BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
BERMAIN GAME


__ADS_3

"Leon akhirnya kamu datang juga, silahkan masuk, mereka sudah menunggumu di dalam." ucap Bu Linda.


"Mereka?"


Awalnya aku kebingungan. Namun di saat aku masuk ke dalam dan menuju ke ruang tamu aku melihat ternyata yang menungguku adalah ke lima gadis yang ikut dengan kami kemarin.


Mereka sepertinya sedang asik main Game COD bersama dengan Kana.


"Tidak ku sangka ternyata kalian datang juga ke sini."


"Oh Leon akhirnya kamu datang juga, cepat kesini."


Salah satu gadis bernama Nadia dengan Rambut Ponytail menarik tanganku dan menyeretku ke tempat mereka. Dimana ia memaksaku untuk duduk lalu menyerahkan controllers nya padaku.


Aku kebingungan dan bertanya - tanya...


"Apa ini?"


"Seperti yang kamu lihat, sejak tadi kita kalah terus dan tidak pernah menang, di tambah lagi player Norden103 ini terus saja mengincar kami. Karena itulah kami ingin kau balaskan dendam kami dan habis player ini."


Ucap Nadia, kemudlia di sambung lagi oleh Kana.


"Itu benar Kak Leon, aku tidak suka orang ini. Orang ini sering kali mengincar kami. Aku ingin sekali mengalahkannya tapi...."


Kana terlihat kesal sekaligus sedih. Melihatnya saja aku bisa lansung tau apa yang terjadi.


"Hmm aku mengerti, tapi boleh aku tau kenapa harus aku?"


Ketika aku menanyakan itu, si gadis ke2 bernama Feby dengan pony yang di sisir kebelakang lansung jawab..


"Itu karena Lia sering cerita kalau kamu sangat hebat dalam bermain game apa lagi tembak - tembak, jadi kami memutuskan menyerahkan masalah ini padamu."


"Hmm begitu, omong - omong apa kau dekat dengan Lia?"


"Tidak terlalu, kami hanya teman Chattingan di Grup, itu saja."


(Grup?)


Aku penasaran Grup apa itu. Namun aku rasa bukan saatnya untuk bertanya soal itu, yang lebih penting....


(Apa yang harus ku lakukan? Tidak mungkin aku bisa menolak permintaan mereka ketika mereka menunjukkan wajah memohon begitu padaku.)


"Jadi Leon, apa kamu mau menerima permintaan kami?"


"Haaa baiklah akan ku terima. Akan ku balaskan dendam kalian."


"Yeaah!"


Kana merasa sangat senang sampai - sampai ia loncat ke arahku dan memelukku lalu mencium pipiku.


"Makasih Kak Leon."


"Terlalu cepat bagimu berterima kasih padaku. Kita belum tau hasilnya."


"Tenang saja, aku tau Kak Leon pasti bisa menang."


"Kamu ini benar - benar deh. Tapi karena kau sudah berkata begitu jadi sepertinya aku memang harus menang."


Aku mulai bermain, dimana aku memilih memakai senjata Snaiper. Tentu saja hal itu membuat Nadia kebingungan dan bertanya - tanya...


"Leon, kenapa kamu memakai Snaiper, bukankah Game beginian biasannya lebih baik menggunakan Senjata Rifles, Shotguns atau Machine Guns?"


"Ooh kau tau banyak juga soal senjata. Yaa Itu tergantung orangnya sih. Kalau aku lebih suka memakai Snaiper karena sekali tembak musuhnya lansung mati."


"Tapi kamu juga gampang di bunuhkan?"


"Itu benar. Karena itulah kau hanya perlu hati - hati dan menjaga jarak dari musuhmu, agar musuhmu kesulitan menembakmu." jawabku.


Lalu di saat permainan sudah di mulai aku mencoba meminjam Headphone yang di pakai Kana.

__ADS_1


"Kana Boleh aku pinjam itu."


