
"aku pulang."
ketika aku sudah sampai di rumah, aku perlahan membuka Pintu dan menutupnya kembali.
setelah itu aku berjalan masuk kedalam dan lansung pergi ke kamar untuk mengganti pakaianku.
seusai aku mengganti pakaian. aku lansung turung ke lantai bawah dan pergi ke ruang tamu.
sesampainya aku di sana, aku duduk di sofa sambil melihat ke arah jam. dimana sudah menunjukkan sudah jam 1 siang.
"apa Kak Siska belum pulang?"
ketika aku mengatakan itu, aku mengingat lagi, apa yang di katakan Kak Siska pagi tadi. dimana ia mencoba mengajakku pergi ke kuburan.
"Pergi ke kuburan kah. kira - kira Kuburan siapa yang ingin ia kunjungi?"
ketika mencoba memikirkan itu, aku merasa kepalaku sangat pusing sehingga aku lansung menyerah.
"haaa sudahlah, tidak ada gunanya memikirkan hal itu sekarang."
setelah mengatakan itu, aku mulai menyalahkan Tv untuk menonton berita, sambil berbaring di sofa.
setelah beberapa menit aku nonton berita, tak lama kemudian kelopak mataku mulai tertutup secara perlahan, hingga akhirnya aku tertidur.
________________________________
___________________
setelah beberapa saat Leon tertidur, tak lama kemudian, Siska akhirnya Pulang.
"Aku pulang."
sambil mengucapkan itu, ia mulai membuka pintu Rumah sambil menutupnya kembali.
"Leon, apa kau sudah pulang."
ketika ia berteriak, tak ada satupun jawaban yang ia dengar. sehingga ia mencoba naik ke lantai dua dan masuk ke kamar Leon.
"Leon, apa kau di dalam?"
namun, tetap saja Leon tidak ada di sana. hingga akhirnya Siska pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian.
setelah ia mengganti pakaian. ia lansung turung ke lantai bawah dan pergi ke ruang tamu untuk nonton.
tetapi, sesaat ia sampai di sana ia lansung kaget. sebab ketika ia baru saja mau duduk di sofa, ia lansung melihat adeknya. Leon, sedang tidur nyenyak di sana.
"Leon, ternyata kau sudah pulang,...kalau begitu, Leon bangun waktunya kita per-!!"
ketika Siska mencoba membangunkan Leon, tiba - tiba ia berhenti, sebab ia bisa melihat kelopak mata Leon sangat Hitam. seolah - olah ia kurang tidur.
melihat hal itu, Siska tidak mau membangunkan Leon. hingga akhirnya...
"sepertinya, aku tidak punya pilihan lain selain menundanya hari ini."
sambil mengucapkan itu, perlahan Siska duduk di sofa satunya, setelah itu ia mengambil remote di dekat Leon dan mengganti siarannya dengan film Sinetron.
__________________________________
_____________________________
Masion Mewah Luis.
Ketika Erina, Felik dan Bulan sudah sampai di Masion Luis. mereka lansung masuk kedalam dan pergi ke ruang tamu.
dimana Luis sedang duduk di sofa sambil melihat ke arah mereka.
"Oh, kalian sudah pulang."
sambil mengucapkan itu, Luis menyuruh mereka Bertiga duduk terlebih dahulu. setelah itu ia mulai bertanya.
__ADS_1
"jadi, bagaimana asilnya?"
"seperti yang di katakan Rumor, Bocah itu benar - benar hilang ingatan, hanya saja...."
saat Erina tiba - tiba berhenti Bicara, Luis menjadi Bingun dan mencoba bertanya.
"apa terjadi sesuatu?"
"tidak. hanya saja, aku merasa kalau Bocah itu sudah agak berubah."
"berubah?"
"yaa, seperti yang kita tau dulu, bocah itu punya sifat yang sangat polos dan mudah ketakutan kan?"
saat Erina bertanya, dengan cepat Luis menjawabnya.
"yaa, tentu saja."
"nah, ketika kami menemuinya tadi. ia seperti Orang yang sangat berbeda. seperti ia tidak punya rasa takut sama sekali. bahkan ia terus - terusan menantang kami."
mendengar apa yang di katakan Erina membuat Luis melebarkan matanya karena terkejut.
"Me-Menantang kalian?"
"yaa, itu benar. bahkan mengingatnya saja membuatku sangat kesal, sialan!"
ucap Felik dengan ekspresi marah. setelah itu Bulan melanjut kan lagi.
"Jujur saja, dari yang aku lihat ia tidak seperti Leon yang kita kenal."
"Maksudmu?"
ketika Luis mencoba bertanya, untuk sementara Bulan tidak mengatakan apapun.
namun, setelah beberapa detik kemudian ia mulai bicara dengan ekspresi ketakutan.
"Mungkin kamu tidak akan percaya Luis. tapi, ketika Leon menatap kami, aku merasa seperti ia sudah menemukan mangsa yang ia cari selama ini."
"tidak, aku pikir juga begitu Luis."
jawab lansung Erina dengan pasti.
ketika melihat Ekspresi Erina yang sangat Serius. Luis lansung terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah Felik.
"Felik, apa kau juga pikir begitu?"
"eh, y-ya mungkin."
meskipun Jawaban Felik Tidak terlalu pasti di bandingkan Erina namun Luis bisa memastikan bahwa tatapannya sangat Serius.
"haaa, baiklah aku mengerti. kalau begitu Aku ingin tanya sekali lagi. apa kalian sudah pastikan kalau Bocah itu benar - benar Hilang ingatan?"
