
Setelah GOR menjelaskan semuanya Boktis akhirnya percaya bahwa aku adalah Dirman.
(Baguslah sepertinya ia sudah percaya. Kalau begitu aku rasa sudah saatnya masuk ke langkah selanjutnya.-
-Selain itu hp ku saat ini masih berada di dalam sana(Hutan). Jadi seharusnya ia(Noel) tidak bisa dengar pembicaraan kita.)
Sementara aku memikirkan itu. GOR mengalihkan pandangannya ke arah PIX. Dimana ia menatap PIX dengan aneh.
[Meski begitu PIX, kenapa wujud mu bisa jadi seperti itu(Emoji)?]
"Eh memang wujud PIX tidak seperti ini ya?"
Aku langsung bertanya karena penasaran. Dan GOR pun menjawab...
[Yah, wujud PIX sangat indah, bisa di katakan ia seperti layaknya seorang Dewi yang turung dari langit.]
"Apa Dewi! Oi kau pasti bercandakan?"
[Tidak, aku serius.]
Aku melihat PIX. Dimana aku mencoba membandingkan ia dengan Dewi di hayalan ku. Dimana perbandingannya hampir 1 banding 100.
Jujur aku tidak bisa membayangkan sama sekali kalau wujud PIX adalah seorang dewi. Malahan yang ku bayangkan ia adalah Makhluk lain.
PIX seolah tau apa yang ku pikirkan dan lansung mengerutkan keningnya.
[Master Berhentilah memikirkan sesuatu yang seperti itu. Aku tau ini mungkin sulit di percaya Tapi wujud ku memanglah sangat cantik. Bahkan kecantikan ku itu bisa membuat para Pria lansung jatuh hati padaku. Tanpa kecuali anda sendiri.]
(Oi - oi maaf saja tapi aku rasa itu tidak mungkin, Lagi pula wujud asli mu palingan hanya seekor Goblin. Apa lagi melihat warna kulit mu dengan warna kulit Goblin itu hampir sama.)
[MASTER KENAPA ANDA SERING KALI MELEDEKKU, APA ANDA SENANG MELAKUKAN ITU?]
Dengan singkat aku jawab...
(Mungkin.)
Sontak hal itu membuat PIX tambah kesal dan marah - marah di dalam pikiranku. Sementara itu aku melihat GOR, dimana sejak tadi ia terus memperhatikan PIX.
"GOR ada apa? Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan dengan PIX?"
Aku bertanya karena penasaran, tetapi GOR lansung mengelankan kepalanya sambil berkata...
[Tidak, Bukan apa - apa. Aku hanya merasa sedikit aneh saja melihat sosok PIX yang seperti ini. Bisa di bilang wujudnya ini sungguh menyebalkan dan jelek untuk di lihat bagiku.]
"Pffffft!!!"
Sontak aku langsung tertawa mendengar itu. Sementara PIX yang mendengarnya juga langsung mengerutkan keningnya dan terlihat kesal.
[WOOOY GOR KAU DIAM SAJA DI SITU, AKU TIDAK BUTUH PENDAPATMU.]
Meskipun PIX teriak tetapi GOR tidak bisa dengar sama sekali. Alasannya itu Karena suara PIX hanya bisa terdengar di dalam pikiranku.
(PIX percuma saja kau teriak ia tidak akan bisa dengar omongan mu.)
Aku menegurnya tetapi PIX tidak mendengarkan ku sama sekali, malahan ia terus saja memarahi GOR di dalam pikiranku.
Sampai akhirnya itu membuat aku kesal juga karena teriakannya menyakiti kepalaku.
(Woy berhentilah teriak - teriak sialan!)
Aku langsung melepaskan kaos tanganku, kemudian aku membantingnya ke tanah lalu menginjak - injak nya. Yang dimana membuat GOR yang melihat itu langsung membatu.
__ADS_1
[Na~Nak apa yang kau lakukan?] Tanya GOR.
"Aku sedang menghukumnya."
[Eh hukum? Untuk apa?]
"Tentu saja karena sudah membuatku kesal."
[Eh benarkah? Ba-Baik aku mengerti itu tapi Setidaknya jangan perlakukan ia seperti itu(di injak - injak). Lagi pula dia itu Roh TUPXION loh.-
-Asal kau tau saja di dunia kami sebelumnya, kami para Roh TUPXION sangat di hormati oleh para manusia. Dan bukan hanya itu saja bahkan di antara mereka ada juga yang sampai menyembah kami karena kekuatan kami yang dahsyat sehingga mereka menyebut kami sebagai senjata Dewa. tapi kamu,....kamu malah memperlakukan Roh TUPXION mu seperti ini.-
-Apa kamu tidak takut jika TUPXION mu nanti marah dan membunuhmu?]
"Tidak, aku tidak takut sama sekali. lagi pula jika aku mati maka ia juga akan ikut mati bersamaku."
[Eh apa maksudmu?]
Sementara GOR menanyakan itu, aku abaikan dan terus menginjak PIX.
Setelah aku puas, aku ambil kembali kaos tanganku dan memakainya kembali di tanganku. Lalu kemudian aku menghela nafas untuk menenangkan diri dan melihat ke arah Boktis.
"Baiklah aku rasa sudah cukup basa basinya, bagaimana kalau kita kembali ke topik utama."
"?"
Awalnya Boktis tidak mengerti sama sekali topik apa yang ku maksud. Namun tak lama kemudian akhirnya ia mulai ingat alasan ku datang ke sini itu apa.
"Oh iya benar juga, bukankah tujuan utama mu datang ke sini itu karena ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku? Jadi apa itu?"
