BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
DUA BOCAH YANG MENYEBALKAN


__ADS_3

"Rezvan Haira."


Pada saat Bulan menyebut kedua nama adeknya, mereka berdua lansung berlari ke arah Bulan


Sesampainya di sana, Haira melihat Kakaknya dengan senang sambil mencoba berkata..


"Kak Bulan, kamu dari mana sa-!!"


'Ja' ingin ucapnya, namun sebelum mengucapkan itu, tiba - tiba Haira berhenti bicara saat melihatku yang sedang duduk di Motor, dimana ia lansung menatapku dengan marah..


"Ka-kamu,...bukankan kamu Bocah Mesum waktu itu?"


"WOY LOLI SIALAN, APA MAKSUDMU BILANG BEGITU?"


Bentak aku lansung dengan wajah kesal, di sisi lain Rezvan yang baru menyadari keberadaanku lansung terlihat terkejut dan buru - buru pergi di hadapan Haira seolah - olah ingin melindunginnya.


"Ka-kau,..apa yang kau lakukan di sini?"


Tanya Rezvan sambil terlihat wapada, namun tanpa pedulikan itu aku hanya berkata..


"Muncul juga Shota Brengseet."


Ucapku dengan datar, Haira yang dengar itu lansung terlihat marah dan berkata...


"BERANINYA KAU BILANGI KAKAK KU SEPERTI ITU."


"Ooh, Lihat - lihat Si Loli sedang marah."


Ucapku seolah - olah sedang meledek dia. Rezvan yang mengetaui itu lansung terlihat geram dan mencoba mengatakan sesuatu.


Namun sebelum ia melakukan itu, Bulan Buru - buru menghentikan mereka berdua.


"Kalian berdua bisa tenang sedikit."


"Ta-tapi Kan kak, orang ini.."


Seolah - olah tau apa yang ingin Haira katakan Bulan lansung menjawab..


"Aku tau, tapi kalian tenang saja, dia tidak melakukan apapun padaku kok."


"Benarkah?"


Tanya Rezvan yang terlihat khawatir.


"Yah."


Jawab Bulan dengan senyuman, dimana membuat Rezvan yang melihat senyuman kakaknya lansung tenang kembali.


Namun berbeda dengan Rezvan, di belakangnya terlihat Haira terus menatapku dengan tajam, dimana ia berkata...


"Kak Bulan, kakak tidak usah Bohong pada kami, aku tau ia telah melakukan sesuatu padamu-


-Selain itu, lihat saja matanya, dari tadi ia terus saja melihat dadaku."


(Hah ni Loli bilang apa barusan.)


Ucapku di dalam Pikiran sambil menatap Haira dengan ekspresi datar. Di sisi lain Rezvan yang dengar itu lansung terlihat kaget dan bertanya...


"Haira apa itu benar?"


"Itu benar kak."


Jawab Haira sambil menatapku dengan Geram. Melihat itu Rezvan lansung berahli ke arahku dan melihatku dengan tatapan jijik.


"Sudah kuduga, Dasar sampah."


(Shota Brengseet berani juga kau bilang begitu-


-lagi pula buat apa aku lihat dada datar itu, lebih baik aku lihat dada Kakak kalian.)


Ucapku di dalam pikiran sambil berahli ke arah Bulan. Dimana membuat Bulan bertanya - tanya apa yang sedang aku lihat..


"Leon, Ada apa?"


"Tidak, bukan apa - apa."


Jawabku dengan tenang, kemudian aku mengalihkan pandanganku lagi ke arah Haira dan Rezvan, sambil berkata...


"Omong - omong Bulan, bisa kau suruh kedua adekmu ini diam, sepertinya mereka sudah salah paham."

__ADS_1


Ucapku sambil menyipitkan mataku yang tajam ke arah mereka. Bulan yang lihat itu lansung memiliki firasat buruk dan buru - buru minta maaf...


"Ma-Maafkan aku."


Ucapnya, kemudian ia berahli ke arah kedua adiknya dan berkata...


"Haira, Rezvan, seperti yang Kakak katakan tadi, Leon tidak melakukan apapun padaku, ia hanya membawaku jalan - jalan tadi."


Mendengar hal itu, Rezvan lansung memiringkan kepalanya kesamping dan bertanya...


"Jalan - jalan? Kenapa Orang ini membawa Kak Bulan jalan - jalan?"


"So-soal itu....."


Seolah - olah Bulan Susah untuk mengatakannya, aku yang melirik ia dari samping lansung mendesah "haaa.." kemudian aku berahli ke arah kedua Adiknya dan menjawab.


"Alasan aku bawah Kakak Kalian jalan - jalan, itu karena ia adalah Pacarku."


Baik Rezvan maupun Haira yang dengar itu sentak lansung shock dan terlihat membeku di sana. Dimana mereka berdua tidak bisa mengatakan apapun.


"....."


"....."


Di sisi lain aku yang lihat itu, lansung membuat Bibirku seringai sambil mencoba berkata...


"Hehehe, kalian pasti kaget kan, karena aku pacar kakak kali-!"


"An" ingin ucapku, Namun sebelum aku mengucapkan itu, tiba - tiba Bulan menampar kepalaku dari belakang dengan kuat...


BUKKK!!


"~~Aduh,.."


..Hingga membuat kepalaku terasa sakit dan lansung melihat ke arahnya.


"BULAN BERANI JUGA KAU."


Ucapku sambil menatap Bulan dengan tajam.


"Hah!"


Di sisi lain, Bulan yang baru menyadari kalau ia tanpa sadar menampar kepalaku lansung terlihat ketakutan, dimana wajahnya terlihat pucat.


