BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
AKU MERASA BERSALAH


__ADS_3

Setelah aku meninggalkan mereka, saat ini aku berada di dalam kamarku. Dimana aku sedang berbaring di kasur sambil mengingat Kondisi Carla tadi.


Dimana wajahnya terlihat pucat dan kelopak matanya sangat Hitam, terlebih ia seperti sudah memaksakan dirinya selama ini.


Sehingga tanpa ku sadari aku lansung mengertakkan gigiku dengan kuat, dan wajahku tidak bisa di lihat karena di tutupi oleh bayangan.


Di sisi lain, PIX yang Melihat diriku yang seperti itu, membuat ia khawatir dan mencoba bertanya...


[Master, apa kau baik - baik saja?]


"Memang ada apa?"


Tanyaku sambil melirik ke arah PIX.


[Yaa bukan apa - apa, hanya saja wajahmu terlihat Buruk Sekali.]


Ucap PIX dengan khawatir.


Mendengar hal tersebut membuat aku lansung terdiam dan tidak bisa mengatakan apapun. Sebab bagaimanapun juga saat ini aku memang terlihat tidak baik - baik saja.


Alasannya, itu karena....


[Master, apa kau merasa bersalah pada Wanita itu?]


Sesaat PIX menanyakan itu, membuat mataku lansung melebar karena terkejut.


Namun, setelah aku tenang kembali, aku mencoba pura - pura tidak tau dan bertanya...


"Hah, apa maksudmu?"


Namun, berbeda dengan apa yang aku harapkan, PIX dengan tenang menjawab...


[Ini hanya perkirahanku saja, kemungkinan sampai saat ini Master pasti berpikir bahwa semuanya baik - baik saja-


-alasannya itu karena anda mengirah meskipun anda sudah mati, kelompok anda tetap bekerja seperti biasanya.-


-namun setelah melihat dan mengetaui kalau kelompok anda, terutama wanita itu, masih berusaha mencari orang yang sudah membunuh anda, membuat anda merasa bersalah, Karena-!!]


"DIAMLAH."


Sebelum PIX selesai menjelaskan, aku lansung memotongnya dengan suara tajam. Hingga membuat PIX kaget dan lansung terdiam. [.....]


Di sisi lain, setelah aku mengucapkan itu, aku sadar kembali bahwa apa yang aku katakan tadi sangat kasar sehingga aku mencoba minta maaf.


"Maaf aku hilang kendali tadi."


Ucapku dengan Lesu.


[Tidak, itu tidak apa - apa, lagi pula aku juga salah tadi karena terlalu banyak bicara.]


Jawab PIX dengan rasa Bersalah.


Aku yang dengar itu untuk sementara menutup kedua mataku sambil menajamkan pendengaranku. Dimana aku bisa dengar hembusan angin dan jangkrit di malam hari.


Namun, setelah beberapa detik kemudian, perlahan aku membuka mataku kembali dan dengan lembut aku berkata...


"Kau benar PIX, selama ini aku memang berpikir, meskipun aku sudah mati, aku percaya bahwa kelompok ku tetap berkerja seperti biasanya. Tanpa pedulikan orang yang sudah membunuhku, namun...."


Sesaat aku berhenti, aku mengingat wajah pucat Carla, dimana membuat aku lansung mengertakkan Gigi dan menyipitkan mataku dengan tajam.


"...jujur, aku tidak pernah mengirah selama ini mereka mencari orang yang sudah membunuhku. Apa lagi Carla bahkan sampai jadi salah satu PENGGUNA TUPXION."


Ucapku sambil terlihat jengkel, melihat itu, PIX lansung bertanya..


[Apa anda tidak suka?]


"Bukannya tidak suka, tapi jika ia jadi salah satu PENGGUNA TUPXION, itu berarti ia harus turung ke Medan perang kan?"

__ADS_1


Tanyaku sambil melirik ke arah PIX..


***********


Note: maksudnya Medan perang di sini, itu pertarungan antara manusia melawan Monster.


***********


.....di sisi lain, PIX yang dengar itu dengan tenang menjawab...


[Yaaa tentu saja ia harus ikut, lagi pula para PENGGUNA TUPXION, memang sudah di takdirkan seperti itu, tanpa kecuali,...ANDA SENDIRI MASTER.]


Ucap PIX dengan nada tajam, namun tanpa pedulikan itu aku dengan tenang berkata..


"Kau benar, itulah kenapa aku kesal. Kenapa Gadis itu memberikan TUPXION ke Carla. apa ia mau Carla masuk ke medan Perang?"


[Soal itu, mana aku tau.]


Jawab PIX dengan datar, seolah - olah ia mencoba meledekku, mengetaui hal itu, membuat aku lansung jengkel, sampai - sampai urat - uratku terlihat di dahi.


***********


Author: omong" Di sini Leon belum tau yah, kalau yang membunuh dia itu pengguna Tupxion.


***********


Pada saat aku mencoba menenangkan diriku, perlahan aku mendesah "haaa..." kemudian aku melihat langit - langit dan berkata...


"Sudahlah, aku mau tidur, besok aku harus bertemu dengan Bulan."


[Anda benar, tapi sebelum itu, bisa tidak aku tanya satu hal lagi?]


"Apa?"


Ketika aku tanya, PIX menatapku dengan sangat serius, dimana ia berkata..


