Kak Siska dengan jariku.
"liat saja, aku pasti akan membalasmu!?"
"pupupuuuu, coba saja kalau kau bisa, hidung merah,..Hahahaha..."
kata Kak Siska sambil mengeluarkan suara seperti asap kereta.
ketila aku memperhatikannya, dia sepertinya terlihat sangat bersenang - senang saat mengejekku sambil mengolok - ngolok hidungku yang saat ini sedang merah.
"apa lihat - lihat hidung merah, Hahaha..!!"
"....!!"
aku tidak mengatakan apapun, dan hanya terus memperhatikan wajah dia yang saat ini sedang tertawa.
(meskipun begitu, aku tetap senang melihat dia tertawa seperti itu, di bandingkan wajah dia yang tadi, dimana, sering saja terlihat cemberut setiap saat. aku senang melihat dia sudah ceria kembali.)
ketika aku memikirkan itu, untuk saat ini aku mencoba untuk mengikuti alur pembicaraan, sambil memainkan peran seperti seorang anak kecil.
"kau,..kau,...kau lihat saja nanti, yah, aku pasti akan membalasmu,..dasar Kak Siska bodoh!!"
"Leon jangan lari, nanti kau bisa saja terpeleset, dan hidungmu malah tambah merah lagi..Hahahaha!!"
"diamlah, dan juga, berhentilah memanggilku hidung merah terus..."
"tidak mau,..beeee!...Hahahaha"
setelah aku melihat dia sedang mengolok ku, aku dengan cepat lansung berlari ke arah tangga, untuk menjauh dari Kak Siska yang saat ini masih saja menertawaiku di belakang.
(ternyata benar, kau itu terlihat lebih cantik, ketika kau sedang ceria,..Dasar Kakak Bodoh!)
ketika aku memikirkan itu sambil melihat ke arah belakang, dimana ia berada.
__ADS_1
aku lansung tersenyum melihat wajah ia seperti itu. setelahnya, aku mulai berlari meninggalkan Kak Siska, dan pergi dimana ruanganku berada.