BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
HUBUNGAN KITA BUKAN HANYA SEKEDAR ITU SAJA


__ADS_3

Di sebuah apartemen sederhana tepatnya di lantai dua. Di sana terdapat seorang anak yang sedang mencoba membuka pintu di salah satu Ruangan yang ada di lantai dua.


Dimana anak itu tidak lain adalah Kana.


Setelah pintu itu terbuka Kana pun berjalan masuk ke dalam diikuti oleh beberapa anak di belakannya yaitu aku, Rezvan dan Haira.


"Aku pulang."


Kana berlari masuk ke dalam dan pergi ke Ruang Tamu dimana saat ku perhatikan Sekitar Aku tidak melihat siapapun.


"Kana, kemana Orang tuamu? Apa Orang tuamu belum pulang?" Tanyaku.


"Yah, ibuku masih kerja di jam segini sedangkan Ayahku, dia....."


"Ada apa dengan ayahmu?"


"....Tidak, bukan apa - apa."


Balas Kana seolah ia tidak mau jawab. lalu ia pun menuntung kami untuk Duduk di sofa.


"Baiklah Duduklah disini, aku pergi dulu ambilkan Kotak P3K"


Setelah kami bertiga duduk, Kana lansung masuk ke salah satu kamar yang aku tidak tau kamar siapa itu.


Lalu, Di saat kami menunggu Kana Keluar, kami mencoba melihat - lihat Ruangan sekitar. Dimana kami merasa suasana Tempat ini terasa sepi.


"Apa Kana sering sendirian saat Ibunya belum pulang Kerja?"


Guman Haira dimana aku yang dengar lansung balas..


"Sepertinya begitu,...Yaaa ini sama saja seperti kalian."


Baik Haira maupun Rezvan yang dengar itu merasa sangat terkejut. Sebab bagaimanapun juga situasi yang di alami Kana saat ini memang benar - benar hampir mirip dengan mereka.


"Le-Leon Bagaimana kau tau itu?"


"Yaa aku dengar dari Bulan bahwa Ibumu itu sering kerja siang dan malam agar bisa membiayai kebutuan kalian.-


-di tambah lagi Bulan juga kerja supaya ia bisa mengurangi beban ibumu.-


-Itulah sebabnya aku berpikir mungkin saja kalian sering merasakan hal ini juga saat mereka berdua Kerja."


"Hmm Jadi Begitu.....tidak ku sangkah kau bisa mengetauinya. Leon apa mungkin kau ini pintar?"


Ketika Rezvan menanyakan itu aku dengan santai menjawab...


"Begitulah."


Lalu saat itu juga dari samping, tiba - tiba aku merasakan sebuah tatapan yang terus melihat ke arah Telapat tanganku yang ku kepal dan berdarah. Dimana tatapan itu berasal dari Haira.


"Haira Kenapa kau melihat telapat tanganku terus, apa kau khawatir?"


"Hah, si-siapa juga yang khawatir denganmu. Malahan aku senang melihat kau terluka seperti itu Hmph!"


Balas Kana sambil memalingkan wajahnya yang tersipu malu ke arah samping.


[Master, apa ini yang di sebut gadis Tsundere?]


(Kau benar ini memang gadis Tsundere.)


Jawabku terhadap perkataan PIX. Dan tak lama kemudian dari dalam kamar akhirnya Kana pun keluar dan membawa sebuah kotak P3K di tangan kanannya dan pergi duduk di sampingku.


"Maaf aku lama,....baiklah sini berikan tangamu Leon."


"Hah? buat apa?"


"Tentu saja untuk mengobatimu."


"Eh?..Tidak, Tidak, Tidak kau tidak perlu melakukan itu aku bisa melakukannya sendiri."


"Apa yang kamu katakan, tidak mungkin kamu bisa melakukannya sendiri dengan luka seperti itu.-

__ADS_1


-Cepat berikan saja tanganmu."


