
Keesokan paginya tepat di ruang kelas, di saat sudah waktunya Istirahat. Dari arah Pintu terlihat Rusli dan Lia berjalan masuk ke dalam kelas, dimana mereka berdua menuju ke arah Bangku ku dan juga Sara.
"Sara yuk pergi Ke Kanting?"
Ucap Lia dengan Ekspresi Ceria, Kemudian Sara melihat ke arahnya dan menjawab dengan anggukan.
"Umm."
Setelah itu. Rusli mendekatiku dan menyapaku yang lagi memasukkan buku pelajaranku ke dalam tas.
"Leon, bagaimana denganmu, apa kamu mau ikut juga?"
Di saat Rusli menanyakan itu. aku melihat ke arahnya dan mencoba menjawab...
"Yah, aku i-!!"
'Kut' ingin ucapku, Namun sebelum mengucapkan itu, tiba - tiba Bu Linda menghampiriku dan berkata...
"Leon, apa kau punya waktu sebentar?"
Ketika Bu Linda menanyakan itu, Baik Rusli, Lia, Sara maupun aku lansung melihat ke arahnya, kemudian aku menjawab...
"Eh yaa baru saja aku ingin pergi ke kanting bersama mereka. Memang ada apa?" tanyaku.
"Bukan apa - apa, hanya saja waktu di koridor aku bertemu dengan Bu Nara, ia bilang ia ingin mengecek kondisimu lagi, jadi aku di Suruh untuk membawamu ke Ruang Uks."
Di saat Bu Linda menyebut nama Bu Nara, Sentak membuat wajahku lansung terlihat Pucat dan Tubuhku merasa menggigil.
Sebab, di antara semua wanita yang pernah aku dekati, dialah satu - satunya wanita yang ingin aku hindari.
(Sial, aku pikir setelah kejadian itu, ia sudah menyerah. Tidak kusangkah ia masih menargetkanku.)
Ucapku di dalam Pikiran sambil terlihat Kesal. PIX yang lihat itu lansung membalas dengan Suara datar.
[Master, tidak usah malu - malu begitu. Lagi pula Biasanya kau yang sering menargetkan Wanita, sekarang Wanitalah yang menargetkanmu, bukankah seharusnya kamu merasa sangat senang?]
(Senang dari mananya sialan? Aku memang merasa senang jika Wanita yang menargetkaku itu adalah Wanita Normal, Tapi Orang itu,...Dia Bukanlah Wanita Normal Sama sekali.)
Ucapku di dalam Pikiran, sambil mengingat Kejadian, dimana Bu Nara terus Mencoba menyerangku di Ruang Uks. Yang membuat aku untuk pertama kalinya ketakutan saat di dekati Oleh Wanita.
Namun, tanpa pedulikan itu, PIX lansung tersenyum licik dan membalas..
[Master aku tau kalau ia Bukanlah Wanita Normal, tapi bukankah kamu juga sama.-
-aku pikir kalian bisa jadi pasangan Yang serasi.]
(Cih, Diamlah.)
Di saat aku menyuruh PIX Untuk diam, tanpa pedulikan itu PIX lansung berkata...
[Maafkan aku Master, aku tidak mau diam. Karena aku pikir ini pembicaraan yang sangat menarik untuk di Bahas.-
-sebagai Contoh, seandainya anda menikah dengan Wanita itu dan mempunyai anak. Kira - kira anakmu itu akan jadi seperti apa?-
-apa ia akan jadi predator(Playboy) yang menyerang anak - anak? Atau mungkin-!]
"WOOOOY AKU BILANG DIAMLAH!"
Tanpa sadar aku tidak membentak PIX di dalam Pikiran melainkan keluar dari mulutku secara lansung.
Hingga membuat Rusli, Lia, Sara, maupun Bu Linda lansung kaget dan melihatku dengan bingun.
"Le-Leon, ada apa kau tiba - tiba teriak begitu? Apa kau baik - baik saja?"
Di Saat Bu Linda menanyakan itu dengan ekspresi Khawatir, Aku lansung kembali sadar dan melihat ke arah mereka semua dengan Linglun.
__ADS_1
"Eh, y-yaa aku baik - baik saja."
Ucapku dengan panik, kemudian aku buru - buru mencoba mengganti topik pembicaraan dan berahli ke arah Bu Linda.
"Omong - omong Bu. Bisa kamu beritau Bu Nara kalau Kondisiku baik - baik saja."
"Eh Apa kau yakin?"
Tanya Bu Linda, yang terlihat Cemas.
"Yah."
Jawabku sambil tersenyum. melihat itu Bu Linda memperlihatkan juga senyuman indahnya dan membalas....
"Baiklah, aku mengerti."
Setelah Bu Linda mengucapkan itu, aku pun berahli ke arah Rusli, Lia, Sara dan berkata...
"Kalau begitu, ayo kita pergi."
Sambil mengucapkan itu aku lansung mendorong mereka bertiga keluar dari Kelas dan pergi meninggalkan tempat itu.
