
Setelah Brid berhasil membawa Masuk Selena ke dalam Ruangan yang Di Tunjuk Bagas, ia perlahan mencoba membaringkan Selena di kasur.
Setelah ia baringkan, ia lansung pergi duduk di dekat tembok dan bersandar di sana.
"Haaa aku sangat capek. Meski begitu tidak ku sangka semuanya berjalan lancar seperti yang ketua inginkan."
"Hmm? Apa yang kau bicarakan?"
Ketika Selena bertanya Brid buru - buru mengelangkan kepalanya lalu kemudian ia menjawab....
"Tidak, bukan apa - apa. Yang lebih penting Selena."
"Um?"
"Apa kau masih Punya Perban, aku ingin menutup Luka ku ini."
Ucap Brid sambil Melihat ke arah Luka yang ada di kakinya. Dimana luka itu ia dapatkan ketika bertarung dengan Rangga.
"Yah aku masih Punya, tapi semuanya ada di dalam Tasku, sedangkan tasku sekarang berada di luar."
"Begitu."
Karena Brid tidak ingin membiarkan Lukanya terus mengeluarkan Darah, sehingga ia membuka bajunya, kemudian ia Robet baju dalamnya dan ia gunakan itu untuk menutupi Lukanya.
"Yosh, seharusnya ini sudah tidak apa - apa sekarang."
Ucap Brid, namun di saat itu juga Sebuah ledakan Terjadi di luar Ruangan, dimana Membuat tempat ini lansung mengalami guncangan sedikit.
Bukan hanya suara ledakan saja, bahkan Suara tembakan terus terdengar juga di luar sana, sampai - sampai membuat Selena terlihat khawatir.
"Apa mereka berdua baik - baik saja?"
Guman Selena, dimana Brid yang dengar itu lansung menjawab..
"Tenang saja, mereka pasti akan baik - baik saja. Lagi pula kau sudah lihat sendirikan Seberapa kuat mereka tadi."
"....Um, Kau benar."
Balas Selena sambil mengangguk.
_____________________________________
_________________________________
Setelah beberapa Saat mereka(Selena dan Brid) istirahat, Tak lama Kemudian Brid merasa pertempuran di luar sana sudah selesai. ia juga sudah tidak dengar suara tembakan.
"Apa mereka sudah Selesai?"
Ketika Brid menanyakan itu, Tiba - tiba pintu Ruangan terbuka dan terlihat Bagas yang sedang berjalan masuk ke dalam, dimana Ia membuang dua Pistol di tangannya dan menghampiri mereka(Brid dan Selena).
"Apa kalian tidak apa - apa?"
Tanya Bagas.
"Yah kami tidak apa - apa. Omong - omong jika kau berada di sini itu berarti..."
Seolah tau apa yang ingin Brid katakan, Bagas lansung menjawab...
"Yah kami sudah selesai mengalahkan mereka, kalian Bisa keluar sekarang."
"Begitu, makasih banyak karena sudah membantu kami." Ucap Brid.
"Sudah ku bilang itu tidak perlu, lagi pula Semua ini ku lakukan bukan karena kalian melainkan semua ini Karena permintaan anak ku. Jika bukan karena dia, mana mungkin aku mau menolong kalian."
"Be-Begitu."
Ucap Brid yang ekspresinya terlihat Rumit. Lalu setelah itu ia mencoba berdiri dan pergi ke dekat Selena, dimana ia mencoba menggendong Selena lagi di belakang Punggung.
Namun tiba - tiba ia merasa kakinya sangat kesakitan sehingga ia lansung berhenti berjalan.
__ADS_1
~ughh..!!
Sementara Bagas yang memperhatikan itu lansung berniat menggantikan Posisi Brid, dimana ia memberikan Punggungnya ke hadapan Selena.
"Naiklah."
"Eh!"
Selena Terkejut sekaligus tersipu malu. Ia buru - buru mundur ke belakang seolah ia enggan untuk naik di belakang Punggung Bagas.
Menyadari itu Bagas lansung melihat ke belakang dari balik pundak, dimana ia tatap Selena dengan matanya yang tajam...
"Apa yang kau lakuakn Cepat naiklah."
...Namun, bukannya Takut dengan tatapan Bagas, malahan Selena Tambah teraipu malu dan Ia merasa ada sebuah Detakan di jantungnya.
(Gawat Jantungku sangat berdetak. Apa mungkin aku jatuh cinta pada Pria ini.)
Seolah tau apa yang Selena pikirkan, Brid lansung melempar Botol plastik yang ada di dekatnya ke wajah Selena.
Dimana Membuat Selena kesakitan dan lansung melihat Brid dengan tatapan marah.
"WOY APA YANG KAU LAKUKAN?"
"Berhentilah Memikirkan Sesuatu Yang Tidak - Tidak Dan Cepat Naik Sana, Di Belakang Punggungnya."
"Me~Meskipun kau bilang begitu tapi aku...aku sangat malu tauš³"
Brid merasa sangat jengkel dan buru - buru mencari Sesuatu yang bisa ia gunakan lagi untuk melempar Selena.
Namun kali ini yang ia ambil Bukan sebuah Botol, melainkan sebuah Pipa Besi karatan yang Di ujungnya terlihat sangat tajam.
Melihat hal itu Selena lansung gemetar dan ia terlihat ketakutan...
"Ka~Kau apa yang ingin kau lakukan dengan pipa itu? apa kau ingin membunuhku."
