BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
BENJOLAN MATAKU SANGATLAH MEREPOTKAN


__ADS_3

Setelah ibu mengatakan itu, tiba - tiba ia menatap mataku dengan serius. dan berkata...


"Baiklah, kalau begitu, Boleh ibu tanya sesuatu?"


"apa?"


"apa kau masih ingat, kalau kau itu, sering kali di Buli anak SMA?"


tanya ibu dengan Serius.


tentu saja aku tau hal itu, lagi pula aku sudah di beritau semuanya sama PIX, namun, sayangnya untuk saat ini aku belum bisa memberitaukan yang sebenarnya.


alasannya itu karena ada suatu kondisi yang dimana belum saatnya aku bisa memberitaukan mereka, jadi....


"tidak, aku tidak ingat sama sekali."


jawabku dengan tenang.


"begitu."


ucap Ibu, dimana aku bisa perhatikan ia terlihat lega.


namun, aku masih tidak mengerti sama sekali, kenapa mereka ingin menanyakan hal ini?


aku tau kalau mereka semua tidak ingin Leon tau soal kejadian itu, tetapi entah kenapa aku merasa masih ada sesuatu yang lain, yang membuat mereka melakukan ini.


sambil memikirkan itu, aku mencoba melirik ke arah Kak Siska yang berada di sampingku, dimana aku bisa perhatikan kalau ia juga sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dariku.


(aku tidak tau, apa yang mereka semua sembunyikan dariku...tapi!)


sambil mengucapkan itu di dalam pikiran, aku melihat ke arah ibu lagi, dimana aku menatapnya dengan serius dan berkata..


"omong - omong bu, sebelum aku hilang ingatan, memang aku sering di Buli yah?"


ketika aku menanyakan itu, baik Ibu maupun Kak Siska terlihat sangat terkejut.


kecuali ayah, aku tidak bisa lihat ekspresinya karena kacamatanya di terangi oleh Cahaya, sehingga aku tidak tau apa ia terkejut juga atau biasa saja.


pada saat aku memikirkan itu, tiba - tiba Ibu bertanya padaku..


"Le- Leon kenapa kamu menanyakan hal ini??"


"bukan apa - apa kok. aku hanya ingin tau saja."


jawabku dengan santai, dimana aku bisa lihat Ibu sedang menundukkan kepalanya ke bawah sambil berkata..


"begitu,...Leon, sebetulnya aku tidak ingin memberitaumu soal ini."


"kenapa??"


tanyaku


"alasannya, itu karena....aku...."


sambil menatap Ibu terus, aku bisa lihat kalau ibu sepertinya kesusahan untuk memberitauku soal pembullyan itu.


meskipun aku tidak tau alasannya, tetapi aku mencoba untuk tetap memaksanya agar ia mau memberitauku hal itu.


namun sayangnya ayah, yang dari tadi cuma diam saja dan tidak melakukan apapun mulai ikut campur.


dimana ia terlihat seperti tidak tega melihat Istrinya kesusahan karenaku.


"Leon, bisa kamu lupakan saja soal itu??"


"hah, memang kenapa??"


tanyaku sambil melirik ayah dengan tajam. namun bukannya takut ayah dengan tenang menjawab.


"untuk saat ini lebih baik kamu tidak mengetauinya sama sekali.-


-bukan berarti kami tidak ingin memberitaumu soal itu atau semacamnya, hanya saja jika sudah waktunya tiba kami janji akan memberitaumu yang sebenarnya."


ucap Ayah dengan serius. di sisi lain aku yang dengar itu untuk sementara tidak mengatakan apapun dan hanya menatap ayah terus..


"....."


..namun setelah beberapa detik kemudian aku mendesah "haaa.." dan berguman..


"jika waktunya sudah tiba yah."


"ada apa??"


tanya ayah.


"tidak, bukan apa - apa."


jawabku dengan santai sambil menatap ayah dan ibu, dimana mereka terlihat seolah - olah merasa bersalah karena tidak memberitauku soal itu.

__ADS_1


jujur saja, melihat mereka yang seperti itu, membuat hatiku terasa sedikit sakit.


alasannya itu karena di dibandingkan dengan mereka, akulah yang paling bersalah di sini.


sebab, hanya karena ke egoisanku, aku sampai pura - pura jadi anak mereka, terlebih aku bahkan sampai membodohi mereka. di tambah lagi aku juga mencoba mempermainkan perasaan mereka terhadap Bocah ini.


dan itu semua ku lakukan bukan karena agar mereka tidak terlibat denganku, melainkan agar semua musuhku (di kehidupan sebelumnya) tidak mengetaui keberadaanku saat ini.


itulah kenapa mereka tidak perlu sampai merasa bersalah segala, lagi pula tanpa di beritaupun aku sudah tau soal kejadian itu jadi....