-Bukankah dengan melakukan itu, Anda bisa mengurangi bebangnya?]


"Kau pikir begitu."


Mendengar jawabanku membuat PIX terlihat Bingun dan bertanya - tanya....


[Apa maksudmu?]


Ketika PIX menanyakan itu, aku dengan santai menjawab...


"Coba kau pikir baik - baik, apa kau kira mereka akan percaya kalau aku mengungkapkan identitasku saat itu?"


[I-itu....]


"Tentu saja tidak, di lihat dari manapun, tidak mungkin mereka akan percaya dengan waktu seperti itu, apa lagi Seorang Bocah yang mengucapkan hal tersebut, itu tidak mungkin."


[Setelah di pikir - pikir benar juga.]


Ucap PIX dengan Serius, setelah itu ia menatap mataku dan berkata..


[Tapi, meski begitu apa anda tega melihat Kelompok anda kesulitan seperti itu, terutama Si Wanita?]


"Tentu saja tidaklah. Lagi pula, meskipun aku membantu mereka, aku tidak punya kekuatan yang cukup, untuk melakukan hal itu, di tambah lagi dengan tubuhku yang seperti ini."


Jawabku sambil melihat telapat tanganku yang kecil dan Kurus,


PIX yang lihat itu lansung mengerti apa yang ku maksud dan bertanya...


[Kalau begitu, apa yang akan anda lakukan?]


"Untuk saat ini aku tidak bisa membantu mereka menggunakan kekuatanku, tetapi..."

__ADS_1


Sesaat aku berhenti aku lansung mengetok - ngetok dahiku sambil berkata...


"..SETIDAKNYA AKU AKAN MEMBANTU MEREKA DARI BALIK LAYAR."


Ucapku, sambil senyuman seringai tarpancar di bibirku, di dalam kegelapan.


___________________________________


_________________________________


Keesokan harinya, ketika aku berjalan menuruni tangga, aku mencoba menuju ke ruang makan, dimana aku tidak mengenakan seragam sekolah, melainkan seragam biasa saja.


Di saat aku sudah masuk ke ruang makan, aku perhatikan semua orang sudah ada dan duduk di sana, dimana terlihat Rina dan pelayan yang lainnya sedang menyiapkan makanan di meja.


Tanpa berlama - lama aku lansung berjalan ke arah mereka dan mencoba duduk di tempat dudukku.


Namun, ketika aku baru saja duduk, ibu yang sedang bermain - main dengan Fira memperhatikan aku tidak mengenakan seragam sekolah, sehingga ia mencoba bertanya.


"Leon, kenapa kau tidak mengenakan seragam mu, apa kamu tidak ingin pergi sekolah?"


"Yah, hari ini aku libur saja, lagi pula aku masih capet, gara - gara tadi malam."


Jawabku dengan lesu, mendengar itu Kak Siska yang duduk di sampingku lansung melihat ke arahku dan bertanya..


"Memang jam berapa kamu pulang, tadi malam?"


Ketika Kak Siska menanyakan itu, tiba - tiba bibirku melengkun dan lansung berahli ke arah Kak Rangga. Dimana aku berkata..


"Soal itu, tanya saja Kak Rangga. Tadi malam ia melihatku pulang, waktu sedang telponan dengan wanita lain."


Mendengar apa yang aku ucapkan, membuat semua orang di ruangan ini lansung berbalik ke arah Kak Rangga.


Dimana mereka semua menatap Kak Rangga yang wajahnya di penuhi oleh keringat dingin.


"SA-YANG💖, APA MAKSUDNYA ITU?"


Ucap Kak Rani sambil tersenyum, dimana senyumannya itu terasa menakutkan Hingga membuat Kak Rangga lansung menggigil dan terlihat ketakutan..


"~~Ra~Rani kau salah paham, ta~tadi malam aku memang telponan dengan wanita lain, tapi dia-"


Sebelum, Kak Rangga selesai bicara, ia lansung di potong dengan suara Rani yang tajam dengan ekspresi menakutkan.


"EEEEH JADI KAU BENERAN TELPONAN DENGAN WANITA LAIN."


Bukan hanya Rani, bahkan ibu, ayah dan juga Kak Siska pun sama, dimana mereka semua melihat Kak Rangga dengan tatapan datar sambil berkata...


"Kak Rangga, aku pikir kau setia pada Kak Rani, tapi, tidak ku sangkah, kau...."


"Ti~Tidak, Siska kau salah paham, aku-!"


"Rangga, kamu itu sudah punya anak, tidak boleh melakukan itu." ucap Ibu


"Su~Sudah ku bilang, kalian salah paham. Wanita itu-"


"Rangga, aku kecewa denganmu."


Ucap Ayah dengan sedih.


Di sisi lain Merasa tidak ada yang mau mendengarkan penjelasannya, Kak Rangga lansung jengkel dan teriak dengan sangat keras...


"TOLONG BIARKAN DULU AKU SELESAI BICARAAA!"


Pada saat Kak Rangga terus berusaha menjelaskan ke mereka semua. di sisi lain, aku yang sedang makan di tempat duduk ku terlihat sangat senang.


Dimana bibirku melengkun seperti Bulan sabit sambil tatapanku seperti memancarkan cahaya di balik bayangan.


"Heh."

__ADS_1


__ADS_2