
Di saat kami baru saja mau meninggalkan tempat itu, tiba - tiba Reyna memanggilku..."Nak, tunggu dulu sebentar."...Yang dimana membuat aku lansung berbalik ke belakang dan melihat ke arahnya.
"Ada apa? Apa kau masih punya urusan denganku?"
"Yah, bukankah tadi kamu bilang ingin menciumku?"
"Oh setelah di pikir - pikir itu benar juga."
Aku buru - buru mendekati Reyna dan mencoba mencium pipinya tetapi ia lansung menahan mulutku yang dimana membuat aku sedikit kesal dan bertanya..
"Apa yang kau lakukan? Cepat jauhkan tanganmu dari situ."
"Tidak, kamu belum boleh menciumku dulu."
"Kenapa?"
"Itu karena masih ada satu hal yang belum kau beritaukan padaku."
"Apa?"
"Ini Soal kau yang menggunakan cara yang mirip dengan yang kami gunakan.-
-Dari yang aku lihat, di tempat ini hanya ada dua orang saja yang kamu kenal, dia(Brid) dan juga Pria kurus itu.-
-Namun, sejak permainan berlansung mereka berdua berada terus di dekatmu dan mereka juga tidak pernah sekalipun pergi ke belakang kami. Kalau begitu bagaimana kau bisa tau kartu apa yang kami miliki?"
Reyna terlihat sangat kebingungan, bukan hanya dia Genus dan orang - orang sekitarpun merasakan hal yang sama.
Ya itu tak bisa di pungkiri sih, lagi pula untuk menggunakan Cara curang yang sama seperti mereka setidaknya aku memerlukan bantuan Brid untuk pergi ke bekakang mereka agar bisa memberitaukan kartu apa yang mereka miliki.
Namun seperti yang kamu tau aku tidak pernah melakukan hal itu, kalau begitu, bagaimana aku bisa mengetaui kartu mereka? Jawabannya gampang, aku menggunakan cara yang sedikit berbeda dengan mereka, yaitu...
Aku tidak menggunakan manusia seperti yang mereka lakukan, melainkan aku menggunkan benda sekitar untuk membantuku mengetaui kartu apa yang mereka miliki. Benar contohnya saja....
SESUATU YANG DI PAKAI PRIA YANG BERDIRI TEPAT DI BELAKANG REYNA.
"Kakak cantik, sepertinya kamu telah salah paham."
Mendengar hal itu, sontak membuat Reyna merasa kebingungan dan bertanya..
"Salah paham? Apa maksudmu?"
"Memang benar tadi aku bilang kalau aku menggunakan cara yang mirip dengan kalian, tapi aku tidak pernah bilang kalau aku menggunakan mereka(Brid, Suami Bu Linda) untuk membantuku."
"Ka-Kalau begitu, bagaimana kamu bisa mengetaui kartu kami?"
"Tentu saja aku mengetauinya lewat Kacamata."
Jawabku lansung, sambil mengetuk kelopak mataku menggunkan jari telunjuk.
"Kacamata?" tanya lagi Reyna.
__ADS_1
"Yah. Dari pantulan kacamata pria di sana, aku bisa mengetaui kartu apa yang kau miliki."
Ucapku sambil mengalihkan pandanganku ke arah Pria yang sejak tadi berdiri terus di belakang kursi Reyna. Dimana Pria itu tidak lain adalah pengawalnya sendiri Reyna.
Bukan hanya Reyna saja, tapi aku juga melakukan hal yang sama kepada Genus.
Setelah mengetaui itu, Sontak saja itu membuat Reyna merasa sangat shock, sebab di lihat dari manapun tidak mungkin seseorang bisa melihat kartunya dari pantulan kacamata itu, apa lagi jika di perhatikan baik - baik itu sangat kecil untuk bisa di lihat oleh mata Manusia.
(Kalau begitu. Bagimana anak ini bisa melakukannya?)
Sementara Reyna memikirkan itu, tiba - tiba aku menarik kerah bajunya ke bawah. dimana membuat Ia kaget.
"Apa!! nak, apa yang kau laku-!!"
Reyna mencoba memarahiku. Namun dengan cepat aku lansung mecium pipinya yang dimana membuat wajahnya memerah dan buru - buru menjauh dariku.
"DASAR ANAK KURANG AJAR, BERANI - BERANINYA KAU MELAKUKAN ITU PADAKU?"
"Memang kenapa? Bukankah kau sendiri yang bilang tadi, setelah aku jawab semua pertanyaanmu maka kau akan membiarkan aku mencium mu."
