
Dimalam hari Ketika aku dan Kak Siska sedang duduk di Sofa, Kak Siska melihat ke arah Kak Rangga, dimana ia sedang berbaring di Sofa, sambil wajahnya terlihat agak pucat.
"Kak Rangga, kau kenapa?"
Saat Kak Siska bertanya, dengan Lesu Kak Rangga menjawab...
"Ah, aku,...aku hanya lelah hari ini, jadi tidak usah pikirkan."
Meskipun Kak Rangga mengatakan itu tetapi sepertinya Kak Siska masih khawatir dengannya.
Di sisi lain, ketika aku bersandar di sofa, aku mengingat apa yang terjadi Siang tadi. Dimana aku menghajar beberapa anak SMA di sebuah bangunan tua.
di tambah lagi aku bertemu salah satu pembuli. Yaitu Bulan.
Meskipun aku belum percaya dengan semua yang ia katakan Siang tadi, Tetapi aku senang karena bertemu dengan Adek. Adiknya saat itu.
Sebab berkat itu juga, aku bisa membuat ia menjadi PION ku.
Setelah memikirkan itu, perlahan aku melihat ke arah Tv, Dimana memperlihatkan sebuah berita yang mengatakan...
Beberapa saksi mengatakan bahwa sebelum para korban di temukan, mereka mendengar keributan dari Bagunan tersebut.
Ada yang mengatakan kalau ini sebuah perkelaian antara sekolah. Namun tidak ada satupun yang melihat kejadiaan itu.
Untungnya tidak ada satupun korban yang meninggal dari insiden ini dan sampai saat ini Pihak Polisi masih menyelidiki kejadiaan tersebut...>
Mendengar hal itu, Kak Rangga yang tadinya terlihat lelah lansung melihat ke arah Tv, sambil menyipitkan matanya dengan tajam.
"Perang antara sekolah yah,...akhir - akhir ini banyak kejadiaan serupa di berbagai tempat. tapi, bukankah Korban kali ini ada banyak?"
Ucap Kak Rangga, setelah itu di sambung olehku.
"Kak Rangga benar, jika di lihat dari jumlahnya, itu seperti hampir sekelas yang jadi Korban."
"Yah, di tambah lagi, kejadiaannya berada di Kota ini, jadi..."
Sesaat Kak Rangga berhenti, ia melihat ke arahku dan Kak Siska.
"Leon, Siska, saat kalian pulang Sekolah sebaiknya kalian hati - hati. Terutama kamu Siska, jangan pernah lagi pulang setelat ini. Paham."
"A-aku mengerti." jawab Kak Siska.
memang Benar Hari ini entah kenapa Kak Siska sangat telat pulang. Bahkan hampir mau malam baru ia pulang.
Meskipun aku tidak peduli, tetapi ketika membanyakan Kak Siska Telat Pulang Karena mempunyai Pacar. Entah kenapa itu membuatku sedikit kesal.
"Kak Siska, apa kau punya pacar?"
Saat aku bertanya, Kak Siska terlihat kaget saat mendengar itu.
"Hah, kenapa kau tiba - tiba bertanya seperti itu?"
"Yaaa, aku hanya mengirah, mungkin saja Kak Siska telat pulang Karena pergi bersama pacarnya, jadi..."
Sesaat aku berhenti Kak Siska lansung melayankan sebuah pukulan tepat di atas kepalaku.
BUKK!!
"~~aduh,.. OI APA YANG KAU LAKU-!!?"
'Kan' ingin ucapku. Namun sesaat melihat ke arahnya aku lansung berhenti. Sebab tepat di depan mataku, aku melihat Kak Siska sedang menatapku dengan tajam sambil mengepalkan tangannya. Seolah - olah sudah bersiap untuk memukulku lagi.