Ucap Kana yang memaksa mengambil tanganku lalu menyuruhku untuk membuka Telapat tanganku yang dari tadi ku kepal agar darahku tidak banyak yang keluar.


Kemudian aku pun membuka telapat tanganku, dimana Haira, Kana dan Rezvan merasa sangat kaget sekaligus merinding melihatnya.


Sebab darah yang terkumpul di telapat tanganku terbilang sangat banyak dan kental. Terlebih lagi semuanya lansung tumpah ke lantai, yang membuat aku juga sedikit panik.


(Sial, aku mengotori lantainya.)


"Kana, maaf aku mengotori lantaimu."


"I-itu tidak apa - apa, yang lebih penting Leon bagaimana kalau kita pergi saja ke rumah sakit.-


-jujur saja aku memang bilang ingin mengobatimu tapi tidak ku sangkah kalau lukamu itu ternyata Separah ini."


"Hah! Apa yang kau katakan. Luka ini tidak parah sama sekali."


Aku berkata seperti itu. Namun bukannya Kana yang balas melainkan Haira yang lansung Balas dengan wajahnya yang terlihat marah sekaligus khawatir.


"TIDAK PARAH APANYA, JELAS - JELAS TELAPAT TANGANMU ITU ROBET TAU." ucap dia.


Aku tau kalau ia membenciku, tapi bukankah seharusnya ia senang karena aku terluka seperti ini. Jadi buat apa ia marah seperti itu?


Seolah tau apa yang aku pikirkan PIX lansung membalas..


[Master anda salah, Gadis ini sebetulnya tidak marah dengan anda, ia hanya Khawatir denganmu.]


(Khawatir, berhentilah bercanda nih Gadis sangat membenciku tau.)


[Sebenci apapun ia pada anda. Kenyataan bahwa anda sudah menolong dia Saat itu(Di Lorong), sudah membuat ia berhutang budi pada anda.-


-Terlebih lagi gara - gara anda menolong mereka, anda mendapatkan luka itu, Jadi sudah pasti ia akan khawatir.]


(Hmm,....padahal aku tidak punya niat menolong mereka(Haira, Rezvan) sama sekali.-


-aku hanya berpikir untuk menyelamatkan Kana saja saat itu.)


[Eh Anda Bohongkan?]


(Tidak, aku serius.)


Jawabku. Lalu saat itu juga tiba - tiba terdengar suara ketokan dari arah Pintu.


Tok!!...Tok!!...Tok!!....


Saat kami melihat ke arah sana, kami dengar suara seorang wanita yang lagi buka Pintu.


"Kana, apa kamu di dalam, Ibu Pulang."


"Ibu!"


Guman Kana yang senang. Sementara itu di sisi lain aku berpikir.


Jika suara Wanita ini memang Ibu Kana. Itu berarti wanita ini adalah....(Bu Linda.)


Dan seperti yang aku pikirkan, Wanita itu benar - benar Bu Linda saat ia masuk ke Ruang Tamu.


"Oh Kana, apa kamu membawah Temanmu?"


"Eh y-yah."


Jawab Kana. Lalu ia mencoba bertanya balik...


"Omong - omong tidak biasanya Ibu Pulang secepat ini? Apa ibu mendapatkan masalah?"


"Yaa sebetulnya waktu di sekolah Ibu kurang enak badan, jadi Ibu minta izin ke Kepala Sekolah untuk Pulang lebih awal agar bisa istirahat."


(Istirahat yah. Kalau tidak salah saat itu dia memang kelihatan Kurang sehat sih.)


Pikirku saat mengingat kondisi Bu Linda yang tidur di Ruang Uks. Dimana Wajahnya saat itu kelihatan Pucat.

__ADS_1


Kemudian Bu Linda yang dari tadi tidak menyadari keadiranku akhirnya memperhatikan diriku, dimana ia merasa sedikit shock....


"Eh! Le~Leon...Tu~Tunggu, Tunggu dulu, apa yang kau lakukan di sini?"