"baiklah, jika ayah mengatakan itu, aku akan berhenti bertanya."


ucapku dengan tenang. kemudian aku berahli ke arah ibu dan berkata..


"jujur aku tidak tau kenapa kalian tidak mau memberitauku soal itu. tapi aku yakin kalian pasti punya alasan tersendiri."


ucapku dengan nada lembut, mendengar hal itu baik Ibu maupun Ayah lansung melebarkan mata karena terkejut.


begitupun dengan Kak Siska, yang dari tadi cuma memainkan Hpnya lansung terlihat terkejut dan mengalihkan pandangannya ke arahku.


"Le-leon,...kamu..."


pada saat Kak Siska ingin membisikkan sesuatu, tiba - tiba ibu memanggilku..


"Leon."


"a-ada apa?"


tanyaku sambil berahli ke arah ibu, dimana aku bisa lihat matanya sedang berair.


"ibu,...ibu sangat senang kau mengatakan itu...dan juga...terima kasih Leon."


(tidak, kau tidak perlu sampai menangis segala.)


ucapku didalam pikiran, kemudian ayah yang berkata lagi...


"Leon, ayah sangat senang, tanpa ayah sadari, ternyata (pikiran) kau sudah sedewasa ini."


(tidak, aku ini memang sudah dewasa, hanya saja, tubuhku aja yang Bocah.)


ucapku di dalam pikiran, PIX yang dengar itu lansung berkata..


[Master, bukan cuma tubuhmu saja yang Bocah tapi otakmu pun juga sama, bahkan Adek master yang di bawah itu, pasti sudah jadi kecil kan?]


(SIALAN KAU PIX, APA KAU NGAJAK BERANTEM??)


[itu bagus juga, meskipun aku tidak punya bentuk fisik, tetapi aku akan membiarkan master memukulku yang berada didalam kepala master, bagaimana??]


[sudah tau begitu, tapi kenapa master masih mau ngajak berantem. ternyata benar, master ini sangat bodoh yah.]


(WOOOOOOOY!!!)


pada saat aku dan PIX terus bertengkar di dalam pikiranku.


beberapa detik kemudian, tiba - tuba aku merasakan tatapan seseorang dari samping.


saat aku memcoba merilik ke sana, di situ terlihat Kak Siska sedang menatap mataku yang bengkat, dimana ekspresinya terlihat khawatir.


namun, ketika ia sadar kalau aku sedang menatap dirinya, ia buru - buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.


kemudian ia mulai membisikkan sesuatu dimana hanya aku yang bisa dengar.


"maaf sudah membuat matamu bengkat, padahal kamu baru saja keluar dari rumah sakit, tapi aku,...malah..."


seolah - olah tau apa yang ingin Kak Siska katakan, aku lansung menjawab..


"tidak, Kak Siska tidak perlu minta maaf, lagi pula aku memang pantas mendapatkan ini."


ucapku dengan suara Pelan. dimana hanya Kak Siska yang dengar. di sisi lain Kak Siska yang dengar itu untuk sementara tidak mengatakan apapun...


"...."


setelah beberapa detik kemudian ia menjawab..


"baiklah, jika Leon mengatakan itu."


ucap Kak Siska dengan suara Pelan.


namun, ketika aku perhatikan ia, aku bisa tau kalau ia masih merasa menyesal karena sudah membuat mataku jadi seperti ini.


tetapi, tanpa pedulikan itu, aku berahli ke arah ibu dan bertanya..


"apa hanya ini, yang ingin ibu bicarakan denganku??"


"yah, aku sudah lega karena Leon mengatakan itu tadi."


"begitu."

__ADS_1


ucapku sambil berpikir...


(jadi, dengan kata lain, alasan dia memanggilku kemari itu, hanya untuk mengkonfirmasi, apa aku ingat kejadian pembulian itu atau tidak kah?-


-tapi, karena ia sudah mendapatkan Jawaban yang ingin ia dengar, kalau begitu sekarang Giliringku yang bicara..)


sambil memikirkan itu, aku menatap mereka berdua (ayah, ibu) dan berkata...


