BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
BERMAIN JUDI Bagian 1


__ADS_3

Lebih dari setengah jam aku mengelilingi tempat itu untuk mencari keberadaan suami Bu Linda tetapi aku tetap tidak bisa menemukan nya.


Sampai pada akhirnya, aku pun memutuskan untuk berkumpul kembali dengan Brid, dimana ia saat ini berada di tengah Ruangan.


"Brid, Apa kau sudah menemukannya?" tanyaku.


"Oh Leon, maaf aku tidak menemukan dia di manapun. Bagaimana denganmu?"


"Sama aku juga."


Balasku, kemudian aku bertanya lagi..


"Brid, Apa mungkin Informasi yang kau berikan itu salah?"


"Tidak, aku yakin ia memang ada di sini."


Bantah lansung Brid. Sehingga kami mencoba melihat - lihat sekitar lagi untuk mencari dia. Tetapi tetap saja kami tidak menemukannya. Sampai akhirnya Brid pun menyerah.


"Sepertinya orang itu memang tidak ada di sini. Jadi apa yang harus kita lakukan?"


Di saat Brid menanyakan itu, Untuk sementara aku tidak menjawab apapun dan mencoba berpikir.


Namun tiba - tiba aku dengar suara meja yang di pukul dengan cukup keras hingga membuat aku dan Brid kaget dan buru - buru melihat ke arah sana.


Dimana tepat di salah satu Meja Permainan, di situ terlihat Seorang Pria kurus dengan baju yang berantakan serta Rambut yang acak - acakkan sedang marah - marah ke pemain lainnya. Dimana ia sepertinya habis kalah bermain judi.


"Woy jangan main - main denganku. Bagimana bisa aku kalah terus, aku yakin Kalian pasti main curang." Ucap Pria kurus itu.


Seolah tak terima, salah satu pemain di meja itu lansung membantah perkataan Pria itu dan membalasnya dengan sindiran.


"Dasar Gelandangan, jika kamu sudah kalah tidak usah main tuduh segala, lagi pula sejak awal di sini itu bukanlah tempatmu untuk bermain."


Ucapnya, ia seorang wanita bernama Reyna berumur sekitar 30 tahun dan memiliki Rambut Hijau tua serta mengenaikan Pakaian mewah juga perhiasan di kedua tangannya.


Ia juga memiliki pengawal berpakaian jas Hitam serta memakai kacamata hitam dan sedang berdiri tepat di belakangnya.


Sementara itu, seolah tidak mau kalah Pemain yang satunya lagi yaitu Pria paruh baya bernama Genus mencoba ikutan menyindir Pria Kurus itu.


"Aku setuju dengan wanita itu, aku tidak tau bagaimana Orang Miskin sepertimu bisa masuk ke tempat ini. Namun kamu harus ingat bahwa tempat ini bukanlah tempat untuk orang Miskin sepertimu yang hanya mempunyai Modal Puluhan Juta Rp saja."


Pria kurus itu merasa tidak terima di katai seperti itu dan mulai marah - marah.


"Apa kau Bilang, berani - beraninya kau Bilang seperti itu, apa kalian tau aku ini siapa?"


"Tidak tau."


Balas lansung Genus, kemudian di sambung lagi oleh Reyna yang mencoba mengejeknya.


"Bukankah kamu ini hanya seorang Gelandangan Kotor?"


Tentu saja itu membuat Pria kurus itu tambah marah sampai - sampai ia mengertakkan giginya.


Sementara di tempat itu sedang ribut. Di siai lain aku memperhatikan Wajah Pria kurus itu, dimana wajahnya sangat mirip dengan Suami Bu Linda. meskipun fisiknya sangat beda jauh dengan yang di foto tetapi aku yakin kalau itu adalah dia.


"Brid, bukankah pria kurus itu yang kita cari?"


"Setelah di lihat - lihat wajah dia memang agak mirip dengan di Foto ini. Itu berarti..."


"Ya kemungkinan besar itu suami Bu Linda. Ayo kita ke sana."

__ADS_1


Aku lansung berjalan ke tempat itu, sedangkan Brid mengikutiku dari belakang.


Lalu setelah kami sampai, kami melihat Pria kurus itu masih marah - marah ke mereka berdua(Reyna dan Genus.)


"Sudah ku bilang, kalian berdua ini pasti main cu-!!"


'Rang' ingin ucap Pria itu, namun sebelum ia mengucapkan, aku lansung memotongnya dan memanggilnya.


"Permisi Om."


"Un! Bocah? Ada apa?"


"Apa di foto ini adalah Om?"


Tanyaku sambil memperlihatkan Foto suami Bu Linda di Hp Brid. Dimana Pria Kurus itu lansung kagat sekaligus terkejut, yang artinya itu memang dia.


"Brid."


Aku memanggil Brid, dimana Brid seolah lansung tau apa yang aku inginkan.


Brid buru - buru menahan Pria kurus itu dengan memutar tangannya ke belakang sambil mencoba mendorong ia menjauh dari tempat itu.


"~Ughh tanganku, dasar sialan apa yang kau lakukan? Lepaskan aku."


"Tidak usah banyak bicara, kau ikut saja dengan kami." ucap Brid.