Tanya Bu Linda, dimana aku hanya membalas...


"Maaf menganggu."


Sementara itu di sisi lain, Si Kana yang belum tau bahwa aku ini adalah Murid dari Ibunya, lansung bertanya..


"Anu Ibu, apa kamu kenal Leon?"


"Um! Yaa tentu saja Ibu kenal, lagi pula dia itu adalah Murid ku."


Tentu saja, Kana yang dengar merasa sangat - sangat terkejut..."Eeeeeh Murid ibu." Lalu ia buru - buru melihatku dan bertanya.


"Leon apa itu benar?"


"Hmm Tidak,...hanya sebagian saja yang benar."


"Sebagian? Apa maksudnya ini Bu?"


Tanya Kana yang melirik Ibunya, dimana Bu Linda tidak menjawab apapun melainkan ia melihat ku terus dan berkata...


"Leon, Apa yang kamu katakan hanya sebagian saja. Bukankah kau itu memang Muridku?"


"Memang benar aku Ini adalah muridmu, tapi Hubungan Kita bukan hanya sekedar itu saja kan?"


"Eh Apa maksudmu?"


Kana lansung bertanya padaku, dimana aku menjawab...


"Yaa kamu tau, di sekolah sebetulnya Ibumu sering kali memperlakukan dengan sangat baik di bandingkan dengan Murid yang lainnya.-


-seperti saat pelajaran berlansung ia sering kali memperhatikan diriku. ia juga beberapa kali mencoba memaksa untuk duduk di sampingku di bandingkan duduk di bangkunya. Seolah ia mau duduk berduaan denganku."


Mendengar apa yang aku katakan membuat Bu Linda tersipu malu dan buru - buru mencoba membantahnya.


"Le~Leon apa yang kau katakan, berhentilah bicara omong kosong."


"Omong Kosong? Bu Linda, Aku tidak bicara Omong Kosong sama sekali, Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.-


-lagi pula semua yang ku katakan itu memang benarkan?"


Tanyaku kepada Bu Linda, dimana Bu Linda lansung terdiam dan tidak bisa membantah sama sekali.


"......"


Namun tidak berhenti sampai di situ aku melanjutkan lagi..


"Selain itu, Kana apa kamu tau, Setiap kali aku kurang enak badan atau sakit. Ibumu sering kali khawatir denganku loh,-


-mungkin kamu berpikir kalau Ibumu khawatir denganku karena ia Adalah Guruku. Tapi rasa khawatir yang ia berikan padaku Sangat berbeda dengan Rasa khawatir yang ia berikan terhadap Muridnya. Ini hampir Seperti....yaa kamu pasti sudah tau sendiri kan?"


"Jangan bilang...."


"Benar ini hampir seperti ia ingin menjaling Hubungan denganku, atau lebih tepatnya Ibumu ingin aku menjadi papamu di masa de-!!"


'Pan' ingin ucapku. Namun sebelum mengucapkan itu, tanpa sadar Bu Linda tiba - tiba memukul Leherku dengan Kuat. Yang membuat kesadaranku perlahan menghilang.


(Sial kenapa harus Leher, padahal aku hanya ingin bercanda saja.)


[Candaanmu sudah terlalu berlebihan Master.]


(....i~itu memang benar....tapi, Sial aku tidak tahan lagi aku mau pingsan-!!)


Pikirku. Dan sesaat kemudian aku pun terjatuh dan pingsan di lantai.


Bu Linda yang baru sadar sudah memukulku lansung panik dan buru - buru mencoba mengecek Kondisiku di bantu oleh Kana dan Rezvan.


Sementara itu di sisi lain Haira yang hanya memperhatikan mereka dari sofa terus menatap diriku yang tidak sadarkan diri di lantai. Dimana Tatapannya itu seolah mengatakan..

__ADS_1


(RASAIN TUH, KAU PANTAS MENERIMA ITU, BOCAH.)


__ADS_2