BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
PERGI KE RUMAH SAKIT


__ADS_3

Setelah mereka semua mendekatiku, Ibu melihatku dengan cemas dan bertanya..


"Leon, bagaimana Kondisimu, apa kamu baik - baik saja?"


"Yah, seperti yang Ibu Lihat aku tidak apa - apa. Aku hanya mengalami luka kecil saja."


Meskipun aku berkata seperti itu tetapi Ibu tidak percaya. Karena ia tau betul alasan kenapa aku berkata seperti itu, itu karena aku tidak ingin membuat mereka semua khawatir. Sehingga ia pun mengiyakannya


"Begitu. Syukurlah kalau begitu."


"Umm."


Balasku dengan anggukkan di iringi dengan senyuman.


Lalu kemudian Ayah yang dari tadi diam saja dan berdiri di samping ibu mulai pergi ke depan Kasur ku, dimana ia mencoba mengecek kedua Kaki ku yang di perban dan di Gantung oleh kain...


"Meski begitu Leon, bagaimana kau bisa mendapatkan luka - luka ini? Dari yang aku lihat sepertinya kau telah mengalami patah tulang."


"A-APA! PATAH TULANG."


Sentak saja Ibu lansung Kaget dan Shock mendengar itu, lalu ia buru - buru melihatku.


"Leon apa itu Benar?"


"Eh y-yah sebetulnya-!!"


Sebelum aku selesai menjawab, tiba - tiba terdengar suara seseorang yang sedang menghentikan ku. Dimana Suara itu Berasal dari arah Pintu.


"Tunggu Nak, biar aku saja yang jelaskan."


Aku dan Semua Orang lansung melihat ke arah sana, dimana terdapat Seorang Pria berumur 53 tahun sedang berjalan masuk ke dalam ruangan.


Pria itu mempunyai badan Kekar dan Tatapan Tajam Serta mengenakan Pakaian Militer yang di lengkapi sebuah pangkat Laksamana yang tertempel di Bajunya.


(Jadi ia dari Angkatan Laut yah. Terlebih lagi di lihat dari Prestasi yang ia dapatkan, sepertinya Status ia sangat tinggi.) Pikir Rangga.


Lalu di saat Pria itu mulai menghampiri mereka, Ibu mencoba untuk maju ke depan dan bicara dengannya Tetapi ia Lansung di hentikan oleh ayah. Lalu Ayah yang menggantikannya.


"Permisi anda...."


"Hah maaf aku lupa memperkenalkan Diri.-


-Perkenalkan namaku Bajradaka, Aku seorang Laksamana sekaligus Komandan yang memimpin penyelamatan anak anda"


"Begitu, makasih sudah menyelamatkan anak ku."


"Tidak, itu tidak apa - apa, yang lebih penting Anda..."


"Hah aku, Namaku Bagas aku adalah ayah dari anak ini, sedangkan ini adalah Istriku Miki."


"Salam kenal Pak." ucap Ibu.


"Yah salam ken-..Eh?"

__ADS_1


Bajradaka Sentak kaget dan Shock sesaat melihat Fisik ibu yang Seperti anak kecil.


Meski begitu ayah mengabaikannya dan dengan tenang ia bertanya...


"Ada apa? Apa ada sesuatu dengan Istriku?"


"Hah Tidak, bukan apa - apa hanya saja Istri anda terlihat sangat muda yah?"


"Eh y-yaa meskipun ia terlihat seperti ini tetapi umur dia ini sudah 37 Tahun loh."


"Apa! 37 Tahun, anda pasti bercandakan?"


"Tidak aku serius."


Jawab ayah sambil mengelus Kepala Ibu, dimana Ibu terlihat Senang. Lalu kemudian Ia kembali melihat Bajradaka dan mencoba mengganti topik pembicaraan.


"Yang lebih penting tadi anda bilang akan menjelaskannya pada kami kan, kalau begitu bisa beritau aku sekarang apa yang terjadi kepada anak saja? Kenapa ia bisa terluka seperti itu?"


"Haaa baiklah, tapi sebelum itu pertama - tama ayo kita pindah tempat terlebih dahulu, lagi pula ada sesuatu yang ingin ku tanyakan ke anda juga."


"Apa yang ingin kamu tanyakan?"


Tanya Ayah.


"Tidak baik jika kita bicara di sini, tolong ikuti aku."


Bajradaka berbalik lalu ia berjalan Keluar dari Ruangan. Di sisi lain Ayah untuk semantara melihat ke arah kami semua dan berkata...


