
Saat ini aku berada di dalam kamar dan sedang mengganti pakaian sekolahku dengan pakaian biasa.
Setelah aku selesai ganti pakaian aku keluar dari kamar dan turung ke lantai bawah dan pergi ke ruang tamu dimana semua orang ada di sana kecuali Kak Rangga.
Aku juga perhatikan para wanita sedang asik makan kue.
"Oh Leon kamu sudah ganti pakaian, sini duduklah."
Ibu menyadari keadiranku dan mempersilahkan aku untuk duduk di sampingnya. Namun aku tolak dan lebih memilih duduk di samping Kak Siska.
Mengetaui hal itu Kak Siska lansung mengerutkan keningnya dan terlihat kesal.
"Kenapa kamu duduk di sampingku? Minggir sana, kau cari tempat lain saja."
(Sepertinya ia masih memikirkan apa yang terjadi tadi pagi.)
Pikirku. Meski begitu aku tidak mau pindah dan tetap duduk di sampingnya.
"Memang kenapa jika aku duduk di sini, apa ada masalah?" Tanyaku.
"K-Kau...apa kau serius mengatakan itu setelah apa yang kau lakukan tadi pagi dengan wanita itu(Selena)."
Ibu yang dengar itu menjadi sedikit penasaran dan bertanya ke Kak Siska.
"Siska memang apa yang Leon lakukan tadi pagi?"
"I-itu....."
Kak Siska sepertinya ragu, ia seolah tidak mau menceritakanya jadi ia memilih untuk diam.
"......."
Karena tidak baik jika pembicaraan ini terus di lanjutkan jadi aku mencoba mencari topik lain.
"Omong - omong aku lihat kalian semua sedang asik makan kue. Dimana kalian beli itu?"
"Oh kue ini tidak kami beli, kue ini pemberian dari Brid."
"Paman Brid? apa mungkin ini bingkisan yang di berikan paman Brid pada Ibu tadi?"
"Benar." Jawab Ibu.
Aku lihat bingkisan kue itu berasal dari tokoh Reptilia Star. Tokoh yang banyak di kunjungi para wanita.
Namun......
"Bu, Aku lihat kue ini berasal dari tokoh Reptilia Star, bukankah tokoh itu menjual kuenya sangat mahal? Bahkan aku dengar yang berkunjung di tokoh itu kebanyakan hanya wanita dari kalangan atas."
"Kau benar, bahkan ibu juga terkejut dia(Brid) membelikan kita kue dari tokoh itu sebanyak ini.-
-Namun setelah Ibu mencoba kue ini, ibu sepertinya mulai mengerti alasan kenapa tokoh itu menjual kuenya dengan sangat mahal.-
-Leon, bagaimana kalau kamu coba juga?"
Ibu menyerahkan satu kue padaku. Aku mengambilnya dan mencoba mencicipinya dimana tekstur kue itu sangat lembut, rasanya juga sangat pas di mulut dan tidak terlalu manis di tambah lagi Cramel yang di taburi di atasnya serta coklat yang di selipkan di dalamnya membuat kue ini benar - benar sangat enak.
"Bagaimana Leon ini enak kan?"
"Um kue ini sangat enak, aku mau lagi dong."
__ADS_1
"Tentu saja, ini ambillah, di sini masih banyak."
_____________________________________
________________________________
Setelah kami menghabiskan semua kuenya, Fira terlihat sedang menguap. Sepertinya ia sudah ngantuk.
"Rani bagaimana kalau kamu bawa Fira masuk ke dalam kamar, sepertinya ia sudah ngantuk." ucap Ayah.
"Ayah benar. Kalau begitu aku bawa Fira dulu ke dalam kamar."
Kak Rani membungkutkan kepalanya ke kedua orang tuaku, lalu setelah itu ia mulai membawa masuk anaknya ke dalam kamar.
Setelah Kak Rani dan anaknya pergi, sekarang di ruangan ini hanya tersisa aku, Ayah, Ibu dan juga Kak Siska doang.
"Oh iya aku baru ingat, Leon bukankah kamu di berikan hadiah juga sama dia(Brid)?" Tanya Ibu.
"Yah."
"Tolong perlihatkan ke Ibu dong, ibu mau lihat hadiah apa yang ia berikan padamu."
"Eh k-kalau itu Ibu tidak perlu tau."
"Kenapa! Tolonglah...please."
Aku mencoba menolaknya tetapi Ayah malah ikutan juga.
"Itu benar Leon, aku juga ingin tau, Hadiah apa yang pria itu berikan padamu."
Yaa karena sudah begini jadi mau tidak mau aku akan perlihatkan hadiaku pada mereka.
Aku pun pergi ke kamarku. Dan tak butuh waktu lama aku kembali sambil membawa koper Silver kecil yang di berikan Brid padaku.
"Makasih."
Ibu mengambil koper itu dan mulai membukanya dimana ia sangat shock saat melihat isi koper itu.
Bukan hanya Ibu bahkan Ayah yang biasanya kelihatan tenang terlihat sangat terkejut. Sebab di dalam koper terdapat banyak sekali uang yang jika di jumlahkan ini mungkin melebihi ratusan juta.