(Tidak sengaja? Jelas - jelas kau menampar kepalaku, kau bilang tidak sengaja.)


Aku ingin mengucapkan itu, namun untuk saat ini aku hentikan saja, sebab aku ingin mengakhiri pembicaraan ini secepat mungkin dan mengembalikan Motor Kak Rangga, jadi....


"Haaa Sudahlah, yang lebih penting kamu masih ingatkan apa yang aku suruh tadi?"


"Maksudmu memasang alat ini kan? Tenang saja Aku masih ingat."


Jawab Bulan sambil memperlihatkan Kantong yang ku berikan, dimana isinya tidak lain adalah alat Anti Kamera CCTV.


Melihat itu aku lansung tersenyum dan berkata...


"Bagus, kalau begitu aku pergi dulu."


Sambil mengucapkan itu, aku menyalahkan Motorku, kemudian aku tancap gas dan lansung meninggalkan tempat ini.


Di sisi lain, Bulan yang melihat aku sudah pergi, perlahan berahli ke arah kedua adiknya. Dimana mereka berdua terlihat masih Shock dan membeku di sana.


"Haira, Rezvan, apa yang kalian lakukan, ayo masuk kedalam."


Mendengar suara Kakaknya, membuat Haira dan Rezvan lansung sadar kembali dan buru - buru mengejar Kakaknya yang udah mulai masuk ke dalam Rumah.


"Hah Kak Bulan tunggu kami."


Ucap Rezvan dimana Ia masuk ke dalam Rumah bersama Dengan adiknya, Haira.


"Oh iya Kak, tadi aku tidak lihat Bocah Mesum itu di luar, apa dia sudah pergi?"


tanya Si Haira.


"Yah, dia sudah pergi."


Jawab Bulan.


"Begitu,...omong - omong Kak, Apa benar kau pacaran Sama Bocah itu?"

__ADS_1


Ketika Rezvan bertanya, tanpa menjawab Bulan hanya terdiam dan tidak mengatakan apapun.


"....."


____________________________________


______________________________


Setelah beberapa saat aku meninggalkan mereka, saat ini aku mampir ke minimarket di pinggir jalan.


dimana aku membeli beberapa Cemilan dan Minuman di dalam sana, kemudian aku membawanya ke kasir dan membayarnya.


Setelah aku membayar, aku memasukkan semua Cemilan itu ke dalam Tasku, Kecuali satu minuman yang ingin ku minum nanti.


Setelah aku selesai, aku berjalan dan mencoba keluar dari minimarket.


Namun ketika aku sudah di luar, tiba - tiba aku merasakan ada Beberapa anak Muda yang sedang menatapku dari jarak jauh.


Namun, tanpa pedulikan itu, aku berjalan ke arah Motorku, dimana aku duduk di atas sana sambil meminum minumanku.


Blup!!...Blup!!...Blup!!...


"Fuuu...aku merasa segar kembali."


Ucapku sambil melap keringat di dahiku. Di sisi lain PIX yang lihat itu lansung bertanya...


[Master, sepertinya kau terlihat lelah?]


"Tentu sajalah, kamu pikir jalan - jalan di tengah hutan itu tidak capek."


[Aku pikir tidak. Lihat saja aku, aku tidak capek sama sekali.]


"....."


Mendengar apa yang di ucapkan PIX membuat aku lansung terdiam dan menatap ia dengan tatapan😦.


Namun, Setelah beberapa detik aku menatap ia seperti itu, aku lansung mendesah "haaa..." kemudian aku melihat ke atas langit dan berkata...


"sudahlah tidak ada gunanya bercanda denganmu sekarang."


[Kau sangat membosankan Master.]


"Bodoh amat."


Jawabku dengan santai, seolah - olah tidak terpengaruh dengan provokasinya.


Kemudian aku melihat ke arah Jam Hp, dimana sudah menunjukkan pukul 15 : 26 Sore hari.


"Sial aku harus cepat pulang, kalau tidak bisa - bisa Kak Rangga marah."


[Udah tau begitu, tapi malah mampir beli cemilan.]


"Itu bukan urusanmu sialan."


Sambil mengucapkan itu, aku buru - buru menyalahkan Motorku dan memakai Helm, kemudian aku tancap Gas dan lansung pergi meninggalkan tempat ini.


_________________________________


_____________________________


Di saat aku mengendarai Motor di tengah perjalanan, tepat di kaos tanganku terlihat PIX mencoba memanggilku.


[Anu Master.]


"Ada apa?"


Tanyaku sambil melirik ke arah PIX, dimana ia menatapku dengan sangat serius.


[Aku lupa mengatakan ini, tapi boleh aku tau, kenapa anda membawa Gadis itu ke dalam Hutan?-


-dari yang aku lihat, sepertinya dia tidak terlalu di butuhkan, untuk mencari apa yang anda inginkan.]


Mendengar apa yang di ucapkan PIX membuatku untuk sementara melirik ia terus. Namun setelah beberapa detik kemudian aku kembali melihat ke arah depan dan menjawab...


"Memang benar, apa yang kau ucapkan itu tidak salah-.


-Namun sejak awal, tujuanku membawa Bulan kedalam sana(Hutan), bukan untuk membantuku mencari apa yang aku inginkan, melainkan aku ingin mengubah ia menjadi sesuatu yang lain."


[Mengubah ia menjadi sesuatu yang lain? Aku tidak melihatnya seperti itu.]

__ADS_1


"untuk sekarang kau memang belum bisa melihatnya, namun dimana masa depan nanti,...AKU YAKIN KAU PASTI BISA MELIHATNYA."


Ucapku dengan tajam sambil menyipitkan mataku, dimana tatapanku seperti memancarkan cahaya di dalam Helm.


__ADS_2