"Kalian semua tunggulah di sini, aku ingin bicara dengannya dulu sebentar."


"Yah."


Balas Ayah. Lalu tanpa menunggu lama Ayah lansung berjalan keluar dari Ruangan dan pergi menyusul Bajradaka.


Sementara itu Di sisi lain, Brid seolah penasaran dan bertanya - tanya...


"Apa yang ayahmu ingin bicarakan dengan Orang itu(Bajradaka)?"


"Saa aku juga tidak tau."


Jawab Rangga. Lalu ia pergi mendekati Rani dan menyerahkan Fira yang ia Gendong kepadanya.


"Rani, Aku serahkan Fira padamu sebentar, aku pergi temani dulu Ayah."


"Um aku mengerti sayang."


Setelah Rangga menyerahkan Fira kepada Rani, ia lansung berbalik Dan buru - buru meninggalkan Ruangan ini.


Dimana tanpa ia sadari tepat di Kasur Di sana terlihat Sorot mataku melirik ia dengan Tajam. Di iringi dengan senyumanku yang berbentuk seperti Bulan sambit.


______________________________


___________________________

__ADS_1


Di sebuah Ruangan tamu di Rumah sakit, disana terlihat Ayah dan Bajradaka sedang duduk di sofa yang saling menghadap satu sama lain.


Dimana mereka berdua sepertinya sedang ingin membicarakan sesuatu yang serius.


"Baiklah Bisa beritau aku sekarang kenapa anda membawaku kemari?"


"Yaa Sebetulnya-!!"


Sebelum Bajradaka selesai bicara Tiba - tiba Pintu Ruangan terbuka dan memperlihatkan sesosok Rangga Yang sedang berjalan masuk ke dalam.


"Rangga, apa yang kau lakukan di sini?" tanya ayah.


"Bukankah sudah jelas, aku ingin tau juga bagaimana Leon bisa mendapatkan Luka - Luka itu. Itu tidak masalahkan Laksamana?"


Tanya Rangga kepada Bajradaka, dimana Bajradaka Menjawab...


"Yah, aku tidak masalah."


Setelah itu Rangga pergi bersandar di dinding. Dimana membuat Ayah bertanya - tanya...


"Rangga, Apa kamu tidak duduk?"


"Tidak aku disini saja, di sini lebih baik dari pada duduk."


"Hmm ya sudah kalau begitu..."


Ayah kembali melihat Bajradaka dan bertanya...


"Bisa beritau aku sekarang, apa yang terjadi kepada anak ku, Leon? Kenapa ia bisa terluka seperti itu?"


"Baiklah, pertama - tama sebelum aku jawab pertanyaan anda, bisa aku bertanya terlebih dahulu?"


"Apa?"


"Seharian ini apa saja yang anak anda lakukan setelah Pulang Sekolah? Apa ia pernah melakukan Olahraga udara seperti Layang Gantung, Paralayang atau mungkin Terjun Payung?"


"Tidak, anak ku tidak pernah melakukan Olahraga seperti itu. Setelah pulang Sekolah anak ku lansung pergi bermain bersama Temannya. Memang ada apa?"


"Hah bukan apa - apa hanya saja sebelum kami menyelamatkan dia, Sebetulnya dua Prajurit kami melihat ia jatuh dari atas Langit dengan ketinggian sekitar 30 Meter di atas laut."


"Apa!! Ti-Tiga puluh Meter,...tunggu dulu jangan bilang alasan kenapa Tangan dan kedua Kaki anak ku patah gara - gara-!!"


Seolah tau apa yang ingin Ayah Katakan, Bajradaka lansung membantahnya dan berkata...


"Tidak, semua luka yang ia dapatkan itu bukan karena ia jatuh dari ketinggian, tetapi ia sudah memilikinya sebelum ia jatuh ke laut."


"ja-jadi Begitu,...Kalau gitu dari mana Anak ku Bisa mendapatkan semua Luka itu?"


"Kalau itu aku juga kurang tau, namun setidaknya kami berhasil menemukan Beberapa barang di sekitar tempat anak anda terjatuh."


"Barang?"


"Yah, salah satunya adalah PISTOL."

__ADS_1


"APA! PI-PISTOL."


Sentak saja Ayah Lansung kaget dan terkejut mendengar hal itu. Tanpa Kecuali Rangga Yang berada di belakang.


__ADS_2