
di sore hari, ketika aku masih tidur di kamar, dari arah Pintu, tiba - tiba ada seseorang yang sedang mengetok pintuku.
TOK!!...TOK!!...TOK!!...
mendengar suara tersebut, perlahan aku membuka kedua mataku, kemudian aku bangun dan duduk di kasur.
setelah itu, aku mengalihkan pandanganku ke arah pintu dan bertanya..
"umm,...siapa itu??"
ketika aku tanya. dari balik Pintu terdengar suara Wanita yang lagi jawab..
"maaf membangunkan anda tuan muda, tapi ibu anda sedang memanggil anda di bawah."
(tuan muda? apa dia salah satu pelayan di rumah ini?)
tanyaku di pikiran. setelah itu aku menguap karena baru saja bangun sambil berkata..
"begitu...tolong tunggu sebentar, aku ganti pakaian dulu."
"aku mengerti."
jawab si pelayan.
kemudian aku lansung turung dari kasur dan berjalan ke arah lemari untuk mengambil dan memakai Baju baru.
sedangkan baju yang tadi aku pakai aku menaruknya di ranjang, dimana Semua pakain kotor berada.
setelah aku selesai bersiap - siap aku lansung berjalan ke arah pintu dan membukanya.
KNOCK!!
pada saat aku buka pintu tersebut, tepat di depan mataku terlihat seorang wanita yang berumur sekitar 20 tahun sedang menunduk.
ia mempunyai rambut merah gelap panjang, yang di kempang ke arah belakang dan memiliki paras yang cantik.
di tambah ia juga mengenakan seragam pelayan yang membuatnya makin terlihat seperti para Maid yang sering aku lihat di anime di kehidupanku sebelumnya.
"maaf membuatmu menunggu."
pada saat aku berkata itu, si pelayan lansung mengakat kepalanya yang menunduk ke arahku.
dimana ketika ia menatap mataku yang benjol, sentak membuat ia terlihat terkejut.
"i- itu tidak masalah,..tapi, apa yang terjadi dengan mata anda??"
tanya Si pelayan yang terlihat khawatir. di sisi lain aku yang dengar itu baru sadar lagi kalau saat ini mataku sedang benjol, akibat pukulan Kak Siska.
meskipun aku mendapatkan ini karena kesalahanku sendiri, namun karena merepotkan jika menjelaskan yang sebenarnya jadi...
perlahan aku menyentuh mataku yang benjol dengan lembut, setelah itu aku menatap tenang si pelayan dan berkata...
"hah ini,...aku tadi sedang tidur di kasur, tapi tiba - tiba ada seekor kucing masuk melompat ke arahku, dan lansung memukul mataku dengan nyan nyan puchnya."
ucapku sambil memperagakan tanganku seperti seekor kucing, ketika sedang memukul lawannya.
di sisi lain, si pelayan yang melihatku Seperti itu, lansung memiringkan kepalanya ke samping dan terlihat kebingungan.
"nyan, nyan puch??"
tanya si pelayan.
"yah, nyan, nyan puch."
jawabku sambil memperagakan lagi tanganku seperti seekor kucing.
"tapi, meskipun anda mengatakan itu, mata anda..."
sesaat ia mengatakan itu, aku lansung memotongnya dan berkata.
"tidak usah dipikirkan, lagi pula aku baik - baik saja, jadi tidak usah terlalu khawatir mengerti." ucapku
__ADS_1
"...."
untuk sementara Si pelayan tidak berkata apapun dan hanya menatap mataku yang benjol dengan diam.
namun, setelah beberapa detik kemudian ia lansung mendesah "haa..." dan menjawab..
"..baiklah jika tuan muda mengatakan itu, aku mengerti." ucapnya.
jujur aku tidak mau bicara banyak soal mata benjolku ini, jadi.....
"omong - omong bisa tidak kau tunjukkan jalannya sekarang??"
"hah..ba- baik...kalau begitu, tolong ikuti aku tuan muda."
"umm."
angguk ku.
setelah itu, Si pelayan mulai berjalan di koridor sambil aku mengikutinya dari belakang.
dan ketika kami menuruni tangga, aku bisa lihat ada beberapa pelayan yang melewatiku sambil membawa beberapa barang untuk naik ke lantai atas.
namun, ketika aku perhatikan barang tersebut, aku bisa lihat kalau semua barang yang mereka bawah itu, tidak lain adalah barang - barangku yang kami bawah dari rumah sakit.
(sepertinya mereka ingin meletakkan barang itu di kamarku.)
ucapku di dalam pikiran. kemudian tak lama setelah kami berjalan, akhirnya kami sampai di Ruang tamu.
dimana aku bisa melihat ayah, ibu dan juga Kak Siska sedang duduk di sofa sambil menonton siaran TV.
"Nyonya, saya sudah membawa tuan muda." Ucap Si Pelayan yang berdiri di belakang ibu.
"hmm...terima kasih Rina, kamu bisa kembali ke perkerjaanmu."
"baik, kalau begitu saya permisi dulu."
sambil mengucapkan itu, sejenak si pelayan menundukkan kepalanya, kemudian, ia lansung berjalan melewatiku dan meninggalkan tempat ini.