"ya, aku sudah memastikannya dengan benar." jawab Erina
"ia tidak pura - pura kan?"
ketika Luis bertanya sekali lagi, dengan cepat Bulan menjawabnya.
"aku pikir tidak, sebab ketika leon pertama kali melihat kami, aku bisa melihat ekspresinya sedang bertanya - tanya siapa kami ini."
mendengar apa yang di katakan Bulan, untuk sementara Luis menatap ke arah Matanya.
namun, setelah beberapa detik kemudian, Luis mulai bicara.
"yaa, jika kau mengatakan itu, aku tidak punya pilihan lain selain percaya."
"Jadi, apa akan kita lakukan sekarang, apa kami harus mengawasinya lagi atau...."
saat Erina mencoba bertanya. dengan Cepat Luis lansung menjawabnya.
__ADS_1
"tidak, kalian tidak perlu mengawasinya lagi, kita cuma perlu menunggu saja sampai anak - anak itu menemukan, Orang yang melindungi Bocah itu."
"maksudmu, anak - anak yang akhir - akhir ini mengawasi Leon?"
saat Bulan bertanya, Luis lansung menjawabnya.
"benar."
"tapi, setelah kau tau Orang itu, apa yang akan kau lakukan Luis?"
ketika di tanya oleh Erina, dengan santai Luis Menjawabnya.
"heh, dari apa yang aku prediksi. besar kemungkinan kalau Orang yang melindungi Bocah itu adalah seorang tentara. jadi untuk melawan seorang tentara kita cuma perlu menyewa tentara juga."
"menyewa Tentara?...Luis jangan bilang."
Saat Bulan merasakan perasaan buruk. dengan cepat Luis mengulurkan Hpnya ke arah mereka. dimana memperlihatkan sebuah Sistus penyewa tentara bayaran.
"Benar, dengan menggunakan akun palsu dan koneksi ayahku, aku bisa menyewa Tentara Bayaran tanpa di ketaui siapapun."
mendengar apa yang di katakan Luis membuat mereka bertiga lansung shock, dan tidak percaya.
namun, meski begitu, Erina tetap mencoba bertanya dengan gugup.
"ta~tapi Luis, bukankah menyewa Tentara Bayaran sangat mahal. selain itu mereka Orang - Orang yang tanpa segan membunuh seseorang. jangan - jangan kau..."
"yaa, meskipun aku kehilangan tabunganku selama beberapa tahun. selama aku bisa membunuh Bocah itu dan Orang yang ada di belakangnya. aku tidak masalah sama sekali."
ucap Luis sambil tersenyum menyeringai. melihat hal itu, Erina maupun Felik lansung terlihat senang.
namun, di sisi lain Bulan terlihat sangat gemetar dan ketakutan. sebab ia tau, jika mereka ketauan lagi, besar kemungkinan mereka tidak hanya masuk penjara saja, melainkan meraka bisa saja disiksa karena sudah menyewa tentara bayaran untuk membunuh salah satu keturunan keluarga militer. yang paling berpengaruh di negara ini.
secara garis besar, ini bisa juga di sebut sebagai penghianatan terhadap negara.
memikirkannya saja membuat Bulan lansung Pucat sambil meneteskan keringat dingin di dahinya.
"~~Lu- Luis, aku tau kau sangat dendam terhadap Leon karena sudah membuat Endru masuk Rumah sakit. Ta~tapi, bukankah menyewa Tentara bayaran terlalu berlebihan."
"APA KAU BILANG BULAN, TERLALU BERLEBIHAN."
ucap Luis sambil menatap tajam Bulan. setelah itu ia melanjut kan lagi.
"jujur saja aku tidak sedendam itu hanya karena ia membuat Endru masuk Rumah sakit. hanya saja aku sangat kesal, sebab Hak warisku di cabut gara - gara Bocah itu. bahkan perusahaan yang seharusnya aku dapatkan setelah lulus kuliah malah di batalkan."
"di batalkan, jangan bilang gara - gara kejadian itu?"
saat Erina bertanya soal kejadian di lorong itu. dengan ekspresi kesal Luis menjawabnya.
"yaa, itu benar."
"ta~tapi. kau tau sendirikan Leon itu dari keluarga Militer, apa kau benar - benar ingin membunuhnya?"
saat di peringati oleh Bulan. tanpa pedulikan hal itu dengan cepat Luis menjawabnya.
"Mau dia keluarga Militer atau apa, yang penting aku akan tetap membunuh Bocah itu."
"ta~tapi kan leon-!!"
sebelum Bulan menyelesaikan kata - katanya, ia lansung di bentak oleh Luis.
"BULAN SUDAH CUKUP, AKU TAU DULU KAU SANGAT DEKAT DENGAN BOCAH ITU. TAPI INGATLAH INI BAIK - BAIK JIKA KAMU TETAP BERSIKERAS, AKU TIDAK AKAN PERNAH MELINDUNGIMU LAGI. MENGERTI!"
mendengar kata - kata itu, membuat Bulan lansung gemetar ketakutan, sambil menundukkan kepalanya ke arah Bawah, dimana wajahnya terlihat sangat Pucat.
"~~Ba~Baik, aku mengerti."
setelah melihat Bulan menyerah, Luis mengalihkan pandangannya ke arah Erina dan Felik lagi.
"baiklah, seperti yang aku katakan sebelumnya. untuk saat ini kita Diam saja dan biarkan anak - anak itu mencari, Orang yang melindungi Bocah itu. setelah kita mengetauinya kita baru akan bergerak, mengerti?"
__ADS_1
"" ya, kami mengerti.""
jawab mereka berdua secara bersamaan.