"Kurang ajar, kalian ingin membawa ku kemana woy!"


"Kau tidak perlu tau."


Balas lansung Brid. Lalu Setelah itu kami mulai mencoba membawa Pria kurus itu keluar dari tempat ini namun tiba - tiba kami di hentikan oleh Reyna.


Aku lansung berhenti dan berbalik melihat dia.


"Hah! Memang kenapa?" Tanyaku.


"Yaa itu karena Pria itu meminjam uang kami, selama ia tidak membayarnya maka ia tidak boleh meninggalkan Tempat ini."


Padahal baru - baru ini aku menghilangkan utangnya dari jasa Pinjaman. Namun tidak ku sangka ia akan meminjam lagi.


(Sial, aku ingin sekali membunuhnya, tapi......)


Aku mengingat Ekspresi Bu Ratna, dimana saat itu ia sepertinya masih mencintai Pria ini.


Jujur saja aku tidak tau kenapa ia masih mencitainya, namun satu hal yang pasti, jika aku membunuh pria ini maka ada kemungkinan Bu Linda akan Sedih.


(Kalau itu diriku yang di kehidupan sebelumnya aku pasti akan lansung membunuhnya tanpa memikirkan perasaan orang lain.-


-Namun, kali ini aku tak bisa seperti itu, sebab jauh di dalam hatiku aku mempunyai sifat baik yang dimiliki oleh Anak ini(Leon asli) yang terhubungan dengan diriku.-


-Jadi jika aku membunuhnya maka ada kemungkinan aku akan merasakan rasa bersalah pada dia(Bu Linda.) karena itulah untuk sekarang aku tidak akan membunuhnya.)


"Cih, ini sungguh menyebalkan."


Gumanku sambil mendecatkan lidahku, lalu kemudian aku kembali melihat Reyna dan bertanya..


"Boleh aku tau, berapa uang yang ia pinjam ke kalian."


"Kalau aku, ia meminjam uangku sebanyak 98 jt, sedangkan Pria di sana(Genus) 60 jt."

__ADS_1


"Hmm...itu berarti, jika di total ada sekitar 158 jt."


"Benar."


Jawab lansung Reyna dengan senyuman Seringai.


Sejujurnya aku tidak masalah ingin membayarkan Hutannya menggunakan Uang di koper yang ada di dalam Tasku. Namun ini belum cukup sebab uang di dalan sini hanya ada sekitar 100 jt lebih.


Di tambah lagi aku juga tidak bisa meminta uang lagi pada Brid, karena itu hanya membuat diriku terlihat menyedihkan di hadapan anak buahku.


Jadi satu - satunya yang bisa ku lakukan saat ini untuk bisa melunasi utang dia(Seami Bu Linda) dan membawanya keluar dari tempat ini adalah dengan bermain judi di tempat ini.


Selain itu sudah lama juga aku tidak bermain judi di tempat seperti ini.


"Haa baiklah, untuk melunasi Utang Pria ini aku akan bermain dengan kalian."


Semua orang di sekitar kami merasa sangat terkejut tanpa kecuali Genus dan Reyna.


"Nak, apa kau serius ingin bermain dengan kami?" Tanya Reyna.


"Tentu saja."


Balasku dengan serius, kemudian Genus yang bertanya lagi.


"Bocah, apa kau memiliki uang?"


"Tenang saja aku punya kok."


Jawabku sambil mengeluarkan semua uang yang ada di dalam tasku dan ku tunjukkan kepada mereka. Setelah itu aku lanjutkan lagi.


"Namun, sebelum aku bermain demgan kaliam aku ingin bertanya terlebih dahulu."


"Apa?" Genus.


"Kenapa kalian berani meminjamkan uang kalian pada Pria ini. Kalian seharusnya taukan pria ini adalah orang yang kurang mampu yang tidak mungkin bisa membayar utangnya."


"Tentu saja kami tau itu."


Balas lansung Reyna.


"Kalau begitu, kenapa?"


Tanyaku lagi, dimana Reyna mencoba menjelaskannya..


"Yaa itu karena ia masih bisa membayar kami menggunakan anggota tubuhnya.-


-Contohnya saja otaknya, otaknya itu bisa kami jual ke salah satu fasilitas Penelitian yang ada di Inggris yang berfokus meneliti otak manusia untuk perkembangan sains.-


-Adapun Mata, Jantung dan Beberapa anggota tubuh lainnya, itu semua bisa kami jual ke orang yang sangat membutuhkan.-


-Dan jika kami total semuanya maka setidaknya kami bisa mendapatkan 300jt lebih, namun karena Kualitas tubuh dia sudah tidak terlalu baik jadi aku rasa harganya akan turung menjadi 200jt.-


-Yaa meskipun harganya turung, setidaknya kami tetap masih bisa mendapatkan untung."


Genus seolah sependapat dengan Reyna dan lansung mengangguk.


"Um, aku setuju."


Ucapnya.

__ADS_1


Mendengar hal itu sontak membuat Pria itu atau suami Bu Linda merasa sangat menggigil dan terlihat pucat, sebab ia tidak pernah menyangkah bahwa kedua orang itu berniat membunuh ia dengan cara seperti itu.


__ADS_2