"karena sudah tidak ada yang ingin di bicarakan, kalau begitu sekarang aku ingin minta bantuan kalian."


"bantuan??"


tanya Ibu sambil memiringkan kepalanya kesamping.


"yah, bisa tidak kalian membawaku ke rumah sakit."


"rumah sakit? tapi bukankah kamu sudah sem-!!"


'Buh' ingin Ucap ibu, namun sebelum mengucapkan itu, ia lansung berhenti, saat aku menunjukkan mataku yang Benjol.


"Hah, Benar Juga, Aku Baru Ingat.."


sambil mengucapkan itu, Ibu lansung berlari menghampiriku, dimana ia megenggam kedua pundakku dengan erat dan berkata...


"LEON, KATAKAN SIAPA YANG MEMBUAT MATAMU JADI SEPERTI INI??"


"aku sudah bilang, itu kucing."


"MANA MUNGKIN KUCING BISA MEMBUAT MATAMU JADI SEPERTI INI?!"


"itu karena pukulan nyan nyan puchnya"


"NYAN NYAN PUCH APANYA,...CEPAT BERITAU SAJA IBU, SIAPA YANG MELAKUKAN INI PADAMU??"


saat Ibu terus saja ngotok ingin tau siapa si pelakunya, baik aku dan ayah lansung melihat ke arah Kak Siska, dimana ia sedang menudukkan kepalanya ke bawah sambil wajahnya terus meneteskan keringat dingin.


melihat hal itu, ayah lansung berahli ke arah ibu dan mencoba membuatnya berhenti bertanya, namun....


"Miki, bisakah kamu hentikan saja itu, bukankah kita sudah membicarakan ini tadi??"


"SAYANG, DIAM SAJA KAMU DISITU!!"


Bentak lansung Ibu sambil mengalihkan pandangannya ke arah Ayah, dimana ia menatap ayah dengan tatapan dingin.


di sisi lain, ayah yang di tatap seperti itu, lansung tersipu malu dan dengan gugup ia menjawab..


"Ba-Baik aku akan diam."


(woy kau itu laki - laki, kenapa gampang sekali menyerah, dan juga, kenapa kau sampai malu segala.)


ucapku di dalam pikiran, sambil terlihat kesal. kemudian Ibu mengalihkan pandangannya lagi ke arahku dan bertanya..


"JADI LEON, CEPAT BERITAU IBU SIAPA YANG MEMBUAT MATAMU JADI SEPERTI INI??"


"sudah ku bilang dia-"


"CEPAT BERITAU SAJA IBU??"


sebelum aku mengucapkan kucing, ibu lansung terlihat marah dan membentakku dengan keras..


mengetaui ni loli tidak mau menyerah sebelum aku memberitaunya, aku lansung mendesah "haaa.." dan melirik ke arah Kak Siska.


dimana dari tadi ia terus saja membisikkan namaku dan berkata..


"~Leon bodoh....~Leon bodoh....~Leon bodoh...~Leon bodoh....~Leon bodoh....~Leon bodoh....~Leon bodoh....~Leon bodoh...~Leon bodoh....~Leon bodoh..."


ucap Kak Siska sambil mengeluarkan aura Hitam di sekitarnya. merasakan hal itu, membuat tubuhku lansung merinding.


setelah itu aku melihat langit - langit di atas dan berpikir.


(kenapa malah jadi seperti ini, padahal aku hanya ingin minta bantuan untuk di bawah ke rumah sakit.)


ucapku di dalam Pikiran sambil terlihat lelah. kemudian aku mendesah dan berbisik..


"haaa,..ini sangat merepotkan!"


setelah membisikkan itu, aku mencoba untuk menutup kedua mataku, karena lelah ngurusin ni Loli.


namun, ketika baru saja mau menutup kedua mataku, tiba - tiba aku merasakan sebuah sengatan Listrik yang mengalir di mata Benjolku.


hingga membuat mataku sangat perih dan terasa sangat...


"~~SAKIIIIIIIIT"


"Hah, Leon apa kau tidak apa- apa?..Leon...Leon...LEOOOON!!"


teriak Ibu yang sangat khawatir.

__ADS_1


setelah itu Ibu lansung berhenti bertanya dan Buru - Buru membawaku kerumah sakit.


(ternyata, Benjol ini ada juga gunanya)


__ADS_2