____________________________________
_________________________________
Di saat Kami berempat sudah sampai dan sedang makan di salah satu meja Kanting, Aku bisa merasakan beberapa tatapan dari Kakak Kelas yang sedang mengawasiku.
Seolah - olah mereka semua masih mencari tau sesosok orang yang sering melindungiku dari balik bayangan.
Tentu saja itu hanya perkiraan mereka semata, sebab Aku tidak punya sesosok itu sama sekali.
Namun, meski begitu aku benar - benar tidak suka jika di awasi seperti ini terus. Sehingga membuat aku terlihat kesal.
Ucapku di dalam Pikiran sambil mengerutkan dahiku dengan Kesal.
(Sepertinya, aku benar - benar harus cepat mengurus anak - anak itu, supaya aku tidak di awasi seperti ini terus.)
Di saat aku memikirkan itu, tepat di sampingku tiba - tiba Sara memanggilku.
"Leon kau kenapa, diam saja dari tadi?"
Ketika Sara menanyakan itu, Aku kembali sadar dan melihat ke arahnya.
"Tidak, aku tidak apa - apa."
Jawabku.
"Benarkah?"
"Umm."
Jawabku dengan anggukan. Kemudian aku menatap mereka bertiga dan bertanya.
"Omong - omong sepulang sekolah nanti, apa kalian mau pergi ke Warnet?"
Di saat aku menanyakan itu, Tepat di sampingku terlihat wajah Sara lansung berubah Suram, dimana Tubuhnya agak gemetar sedikit sambil menjawab...
"Ma-maaf Leon, aku Rasa hari ini aku tidak bisa ikut."
Ketika Sara mengucapkan itu, Aku lansung melirik ia dengan tenang dan bertanya...
"Apa kau masih takut Dengan anak - anak yang mengganggumu?"
"....."
__ADS_1
Tanpa menjawab apapun, Sara hanya menundukkan kepalanya kebawah. Melihat itu aku lansung mendesah "haaa.." dan mencoba memberitau Sara, apa yang kulakukan pada anak - anak itu kemarin...
"Sara, sebetulnya aku-!!"
Namun sebelum aku selesai memberitau Sara, dari belakang tiba - tiba seseorang megenggam pundakku. Hingga membuat aku kaget dan melihat ke arahnya.
"Leon, jadi kamu di sini yah."
Ucapnya sambil tersenyun. Dimana ia tidak lain adalah Bu Nara.
Mengetaui itu sentak membuat aku lansung shock dan membeku. Sebab aku tidak pernah menyangkah ia akan mencariku sampai di sini.
"Bu~Bu Nara, apa yang kau lakukan di sini?"
"Um! Yah aku hanya ingin tau saja, apa kau benar - benar baik - baik saja tau tidak."
Jawab Bu Nara sambil bersikap dewasa.
Namun jangan pikir aku tertipu dengan Sikapmu itu, sebab aku tau Jelas kau wanita seperti apa.
Di saat aku memikirkan itu, aku menatap Bu Nara dan mencoba membalas Ucapannya barusan.
"Se-Seperti yang kamu Lihat, aku baik - baik saja."
"Benarkah?"
Di saat Bu Nara menanyakan itu, Ia mencoba mendekatkan wajahnya di wajahku hingga membuat aku pucat dan lansung mundur sedikit ke belakang.
Dimana tanpa sengaja aku menabrak badan Sara yang duduk di sampingku.
"Le-leon, apa yang kau lakukan?"
Tanya Sara yang sedikit kaget.
"Ma-maaf aku tidak sengaja."
Ucapku sambil mencoba memperbaiki posisi dudukku kembali, kemudian aku mencoba menenangkan diriku.
Di sisi lain, Bu Nara yang melihat aku merasa Lega lansung tersenyum Licik dan berkata..
"Leon, kamu bilang kamu baik - baik saja, tapi kenapa Wajahmu Sangat Pucat?"
(WOY AKU PUCAT BEGINI, GARA - GARA KAU TAU.)
Aku ingin membentaknya seperti itu, tapi aku hentikan lansung. Sebab bagaimana pun juga ia tetaplah perawat di sekolah ini, jadi sebagai Murid aku harus tetap menghormatinya.
Di saat aku memikirkan itu, tanpa aku sadari tiba - tiba Bu Nara mengenggam tanganku, hingga membuat aku kaget..
"Uwahh, apa yang kau lakukan?"
"Ayo ikut aku. Di lihat dari wajahmu yang Pucat, aku yakin kau masih kesakitan kan?"
"Ti-tidak, aku-!!"
Sebelum aku selesai Bicara, Bu Nara lansung menarik Tanganku dan mulai menyeretku keluar dari Kanting.
"Oi lepaskan aku."
"Tidak usah banyak bicara, ayo ke Uks aku akan merawatmu di sana."
"SUDAH KU BILANG AKU TIDAK APA - APA."
Ucapku dengan keras, dimana membuat para murid yang tengah makan di kanting lansung kaget dan melihat ke kami.
Namun, tanpa pedulikan tatapan mereka, Bu Nara terus menyeretku keluar, Hingga akhirnya aku di bawah pergi olehnya.
__ADS_1