"Headphone? Um, tentu saja ini."


"Makasih."


Setelah aku mendapatkan Headphone Kana, aku memakainya dan mulai mencoba mendengarkan setiap langkah kaki musuhku. Tidak lupa aku juga menajamkan indra pendengaranku agar mudah mengetaui posisi mereka.


(Baiklah, karena ini pertama kalinya bagiku memainkan game ini, jadi pertama - tama aku harus mencari tau dulu setiap medan tempat ini.)


"Sepertinya aku harus mencari tempat yang tinggi." Gumanku.


Aku mulai berjalan sambil memperhatikan sekitar. Lalu di saat aku baru saja mau masuk ke dalam sebuah bangunan aku mendengar langkah kaki di belakangku.


Dengan cepat aku masuk ke sebuah ruangan dan bersembunyi di balik tembok. Kemudian aku mengintip keluar dan melihat ada tiga musuh di depanku.


Aku melepaskan sebuah tembakan dan berhasil membunuh salah satu dari mereka. Sedangkan dua lainnya, mereka mencoba mengejarku.


Aku membuang Granat di tempat aku berdiri, lalu aku berlari keluar lewat jendela.


Dan di saat kedua musuhku itu masuk ke dalam ruangan, granat yang ku lempar tadi lansung meledak yang mengakibatkan mereka berdua mati seketika.


Melihat caraku bermain barusan membuat para gadis itu merasa terkesan. Bahkan Kana sampai kegirangan di pangkuanku.


"Lihat - lihat, debgan cepat Kak Leon berhasil membunuh 3 musuh. Sudah kuduga Kak Leon memang hebat."


"Kana ini terlalu cepat bagimu untuk senang. Kita masih belum menghabisi player Norden103."


"Hah itu benar. Kalau begitu Kak Leon cepat cari dia dan habisi dia, kalau bisa beri dia pelajaran agar ia kapok."


"Siap bos."


Setelah aku berhasil sampai di atap bangunan, aku melihat 2 teman satu timku.


Karena aku pemain solo jadi aku memilih menjauhi mereka dan melihat area sekitar. Dimana aku mencoba mencari tempat yang pas untuk menembak.


Di dekat pelabuan aku melihat sebuah Crane, alat untuk mengangkut barang berat.


Dengan cepat aku turung ke bawah dan mencoba pergi ke sana.


Di tengah perjalanan, aku beberapa kali bertemu dengan musuhku namun mereka semua berhasil ku bunuh dengan sekali tembakan.


Melihat caraku bermain membuat Feby merasa sangat terkesan.


(Lia, ini bukan hebat lagi namanya, tapi dia sudah seperti pro player.) pikir Feby.


Setelah beberapa saat aku berlari tak lama kemudian akhirnya aku sampai juga. Dimana aku lansung naik ke atas dan pergi ke paling ujung Crane.


"Yosh, waktunya kita cari player Norden103."


Aku mengeker seluruh area, dan tak butuh waktu lama aku berhasil menemukan player Norden103.


Dari jarak yang cukup jauh aku melepaskan sebuah tembakan yang mana mengenai tepat di kepalanya.


Melihat hal itu Kana dan para gadis menjadi senang.


"Bagus Leon, kau berhasil membunuhnya." ucap Nadia.


"Kak Leon Lakukan lagi."


Karena Kana bilang begitu jadi aku terus mencari player Norden103 dan membunuhnya, apa lagi aku bunuh ia sebelum ia berhasil kembali bermain.


Tentu saja hal itu membuat ia marah. Dan seperti yang aku pikirkan beberapa detik kemudian aku mendapatkan pesan dari dia yang bertuliskan.....



Bukannya marah atau apa, kami semua malah tertawa melihat pesan itu.


"Hahaha dia marah, dia marah."

__ADS_1


Ucap Nadia.


"Tentu sajalah dia marah, kalau aku berada di posisi dia aku pasti sudah membanting controllersku." ucap Feby.


