
sekitar jam 5 pagi, waktu dimana matahari belum terbit.
di dalam Rumah Leon, perlahan aku (Leon) turung dari Tangga, sambil mengenakan celana Olahraga, untuk melakukan latihan pagi yang sering aku lakukan.
setelah aku turung dari tangga, aku lansung berjalan ke arah pintu untuk keluar dari rumah.
saat aku sudah di luar, aku melihat kalau hari masih gelap.
namun, tanpa pedulikan hal itu, aku lansung mengenakan sepatuku dan berdiri tepat di teras Rumah.
"baiklah, ayo pemanasan terlebih dahulu."
[sepertinya begitu.]
setelah aku mendengar jawaban PIX di dalam pikiranku, aku pun mulai melakukan pemanasan, sambil mengingat, apa saja yang terjadi setelah kejadian, anak berandalan di lorong itu.
beberapa hari setelah kejadian itu.
aku menjalani kehidupan seperti biasanya, mulai dari latihan pagi, Pergi ke sekolah, sampai bermain game di warnet bersama Rusli dan Lia.
meski begitu. bukan berarti aku tidak di ganggu lagi oleh beberapa anak berandalan yang menerima permintaan orang itu.
sebab, setelah kejadian itu, ada banyak sekali anak berandalan yang terus mengawasiku.
mulai dari dalam sekolah, di pinggir jalan sampai di warung gado - gado tempat aku sering beli.
meski pun mereka semua belum melakukan penyerangan. namun, aku masih bisa merasakan tatapan permusuhan mereka terhadapku.
selain itu, beberapa hari terakhir ini, aku juga sering melakukan latihan pagi dan malam, untuk memperkuat tubuh dan tenaga tubuhku ini.
bukan berarti aku latihan secara terbuka, melainkan aku sering latihan secara diam - diam agar keluarga ini tidak mengetauinya.
(yaa, meskipun keluarga ini tau bahwa aku sering keluar di pagi hari. namun mereka hanya sebatas mengetaui bahwa aku pergi keluar, untuk lari pagi saja, dan tidak tau kalau aku sering melakukan, latihan keras saat di luar Rumah.)
contohnya di gedung tua yang sudah tak terpakai lagi. aku sering pergi ke sana untuk latihan pagi.
dengan berlari di tangga, dari lantai 1 hingga lantai paling atas selama beberapa kali. sampai Push up dan Pull Up selama Ratusan kali.
meskipun aku sering memaksakan diriku saat latihan. namun, bukan berarti aku tidak pernah kena dampak dari latihan sekeras itu. sebab setiap kali aku memaksakam diriku latihan Aku sering kali Pingsan.
bahkan saking capeknya aku latihan pagi, aku sering kali tidur di kelas pada saat waktu pelajaran berlansung.
namun, meskipun aku sudah mengalami hal itu semua, aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk menyerah sama sekali.
sebab secara perlahan aku merasa kalau tubuh ini juga, sudah mulai berubah.
"yosh, pemanasan dah selesai waktunya kita pergi."
[baik master.]
setelah aku selesai pemanasan, Aku pun dengan cepat berlari dan lansung meninggalkan rumahku.
__________________________
__________________
setelah beberapa saat aku berlari, aku saat ini sedang berdiri tepat di depan Gedung yang sudah tak terpakai lagi.
dimana, di setiap tembok gedung itu, terlihat sudah di penuhi oleh lumut dan beberapa retakan di temboknya. bahkan kaca jendelanya pun sudah pecah.
"baiklah, ayo kita mulai."
sambil meninggalkan kata - kata itu, aku lansung berlari masuk kedalam dan memulai latihanku, seperti yang biasanya aku lakukan.
mulai dari berlari, dari lantai 1 sampai lantai paling atas selama beberapa kali, hingga Push Up dan Pull Up selama ratusan kali.
setelah beberapa saat aku melakukan hal itu semua. aku saat ini sedang duduk di salah satu ruangan di gedung ini, sambil menghadap ke arah jendela yang sudah pecah.
dimana aku bisa melihat, matahari sudah mulai terbit.
"haa,...haa,...haaa,..aku sangat capek, aku rasa ingin tidur."
__ADS_1
saat aku mengucapkan itu, suara PIX lansung terdengar di dalam pikiranku.
[Master, Tolong jangan lakukan itu, habis ini anda harus pergi ke sekolah.]
"aku dah tau itu, tapi tidur sebentar saja tidak apa - apa kan?"
[kalau aku bilang tidak, yaa tidak. jika Master tetap bersikeras ingin tidur, aku berjanji akan mengganggumu."
"apa kau ngajak berantem?"
[ayo, sini maju.]
PIX menatapku dengan tatapan sombong, sambil mengatakan itu.
tentu saja, saat aku melihat tatapan itu, aku lansung jengkel, dan mencoba memarahi PIX.
namun, sebelum aku memarahi PIX, tiba - tiba ia lansung bicara dengan ekspresi serius.
[omong - omong Master, akhir - akhir ini kau sering di tatap beberapa anak berandalan kan?]
"ohh, tidak ku sangkah kau menyadarinya??"