Yaa sebetulnya sejak awal aku sudah tau kalau isi koper itu adalah uang. Lagi pula aku sendiri yang menyuruh Brid memberikan uang itu padaku. Uang dari hasil judi yang ku menangkan beberapa hari yang lalu.
Tentu saja hanya 30% saja yang ku minta sedangkan lebihnya aku suruh ia untuk menyimpannya di rekeninku di kehidupan sebelumnya.
Jadi dengan begini, meskipun aku menggunakan uang itu(di koper) untuk beli beberapa barang seperti Game atau kendaraan maka keluargaku pasti tidak akan curiga padaku.
(Yaa aku harap semuanya berjalan dengan lancar.)
Aku pikir begitu, tetapi......
"Astaga, apa yang orang itu pikirkan memberikan anak kecil kita uang sebanyak ini.-
-Leon, lebih baik kau tidak menggunakan uang ini. Karena besok Ayah akan suruh Rangga mengembalikkannya."
Seperti yang aku duga Ayah menolak dengan keras menerima uang itu. Tapi tak usah khawatir karena aku sudah memikirkan cara untuk mengatasinya.
"Apa mengembalikkannya! Tidak..aku tidak mau. Paman Brid memberikan uang ini padaku karena ia sudah berjanji padaku."
Ayah sedikit penasaran dan bertanya...
__ADS_1
"Janji? Apa yang ia janjikan padamu?"
"Ayah tau sendirikan, aku kadang sering meminjam motor Kak Rangga?"
"Yah aku tau."
"Nah saat itu aku ingin pergi ke suatu tempat namun sayangnya Kak Rangga memakai motornya sehingga aku tidak bisa pergi kemana - mana dan itu membuat aku merasa sedih. Saat itulah paman Brid datang dan berjanji akan membelikan aku motor jika aku tak bersedih lagi."
"Hmm Itu berarti uang ini...."
Seolah tau apa yang ingin Ibu katakan, aku lansung jawab...
"Benar, karena Paman Brid tiba - tiba harus pulang jadi ia memutuskan memberikan uang ini padaku sebagai gantinya agar aku bisa beli motor."
Ayah tentu tidak percaya dengan apa yang ku katakan, sebab ia sudah tau kalau aku ini bukanlah anaknya Jadi ia pasti sadar bahwa apa yang ku katakan tadi itu hanya sebuah cerita bohongan saja.
Namun aku tidak peduli sama sekali, karena sejak awal aku menceritakan ini hanya untuk bisa membuat Ibuku percaya agar aku bisa gunakan ia sebagai bantuan untuk membuat Ayah menyerah.
"Jadi begitu, aku mengerti apa yang kamu katakan nak. Yaa udah kalau begitu kamu bisa memiliki uang ini."
Ucap ibu.
"Benarkah? Asikkkkk!!"
Aku merasa senang namun tiba - tiba kesenanganku itu di hentikan oleh Ayah.
"Tidak Miki, kamu tidak bisa membiarkan Leon memiliki uang ini. Jika masalahnya adalah motor maka tenang saja, nanti biar aku yang belikan.-
-Karena itulah kita kembalikan saja uang ini padanya(Brid)."
"I-itu...."
Ibu kebingungan, ia tidak tau harus memilih yang mana.
Jika aku membiarkan ini terus bisa - bisa aku tidak akan mendapatkan uang itu. Pada akhirnya aku mulai memohon pada Ibu agar mau membujuk Ayah..
"~Ibu tolonglah, aku tidak mau pemberian Ayah, aku mau itu. Kalau itu aku bisa beli banyak hal selain motor seperti PS4 atau Drone."
Ayah kelihatan kesal melihat tingkahku yang mencoba meniru Anaknya(Leon asli). Tentu saja aku mengabaikannya dan tetap memohon pada Ibu.
"Ibu Boleh ya?"
Ibu seolah tidak bisa menolak permintaan anak kesayangnnya...dan pada akhirnya ia pun menyerah.
"Haaa baiklah."
Guman Ibu. dan ia mulai mencoba membujuk Ayah.
"Sayang aku rasa sebaiknya kita berikan saja uang itu pada Leon, lagi pula uang itu sejak awal di berikan pada anak kita atas tanda terima kasih karena sudah membiarkan ia(Brid) tinggal di sini."
"Miki aku mengerti itu, tapi tetap saja...."
Ayah sepertinya ingin mengatakan sesuatu namun ketika ia melihat wajah Ibu yang sedang memohon, Ayah lansung berhenti bicara dan terlihat malu.
Pada akhirnya Ayah pun menyerah juga.
"Haaa baiklah, kamu bisa memiliki uang itu tapi dengan satu syarat, uang ini harus kami yang simpan. Jika kamu membutuhkannya baru kami berikan, mengerti?"
Tanya Ayah sambil menatapku. Tentu saja aku tidak masalah soal itu, lagi pula sejak awal itu memang yang aku inginkan.
__ADS_1
"Um, Aku mengerti."
Balasku.