(begitu, jadi nama dia Rina.)
di sisi lain, ibuku yang tau kalau aku sedang berdiri di belakang Sofa tempat ia duduk, lansung memanggilku.
"Leon, apa yang kau lakukan disitu, cepat duduk kesini."
"baik."
jawabku sambil mengalihkan pandanganku ke arah Ibu. namun ketika Ibu dan ayah melihat mataku yang benjol. sentak mereka berdua lansung melebarkan mata karena terkejut.
""EH!""
kecuali Kak Siska, ia terlihat biasa saja dan terus memainkan Hpnya di sana.
(yah, lagi pula dialah yang membuat mataku jadi seperti ini.)
"Le- Leon matamu, apa yang terjadi dengan matamu??"
tanya ibu yang terlihat khawatir, namun tanpa pedulikan aku dengan datar menjawab..
"hah,..ini, aku tadi dipukul seekor kucing betina imut, waktu tidur di kamarku."
ucapku sambil melirik ke arah Kak Siska untuk melihat Reaksinya.
dimana, meskipun ia terus bermain Hp, aku bisa lihat kalau ia sepertinya sedang kesal dan wajahnya pun terlihat merah seperti Apel.
di sisi lain, Ibu yang dengar apa yang ku katakan Barusan mencoba bertanya..
"Leon, bagaimana bisa, kucing memukulmu sampai seperti ini??"
"ibu, jangan terlalu meremehkan kucing, meskipun dia terlihat imut, tapi dialah binatang paling ganas yang aku tau."
jujur aku tidak punya satupun binatang yang pernah aku takuti, namun setelah PIX memberitauku, apa yang telah di lakukan seekor kucing terhadapku, jujur itu membuatku sangat merinding.
__ADS_1
ketika ibu melihat wajahku yang merinding, aku merasa ia sepertinya percaya dengan apa yang aku katakan.
"be- begitu, ibu baru tau ternyata kucing bisa seganas itu yah??"
ucapnya sambil melihatku dengan ekspresi khawatir.
"yaa, meskipun kucing itu membuatku seperti ini, namun aku tidak membencinya sama sekali, jadi tidak usah terlalu di pikirkan." ucapku.
"jika Leon bilang begitu aku tidak masalah, tapi...."
ketika aku dan ibu terus ngobrol, di sisi lain, terlihat ayah yang dari tadi memperhatikan kami berdua, mulai mengalihkan pandanganya ke arah Kak Siska dan aku secara bergantian.
setelah beberapa saat ayah melakukan itu, tak lama kemudian akhirnya ia tau bahwa yang membuat mataku jadi seperti ini tidak lain adalah Kak Siska.
tapi, karena aku sudah mengatakan kalau aku tidak membenci dan tidak terlalu memikirkan soal mataku ini, jadi.....
"Miki, hentikan saja itu, leon kan sudah bilang. tidak usah terlalu di pikirkan, jadi berhentilah bertanya."
"ta- tapi sayang, mata leon-!!"
"sudah cukup, lagi pula bukankah ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan ke leon?"
pada saat ayah mengatakan itu, sentak ibu lansung berhenti bicara dan mencoba ingat apa alasan ia memanggil ku kemari.
"oh, benar juga.."
sambil mengucapkan itu, Ibu berahli ke arahku dan berkata..
"Leon duduklah dulu, ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan denganmu."
"apa?"
"duduk saja dulu."
"......"
jujur aku tidak tau, apa yang ingin mereka bicarakan. tapi, untuk saat ini aku turuti saja apa yang ia katakan.
"baiklah aku akan duduk."
ucapku sambil berjalan ke arah Sofa dan duduk tepat di samping Kak Siska.
setelah aku duduk, aku melihat ke arah Ibu dan bertanya...
"jadi, apa yang ingin ibu bicarakan??"
"sebelum itu, aku ingin tanya sesuatu?"
"apa??"
"tadi kami sedang bicara dengan Siska soal dirimu, dan ia bilang kalau kau itu sebetulnya tidak Hilang ingatan sepenuhnya melainkan masih ingat beberapa hal, apa itu benar?"
ketika ibu Bertanya, aku menatap ia dengan datar sambil berkata..
(aku pikir ia ingin mengatakan apa, ternyata hanya itu-
-namun, tidak kusangka, ternyata mereka sedang membicarakanku saat aku sedang tidur-
-tapi yah, kalau soal itu tentu saja aku tidak perlu sembunyikan sama sekali)
setelah memgucapkan itu di dalam pikiran, aku manatap lurus le arah ibu dimana aku menjawab..
"yah, seperti yang Kak Siska bilang, aku memang masih ingat beberapa hal."
"benarkah?
"umm."
angguk ku.
melihat itu, untuk sementara ibu menatap mataku, dimana ia mencoba mencari tau apa aku berbohong atau tidak.
__ADS_1
namun, Setelah beberapa saat menatap mataku yang Serius. tak lama kemudian ia lansung mendasah "haaa.." dan berkata..
"sepertinya kamu tidak bohong sama sekali." ucap Ibu.