
"SEMUANYA DENGARKAN BAIK - BAIK, SEKARANGLAH SAATNYA, KITA BUNUH PARA MONSTER ITU!?"
saat Rangga meneriakkan itu, sentak membuat setiap pasukan lansung kembali sadar, dan melihat ke arah depan.
dimana, saat ini para Monster sudah tidak terlindungi oleh penghalan.
mengetaui hal itu, membuat para pasukan lansung memperlihatkan tertawa mengerikan mereka masing - masing ke arah para Monster. diikuti dengan tatapan tajam.
setelah itu, tampa menunggu lama, mereka lansung menembak para Monster di depan sana, bersamaan dengan 2 Tank yang berada di samping mereka.
BUK!!.........................PASSSSSSSS!!!
ARGHHHHHHH!!
"HAHAHA, MAKAN INI PELURU!!"
DORRRRRRRRRRRRRR!!,...DOR!!,..DOR!!,...DOR!!,....DORRRRRRRRRRRR!!....
UWRRRGHHHHHHHHH!!!
BUK!!.........................PASSSSSSSS!!!
ARGHHHHHHHHHH!!
"BERANINYA KAU MENERTAWAI KAMI TADI, DASAR MONSTER SIALAAN!!"
DORRRRRRRRRRRRRR!!,...DOR!!,..DOR!!,...DOR!!,....DORRRRRRRRRRRR!!....
ARGHHHHHHHHH!!
saat para Monster terus di hujani ribuan peluru dan Ledakan dari beberapa Rudal.
di depan mata Batara memperlihatkan Ribuan Monster, secara terus - menerus di bantai olah para pasukan.
melihat hal itu, membuat Ekspresi Batara lansung terlihat tercengan dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depannya.
"apa - apaan ini,... kita dengan gampangnya membantai mereka!?"
ucap Batara, sambil melihat Ratusan hingga Ribuan monster di depannya terus Di bunuh.
seusai itu, Rangga lansung menjawabnya.
"....tentu saja, coba kau pikir baik - baik, seandainya kita hanya mengincar para Monster di depan saja. maka, sudah pasti Goblin Shaman akan membuat penghalan baru, untuk melindungi Rombongan yang ada di Tengah maupun di barisan belakang, kan?"
"i- itu benar juga."
jawab Batara, seusai itu, Rangga melanjutkannya lagi.
"tapi, jika kita mengincar Barisan Tengah, tempat Goblin Shaman berada. sudah pasti penghalan yang melindungi para Monster barisan depan akan menghilang juga, dan jika itu terjadi, maka kita akan Bisa...."
sesaat Rangga berhenti bicara, dan melirik ke arah Batara, yang sedang berpikir. sambil mengulangi apa yang Rangga katakan.
"kita akan bisa.........!?"
setelah beberapa detik mengatakan itu, tak lama Kemudian, tiba - tiba ia melebarkan matanya. dan lansung melihat ke arah Rangga.
"KA-KAPTEN JANGAN BILANG SEJAK AWAL?"
saat Batara, mencoba bertanya pada Rangga, perlahan Bibir Rangga mulai melengkun seperti bulan sabit, sambil melihat ke arah Batara.
"ya, kau benar. sejak awal, aku tidak berniat untuk menghacurkan Rombongan di depannya saja, melaingkan sejak awal aku berniat untuk menghancurkan 2 Rombongan sekaligus. baik di barisan Tengah maupun di depan!?"
ucap Rangga, sambil memperlihatkan dua Jarinya yang sedang berdiri.
setelah mendengar itu, untuk sementara Batara tidak bisa mengatakan apapun, dan hanya bisa tercengan.
namun, sesaat kemudian, tiba - tiba ia merasakan, ada sesuatu yang masih kurang dari penjelasannya itu.
"baiklah, aku sudah mengerti sedikit dengan apa yang Kapten katakan. Tapi, aku masih tidak mengerti, kenapa kita sangat muda membantai para Monster di barisan depannya?"
"maksudmu?"
"jika kita lihat dari jarak mereka ke tempat ini, sudah pasti mereka bisa menggunakan jumlah mereka untuk menghalangi serbuan peluru dari pasukan kita, kan?"
"ya, emang benar."
jawab Rangga dengan nada santai.
"jadi yang ingin aku tanyakan, jika itu memang benar terjadi, maka sudah pasti mereka bisa sampai ketempat ini, dan bahkan bisa membunuh beberapa dari pasukan kita Kan?"
saat Batara mengatakan itu, beberapa pasukan perlahan berhenti menembak dan melihat ke arah Rangga dengan wajah penasaran.
sedangkan sebagiannya lagi. masih menembaki para Monster yang tersisa di depan.
seusai itu, Rangga mulai menjawabnya sambil memuji Batara yang bisa menyadari hal itu.