"LEON, BERHENTILAH BICARA OMONG KOSONG, MANA MUNGKIN AKU PUNYA PACAR. SELAIN ITU AKU TELAT PULANG BUKAN KARENA AKU PUNYA PACAR TAPI AKU PERGI BELANJA BERSAMA PUTRI, MENGERTI?"
"~~Ba-Baik - baik aku mengerti. Jadi berhentilah menatapku seperti itu."
Sambil mengucapkan itu dengan nada takut. Perlahan aku menghela nafasku. "Haaa.." setelah itu, aku melirik ke arah Kak Siska.
"Jadi, Kak Siska, benar - benar tidak punya pacar kan?"
__ADS_1
"Yah, aku tidak punya."
jawabnya lansung
"Syukurlah kalau begitu."
Ucapku
Mendengar hal itu, untuk sementara Kak Siska melihatku terus. Namun setelah beberapa detik kemudian tiba - tiba ia ingat sesuatu.
"Hah, omong - omong kalau bicara soal Telat Pulang. Bukankah kau juga pernah Pulang telat Leon?"
"Aku? Kapan?"
"Ingat, saat aku lihat kejadian it-!!"
Sebelum Kak Siska selesai bicara, aku lansung megenggam tangannya, setelah itu aku menariknya ke arah atas tangga.
"Le-Leon, apa yang kau lakukan? Lepaskan?"
"Ini sudah Malam, waktunya kita pergi tidur."
"Hah, apa yang kau katakan. Lepaskan aku sekarang?"
Tanpa mendengarkan Kak Siska, aku terus menyeratnya naik ke lantai Dua.
Di sisi lain, ketika Kak Rangga melihat aku menyeret Kak Siska naik ke lantai dua. Ia melihat ke arah sana sambil membisikkan sesuatu....
"KEJADIAN? APA MAKSUDNYA?"
__________________________________
___________________________________
Saat aku menyerat Kak Siska di lantai Dua, tiba - tiba Kak Siska mementalkan Tangannya sehingga Genggamanku lansung lepas dari tangannya.
Sambil mengucapkan itu, Kak Siska menatapku dengan marah. Namun bukannya aku takut atau semacannya. Melainkan aku melihat Kak Siska dengan ekspresi sedih.
"Kak Siska, Soal kejadian yang ingin Kak Siska Katakan tadi, bisa tidak Kak Siska lupakan saja soal kejadiaan itu?"
Mendengar hal itu Kak Siska tidak mengerti dan terlihat Bingun. Sehingga ia mencoba bertanya
"Apa maksudmu?"
"Kak Siska tau Sendiri, alasan aku pulang telat saat itu, itu karena ingatanku belum sepenuhnya membaik kan?"
Memang benar, ketika Siska mengingat lagi, saat itu Sebagian ingatan Leon sudah Hilang. Namun Leon tetap saja pergi ke sekolah, sehingga membuatnya tersesat karena tidak tau arah jalan pulang.
Meskipun Saat itu Leon mengatakan kalau Ia telat pulang karena lama Menunggu antrian gado - gado. Tetapi, Siska masih mengirah kalau alasan Leon telat pulang karena ia sedang tersesat.
"Yah, aku tau itu."
Jawab Kak Siska, setelah itu aku lanjutkan lagi.
"Nah, itulah kenapa aku menyuruh Kak Siska lupakan saja soal kejadian itu. Sebab jika Kak Rangga atau orang tua kita tau. Maka sudah Pasti mereka akan khawatir jadi...."
Sesaat aku berhenti, Kak Siska memperhatikan Wajahku terlihat sangat sedih.
Seolah - olah aku tidak ingin melihat mereka semua Khawatir dengan kondisiku. Sehingga Kak Siska lansung mengelus kepalaku.
"Baik, Kakak mengerti, Kakak akan lupakan kejadiaan itu."
"Benarkah, makasih Kak Siska."
Melihat aku kembali senang, membuat Kak Siska lansung tersenyum, setelah itu ia berbalik dan berjalan ke arah kamarnya.