"Meski begitu tetap saja kamu tidak bisa melakukan itu secara tiba - tiba. Apa kamu tidak tau, setidaknya Wanita itu membutuhkan persiapan untuk melakukan itu."
"Persiapan?"
Awalnya aku sedikit kebingungan. Namun setelah aku mengerti, aku lansung tersenyum licik dan mencoba menggodanya.
"Hmm jadi begitu, aku mengerti sekarang, kau jangan bilang kau merasa malu di cium olehku?"
"Huh, apa - apaan yang kau katakan itu, mana mungkin aku merasa malu di cium oleh anak kecil sepertimu."
"Oh benarkah? Kalau begitu apa mau aku cium sekali lagi?"
"Ka~Kamu,...."
Reyna merasa sangat kesal dan mencoba mengatakan sesuatu padaku tetapi ia lansung hentikan, sebab ia merasa malu saat mengetaui aku tidak bohong sama sekali dan benar - benar ingin menciumnya lagi.
Tentu saja itu membuat Reyna tersipu malu dan buru - buru memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Da~Dasar anak nakal, Sudah cukup cepat pergi saja sana, aku tidak ingin bicara denganmu lagi."
"Yaa udah, kalau begitu aku permisi dulu."
Setelah mengatakan itu, aku dan Brid lansung menyeret Pria itu(Suami Bu Linda) keluar dari tempat itu.
_____________________________________
_________________________________
Setelah kami keluar, di sisi lain terlihat Genus tiba - tiba tertawa dengan cukup keras, sampai - sampai membuat orang - orang di sekitarnya kaget dan lansung melihat ke arahnya, tanpa kecuali Reyna.
"Pria tua, apa yang tiba - tiba kau tertawakan?" Tanya Reyna.
__ADS_1
"Hah maaf, aku hanya merasa senang. bukankah menurutmu Bocah itu sangat menarik?"
"Apa! Menarik? Jangan bercanda, dia itu hanya Anak nakal yang suka menjahili orang dewasa, apanya yang menarik dari itu?"
"Hahaha tidak usah bohong begitu, aku tau kau sedikit tertarik dengan bocah itu kan?"
Tanya Genus, dimana Reyna hanya diam saja, seolah tidak menyangkalnya. Lalu kemudian ia memanggil pengawalnya.
"Barof."
"Yah, ada apa Nyonya?"
"Kau...Cepat pergi cari tau semua informasi soal anak itu."
Mendengar hal itu, sontak membuat pengawalnya atau Borof sedikit terkejut dan bertanya..
"Eh, Nyonya apa anda yakin, bukankan anda membenci anak itu?"
"Tidak usah banyak tanya, cepat pergi sana."
"Ba-Baik."
Barof buru - buru berlari keluar dan meninggalkan Reyna yang sedang tertawa Licik di sana.
"Fufufu Nak, jangan pikir ini sudah berakhir, akan ku pastikan kau tidak akan bisa lolos dariku." Guman Reyna.
____________________________________
_________________________________
Sementara itu, di waktu bersamaan, setelah kami keluar dari bar, kami lansung membawa pria itu(Suami Bu Linda) ke sebuah Lorong sempik dan Gelap, dimana tak seorangpun ada di sana.
Kami dorong pria itu masuk ke dalam lorong, dimana membuat ia lansung
Terjatuh.
"~Aghhhi,..~woy itu sakit sialan."
"Tidak usah banyak omong. Mulai sekarang sebaiknya kau persiapkan saja dirimu."
"Eh bersiap? Apa?"
Sementara pria itu merasa kebingungan, aku tanpa ampun lansung menendang Wajahnya hingga membuat ia terhempas jauh lebih masuk lagi ke dalam Lorong.
"~UGHHH!! DASAR BOCAH SIALAN, APA YANG TIBA - TIBA KAU LAKUKAN?"
Pria itu terlihat sangat marah, namun aku mengabaikannya dan lansung menarik rambutnya kemudian aku hantam wajahnya lagi menggunakan lututku, yang dimana membuat Hidung ia lansung darah.
"~UGHHH BOCAH BERANI - BERANINYA KAU MELAKUKAN INI PADAKU, APA KAU PIKIR AKU AKAN DIAM SAJA!!"
Pria itu mencoba melawan balik, namun sayangnya ia sangat lemah, sampai - sampai aku merasa bosan menghindari Setiap pukulannya.
__ADS_1
Sampai akhirnya aku pun menjatuhkan ia dan duduk di atasnya, kemudian aku secara terus - menerus memukul wajahnya hingga membuat ia babak belur.
Meski begitu aku tak berhenti dan terus memukul wajahnya. sebab ini adalah balasan dari semua perbuatan yang telah ia lakukan pada dia(Bu Linda).