BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
AKU HARUS KABUR DARI SINI.


__ADS_3

Luis yang sedang pingsan, perlahan mulai mendapatkan kesadarannya kembali, dimana ia merasa tangan dan kakinya sedang terikat.


Ia juga merasa kalau ia sedang tiduran di tempat yang Sempit dan juga gelap, dimana ia di kelilingi oleh Tanah.


"~umm ini,...aku ada di mana?"


Di saat Luis menanyakan itu, ia mencoba melihat sekeliling dan menyadari kalau ia saat ini terbaring di sebuah Lubang Kuburan.


Dimana Lubang tersebut di lindungi oleh sebuah Tenda di atasnya agar Air Hujan tidak masuk ke dalam Lubang.


(Tenda?....Baguslah, jika tenda itu tidak ada, bisa - bisa kami mati konyol, tenggelam di bawah sini.)


Pikir Luis. Kemudian ia mencoba melihat ke arah samping, dimana Felik masih tidak sadarkan diri di sebelahnya.


"Cih, Felik!...Woy bangun, Cepat bangun."


Ketika Luis mencoba membangunkan Felik. Perlahan mata Felik mulai terbuka dan melihat ke arah Luis.


"~uhmm,...Oh Luis, ada apa berisik - berisik?"


"Berisik palamu, Cepat menepi sedikit sana, aku mau bangun."


Ucap Luis dimana ia tidak bisa bangun karena terjepit di antara Felik dan Lubang yang sempit, sehingga membuatnya susah untuk bangun.


"Menepi?...omong - omong kita ada dimana?"


Mengabaikan perkataan Luis, Felik malah bertanya balik dan membuat Luis sedikit jengkel.


"Tsh, Apa kau tidak lihat, kita sekarang berada di Lubang kuburan."


"Lubang Kuburan? A-Apa yang kita lakukan di sini?" tanya Felik yang terlihat panik.


"Dasar tolol bukankah sudah jelas, Bocah itu mau mengubur kita Hidup - hidup."


"APA, MENGUBUR KITA HIDUP - HIDUP? KALAU BEGITU KITA HARUS CEPAT KELUAR DARI SINI."


"Makanya aku menyurumu menepi tolol,..Cepat minggir sedikit sana."


"Ba-Baik aku menger-!!"


Sebelum Felik selesai membalas dari atas tiba - tiba terdengar Suara yang lagi berkata....


"Aku pikir ada apa ribut - ribut, ternyata kalian Sudah sadar."


Saat Luis mencoba melihat ke arah Sana, di situ ia melihat Aku(Leon) sedang duduk di atas Lubang, sambil menatap mereka(Luis, Felik) yang lagi tiduran di bawah.


"Ka~Kau...DASAR BOCAH SIALAN, APA LAGI YANG INGIN KAU LAKUKAN?"


Tanya Luis sambil menatapku dengan sangat marah, namun tanpa pedulikan itu, aku dengan tenang membalas...


"Bukankah kamu sendiri sudah sadar kalau saat ini aku berniat mengubur kalian."


Ucapku, kemudian aku menambahkan....


"tapi, bukan hanya itu saja yang ingin ku lakukan, karena sebelum aku mengubur kalian, ada satu hal yang ingin ku lakukan terlebih dahulu."


"A~Apa yang ingin kamu lakukan?"


Tanya Felik yang merasa gelisah.


"Tidak usah setakut itu, aku hanya ingin kalian merasakan...SALAH SATU KEMATIAN YANG PALING MENYAKITKAN DI DUNIA INI."


Ucapku dengan nada tenang namun Tajam. Dimana membuat Luis dan Felik yang dengar itu lansung terlihat Suram dan waspada denganku.


"Ka~Kau,..Apa maksudmu bilang begitu?" Tanya Luis.


"Apa kau belum sadar, coba kau cium baik - baik baju dan sekeliling kalian. Kira - kira apa yang kalian dapatkan?"


Pada saat aku mengatakan itu, Baik Luis dan Felik mulai mencoba mencium baju dan sekeliling mereka. Dimana mereka mencium sesuatu yang membuat mata mereka lansung melebar karena terkejut.


"I-Ini kan bau Bensin,...Kau, jangan bilang...."


"BENAR, AKU AKAN MEMBAKAR KALIAN HIDUP - HIDUP DI SINI."