"Tidak, aku tidak ingin membunuhmu, aku hanya ingin Menusuk bokongmu saja menggunakan pipa ini."
Bentak lansung Selena. dimana Membuat Rangga yang sedang menunggu di luar ruangan, lansung melihat ke arah tempat Brid dan yang lainnya berada.
(Apa yang mereka lakukan di dalam sana?)
_____________________________________
__________________________________
Setelah beberapa saat Brid dan Selena bertengkar, tak lama kemudian akhirnya mereka pun keluar dari ruangan itu, dimana Selena sedang di gendong oleh Bagas di belakang Punggungnya.
"A-Anu apa aku tidak berat"
"Yah, kau tidak berat sama sekali."
Balas Bagas, dimana membuat Selena tersipu malu lagi.
"Be-begitu."
Namun, ketika ia mencoba melihat ke arah depan sontak ia lansung kaget dan juga Shock. Bukan hanya ia Brid pun sama.
Alasannya itu karena apa yang ada di hadapan mereka adalah pemandangan yang sangat mengerikan.
Dimana Rangga berdiri di tengah - tengah Ruangan dengan seluruh badannya di lumuri oleh Darah, Bahkan Di sekitarnya Brid bisa melihat seluruh Anggota RED GARDEN tewas dengan sangat mengenaskan.
Dimana Ada yang lehernya di Iris dan ada juga Kaki dan tangannya di potong. Bahkan Ada yang kepalanya di penggal sampai - sampai kepalanya tersebar dimana - mana, salah satunya berada tepat di dekat kaki Brid.
Jika orang Biasa yang melihat pemandangan ini, sudah pasti mereka akan muntah - muntah Atau mungkin lansung Pingsan.
Namun karena Brid, Selena dan Juga Bagas sendiri sudah sering melihat pemandangan seperti ini, sehingga mereka bertiga masih bisa mengendalikan diri mereka dan Bersikap Tenang.
"Bagas, Aku tidak ingin mempercayai ini tapi aku akan tetap bertanya. apa mungkin Rangga yang melakukan semua ini?" tanya Brid.
__ADS_1
"Yah, meskipun aku ikut membantu juga, tapi hampir Semua Rangga yang urus."
"Begitu."
Guman Brid.
Meski begitu, tetap saja ini pemandangan yang sangat mengerikan, Tidak ku sangka ia membunuh Semua musuhnya dengan sangat brutal.
(Entah kenapa, sepertinya aku sudah mulai sedikit mengerti kenapa Ketua mengatakan bahwa Rangga itu lebih berbahaya dari yang aku pikirkan. Jadi ini maksudnya.)
Pikir Brid. Sementara itu di sisi lain ketika Rangga menyadari keadiran Brid dan yang lainnya, ia lansung menghampiri mereka dan bertanya..
"Kalian sudah keluar, kenapa kalian lama Sekali di dalam?"
"Yah itu karena mereka berdua-!!"
Sebelum Bagas selesai menjawab, Brid buru - buru menutup Mulutnya yang dimana Membuat Bagas tidak bisa bicara.
Melihat hal itu Rangga lansung melirik Brid dengan tajam..
"Paman Brid, apa yang kau lakukan?"
"Hah tidak, aku...aku merasa mulut ayahmu sangat bau makannya Aku menutupnya."
"Benarkah?"
Tanya Rangga kepada Bagas, dimana Bagas terus mengelangkan kepalanya seolah ia membantah Hal itu.
"Paman Brid, Ayahku bilang tidak."
"Hahah itu tentu saja, lagi pula Orang yang punya mulut kotor biasannya memang tidak mau mengakuinya kan?"
"Itu benar juga."
Jawab Rangga dengan Serius.
Tentu saja mereka berdua hanya main - main saja. Namun tetap saja Bagas terlihat kesal Sampai - sampai urat - uratnya kelihatan di dahinya.
Melihat hal itu, Brid lansung melepaskan Tangannya dari Mulut Bagas, dan buru - buru mencoba menganti topik pembicaraan.
"Oh iya, Sekarang apa yang akan kita lakukan?"
Ketika Brid menanyakan itu, Bagas terlihat sedang melap mulutnya di karenakan tangan Brid yang berkeringat menempel di sana.
(Kurang ajar, tangan dia bau sekališ°)
Pikir Bagas, setelah itu ia melihat Brid dan menjawab...
"Untuk sekarang kita Akan merawat Luka kalian dulu. Setelah itu kita akan pikirkan langkah selanjutnya."
"Eh Tapi Ayah bagaimana Dengan semua mayat yang ada di sini? Tidak mungkin kita meninggalkan mereka begitu saja kan?"
"Itu tentu saja. Yaa Kau tenang saja, aku sudah menghubungi kenalanku dan ia nanti akan datang ke sini dan membersihkan tempat ini."
"Hmm baguslah kalau begitu."
"Baiklah, Apa masih ada lagi yang ingin bertanya?"
Ketika Bagas menanyakan itu, Brid lansung mengangkat tangannya ke atas.
"Aku."
"Bicaralah."
"Tadi kau bilang ingin merawat kami kan? Apa mungkin kau ingin membawa kami ke Rumah sakit."
"Tidak, jika kita melakukan itu, maka keberadaan dia(Selena) pasti akan di ketaui."
"Hmm kalau begitu dimana kau ingin merawat kami."
__ADS_1
"KALIAN AKAN DI RAWAT DI RUMAHKU."