[tentu saja, Master pikir aku ini siapa?]
"hanya kaos tangan kan?"
[.....]
saat aku mengatakan itu PIX tidak menjawab apapun. namun, setelah beberapa detik kemudian.
tanpa pedulikan apa yang aku katakan tadi PIX mulai bertanya lagi.
[...jadi, apa yang akan kau lakukan Master?]
"tidak ada." jawabku dengan cepat.
meskipun aku tau kalau aku sering di tatap. namun, aku tidak pedulikan hal itu. sebab jika aku bertindak dengan gegabah, bisa - bisa itu hanya akan membonkar identitasku sendiri.
sebab, main pukul saja, itu bukanlah gayaku.
saat aku memikirkan hal itu semua, PIX mulai bertanya lagi di dalam pikiranku.
[jadi, apa Master tidak masalah di tatap terus seperti itu?]
"tentu saja aku bermasalah Tolol. lagi pula, untuk saat ini aku hanya ingin memperhatikan situasinya saja!?"
[memperhatikan situasinya kah. itu berarti, kedepannya Master sedang ingin merencanakan sesuatu?]
sesaat PIX mengatakan itu, Perlahan bibirku melengkun seperti bulan sabit.
sambil tatapanku seperti memancarkan sebuah cahaya, saat Ruangan itu mulai di terangi sinar matahari.
"YAA, KAU AKAN LIHAT SAJA NANTI."
_______________________________
_______________________
setelah aku selesai istirahat, aku lansung berlari pulang ke rumah. dan sekitar jam setengah tujuh pagi, aku pun sampai di Rumah.
"aku pulang."
saat aku membuka pintu dan mencoba berjalan masuk ke dalam, aku melihat Rina, salah satu pelayan Rumah ini sedang mengepel lantai, sambil melihat ke arahku.
"Tuan muda, anda sudah pulang?"
"yaa, aku habis lari pagi tadi."
"jadi bagitu,...omong - omong, tolong cepat ganti pakaian anda, Nyonya dan Tuan sedang menunggu anda di Ruang makan."
"Ruang makan?..baik, aku mengerti."
__ADS_1
setelah aku mengatakan itu, aku mulai berjalan naik ke lantai dua, dan lansung masuk ke kamar untuk mengganti pakaianku.
setelah beberapa saat aku mengganti pakaianku, saat ini aku sedang berjalan turung dari Tangga sambil mengenakan pakaian sekolah.
Tap....tap....tap...
ketika aku berjalan di tangga, tiba - tiba aku mendengar suara seseorang sedang memanggilku dari belakang.
"Leon."
saat aku berbalik ke arah belakang aku melihat Kak Siska sedang mengenakan pakaian SMA sambil mencoba menghampiriku.
"Oh Kak Siska, Seperti biasa kau sangat cantik hari ini."
"berhentilah menggoda Kakakmu pagi - pagi begini, dasar adek bego."
sambil mengatakan itu, Kak Siska lansung mencubit pipiku.
"~aduh! ini sakit Kak!"
"ini hukuman untukmu."
"~y-ya, aku tau aku salah jadi, Tolong cepat lepaskan."
"baguslah kalau kau sudah mengerti."
setelah Kak Siska mengatakan itu, ia lansung melepaskan cubitannya dari pipiku.
sambil melihatku dengan senyuman yang indah di bibirnya.
"Leon, apa kau tau, hari ini hari apa?"
"hah, kenapa Kak Siska menanyakan hal itu?"
"yaa, aku cuma ingin bertanya saja."
Sesaat Kak Siska mengatakan itu, aku memperhatikan kalau senyumannya seperti bercampur dengan kesedian.
melihat hal itu, membuat aku menatapnya dengan ekspresi serius.
"jika Kak Siska tanya hari ini hari apa, bukankah hari ini hari Kamis."
"......begitu, jadi kau juga sudah lupa ya, kalau hari ini hari apa."
merasa bingun dengan Kata - kata Kak Siska, aku mencoba untuk bertanya.
"apa yang Kak Siska katakan?"
"tidak, lupakan saja apa yang barusan aku katakan."
meskipun Kak Siska mengatakan itu, tidak mungkin aku bisa lupakan. sebab meskipun ia tersenyum aku tau kalau ia sedang memaksakan senyumannya itu.
dan saat aku mencoba untuk bertanya lagi, dengan cepat Kak Siska lansung bicara.
"omong - omong Leon, pulang sekolah nanti, kau sedang senggang kan?"
"eh, y-ya, hari ini mungkin aku tidak pergi ke warnet sama Rusli."
"benarkah,...kalau begitu, apa kau ingin ikut dengan Kakak?"
"ikut dengan Kak Siska? Kemana?"
"...ke kuburan."
"Kuburan??"
"yaa, kita akan pergi setelah kau pulang sekolah, mengerti."
sambil meninggalkan kata - kata itu. dengan cepat Kak Siska berjalan Turung dari Tangga dan lansung pergi ke ruang makan.
melihat hal itu. aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi bingunku.
__ADS_1
"apa - apaan itu tadi."