__ADS_1


Ucapku sambil kilatan Petir menerangi wajahku, dimana tatapanku terlihat sangat tajam, seolah menembus hati mereka.


__________________________________


______________________________


Sementara itu di tempat Bulan. Disana Terlihat Bulan sedang bersandar di sudut ruangan sambil Duduk di tanah, dimana ia berhadapan lansung dengan Erina yang masih terikat di Tiang ruang tengah.


(~Ughh...Sial, jariku masih sakit.)


Pikir Erina sambil menahan rasa sakit dari Jarinya yang di patahkan oleh Leon. Kemudian ia berahli ke arah Bulan dan menatap Bulan dengan tatapan jijik.


"Jadi Bulan, bagaimana perasaanmu melihat kami di siksa tadi, apa kau merasa senang?"


Di saat Erina menanyakan itu, Bulan tidak menjawab apapun dan hanya diam saja dan menundukkan kepalanya terus ke arah bawah...


Melihat itu Erina lansung mengerutkan dahinya dan terlihat sangat kesal.


"Bulan apa kau tidak dengar...AKU TANYA APA KAU SENANG MELIHAT KAMI DI SIKSA TADI?"


"......"


"WOY JANGAN MUNUNDUK SAJA TERUS DI SITU, CEPAT JAWAB SIALAN."


"a~aku,....aku minta maaf."


Mendengar jawaban Bulan, membuat mata Erina lansung menyipit dengan tajam..


"Apa kau bilang, minta maaf? jangan bercanda sialan....-


-APA KAU TAU BAGAIMANA RASANYA SAAT JARIMU DI PATAHKAN ATAU KUKUMU DI CABUT? TENTU SAJA TIDAK KAN? DAN KAU MALAH HANYA INGIN BILANG MINTA MAAF."


Ucap Erina yang terlihat sangat marah sampai - sampai tatapannya seperti memancarkan aura membunuh.


Seolah tidak sanggup dengan tatapan Erina yang seperti itu, Bulan lansung mengalihkan pandangannya ke arah Lain, dimana ia mencoba mengabaikan Erina.


"......."


Setelah beberapa saat Erina menatap Bulan, tak lama kemudian ia menghela nafas untuk menenangkan dirinya.


Yang dimana adegan Tersebut membuat Erina untuk sesaat terlihat senang dan juga Kaget dengan tindakan yang di lakukan Bulan saat itu.


"Bulan."


Pada saat Erina memanggil Bulan, Bulan perlahan melirik Erina, dimana Erina menatap Lurus Bulan dan bertanya....


"Kau,....kenapa kau membantuku tadi?"


"Eh!"


"Kau pasti taukan, jika kau mencoba membantuku, kau akan di Bunuh sama si Psikopat itu. Jadi kenapa kau tetap melakukan itu?"


"A-Aku...."


Seolah Bulan kesusahan menjawab. untuk sementara ia menutup mulutnya rapat - rapat dan terdiam "...." namun beberapa detik kemudian ia menatap Erina dengan tegas dan menjawab...


"Itu karena....kau adalah Sahabatku."


"APA!"


Mengabaikan keterkejutan Erina, Bulan melanjutkan lagi....


"Erina, kau pasti taukan kalau Endru masih di rawat di ruang ICU?"


"Tentu saja aku tau."


Jawab Erina.


"Nah, kamu mungkin tidak percaya, tapi waktu Leon mau merencanakan untuk menangkap kalian, ia tidak pernah sekalipun menanyakan keberadaan Endru, bahkan tempat ia di rawat."


Erina yang dengar itu terlihat kebingungan, sehingga ia mencoba bertanya...


"Bulan, apa yang ingin kau katakan?"

__ADS_1


"Yang ingin ku katakan adalah, Sejak awal Leon sudah tidak berniat menargetkan Endru melainakan hanya kalian bertiga saja."


Erina yang dengar itu terlihat sangat terkejut sebab Endru adalah orang yang sering menyiksa dan memukul Leon bersama Felik, jadi bagaimana bisa dia tidak di targetkan?


Erina bisa mengerti jika itu adalah Bulan, karena Bulan tidak pernah sekalipun membuli atau memukul Leon. Bahkan waktu kejadian itu pun ia tidak memukul Kakaknya(Si Siska), jadi bagaimana bisa Endru tidak di target kan?


