
Setelah aku di persilahkan untuk masuk, Aku di bawah ke sebuah ruangan. dimana terdapat seorang Pria berumur sekitar 40 tahun sedang duduk di Sofa.
Pria itu mempunyai tubuh ramping dan juga Berotot serta Terdapat sebuah Bekas sayatan di atas matanya.
Ia juga di kelilingi beberapa Pria dengan badan Besar, Salah satu di antara mereka ada juga yang mempunyai Postur tubuh yang hampir dua Kali lipat lebih besar dari Gorila.
Dan saat ini ia berdiri tepat di samping Pria yang duduk di sofa, dimana Pria itu kemungkinan besar adalah Bosnya.
"Kukuku selamat datang di tempat kami, aku sudah dengar semuanya dari Penjaga di luar, namun tidak ku sangka kalau kau ini benar - benar hanya seorang anak kecil.-
-Bocah, aku mengakui nyalimu, karena berani datang kesini sendiri."
Orang itu Mencoba mengintimidasi diriku, tetapi Aku tetap bersikap tenang dan bertanya..
"Memang kenapa? Apa ada masalah?"
"Apa kamu tidak takut di kelilingi beberapa pria dengan badan besar seperti ini?"
"Tidak, malahan aku hanya merasa seperti berada di dalam Kandang di kebun binatang yang di kelilingi para Gorila."
Mendengar hal itu, Semua pria Di ruangan ini menjadi geram dan marah, tanpa kecuali Ketiga Pria yang membawaku ke sini, Contahnya saja si Gorila.
Namun berbeda dengan mereka. Orang itu atau Bos mereka malah terlihat senang sampai - sampai ia tertawa...
"Hahaha Bocah kau ini cukup berani juga. Aku suka denganmu."
"Begitu, tapi maaf aku harus tolak pengakuanmu, karena aku lebih suka Wanita di bandingkan Pria."
Aku mencoba menyindir dia tetapi orang itu tidak marah sama sekali malahan ia tambah senang dan membalas perkataanku dengan senyuman Seringai.
"Heh. Kau bocah yang sungguh menarik."
Guman Orang itu.
Karena tidak ada gunanya berlama - lama di sini, jadi aku menaruk koper itu ke atas meja kemudian menatap Orang itu dengan tajam.
"Kau seharusnya sudah tau kan alasan aku datang ke sini?"
"Yah, kau ingin membayar utang mereka kan?"
"Kalau begitu ambil ini."
Aku dorong koper itu, dimana Koper itu lansung meluncur ke depan sampai akhirnya ia berhenti tepat di hadapan orang itu.
"Di dalam Koper itu terdapat Uang sebanyak 70jt, Sama dengan jumlah utang suami Guruku. Ambil lah, dengan begini utang mereka sudah lunas."
Orang itu tidak lansung membalas perkataanku, melainkan ia mengambil Koper itu dan menyuruh salah satu bawahannya untuk mengeceknya
"Hitunglah."
Bawahan itu mulai membuka Koper tersebut dan mulai menghitung jumlah uang yang ada di dalam.
Lalu tak lama setelah ia menghitung, ia kembali melihat Bosnya dan mengangguk kuat. seolah - olah menunjukkan bahwa Jumlahnya sudah pas.
Melihat itu, orang itu lansung tersenyum, kemudian ia kembali melihatku.
"Bocah, jumlah di dalam koper ini memang sudah sesuai dengan apa yang kau katakan, namun aku ingin tau dari mana Bocah sepertimu bisa mendapatkan uang sebanyak ini?"
Pria itu mencoba menggali informasi dariku, tetapi aku tidak menunjukkan ekspresi apapun dan tetap bersikap tenang.
"Kalau itu kau tidak perlu tau, yang jelas dengan begini utang mereka sudah lunas. Sekarang aku pergi dulu."
Setelah mengatakan itu aku mencoba meninggalkan tempat ini namun tiba - tiba Salah satu orang yang membawaku ke sini menghentikan ku.
__ADS_1
"Bocah tunggu dulu sebentar. Kau belum boleh pergi."
Aku kebingungan dan bertanya..
"Hah, apa maksudmu?"
Namun Pria itu tidak menjawab pertanyaanku dan malah mengabaikanku. Kemudian ia pergi ke Bosnya dan mencoba membisikkan sesuatu ke telinga orang itu.
"........."
Tak lama setelah Pria itu berbisik, orang itu tiba - tiba bibirnya seringai kemudian menatapku dengan tajam.
"Bocah, seperti yang bawahanku katakan, kau belum boleh pergi dari sini, Masih ada yang harus kau bayar."
"Hah! Woy aku sudah bayar utang mereka."
"Bukan mereka yang ku maksud, tapi kamu."
"Aku?"
"Yah, aku dengar kamu masih punya uang di dalam tasmu. Cepat keluarkan itu dan berikan pada bawahanku ini dan juga kedua temannya di sana.-
-Bagaimanapun juga kau itu sudah melukai mereka jadi kau harus membayar mereka untuk uang pengobatan."
Ucap orang itu, dimana Membuat Pria yang berbisik di telingannya dan juga si Gorila merasa senang sampai - sampai mereka mulai tertawa. Kemudian Di ikuti oleh beberapa Pria lainnya di ruangan ini.
Tentu saja itu membuat aku tidak tahan melihat diriku yang di kenal sebagai Manusia paling di takuti di dunia di tertawa seperti ini.
Sehingga aku pun menatap mereka dengan tajam serta di iringi dengan senyuman menyeramkan yang terpancar di bibirku.
"Fufufu sudah lama sekali aku tidak di tertawai bodoh seperti ini."