"Batara,....tidak ku sangkah, kau bisa seteliti itu memperhatikannya."
"eh,..y-ya, makasih."
namun, tampa pedulikan apa yang dikatakan Batara, Rangga lansung melanjukkannya.
"memang benar, jika kita lihat Jumlah Monster barisan depan yang selamat dari ledakan itu, sudah pasti mereka bisa sampai ketempat ini, bahkan bisa membunuh pasukan kita!?"
"Kalo begitu, kenapa??"
saat Batara Mencoba bertanya, perlahan Rangga mengarahkan pandangannya ke atas langit, sambil menjawabnya dengan nada tenang.
"itu karena, aku menggunakan Cara Licik yang di ajarkan oleh guruku!?"
"Cara Licik?"
"ya, guruku pernah berkata, dalam perang. tidak hanya kemampuan dan Strategi saja yang di gunakan, melainkan kita gunakan apa saja yang kita miliki. salah satunya adalah cara Licik yang aku gunakan sekarang."
"cara Licik seperti apa maksud Kapten??"
"yaaa, sebagai contoh...."
__ADS_1
sesaat Rangga berhenti bicara, dan perlahan mengarahkan pandangannya ke arah depan, sambil menatap para Monster yang di bantai dengan tatapan Tajam.
"...SEPERTI, MEMPERMAINKAN PERASAAN ATAU PIKIRAN MEREKA."
Saat mendengar Nada tajam Rangga, sambil melihat senyum menyeramkan di bibirnya, membuat beberapa pasukan yang melihat ke arahnya menjadi merinding.
meski begitu, Batara tetap mencoba untuk bertanya, meski masih terlihat sedikit ketakutan.
"ja~jadi, maksud Kapten, saat kita terdesak tadi, anda sedang mempermaikan, pikiran para Monster itu??"
"ya,..coba kau ingat lagi, apa yang aku perintahkan, saat para Monster itu mencoba untuk mendekat ke arah sini??"
"hmm, kalo tidak salah, anda bilang untuk menembak para Monster di depan, sambil menyuruh kami berteriak sekeras mungkin kan?"
"benar, meskipun aku tau Senjata atau Rudal kita, tidak bisa menghancurkan penghalan itu. tapi, aku tetap menyuruh kalian untuk berteriak sambil menembak penghalan itu, menurut kalian, buat apa aku melakukan hal itu??"
saat Rangga mencoba untuk bertanya, tampa melihat ke arah mereka.
Batara beserta beberapa pasukan yang tidak menembak lansung mulai berpikir, sambil membisikkan sesuatu.
"hmm, apa mungkin untuk mengetaui, apa kita masih punya peluang untuk menghancurkan penghalan itu."
"aku pikir tidak. jika itu emang benar, buat apa kapten menyuruh kita untuk berteriak!?"
"benar juga."
"ah, aku tau, mungkin saja. Kapten menyuruh kita berteriak untuk menakuti para Monster itu."
"tidak, tidak, tidak, jika itu memang benar, kenapa Monster itu tidak takut sama sekali pada kita. malahan mereka menertawai kita tadi."
"setelah kau bilang begitu, betul juga."
saat Batara mendengar beberapa Pasukan membisikkan hal itu. perlahan ia melihat ke arah Rangga yang masih menatap ke arah depan.
"Kapten, sepertinya tidak ada yang bisa menjawab pertanyaanmu?"
"tentu saja. lagi pula, sejak awal aku sudah memberitau kalian, Bahwa aku sedang mempermainkan Pikiran para Monster itu, bukan pikiran kalian ataupun aku sendiri."
"apa maksud Kapten?"
"maksud aku itu, aku menyuruh kalian untuk melihat pandangan Monster ke kita saat itu. bukan pandangan kalian terhadap monster itu."
saat Rangga mengatakan itu, beberapa pasukan lansung berbicara satu sama lain, kecuali Batara yang sedang memikirkan sesuatu.
(pandangan Monster ke kita ya,...jika Mereka melihat kita yang terus berusaha untuk menembak penghalannya sambil berteriak. namun, penghalan itu tetap tidak rusak sedikitpun,....maka, itu berarti mereka sedang melihat kita seperti...)
"...ORANG YANG SEDANG PUTUS ASA!?"
ketika mendengar bisikan Batara, perlahan Rangga melihat ke arahnya sambil tersenyum.
"betul,..apa yang para Monster lihat ke kita saat itu, adalah Putus asa."
setelah Rangga mengatakan itu Batara beserta pasukan yang lainnya lansung melihat ke arah Rangga dengan wajah heran.