Tanya Boktis, dimana dengan tenang aku jawab...
"Apa?" Tanya lagi Boktis.
"Boktis aku butuh bantuan mu. Bisakah kamu membantuku menghentikan rencana Carla?"
Sontak saja hal itu membuat mata Boktis langsung melebar karena terkejut.
"Eh Carla? Maksudmu wanita yang menculik ku dulu?"
"Yah, saat ini ia sedang berencana untuk balas dendam pada orang yang telah membunuh ku. Dan rencananya itu akan di mulai pada esok hari."
"Hmm aku mengerti, tapi boleh aku tau kenapa kau mencoba menghentikan rencananya? Bukankah ini hal yang bagus karena ia mencoba balas dendam pada orang yang telah membunuhmu?" Tanya Boktis.
"Tentu saja aku tau itu, hanya saja rencananya kali ini sudah terlalu berlebihan. Di tambah lagi ada kemungkinan kalau ia mencoba menyeret dunia ini dalam kekacauan."
Boktis seolah tertarik akan hal itu dan matanya menyipit dengan tajam.
"Oh menyeret dunia ini dalam kekacauan ya. Itu sungguh rencana yang gila tapi apa kau tidak terlalu melebihkannya? Lagi pula mana mungkin ia bisa melakukan hal itu."
"Memang benar itu mungkin sulit untuk di lakukan tapi jangan lupa saat ini ia adalah salah satu pengguna TUPXION yang ada di dunia ini juga, Jadi bukan tidak mungkin kalau ia bisa melakukannya.-
-Selain itu alasan terbesarku kenapa ingin menghentikan rencananya karena aku punya firasat bahwa dalam rencana nya itu ada kemungkinan kalau ia(Carla) mencoba mengorbankan dirinya.-
-Karena itulah aku butuh bantuan mu, karena hanya kamu lah satu - satunya yang bisa mencegah hal itu tidak terjadi."
"Hmm aku mengerti."
Bagi Boktis, ia tidak masalah sama sekali memberikan bantuan untuk ku karena bagi dia, ia merasa masih mempunyai hutang Budi pada kami berdua(Carla dan aku) karena telah menjauhkannya dari Medan perang, di tambah lagi ia juga di beri tempat tinggal untuk menjalani kehidupan damai seperti ini.
Hanya saja sebelum itu Boktis ingin tau lebih dulu apa yang akan aku lakukan padanya. Apa aku akan menyuruhnya membunuh orang?
__ADS_1
Jika benar maka Boktis rasa ia harus memikirkan hal ini dua kali terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membantuku.
"Jadi bagaimana, apa kau mau membantuku?"
Ketika aku menanyakan itu, Boktis kaget dan lansung melihat ke arahku.
"Eh ya sebetulnya aku tidak masalah untuk membantumu hanya saja aku mempunyai satu syarat."
"Apa?"
"Nak kau harus berjanji padaku kalau kau tidak akan pernah menyuruhku untuk membunuh orang. Apa lagi menggunakan kekuatanku(TUPXION) Ini sebagai senjata untuk menghilangkan nyawa seseorang."
Tentu hal itu membuat aku terkejut dan bertanya...
"Boleh aku tau alasannya?"
"Sederhana saja, itu karena......"
Boktis tidak melanjutkan kata - katanya dan malah berbalik kebelakang melihat istri dan anaknya yang sedang menunggu di depan rumah.
Dimana dari itu saja aku bisa langsung tau alasannya.
"Hmm jadi begitu...baiklah aku mengerti, aku berjanji tidak akan pernah menyuruh mu membunuh orang."
"Apa kau yakin?"
"Yah, lagi pula sejak awal aku memang tidak punya niat untuk menyuruhmu melakukan itu.-
-Selain itu, aku tau TUPXION yang kau miliki itu di ciptakan bukan untuk membunuh orang melainkan TUPXION yang kau miliki itu di ciptakan agar bisa melindungi orang - orang dari bahaya."
GOR yang dengar itu merasa sangat tercengang dan langsung memberikan aku sebuah pujian.
[Nak kau sungguh sangat pintar, tidak seperti masterku yang hanya bisa menggunakan ototnya saja.]
Boktis seolah tidak senang dan lansung menatap GOR dengan tajam.
"GOR apa maksudmu bilang begitu."
[Aku tidak punya maksud apapun. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya bahwa anda ini tidak pernah menggunakan otak anda sama sekali.]
"Woy berhentilah bercanda, begini - begini aku itu kadang juga menggunakan otak ku tau."
[Oh Benarkah? Maaf aku tidak pernah ingat itu.]
"~Kau ini.....!"
Di saat aku lihat mereka berdua sedang ribut entah kenapa aku merasakan bahwa mereka berdua sangat mirip denganku dan PIX sehingga itu membuat aku tertawa.
(Pfft..Sepertinya bukan hanya kita berdua saja yang sering ribut.)
PIX seolah setuju denganku dan menganggukkan kepalanya.
[Anda benar.]
Lalu setelah itu aku menepuk kedua tanganku untuk menghentikan keributan mereka.
"Baiklah itu sudah cukup. Sekarang karena kau(Boktis) sudah setuju untuk membantuku kalau begitu bagaimana kalau kita mulai membicarakan langkah apa yang harus kita lakukan selanjutnya."
"Kau benar, kalau begitu bagaimana kalau kita masuk ke dalam. Lagi pula tidak baik membicarakan nya di luar sini."
Aku menerima tawaran Boktis. Lalu setelah itu Boktis pun membawaku masuk ke dalam rumahnya. Di susul oleh anak dan istrinya yang mengikuti kami dari belakang.
__ADS_1