"Kak Leon, jangan diam saja cepat balas pesannya." ucap Kana.


"Ya - ya aku tau."


Lalu aku pun membalas pesannya...



Beberapa detik kemudian pesan dari dia datang lagi...




<😬😬😬>


-Oh iya omong - omong aku lihat kepalamu tadi mengintip di balik jendela, aku tembak ya.>Dengan cepat aku melepaskan tembakan, yang dimana mengenai tepat sasaran.Aku terus mendapatkan pesan dari dia tapi aku mengabaikannya dan terus membunuh ia sampai pada akhirnya aku mendepatkan notifikasi bahwa player Norden103 telah keluar dalam permainan."Hah dia keluar."Gumanku."Hahahaha aku yakin ia pasti sangat kesal sampai tidak tahan bermain lagi."Ucap Feby, dimana Nadia yang sependapat dengannya lansung mengangguk."Um, aku setuju."Lalu tak lama kemudian permainannya pun berakhir, dimana di menangkan oleh timku, di tambah lagi aku juga yang mendapatkan MVP.Melihat hal itu Kana merasa sangat senang sampai - sampai ia loncat - loncat dan memelukku."Kak Leon menang, Kak Leon memang hebat.""Sudah cukup Kana, kau membuatku malu."Aku membalas dengan nada bercanda, yang dimana membuat semua orang tertawa dengan bahagia.Lalu saat itulah aku baru ingat bahwa aku ke sini untuk memberikan mereka cemilan yang ku beli tadi di super market.Jadi aku pun mengambil tiga kantong yang bersikan cemilan dan Es krim lalu ku berikan pada anak - anak itu."Oh iya ini, tadi aku singgah ke super market. Ambillah yang kalian mau.""Benarkah? Makasih banyak Leon."Ucap Nadia."Leon kau baik sekali. Sepertinya selama ini aku telah salah menilaimu.""Aku anggap itu sebagai pujian."Balasku.Lalu setelah itu kami mulai menghabishkan cemilan kami. kemudian kami melanjutkan lagi permainan.


-Oh iya omong - omong aku lihat kepalamu tadi mengintip di balik jendela, aku tembak ya.>



Dengan cepat aku melepaskan tembakan, yang dimana mengenai tepat sasaran.



Aku terus mendapatkan pesan dari dia tapi aku mengabaikannya dan terus membunuh ia sampai pada akhirnya aku mendepatkan notifikasi bahwa player Norden103 telah keluar dalam permainan.


"Hah dia keluar."


Gumanku.


"Hahahaha aku yakin ia pasti sangat kesal sampai tidak tahan bermain lagi."


Ucap Feby, dimana Nadia yang sependapat dengannya lansung mengangguk.


"Um, aku setuju."


Lalu tak lama kemudian permainannya pun berakhir, dimana di menangkan oleh timku, di tambah lagi aku juga yang mendapatkan MVP.


Melihat hal itu Kana merasa sangat senang sampai - sampai ia loncat - loncat dan memelukku.


"Kak Leon menang, Kak Leon memang hebat."


"Sudah cukup Kana, kau membuatku malu."


Aku membalas dengan nada bercanda, yang dimana membuat semua orang tertawa dengan bahagia.


Lalu saat itulah aku baru ingat bahwa aku ke sini untuk memberikan mereka cemilan yang ku beli tadi di super market.


Jadi aku pun mengambil tiga kantong yang bersikan cemilan dan Es krim lalu ku berikan pada anak - anak itu.


"Oh iya ini, tadi aku singgah ke super market. Ambillah yang kalian mau."


"Benarkah? Makasih banyak Leon."


Ucap Nadia.


"Leon kau baik sekali. Sepertinya selama ini aku telah salah menilaimu."


"Aku anggap itu sebagai pujian."


Balasku.


Lalu setelah itu kami mulai menghabishkan cemilan kami. kemudian kami melanjutkan lagi permainan.

__ADS_1


__ADS_2