"Kalau begitu, Kakak masuk dulu tidur."
"Yah," Jawabku.
__ADS_1
Setelah aku jawab, Kak Siska lansung masuk ke dalam kamarnya.
Setelah ia masuk, Ekspresiku yang tadinya terlihat senang tiba - tiba berubah menjadi tenang. Sambil menatap tajam ke arah Kamar Kak Siska.
PIX yang melihat itu, seolah - olah tau apa niatku yang sebenarnya. Sehingga ia berkata...
[Master, Kau sangat mengerikan yah?]
"Hah, Apa maksudmu?"
[Jangan pura - pura bodoh. Dari pandangannya Kau memang menyuruh ia melupakan Soal kejadian KAU TELAT PULANG. Tetapi niatmu yang sebenarnya adalah menyuruh ia untuk melupakan APA YANG IA LIHAT WAKTU ITU KAN?]
Mendengar hal itu, untuk sementara aku hanya terdiam.
Sebab seperti yang di katakan PIX, tujuanku yang sebenarnya adalah untuk membuat ia melupakan apa yang ia lihat saat itu.
Di mana saat Kak Siska sedang mencariku, di situ ia melihat 3 anak yang ku ajar waktu di lorong, sedang di bawah oleh ambulance.
Meskipun Kak Siska tidak terlalu peduli soal itu. Tetapi Jika ia memberitau soal ini Ke Kak Rangga atau Ayah, aku tidak tau apa yang akan terjadi.
Sambil memikirkan itu, perlahan aku menghela nafasku "haa...!!" setelah itu aku berbalik dan mencoba berjalan ke kamarku namun,....
[Omong - omong Master.]
"Apa?"
[Apa yang akan kau lakukan soal berita tadi?]
"Berita? Apa maksudmu?"
[Bukankah kamu sudah dengar, saat ini para Polisi sedang melakukan penyelidikan soal penyerangan itu, jadi...]
Sesaat PIX berhenti aku lansung menyambunkannya.
"..jadi, kau ingin aku mengatasinya?"
[Iyah!] jawab lansung PIX
Tentu saja aku tau soal itu, lagi pula tanpa melihat berita pun aku sudah tau kalau kejadiaan ini pasti akan melibatkan para Polisi.
Sebab di lihat dari manapun ini bukan hanya 1 atau 5 orang yang terluka melainkan, sudah lebih dari 20.
Di tambah lagi luka yang mereka semua terima sangatlah parah. Sehingga sudah jelas para Polisi akan menyelidiki hal ini.
Meskipun memang benar, dari pandangan PIX aku belum melakukan pergerakan apapun. Untuk mengatasi kajadian ini.
namun, sebetulnya aku sudah melakukan pergerakan saat ini. Yaitu...
"PIX kau tenang saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan."
[Bukankah kau sangat percaya diri Master. Lawan mu itu adalah polisi loh. Orang - orang yang sangat ahli dalam mencari sesuatu.]
"Aku tau itu."
jawabku lansung.
Lagi pula, ini bukan pertama kalinya aku melawan seorang polisi untuk lari dari penyelidikannya.
Di kehidupanku sebelumnya aku sering di kejar - kejar oleh mereka, dan jujur mereka memang orang - orang yang sangat merepotkan.
Sebab di manapun aku bersembunyi hanya beberapa jam saja. Pasti mereka bisa menemukan tempat persembunyianku.
Baik di perkotaan maupun di pedesaan
Namun, meski begitu bukan berarti aku tertangkap oleh mereka, sebab sebelum mereka sampai ke tempat persembunyianku, aku sudah kabur dari sana berkat Informasi dari Carla. Yang menghack CCTV lalu lintas.
Makanya untuk mengatasi kejadiaan kali ini, aku tidak diam saja sama sekali. Sebab aku sudah menjalankan rencanaku yaitu....
(MEMAINKAN PION PERTAMAKU)
__ADS_1