"tapi Kapten, buat apa anda membuat kami terlihat putus asa??"
ucap salah satu Pasukan Rangga.
seusai itu, Rangga lansung menjawabnya
"itu tentu saja,.....jadi maksud kapten!?"
"ya, aku membuat mereka senang, untuk membuat mereka tidak Fokus pada pertarungan. makanya kita bisa membantai mereka sekarang semudah ini!?"
"jadi begitu."
ucap Batara sambil mulai memikirkan sesuatu.
(itulah kenapa, Saat para Monster terus mendekati kami, mereka seperti tidak punya niat bertarung sedikitpun, melainkan hanya bersenang - senang melihat sambil menertawai kami terus.)
setelah Batara mengatakan itu di dalam pikirannya, ia lansung melihat ke arah Rangga lagi.
"kalo begitu Kapten, kenapa anda tidak memberitau kami hal ini sebelumnya!?"
"jika aku memberitau kalian, apa kalian pikir kita masih bisa membantai, para Monster itu dengan muda?"
ketika Rangga mengatakan itu, Batara beserta pasukan yang lainnya merasa bingun. setelah itu, Batara mencoba Bertanya.
"apa maksud Kapten??"
"seperti yang aku bilang sebelumnya, kita memang bisa mempermainkan pikiran para Monster itu, tapi ada satu Monster yang tidak bisa kita permainkan pikirannya, jika aku memberitaukan hal ini pada kalian."
seolah olah mengetaui Monster yang aku maksud, Batara lansung menjawabnya.
"apa yang Kapten Maksud, adalah Monster Ogre King?"
"ya, meskipun aku memberitau kalian saat itu, sudah pasti kalian tidak akan menunjukkan Rasa takut kalian, seperti ketika para Monster tadi, terus mendekat ke arah sini kan?"
"itu,...tentu saja."
"itulah kenapa, aku tidak memberitau kalian, supaya Ogre King tidak Menyadari tujuanku, ketika melihat Ekspresi ketakutan kalian saat itu."
"jadi, maksud Kapten, anda menggunakan perasaan takut kami, agar bisa menipu Ogre King."
"ya, kau bisa menganggapnya seperti itu."
saat Rangga Mengatakan itu, untuk sesaat beberapa pasukan merasa marah. karena, mereka tidak pernah menyangkah bahwa rasa takut yang mereka alami saat itu, malah di gunakan oleh Rangga untuk menipu Ogre King tampa ada yang menyadarinya.
meski begitu, mereka semua tau, jika Kapten mereka tidak melakukan hal ini, maka sudah pasti, di antara mereka sudah ada yang meninggal saat itu.
makanya mereka semua tidak menunjukkan rasa benci ataupun geram pada Rangga yang sudah mempermainkan rasa takut mereka.
melainkan di mata mereka tedapat sebuah ke kaguman, Dengan sosok seorang Kapten muda yang berada di depannya.
begitupun dengan Batara yang terus menatap Rangga dengan rasa kagum.
sambil memikirkan sesuatu.
__ADS_1
(begitu, sejak awal dia sudah memperhitungkan semuanya, baik Rombongan para Monster, maupun pasukan kami sekaligus Sihir penghalan itu,.....tidak salah jika ia di juluki sebagai salah satu Kapten Termuda di negara ini!?)
saat Batara memikirkan hal itu, tampa sadar ia mulai mengatakan ke kaguman ia pada Rangga.
"Kapten, anda benar - benar sangat hebat!?"
"benarkah?"
"te- tentu saja."
jawab Batara.
setelah itu, perlahan Rangga mengarahkan pandangannya ke arah depan lagi. sambil melihat puluhan Ribu Monster yang di barisan depan, sudah dibantai habis oleh para pasukan dan saat ini sudah Mati dan tergeletak di tanah.
ketika Rangga menatap beberapa Mayat monster yang sudah tergeletak di tanah, tiba - tiba, ia mendengar ada seseorang yang memanggilnya dari jauh.
"Kapteeeen, kami kembali....!?"
"ummm?"
mendengar suara itu, perlahan Rangga dan Batara lansung mengalihkan pandangannya ke arah samping, dimana suara itu berada.
dan tidak jauh dari mereka. mereka bisa melihat Ardi beserta pasukan dari Grup ke 1 sedang duduk di atas Tank yang sedang berjalan, sambil menuju ke arah kami.
setelah mereka sampai di dekat kami, Tank itu lansung berhenti berjalan. dan Ardi beserta Grup ke 1 lansung Turung dari sana dan mencoba mendekati Rangga.