Gumanku. Lalu saat itulah salah satu Teman Gorila mendekatiku dan mencoba mengambil tasku secara paksa.
"Bocah, kau mungkin bangga karena sudah mengalahkan kami di sana(Apartemen Bu Linda), Namun sekarang kamu tidak bisa bersikap seperti itu lagi.-
Ucapnya. Namun sebelum ia berhasil mengambil tas itu. Dengan suara pelang aku lansung berbisik....
"Brid, Keluarlah."
....Yang dimana Saat itu juga sebuah silauan silet melewati tangan Pria itu dan dalam segejap tangan Pria itu lansung terpotong dan melayang - layang di udara hingga darahnya terus mengalir keluar dan tersebar dimana - mana.
sampai akhirnya tangannya itupun jatuh ke Lantai, dimana membuat ia lansung menjerit kesakitan.
"~ARGHHHHHH!! TANGANKU,...TANGANKUUU!!"
Melihat hal itu semua orang di ruangan ini lansung shock tanpa kecuali Bos mereka.
"A-apa yang barusan terjadi?"
Sesaat ia menanyakan itu, tepat di sampingku tiba - tiba muncul sebuah asap tebal dan dari dalam asap itu keluar Brid dengan pakaian serba hitam serta membawa sebuah Belati yang sudah di lumuri oleh darah dari Pria yang tangannya barusan di potong.
Melihat itu Gorila dan temannya yang satunya lagi lansung kaget, sebab mereka mengenal Brid.
"Ka-Kau kan...bukankah kau orang yang membawa uang itu?"
Tanya Gorila. Kemudian di sambung lagi oleh temannya.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?"
Tanya orang itu, namun Brid mengabaikan mereka dan lebih memilih menanyakan kondisiku.
"Apa anda tidak apa - apa?"
__ADS_1
Tanya Brid.
"Yah, aku tidak apa - apa. Lagi pula Apa Menurutmu orang seperti mereka bisa melukaiku?"
Aku tanya balik, dimana tanpa pikir panjang Brid lansung menjawab dengan tegas.
"Aku rasa tidak."
Lalu kemudian ia melihat ke depan, dimana ia menatap mereka semua dengan tajam serta di iringi dengan aura membunuh yang keluar terus dari tubuhnya.
"Jadi, apa yang harus ku lakukan pada mereka?" Tanya Brid.
"Bunuh semua Bawahannya."
Jawabku. Kemudian Brid bertanya lagi..
"Bagaimana dengan Bosnya?"
"Kalau itu, biar aku yang urus."
Setelah aku mengatakan itu, dalam sekejap Brid lansung hilang dari tempatnya dan muncul tepat di belakang si Gorila, Dimana hanya dalam satu ayunan Kepala Gorila itu lansung terpenggal dan melayang - layang di udara. Sampai akhirnya jatuh tepat di hadapan temannya yang lain.
Melihat hal itu Beberapa dari mereka lansung merasa merinding dan sebagian dari mereka buru - buru mengeluarkan Pistol mereka dan mencoba menembak Brid.
Namun sebelum mereka menekan pelatutnya Brid malah lansung hilang dari tempatnya dan muncul di belakang mereka, dimana membuat mereka semua sangat kaget dan buru - buru berbalik.
Sayangnya sebelum mereka berbalik leher mereka lansung di tebas, yang dimana darah mereka lansung tersembur keluar dan tersebar dimana - mana, sampai - sampai membuat Ruangan ini menjadi kotor.
Melihat hal itu beberapa dari mereka menjerit ketakutan, dan di antara mereka ada juga yang merasa ingin kabur dari tempat itu.
"~~Hiii..."
"~Da-Dasar Monster."
"Woy jangan diam saja cepat tembak dia."
DOR!!...DOOR!!....DORR!!
Tembakan demi tembakan terus di lancarkan ke arah Brid tetapi semua itu berhasil ia hindari dengan kecepatannya.
Apa lagi ia bahkan berhasil melancarkan serangan balik dengan membunuh musuhnya hanya dengan satu ayunan.
____________________________________
_________________________________
Sementara Brid sedang menghabisi para bawahannya, aku naik ke atas meja dan mencoba berjalan mendekati orang itu atau Bos mereka.
Dimana Orang itu berkeringat dingin karena ketakutan.
TAP!!!...TAP!!...TAP!!....(Langkah kaki Leon)
DORRR!!......DOR!!....DOORRR!!
Beberapa Peluru kesasar yang seharusnya di targetkan ke Brid malah melewatiku. namun semua Peluru itu berhasil ku hindari, Hingga akhirnya aku sampai tepat di depan orang itu. Dimana ia terlihat ketakutan, meski begitu ia berusaha tetap tenang dan menatap mataku.
"Ka-kau...tidak, kalian berdua, kalian ini siapa sebenarnya?"
Tanya dia, namun aku tidak lansung menjawab pertanyaannya melainlan Aku lompat turung dari atas meja lalu mengambil Pistol yang di jatuhkan salah satu bawahannya yang udah mati. kemudian aku arahkan Pistol tersebut ke kepala orang itu dan menatapnya dengan tajam.
"Soal itu kau tidak perlu tau. Namun kau harus bangga karena sudah lama sekali tidak ada orang yang membuat aku semarah ini. Karena itulah.....MATILAH!"
Tanpa ada keraguan sedikitpun aku lansung menekan pelatuknya hingga suara tembakan pun terdengar...
__ADS_1
DOOR!!
...Dan Membuat Dahi orang itu lansung jebol sekaligus berdarah, sampai akhirnya ia jatuh ke lantai.