Seolah tau apa yang di pikirkan Erina, Bulan lansung berkata....


"Kamu pasti berpikir, bagaimana Endru bisa tidak di targetkan kan? Alasannya gampang, itu karena Leon sudah membalas apa yang Endru perbuat."


Erina yang tidak mengerti dengan ucapan Bulan mencoba bertanya lagi....


"Apa maksudmu?"


"Dari apa yang ku amati selama ini, Leon adalah anak yang akan membalas Orang yang sudah menyakiti dirinya dan juga orang terdekatnya-


-terlebih lagi ia juga tidak membalas dengan setimpal melainkan Berkali - kali lipap, Seperti yang ia lakukan kepada anak berandalan itu."


(Hmm...Itulah sebabnya kami di siksa seperti ini.)


Pikir Erina setelah mendengar penjelasan Bulan. Namun tidak berhenti sampai di situ Bulan melanjutkan lagi..


"Alasan kenapa Endru tidak di targetkan itu karena seperti yang ku katakan tadi, ia sudah di balas Oleh Leon waktu kejadian itu, makanya ia di lepaskan."


Di saat Erina mendengar itu, ia ingat kejadian waktu di Lorong, dimana Leon terus memukul Endru menggunakan Balok yang di ujungnya terdapat sebuah paku.


Dimana paku tersebut terus melubangi dan melukai setiap bagian Tubuh Endru. Mulai dari kepala, pundak, kaki hingga tangannya.


Sampai - sampai Endru harus di rawat di ruang ICU Hingga sampai saat ini.


Mengingatnya saja membuat Erina merasa merinding. Namun saat itu juga tiba - tiba Ia seperti menyadari sesuatu dan buru - buru melihat Bulan...


"Bulan tunggu dulu, jika apa yang kamu katakan benar...itu berarti alasan kau menolongku setelah tanganku di sakiti...."


"Yah,...Agar Leon mau melepaskanmu."


Jawab lansung Bulan dengan suara Pelang namun tegas. Kemudian ia lanjutkan lagi....


"Karena jika aku menolongmu saat itu sebelum Leon membalas perbuatan yang sudah kau perbuat kepada Kakaknya, maka sudah pasti ia tidak akan melepaskanmu.-


-itulah sebabya, aku biarkan Leon menyakitimu terlebih dahulu kemudian menolongmu supaya..."


"Ia melepaskanku, seperti yang ia lakukan kepada Endru."


Sambung lansung Erina, dimana Bulan membalasnya dengan anggukkan.


"Umm!!..Selain itu-!!"


Sesaat Bulan ingin mengatakan sesuatu. tiba - tiba pandangannya terlihat kabur dan merasa sangat ngantuk.


(A-ada apa ini, kenapa aku tiba - tiba ngantuk?..apa aku terlalu memaksakan diriku?) pikir Bulan.


Sementara itu, Erina yang menyadari kondisi Bulan yang terlihat sedikit aneh mencoba bertanya...


"Oi, kau kenapa, apa kau baik - baik saja?"


Namun, sebelum Bulan membalas perkataan Erina, ia lansung terjatuh dan tidak sadarkan diri di sana.


Erina yang lihat itu untuk sementara hanya terdiam dan menatap terus Bulan.


"......"


Namun beberapa detik kemudian, Tiba - tiba Bibir Erina melengkun seperti Bulan sabit sambil menatap Bulan dengan tatapan Tajam, dimana ia berkata...


"Akhirnya kau tidur juga, Sekarang....."


Sesaat Erina Berhenti ia mencoba melihat ke arah Belakang, dimana di situ terdapat sebuah Pisau kecil tidak jauh darinya.


Dimana Pisau tersebut tidak lain adalah Pisau kecil yang di Gunakan Leon waktu memotong tali yang mengikat tangan Luis dan Felik, Yang tanpa Sengaja ia jatuhkan.


Tanpa menunggu lama Erina lansung mengambil pisau tersebut. Setelah ia dapatkan ia terlihat senang dan mulai memotong Tali yang mengikat tangannya di belakang.


(Bagus, sebelum ia(Leon) Datang, aku harus cepat pergi dari sini. jika tidak, aku tidak tau lagi apa yang akan ia lakukan?)

__ADS_1


Pikir Erina dimana keringat Dingin terus menetes di wajahnya saat memoting tali tersebut.


__ADS_2