"Kapten, kami kembali!?"
"oh, kerja bagus Ardi."
ucap Rangga, dengan wajah yang terlihat senang.
namun, berbeda dengan Rangga, Batara yang berada di sampingnya, entah kenapa merasa Bingun, dengan kedatangan Ardi yang ada di sini.
"Ardi, bukankah kau diperintahkan,untuk mengatasi Rombongan Monster di Sebelah kanan, kenapa kau ada di sini??"
"yaa,...sebetulnya, para Monster di tempat kami, tidak pernah lagi keluar dari dalam hutan."
"tidak keluar?"
"ya, meski kami mencoba untuk menunggu beberapa lama, mereka tetap saja tidak keluar dari dalam hutan. makanya kami memutuskan untuk pergi kesini dan membantu kalian!?"
"begitu,...tapi, kenapa mereka tidak keluar lagi, apa mereka sudah habis?"
"soal itu, aku juga tidak tau!?"
ucap Ardi dengan wajah kebingungan.
seusai itu, untuk sesaat mereka berdua terlihat kebingungan, namun, setelah beberapa detik kemudian, tiba - tiba Rangga mulai membisikkan sesuatu.
"hmm, jadi mereka sudah bergerak ya!?"
mendengar bisikan itu, Batara maupun Ardi lansung mengalihkan pandangannya ke arah Rangga. dan mencoba bertanya.
"Ka- Kapten, apa anda mengetaui sesuatu?"
ketika Ardi mencoba untuk bertanya, perlahan Bibir Rangga mulai melengkun, sambil melihat ke arah depan, dimana tumpukan asap dari ledakan itu berada.
"yaa, kalian akan tau sebentar lagi!?"
setelah Rangga mengatakan itu, tiba - tiba mereka semua merasakan, ada sebuah aura Niat membunuh, yang sangat kuat berasal dari dalam Asap.
sentak membuat Batara, Ardi maupun para pasukan yang lainnya, lansung gemetar dan merinding ketakutan, ketika merasakan niat membunuh itu.
kecuali 1 orang, yaitu Rangga yang terus menatap ke arah Asap dengan tatapan tenang namun, tajam.
"ka~kapten aura ini, jangan - jangan??"
ketika Batara mencoba Bertanya. tampa membalikkan pandangannya dari Asap, Rangga Mulai menjawabnya.
"ya, sepertinya ia berhasil selamat dari ledakan itu, dan yang lebih penting lagi...."
sesaat Rangga berhenti bicara, dan memperhatikan ketika asap itu secara perlahan mulai menghilang, dan memperlihatkan Ogre King yang sedang berlutuk dengan satu kaki di tanah, sambil megendong Goblin Shaman, layaknya seorang Putri.
"...sepertinya ia berhasil menyelamatkan, pasangannya!?"
""pasangan??""
ucap Batara dan Ardi yang terlihat kebingungan.
setelah itu, ketika Ogre King, maupun puluhan Ribu Monster yang ada di belakangnya, melihat pasukan Rangga di depan mereka.
para monster itu lansung terlihat sangat marah sambil mengeluarkan niat membunuh yang sangat kuat, ketika menatap ke arah kami.
sehingga membuat setiap pasukan merasa terintimidasi, kecuali Rangga yang merasa sangat Gembira melihat tatapan mereka.
"HEHEHE, KALIAN LIHAT, SEPERTINYA MEREKA SANGAT MARAH, KARENA KITA MELUKAI PASANGAN RAJA MEREKA, HAHAHAHAHA!?"
seolah - olah mengetaui, bahwa mereka sedang diejek oleh Rangga, membuat Ogre King, Goblin Shaman beserta puluhan Ribu monster yang ada di belakangnya tambah geram.
"Ka~Kapten. kenapa kau malah, membuat mereka tambah marah?"
ucap Ardi dengan suara gemetar.
"kau tenang saja, lagi pula sebentar lagi, kita akan membantai habis mereka semua!?"
"bantai habis?"
ucap batara
"ya, kita cuma perlu, menung-!!"
sebelum Rangga selesai bicara, tiba - tiba ia mendapatkan sebuah panggilan dari seseorang di telinga kanannya.
{Kapten Rangga, maaf aku terlambat!?}
saat mengetaui pemilik suara itu, Perlahan bibir Rangga mulai melengkun seperti bulan sabit, sambil mengarahkan pandangannya ke atas pegunungan.
__ADS_1
"baru saja diceritakan, kau akhirnya sudah sampai,...KAPTEN RESPATI!?"
ucap Rangga sambil menunjukkan Gigi putinya ketika tersenyum.